Surat peringatan ke tiga, habis sudah nyawaku kali ini.
Berjalan lemah menuju rumah, malas untuk mengoes sadel sepada angkutanku untuk pergi dan pulang sekolah.
Aku menuntun sepedaku, berharap ada mukjizat yang datang.
“Intan, Abah belum punya uang untuk membayar uiran perpisahannya.” Ucap Abah 2 hari lalu.
Sebenarnya aku tidak ingin menyusahkan Abah, tapi hasil kesepakatan orangtua dengan sekolah perpisahaan tahun ini diselenggarakan oleh orangtua dengan panitia guru – guru untuk memudahkan pengorganisasian kerjanya.






