Lonceng berdentang membelah pagi
Rapi tertata jajaran kursi tak berisi
Buku terbuka, pena menanti,
Menit bergulir, waktu terbuang,
Langkah kaki yang dinanti tak kunjung datang.
Kabar terdengar sayup dan pelan memecah sunyi
Ingin Jadi Guru Kreatif
Lonceng berdentang membelah pagi
Rapi tertata jajaran kursi tak berisi
Buku terbuka, pena menanti,
Menit bergulir, waktu terbuang,
Langkah kaki yang dinanti tak kunjung datang.
Kabar terdengar sayup dan pelan memecah sunyi
Langkahku terhenti, bola kaki warna warni menghentikan langkahku.
Aku
mengangkat kepala mencari sosok pemilik bola berwarna – warna.
Sedari
tadi aku menundukkan kepala akan mencari uangku yang hilang saja.
Rasanya
aku tidak punya muka untuk menatap orang – orang yang berada disekitarku
setelah kejadian naas sejam yang lalu.
Andai
saja ada pintu doraemon tentu aku akan menggunakannya untuk pergi ke negeri
antah berantah.
Sungguh
kesal rasanya jika mengingat kejadian sejam yang lalu.
Tiba –
tiba saja aku yang lagi menunggu ojek online pesananku tertiban sial.
Bagaimana
tidak sial, satu termos air tahu dingin tumbah oleh seorang lelaki dewasa
karena ban motor yang dtumpanginya oleng.
Dan hari
ini aku mandi air tahu, jika yang tumpah air susu mungkin lain ceritanya.
Untung saja ojek online tiba, sebenarnya ojek online tidak ingin mengantarku karena badanku basah kuyup.
Suara terahim sayup – sayup menusuk pendengaranku.
Rasa
ngantuk bergelayut manja, mataku masih terpejam erat.
Rasanya
baru sebentar aku memanjakan mataku, tapi pagi tidak mau kompromi.
Hatiku
lelah, setiap hari dengan kenyataan yang sama.
Dapurku
berasap hanya untuk menjerang air untuk secangkir teh pengisi perut sebelum aku
berangkat mengajar.
Berita –
berita diluar sana membuat pikiranku tidak sejalan dengan hati.
Saat ini
semuanya serba mahal tapi dunia pendidikan sudah mandarah daging.
Dunia
yang sudah membuat aku Bahagia, sejak meninggalkan dunia kuliah 35 tahun yang
lalu.
Covid
tidak memberikan aku banyak pilihan, gelar sarjana tidak membuatku mendapatkan
pekerjaan yang layak.
Akhirnya aku terdampar di sekolah yang memberikan aku kehidupan.
Dadaku
turun naik, pengalaman menjadi guru selama 25 tahun ternyata tidak membuatku
santai mengajar di kelas X.6.
Bagaimana
tidak sejak masuk sudah ada kendala yang membuat merasa tidak nyaman mengajar.
Ruang
kelas yang seyogyanya harus bersih, pagi ini bagaikan TPA saja penuh dengan
sampah yang kemarin lusa tidak dibersihkan.
Rasa
busuk yang menyengat membuatku beberapa kali bersin sehingga hidungku terasa
perih.
Setelah
upacara dipagi yang mataharinya menyengat membuatku ingin tenang mengajar di
jam pertama lenyap sudah.
Jengah
melihat ruang kelas yang berantakkan membuatku harus istifar dalam hati jangan
sampai terpancing emosi.
Jadwalnya untuk mengambil nilai harus aku undur dengan membiarkan mereka membersihkan kelas terlebih dahulu.
Membuka
jendela kamar, segarnya udara pagi aku harapkan memberikan harapan baru bagi
diriku.
Sempat
mengigil terkena tamparannya, tatapanku terkunci pada bunga mawar merah tak
jauh dari jendela kamar.
Senyum
mirisku terlihat, aku bagaikan bunga mawar yang tak tersentuh layaknya.
Umurku
menginjak kepala tiga sepekan lagi, ocehan Mak setiap hari menanyakan dimana
kabar tentang jodohku.
Hanya
hamparan senyum palsu serta kata yang mungkin menjadi pamunngkas kalimat.
Allah
masih menyimpan jodoh terbaik untukku.
Dengusan
kesal selalu terdengar dari Mak jika aku sudah menyebut kata campur tangan Sang
Pemilik Segalanya.
Bukannya tidak terpikir tapi lebih tepat mau memikirkan.
Langkahku terhenti, bola kaki warna warni menghentikan langkahku.
Aku
mengangkat kepala mencari sosok pemilik bola berwarna – warna.
Sedari
tadi aku menundukkan kepala akan mencari uangku yang hilang saja.
Rasanya
aku tidak punya muka untuk menatap orang – orang yang berada disekitarku
setelah kejadian naas sejam yang lalu.
Andai
saja ada pintu doraemon tentu aku akan menggunakannya untuk pergi ke negeri
antah berantah.
Sungguh
kesal rasanya jika mengingat kejadian sejam yang lalu.
Tiba –
tiba saja aku yang lagi menunggu ojek online pesananku tertiban sial.
Bagaimana tidak sial, satu termos air tahu dingin tumbah oleh seorang lelaki dewasa karena ban motor yang dtumpanginya oleng.
Menatap sepatu hitam yang sudah memudar warnanya.
Beberapa
kali aku ditegur bagian kesiswaan karena mereka menyangka aku memakai sepatu
abu – abu.
Peraturan
sekolah membuatku tidak berkutik, tapi memaksakan Ayah untuk membeli sepatu
rasanya juta tidak memungkinkan.
Menatap wadah
kecil yang sudah aku tinta isi ulang spidol whiteboard yang aku ambil sedikit
untuk menyemir sepatuku biar kembali berwarna hitam.
Dengan
teliti aku menyemir sepatuku, senyum puas tersunging di bibirku.
Berjalan menuju kursi kayu yang selalu menjadi teman setiap untuk menjemur sepatu sesudah aku cuci.
Lonceng berdentang membelah pagi Rapi tertata jajaran kursi tak berisi Buku terbuka, pena menanti, Meja di depan tetap sepi. ...