Membuka
jendela kamar, segarnya udara pagi aku harapkan memberikan harapan baru bagi
diriku.
Sempat
mengigil terkena tamparannya, tatapanku terkunci pada bunga mawar merah tak
jauh dari jendela kamar.
Senyum
mirisku terlihat, aku bagaikan bunga mawar yang tak tersentuh layaknya.
Umurku
menginjak kepala tiga sepekan lagi, ocehan Mak setiap hari menanyakan dimana
kabar tentang jodohku.
Hanya
hamparan senyum palsu serta kata yang mungkin menjadi pamunngkas kalimat.
Allah
masih menyimpan jodoh terbaik untukku.
Dengusan
kesal selalu terdengar dari Mak jika aku sudah menyebut kata campur tangan Sang
Pemilik Segalanya.
Bukannya tidak terpikir tapi lebih tepat mau memikirkan.






