Kamis, 14 Mei 2015

Kenangan Duka di Medan: Mandi Hanya Sekali

Enaknya Mandi Berenang
SEBENARNYA  tulisan ini sudah lama mau dipublis tapi karena satu lain hal baru hari ini terpublis. Tanggal 16 Agustus 2014 (hampir setahun lalu) surat tugas untuk mengikuti Pelatihan Instruktur Nasioanal Kurikulum 2013 Bagi Guru SMA/SMK Region Medan saya terima. Dengan surat tugas itu saya harus berkoordinasi dengan LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Kepri, di Tanjungpinang sana. Mengapa? Karena yang sebenarnya menunjuk keberangkatan saya untuk ikut pelatihan di Medan itu adalah LMPM Kepri.


Dengan menaiki kapal pada hari Minggu tanggal 17 Agustus 2014 lalu itu, saya bersama teman dari Tanjung Batu, Ibu Yulita Muas menuju Batam. Kami terpaksa menginap di Batam agar dapat menyesuaikan waktu dengan jadwal pesawat dari Hang Nadim Batam ke Kualanamu Medan. Di Batam juga dimaksudkan untuk saling menanti teman-teman lain dari kabupaten lain. Perjalanan menuju Medan akan kami tempuh bersama dengan guru-guru  selain kami berdua yang sudah ditunjuk oleh LPMP Kepri untuk mengikuti pelatihan ini.

Saya ingat, rombongan kami terdiri dari guru utusan kabapten/ kota Tanjung Pinang, Kota Batam, Kabupaten Karimun, Kabupaten Lingga dan Kabupaten Anambas sejumlah 37 orang. Meskipun dari Karimun hanya kami --saya dan Yulita Muaz-- berdua, tapi dari kabupaten/ kota lain jumlah lumayan banyak. Dari Kota Batam ada delapan orang.

Catatan ini saya tulis kembali karena beberapa pekan dalam bulan April dan Mei 2015 ini ternyata jatuhnya musim kemarau. Tentu saja banyak sumur dan sumber air keluarga yang kehabisan air. Akibatnya, air minum dan mandi mulai dibatasi. Harus berhemat. Di sinilah saya tiba-tiba mengingat kembali kenangan duka di Medan setahun lalu itu. Saya hanya dapat mandi satu kali saja dalam satu hari waktu itu.

Jauh-jauh kami dari Karimun atau Provinsi Kepri ke Medan, Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara untuk belajar dalam pelatihan Kurikulum 2013 (K13). Bagaimanapun, kesempatan belajarnya adalah hal utama. Tapi mendapat kesempatan untuk 'cuci-mata' ke provinsi terbesar di Pulau Sumatera itu adalah satu hal lainnya. Siapa yang tak kenal Sumatera Utara dengan Danau Toba yang terkenal itu. Di sana juga ada Brestagi, kota dingin yang menggigit kulit, dan banyak lagi tempat-tempat menarik di sana. Pastilah ditunjuknya saya salah satu untuk ke Medan itu adalah yang sangat membahagiakan saya.

Ternyata kenangan yang saya alami tidaklah sebagaimana angan-angan itu. Masalah mandi yang tidak cukup itulah yang membuat saya tidak jadi begitu enjoy di sana. Di Karimun, saya sudah biasa mandi dua kali bahkan bisa tiga kali per hari. Air tidak menjadi masalah. Tapi, ketika berada di asrama LPMP Medan yang hanya mendapat jatah mandi hanya satu kali per hari, hilanglah rasa bangga saya datang ke Medan.

Saya masih ingat, kami benar-benar merasa menderita ketika akan mandi. Giliran dan antri mandinya membuat pikiran dan perasaan menjadi galau. Air di asrama sebesar itu hanya hidup di waktu malam saja. Air yang mengalir malam hari itulah yang ditahan/ dikumpulkan untuk mandi pagi. Antri ke kamar mandi di waktu pagi itu juga satu kenangan yang cukup pedih. Jika ingin terjamin mandi pagi, maka bangunlah lebih dini hari. Jika terlambat, airnya akan tinggal baknya saja. Itu benar-benar kenangan duka buat saya dan kami yang menginap di asrama itu.

Maaf, sentimentil tulisan ini mungkin sedikit membuat Anda pembaca tidak suka atau merasa heran dan lucu? Tidak masalah. Saya sendiri juga merasa geli dan lucu menceritakan kembali saat ini. Jika diingat-ingat kisah kepergian ke Medan itu masih banyak kisah lucu dan aneh lainnya. Ke sana dengan semangat menggebu-gebu untuk memahami pengetahuan dan pengalaman K13. Eeh, belum juga K13 dilaksanakan dengan baik, tiba-tiba malah dilupakan begitu saja untuk kembali ke KTSP. Lucu, kan? Tapi yang ini belum akan ditulis saat ini. Semoga saja nanti ada waktu untuk mengulangtulisanya. Catatan kenangan duka ini, cukuplah sampai di sini dulu. Bey bey.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar