Rabu, 11 Oktober 2017

Hape Oh Hape



“Hape baru keluar lagi. Hape baru keluar lagi!” cetus seorang pengguna dan penggila HP (Hand Phone) alias mobile phone kepada saya. Saya senyum saja. Tapi sesungguhnya hati saya terperangah menyaksikan kegembiraan teman ini. Begitu bersemangatnya dia menjelaskan.

Yang saya tahu tentang dia selama ini adalah bahwa setiap ada HP model baru keluar, dia akan mengganti HP lamanya dengan keluaran baru itu. Tentu saja menambah biaya. Tidak gratis, pastinya. Dia tidak bisa melihat HP keluaran baru. Seleranya naik. Adrenalinnya juga meningkat. Itulah yang saya tahu tentang sahabat saya ini.
Promosi HP baru terkadang memang membuat sebagian orang lupa diri. “Ini model HP baru, dengan kehebatan baru yang melebihi kehebatan HP keluaran lama,” itu kalimat-kalimat sugestif yang dapat menyilaukan pikiran seseorang yang tidak berpikir panjang. Namanya juga promosi, tentu dengan berbagai cara untuk menggoda.
Sebagai guru (mengajar Mata Pelajaran Ekonomi) cara pandang dan cara hidup teman saya ini jelas sedikit banyak mengusik cara pandang saya. Tanpa bermaksud ‘ikut campur’ urusan pengelolaan ekonominya, saya merasa kebiasaan-tindakan itu serasa bertentangan dengan perinsip dan tujuan pembelajaran ekonomi yang setiap hari dihadapi.
Kita ingat makna asal kata (bahasa Yunani) ekonomi berasal dari oikos yang berarti keluarga dan nomos yang berarti peratauran. Jadi oikos-nomos (menjadi ekonomi) yang berarti juga peraturan/ manajemen keluarga atau rumah tangga. Jadi bagaimana mengelola produksi, konsumsi dan distribusi barang dan jasa itu mestinya dikaitkan dengan rumah tangga dan atau keluarga.
Pertanyaannya, apakah benar HP dengan promosi ‘keluaran baru, fitur baru, canggih, hebat’ itu akan mewujudkan strategi manajemen rumah tangga untuk ketahanan dan keamanannya? apakah hobi bergonta-ganti HP itu justeru akan merusak dan memorak-porandakan keuangan kita?
Bahwa promosi HP baru tidak akan pernah berhenti, itu sudah pasti. Di koran, majalah dan televisi akan senan tiasa ada. Dari sisi produsen mereka benar. Mereka melaksanakan perinsip-perinsip ekonomi (promosi dalam produksi) mereka untuk kelanggengan usaha mereka. Tapi dari sisi konsumsi, tidak semestinya kita tergoda dan hanyut untuk terus-menerus terbawa ‘arus’ membuang-buang uang (modal) hanya sekedar mengganti HP lama ke HP baru yang manfaat dasarnya sama: alat komunikasi.
Sebagai pengguna, HP baru  dengan kecangihan yang dipromosikan tidak harus membuat kita sebagai penggila HP untuk terus membelinya. Kita mestinya menyadari bahwa HP yang dimiliki sekarang ini masih berfungsi dengan baik. Tidak semestinya setiap ada kerluaran HP baru kita membuang (menukar) HP lama ke HP baru. Jadilah konsumen yang bijak, yang mampu membedakan ‘kebutuhan’ dengan ‘kepentingan’ dalam berbelanja. Kebutuhan jelas diperlukan. Tapi kepentingan bisa sekedar gengsi-gensian. Kalau itu masih juga diamalkan, betapa sedihnya hati ini. Hape oh Hape.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar