Senin, 04 September 2017

Guru Mengajar, Mendidik atawa Cari Duit?



"Adi, kerjakan soal ini!“ Perintah seorang guru kepada seorang muridnya, di suatu siang untuk mengevaluasi materi fungsi permintaan dari 50 buah menjadi 60 buah, dengan harga yang disepakati dari Rp 150.000 menjadi Rp 100.000 yang baru saja diajarkan. Adi dengan cermat menyelesaikan soal Mata Pelajaran (MP) Ekonomi tersebut dalam beberapa menit. Guru puas, muridnya senang.

"Ana, kerjakan soal ini!“ Ini perintah lainnya oleh guru yang sama kepada siswa lainnya, di hari yang sama dan kelas yang sama. Siswa kedua ini mendapat tugas menyelesaikan fungsi penawaran dari 40 buah menjadi 50 buah dengan harga yang disepakati dari Rp 150.000 menjadi Rp 200.000. Ana tampak berpikir keras untuk menyelesaikan soal ini. Dan walau waktu sudah berlalu cukup lama tapi Ana tidak bisa juga menyelesaikan soal ini. Ternyata Ana belum mengerti  rumus fungsi penawaran walau rumus tersebut sudah diajarkan oleh guru beberapa menit sebelumnya.
Realita ini pasti dan sering dijumpai guru yang mengajar dalam kelas. Tentu saja itu hal biasa dalam PBM (Proses Belajar-Mengajar) yang dilalui. Dari sekolah favorit dan unggul hingga sekolah sederhana dan 'tertinggal' kasus itu sering ditemukan. Tidak mudah melakukan PBM yang post testnya lasung berdaya serap 100 persen. 
Dengan bahasa lain, 'kasus belum mengerti' dalam suatu PBM' ini merupakan masalah yang harus dan sering dihadapi oleh guru, sekolah dan dunia pendidikan itu sendiri. Jika dianggap itu suatu kesalahan, siapa yang harus disalahkan? Lalu bagaimana pendekatan yang tepat untuk realita itu, menyalahkan siswa atau guru atau menempuh pendekatan lain sehingga materi itu tetap bisa dipahami? Beberapa pertanyaan yang mesti dijawab guru.
Menurut saya, kenyataan seperti itu tidak cukup dihadapi dengan pendekatan 'mengajar' saja tapi harus melangkah lebih jauh, dengan menempuh pendekatan 'mendidik'. Antara mengajar dan mendidik mestinya disejalankan. Dan walaupun anggapan sebagian guru bahwa pengertian mengajar dan mendidik itu sama, tapi sesungguhnya tidaklah sama. 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) terbitan Balai Pustaka, mengajar berasal dari kata ajar yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui/dituruti;sedangkan mengajar berarti memberi pelajaran.(1997:14-15). Sementara kata mendidikberasal dari kata didik yang berarti memelihara, merawat dan memberi latiahan agar seseorang memiliki ilmu pengetahuan seperti yang diharapkan (tentang sopan santun, akal budi, akhlak, dan sebagainya). Kata mendidik berarti memelihara dan memberi latihan.(1997:232) 
Jika guru memang harus mendidik di samping mengajar, itu berarti guru tidak cukup sekedar memberi petunjuk sekedar memberi pemahaman saja. Lebih dari itu, guru wajib memelihara, merawat dan memberi lagi latihan-latihan tambahan agar petunjuk itu benar-benar dipahami siswa. Seperti mengajarkan sopan-santun karakter budi luhur, di sini tidak cukup ditunjukkan saja. Harus dicontohkan. Itulah yang disebut mendidik.
Yang harus kita garis bawahi adalah dalam mendidik anak penekanan memberi pelatihanharus dibarangi dengan displin dan pemberian sanksi jika tidak/ belum juga dapat menangkap dan atau memahami apa yang diajarkan. Sanksi yang bersifat mendidik ini mutlak diperlukan.
Hal inilah yang tampaknya belum bisa dilaksanakan, karena yang terjadi di lapangan adalah guru hanya mengajar saja. Untuk melatih menjadi bisa, kadang-kadang tidak bisa dan tidak mau melaksanakannya. Boleh jadi karena masih ada beberapa pihak yang tidak dapat menerima dalam pemberian sanksi jika anak-anak tidak dapat dilatih menjadi bisa dan bertanggungjawab.
Sebagai seorang guru kadang-kadang kita lupa apakah kita mengajar atau mendidik, ataupun kita mengajar dan sekaligus mendidik. Pertanyaan ini hendaknya menjadi suatu pertanyaan besar yang harus dijawab oleh semua guru. Bahkan bukan hanya guru tapi pertanyaan tadi juga harus dijawab oleh orang tua, ataupun semua unsur yang bersinggungan dengan dunia pendidikan.
Banyak sekali contoh dari kejadian di masyarakat dewasa ini, betapa tidak berjalannya fungsi mendidik. Misalnya masalah seorang siswa yang tidak mau memberikan contekan kepada anak lain sewaktu ujian, justeru mendapat teguran dan perlakuan yang tidak menyenangkan dari guru serta orang tua siswa yang tidak diberikan contekan. Padahal sudah jelas bahwa mencontek daloam ujian itu adalah tindakan tak bermoral. Tapi yang tidak memberi contekan justeru dimarah. Apakah hal ini tidak menjadi pelajaran bagi kita bahwa mana yang lebih penting mengajar atau mendidik atau mengajar sekaligus mendidik. Seharusnya anak dididik untuk tidak mencontek.
Jangan-jangan guru mengajar hanya untuk mendapatkan fulus alias duit belaka. Mengajar hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga arti mengajar dan mendidik bukan seperti yang diharapkan. Malah mengajar menjadi ajang datang ke sekolah, duduk dan duit. Sehabis mengajar merasa tiada beban apapun dalam usaha mengubah anak-didik dari tak bisa menjadi bisa; dari tak bermoral menjadi bermoral. Begitukah? Tepuk dada, tanya selera wahai sahabat guru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar