“Aow”. Pekikku
Minyak
dari pengorengan muncrat dengan pantas ke tanganku.
Menghela
napas berat, pikiran yang tidak focus membuatku celaka.
Sudah dua
hari tidak ada kabar berita dari suamiku.
Pekerjaan
yang membuatnya harus ke Batam.
Bukan
masalah ke Batamnya yang aku pikirkan tapi status dari seseorang yang menganggu
pikiranku.
Bukannya
tidak percaya dengan suamiku tapi aku tidak percaya dengan pengirim statusnya.
Bukan
kebiasaanya Bang Amran tapi ini pertama kalinya tidak memberi kabar setelah
sampai tempat tujuan bertugas.
Hatiku terus bertanya, dua hari rasanya waktu yang pasti membuat istri manapun akan merasa curiga jika suaminya tidak berkirim pesan.






