Senin, 22 September 2014

Pelan Tapi Pasti: Siswaku Mampu

Siswaku
RUTINITAS sebagai guru berjalan seperti biasa. Tapi ada kebiasaan lama yang harus dibuat baru kembali. Sudah hampir 4 tahun tidak menjabat sebagai wali kelas, akhirnya tahun ini jabatan ini kembali kuemban.
Kepala Sekolah, kembali memberi kepercayaan itu. Wajah-wajah baru kembali menjadi satu tantangan baru untukku untuk menempa mereka menjadi generasi pembangun bangsa. Itulah niatku.
 Klise memang. Tapi itu memang harus menjadi tanggung jawab yang harus kuemban demi anak bangsa. Wali kelas  merupakan tantangan lain sebagai tugas tambahan ketika menjadi guru. Guru dan wali kelas merupakan dua hal yang berbeda. Sebagai guru mungkin hanya sebatas mengajar,  mendidik, membimbing dst... ketika pembelajaran berlangsung. Sementara sebagai wali kelas di luar jam pelajaran kita wajib membimbing, membina, mendorong dan sebagai pemberi semangat untuk anak-anak yang sudah diamanatkan kepada walikelas,.

Sebanyak 42 orang siswa, bukan hal mudah, apalagi dengan penerapan kurikulum 2013 ini. Isi kelas ideal yang sudah ditetapkan dalam SNP sebenarnya maksimal 32 orang saja. Sedangkan kelasku ada sebanyak 42 siswa yang harus dibina. Sungguh sangat besar jumlah itu.

Berat tapi bukan berarti tidak bisa, itulah tantangan yang harus dijalani sebagai seorang pendidik yang diberikan tanggungjawab sebagai wali kelas. Di awal pertemuan untuk pertama kali sebagai walikelas dan siswanya aku sudah menanamkan kepada siswaku tunjukklah dirimu sendiri untuk menjadi yang terpilih. Akhirnya dengan diskusi yang panjang lebar maka terpilihlah Ketua kelas Bambang, wakil ketua kelas putra, bendahara mei, sekretaris fitri dan nama-nama lain sebagai seksi-seksi untuk kelancaran belajar didalam kelas.

Tantangan pertama upacara bendera pada tanggal 15 September 2014 kemaren itu, alhamdulillah berjalan dengan baik. Kelasku dengan jumlah siswa laki-laki lebih sedikit dibandingkan jumlah siswa perempuan, aku harus bisa menyeleksi petugas upacara yang ideal. Dengan kerja keras, syukurlah tanggung jawab itu mampu ditunaikan oleh siswa/ wi di kelasku dengan baik. Pelan tapi pasti, anak-anakku dengan kesungguhan yang maksimal walaupun tidak berkemampuan maksimal, tetap sukses melaksanakan tugas upacara itu. Terima kasih, anak-anakku.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar