Kamis, 02 Oktober 2014

Cintaku Membuka Jalanku




TAK terbayangkan bahkan hampir terlupakan, tapi inilah bukti kenyataan. Aku benar-benar tidak pernah menduga. Selama ini biasanya aku hanya selalu berfikir dan berusaha bagaimana menyenangkan orang-orang yang ada di sekitarku. Rasa cintaku kepada orang-orang dekatku, membuat aku berusaha terus menyenangkan dan membantu mereka. Orang tua, adik-adik (aku kebetulan anak sulung) dan siapa saja yang dekat denganku, aku berusaha menyenangkan mereka. Ternyata Allah Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Dia telah mengembalikan rasa sayang dan cinta yang kuberikan kepadaku sendiri.

Kalau dulu aku berpikir bagaimana membahagiakan orang lain, sekarang ada yang memikirkan bagaimana membahagiakan diriku. Dalam masa hampir setengah abad umurku, dalam kesendirianku, aku hanya berpikir bagaimana membahagiakan keluargaku: kedua orang tuaku, adik-adikku dan lainnya. Tanpa bermaksud berlebihan, sekarang umurku sudah 40-an tahun, aku ingat betul sejak umur 20-an tahun aku berusaha untuk menyenangkan orang-orang yang berada di sekitarku.


Khusus kepada keluargaku, dari kecil aku sudah menanamamkan dalam fikiranku tidak ada yang bisa membahagiakan kedua orang tua dan adik-adikku kecuali diriku sendiri. Pikiran itu muncul mungkin karena aku berpikir, akulah anak tertua dalam keluargaku. Aku masih punya lima orang adik. Sementara aku menyadari, ayahku hanya seorang pegawai rendahan di Kantor Bea Cukai Karimun. Bukan pegawai seperti orang-orang lain yang aku lihat. Tentu saja gajinya juga tidak seberapa. Emakku pula hanya ibu rumah tangga, menunggu dan mengurus rumah.


Aku ingat dari kecil aku terbiasa untuk berbagi dengan adik-adikku. Aku berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk kedua orang tua dan adik-adikku. Mungkin masa kecil teman-teman sepermainanku hanya berfikir bagaimana bisa bermain hari ini, tapi aku sudah mulai berfikir bagaimana caranya dari hasil kebun nenekku aku mendapatkan sejumlah uang yang akan kutabung untuk kebutuhanku sendiri atau paling tidak untuk membelikan permen bagi diriku dan adik-adikku.


Seiring berjalannya waktu aku mulai berusaha untuk lebih mandiri.  Setiap musim buah-buahan aku berusaha bagaimana caranya musim buah ini akan memberikan sejumlah uang yang bisa aku dapat untuk membeli alat-alat kebutuhan sekolahku. Tanpa malu aku membawa buah-buahan itu untuk dijual langsung atau aku titipkan di kantin sekolah. Aku tak melihat teman-temanku yang melakukannya waktu itu.


Aku masih ingat juga bagaimana nikmatnya mendapatkan tambahan uang saku dari hasil jerih payahku. Bila musim buah berlalu, aku membantu emakku untuk  berjualan es kantong. Setiap sore hari untuk memanfaatkan kulkas --istilah lemari es di daerahku--, emakku membuat es kantong dengan berbagai rasa. Aku membantu emak mengikat es kantong yang lumayan rumit, karena kalau mengikatnya tidak kuat maka es kantongnya tidak akan terlihat cantik. Tapi jika es kantong terikat dengan baik maka hasil es kantongya akan bagus pula terlihatnya.


Waktu berlalu, aku memulai masa kuliahku dengan sambil bekerja. Mulai dari menjadi sales untuk produk-produk tertentu sampai dengan menjual batu akik yang dibawa oleh teman kuliahku yang berasal dari Kalimantan. Jika waktu libur aku akan membawa sejumlah barang dari tempat aku kuliah untuk diperdagangkan di tempat kelahirannku, Tanjungbalai Karimun.


Selesai aku menamatkan kuliah aku masih melakukan hal-hal yang dianggap teman-temanku tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang sarjana. Tapi aku tidak berfikiran begitu. Selama 6 bulan menganggur, aku tetap beraktifitas yang menurutku dapat menghasilkan sesuatu. Aku masih menganggap menganggur karena belum mempunyai pekerjaan tetap. Dan dalam 'mengganggur' itu aku mulai mengajar anak-anak di sekitar tempat tinggalku, mungkin istilah yang tepat memberikan les.


Hari terus berganti, waktuku serasa tidak mengenal siang dan malam. Akhirnya kuputuskan untuk mengabdi pada masayarakat dengan menjadi seorang guru. Ya, seorang guru. Lucu, bukan seorang sarjana keguruan dan dengan tidak berlatar belakang kependidikan tapi aku sangat mencintai dunai mendidik. Dari hanya iseng mengajarkan les untuk anak-anak di tempat ku tinggal sampai akhirnya salah seorang guru senior di tempat ku mengabdikan diri sekarang, mengajak aku untuk menghonor  di sebuah sekolah. Semua itu kujalankan dengan cinta. Ya, dengan cinta. Seperti selama ini aku melakukan sesuatu untuk keluargaku dan kepada siapapun dengan rasa cinta.


Rasa cintaku dalam menekuni profesi baruku sebagai guru semakin membuat aku benar-benar asyik dalam menunaikan tugas dan tanggung jawabku sebagai guru. Bersaing dengan guru-guru senior yang berlatar pendidikan, aku sama sekali tidak canggung. Aku juga tidak mendengar Kepala Sekolahku mengeluh atau mempermasalahkan kenerjaku. Sudah tiga orang dalam tiga kali pergantian Kepala Sekolahku aku menjadi guru. Sudah delapan tahun pula aku menjadi guru honorer. Aku malah tak berpikir akan menjadi pegawai negeri lagi.


Tapi rasa cintaku ternyata membuka jalanku. Masa menghonor delapan tahun itu tidak sia-sia ternyata. Dalam usiaku yang ke-35 ternyata aku jadi juga seorang pegawai negeri. Statusku tidak lagi sebagai guru honorer. Kini aku sudah menjadi seorang PNS yang ber-NIP pula. Kehormatan dan tanggung jawab yang tidak terpikirkan sebelumnya.


Bahkan kini, dalam masa tugas lima tahun-an sebagai PNS aku sudah memperoleh sertifikat sebagai seorang guru profesional. Artinya gajiku pun mendapat tambahan tunjangan profesi sesuai ketentuan yang berlaku.

Sungguh sesuatu yang tidak kuduga. Aku pikir itu semua adalah karena rasa cinta dan memupuk cinta dalam kerja yang aku jalankan selama ini.


Kini aku tambah yakin hidup dan bekerja dengan cinta akan selalu membuka jalan apa saja yang kita damba. Dan benar adanya, seperti banyak ditulis di buku-buku motivasi bahwa rasa cinta adalah kunci pembuka untuk segala usaha. Sebagai pendidik yang walaupun tidak berijazah kependidikan dan keguruan, dari awal hingga hari ini cintalah yang membuat saya bahagia dengan tugas ini.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar