Menatap langit kamar, menghitung detik jam.
Waktu
berlalu sudah lebih dari 3 jam aku menunggu, tapi tidak ada tampak batang
hidung suamiku yang berjanji akan pulang sebelu bada’ isyak.
Tadi aku
sempat menunggu suamiku di ruang tamu, lelah membuatku masuk ke kamar kami dan
membaringkan badan yang lelah.
Sepulangnya
dari bekerja aku menyempatkan diri untuk memasak masakan kesukaan suamiku.
“Intan
bisa buatkan Abang perkedel.” Pinta Bang Ikram dua hari lalu.
Jarang
sekali Bang Ikram meminta aku memasak karena kami sama – sama bekerja.
Aku hanya
memasak pada hari sabtu dan minggu, itupun hanya menu sederhana karena aku
harus mencuci baju dan berkemas rumah.
Tidak
jarang aku bertanya kepada Bang ikram untuk masalah makanan yang ingin aku
masakkan.
Tapi
jawaban bijak Bang Ikram mengatakan akan memakan apapun yang aku masak yang
membuatku bertambah sayang kepada Bang Ikram.
Tidak biasanya Bang Ikram mengingkarai janji yang sudah dibuatnya.






