Kamis, 17 Agustus 2017

Siswaku dengan Hari Kemerdekaan 72 Indonesia

Seperti tahun - tahun sebelumnya pada tanggal 17 Agustus ini seluruh masyarakat Indonesia akan merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia. Mungkin ini bukan hal luar biasa, hanya cerita kecil dari perlombaan kecil di sekolahku.

Karena profesiku guru, maka yang menjadi objek pemandanganku tentulah siswa - siswa yang berada di sekitar lingkungan kerjaku. Dunia pendidikan Indonesia semarak dengan penekanan pada pendidikan karakter mungkin menjadi acuan mengapa di sekolahku melaksanakan pertandingan ini. Entah ya atau tidak hanya siswa yang akan menjawabnya. Penekanan pendidikan karakter seyogyanya mungkin lebih mudah jika dilaksakanakan sewaktu anak-anak bangsa ini kecil, tapi tidak ada salahnya untuk perbaikan karakter bangsa semua jenjang pendidikan melaksanakannya.

Mungkin karena anak didikku sudah di Sekolah Menengah Atas (SMA),  dengan ego yang besar, bahawa mereka malu melakukan hal-hal yang mereka anggap itu sudah tidak pantas, sebagai pendidik aku tidak kehabisan akal untuk membujuk mereka supaya ikut serta dalam pertandingan untuk ikut merayakan HUT Kemerdekaan Indonesia ke-72 ini. 

Mereka siswa-siswaku yang notabene anak-anak baru gede dengan permasalah mereka mencari jati diri disuguhi video pertandingan yang mereka saksikan anak Sekolah Dasar (SD) yang melakukan banyak protes yang mereka ajukan. Ada yang mengatakan bahwa itu hanya untuk anak Sekolah Dasar (SD), ada yang mengatakan kita ubah saja gayanya, bu. Komentar lain yang kadang-kadang membuat geli hati atau malah jengkel terpaksa aku telan sebagai pendidik aku tidak boleh kalah dari mereka. 

Masalah mulai timbul dari awal rencana keikutsertaan dalam pertandingan, Semula kami sebagai wali kelas yang harus menjadi komando, berubah siswa yang memimpin. Mereka yang tidak antusias gayanya membuat jengkel belum lagi yang melakukan tingkah aneh-aneh seperti mengolok-olok kawannya yang sudah bersedia menjadi komandan regu.

Satu hari sebelum hari pertandingan kabar buruk datang, komandan regu sakit akhirnya kelas kami terpaksa mengganti komandan regu dengan siswa yang sebenarnya tidak disangka-sangka akan mau menjadi komanda. Sebagai pendidik ini mungkin mejadi tantangan, ingin menang tapi tidak mau melukai harga diri peserta didik, dari 35 orang peserta didikku dia berani mengajukan diri untuk menjadi komandan. Dengan waktu kurang dari 2 jam kelasku berusaha kerja untuk ikut serta dalam pertandingan yel - yel kemerdekaan Indonesia. Selama mendampingi mereka latihan sebagai pendidik sebenarnya banyak ide yang ingin diberikan tapi untuk membantu mereka menunjukkan keantusiasan mereka juga sebagai pendidikan karakter mereka aku membiarkan mereka dengan ide -ide mereka sendiri. 

Begitu banyak kekurangan tapi aku tidak mau membuat mereka patah semangat, aku mengatakan kepada mereka, "anak -anakku, yang penting adalah keikutsertaan kelas kita' menang kalah bukan persoalan," walau aku masih mendengar keluh kesah dari sebagai siswa - siswaku mengatakan mereka tidak siap untuk ikut serta aku masih tersenyum mendengarkannya.

Akhirnya waktu pertandingan tiba, mereka masih dengan polah tingkah mereka. Ada yang merasa cemas, ada yang malu bahkan ada yang tidak peduli pencabutan undi berlangsung kelasku mendapatkan urutan 23. setelah 3 peserta maju, kelasku mulai lagi dengan rasa cemasnya, secara serempak mereka mengatakan bu kami mau mengubah formasi, Untuk tidak mengecewakan mereka aku mengiyakannya. Aku hanya berpesan apapun yang terjadi mereka sudah menang di mataku.

Terus berlatih, terus berkarya terus berlomba meraih cita citamu, biar aku menjadi pendidik yang bisa membimbing kalian semua siswaku, X IPS 5 menjadi yang terbaik. Semangat seperti kita semangat merayakan hari kemerdakaan Indonesia.

Merdeka, merdeka bebas berkarya siswa - siswaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar