Senin, 22 Desember 2014

Emakku



EMAKKU, ya emakku. Panggilan yang paling indah bunyinya buat aku dan adik-adikku. Mungkin ini merupakan satu hal yang sangat biasa, bagi orang lain. Tapi tidak biasa bagiku. Itu, panggilan itu teramat-sangat luar biasa bagiku. Seorang ibu yang dipanggil dengan emak, yang tidak bisa menulis dan membaca (maaf, bukan membuka aibnya tapi ini kejujuranku), dan mempunyai 6 (enam) orang anak, sungguh luar biasa bagiku. Kami enam orang anaknya, didorongnya untuk belajar setingginya hingga jadilah kami semua jadi mahasiswa.



Bagiku dan adik-adikku keberadaan emak memang sangatlah besar artinya. Bersama ayah yang bekerja sebagai juru mesin kapal di Bea Cukai Karimun, emakku memberi begitu tinggi semangat belajar dan semangat mandiri kami. Tidak aneh bukan, itu memang kenyataannya. Dialah inspirasi mulia yang membuat berkembangnya pikiran kami.


Ya, itu emakku. Dia adalah inspirasi terbesar dalam hidupku. Sesungguhnya emakku adalah seorang wanita biasa dengan segala keterbatasannya. Tapi dia mampu mendidik anak-anaknya menjadi orang yang mandiri. Tidak harta tidak juga jabatan yang dia banggakan ke kami. Tapi pikiran dan perasaan yang membimbing dan mengembangkan pikiran dan perasaan kami, anak-anaknya.


Masih terngiang di teligaku. Sejak kecil emakku selalu mengingatkan kami, anak-anaknya untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Dia selalu menjadi teman buat aku dan adik-adikku saat membaca, seakan-akan beliau ikut mengeja hurup-hurup yang kurangkai menjadi kata dan akhirnya menjadi kalimat yang menyiratkan sesuatu di dalamnya. Padahal aku tahu kalau dia bukan orang bersekolah seperti kami. Dia mendorong kami untuk bersekolah justeru karena dia tidak bisa seperti kami, anak-anaknya.


Emakku selalu berpesan, "Jangan seperti emak yang tidak bisa menulis dan membaca. Jadi tidak tahu perkembangan zaman." katanya. Ah, emakku, dengan hanya dengan melihat keadaan di sekeliling, emakku melihat perkembangan zaman dan dunia pendidikan. Tidak dengan membaca buku, majalah atau koran.


Dari cerita orang-orang yang ada di sekelilingnya emakku mendengar dan merekam pembicaran itu. Emakku bisa membuat kesimpulan, bahawa dengan sekolah dan belajar maka masa depan sesorang bisa cerah. Dengan itu pula dia dengan sangat telaten selalu menemani aku  dan adik-adikku belajar, seperti dia mengerti dengan caranya tersendiri  apa yang aku dan adik-adikku harus lakukan.


Berjalannya waktu, akhirnya aku baru menyadari bahwa begitu besar peranan ibu dalam kehidupanku. Aku mulai melihat keadaan ibuku yang hanya berkutat di dapur.  Mungkin jika emakku pandai membaca dan menulis, emakku akan lebih berprestasi dari pada diriku.


Dari cara emakku menata keuangan keluarga yang hanya paspasan untuk makan tapi dapat dikelola dengan sedemikian rupa sehingga untuk menyekolahkan ke enam anakknya megecap dunia perkulihan, dia bisa. Hebat bukan mungkin seorang sarjana keuangan akan memerlukan beberapa strategi sementara strategi emakku sangat sederhana, ya sederhana dengan hanya kasih dan sayangnya uang yang tidak seberapa cukup untuk kebutuhan yang menurutku sangat memusingkan kepala.Ya, memusingkan kepala: uang yang sedikit dibagi menjadi banyak bahagian sehingga semua kebutuhan dapat dipenuhi.


Itulah emakku. Ya, emakku. Inilah, Bu.... yang dapat kuberikan. Aku tak memberi sesuatu selain tulisan kecil ini untuk mengingat jasamu kepada diriku yang belum bisa memberikan kebahagian sebesar. Itulah kebahagian yang emakku curahkan kepada diriku. Terima kasih Emak, khusus untukmu.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar