Sabtu, 11 April 2026

Abu Menjadi Hitam


Menatap sepatu hitam yang sudah memudar warnanya.

Beberapa kali aku ditegur bagian kesiswaan karena mereka menyangka aku memakai sepatu abu – abu.

Peraturan sekolah membuatku tidak berkutik, tapi memaksakan Ayah untuk membeli sepatu rasanya juta tidak memungkinkan.

Menatap wadah kecil yang sudah aku tinta isi ulang spidol whiteboard yang aku ambil sedikit untuk menyemir sepatuku biar kembali berwarna hitam.

Dengan teliti aku menyemir sepatuku, senyum puas tersunging di bibirku.

Berjalan menuju kursi kayu yang selalu menjadi teman setiap untuk menjemur sepatu sesudah aku cuci.

Jumat, 10 April 2026

Lepas Asa

 


Menatap langit kamar, menghitung detik jam.

Waktu berlalu sudah lebih dari 3 jam aku menunggu, tapi tidak ada tampak batang hidung suamiku yang berjanji akan pulang sebelu bada’ isyak.

Tadi aku sempat menunggu suamiku di ruang tamu, lelah membuatku masuk ke kamar kami dan membaringkan badan yang lelah.

Sepulangnya dari bekerja aku menyempatkan diri untuk memasak masakan kesukaan suamiku.

“Intan bisa buatkan Abang perkedel.” Pinta Bang Ikram dua hari lalu.

Jarang sekali Bang Ikram meminta aku memasak karena kami sama – sama bekerja.

Aku hanya memasak pada hari sabtu dan minggu, itupun hanya menu sederhana karena aku harus mencuci baju dan berkemas rumah.

Tidak jarang aku bertanya kepada Bang ikram untuk masalah makanan yang ingin aku masakkan.

Tapi jawaban bijak Bang Ikram mengatakan akan memakan apapun yang aku masak yang membuatku bertambah sayang kepada Bang Ikram.

Tidak biasanya Bang Ikram mengingkarai janji yang sudah dibuatnya.

Rabu, 08 April 2026

PUTIH ABU –ABU


Menatap nanar surat yang berada di genggaman tanganku saat ini.

Surat peringatan ke tiga, habis sudah nyawaku kali ini.

Berjalan lemah menuju rumah, malas untuk mengoes sadel sepada angkutanku untuk pergi dan pulang sekolah.

Aku menuntun sepedaku, berharap ada mukjizat yang datang.

“Intan, Abah belum punya uang untuk membayar uiran perpisahannya.” Ucap Abah 2 hari lalu.

Sebenarnya aku tidak ingin menyusahkan Abah, tapi hasil kesepakatan orangtua dengan sekolah perpisahaan tahun ini diselenggarakan oleh orangtua dengan panitia guru – guru untuk memudahkan pengorganisasian kerjanya.

Selasa, 07 April 2026

Rindu Dia

 


Tatapanku nanar melihat mereka dengan seragam putih abu – abu.

Tawa mereka menambah luka di hatiku.

Genggaman tanganku di bakul jualanku semakin kencang, ada yang mengiris hatiku.

“Hana terpaksa sekolah Hana putus dulu.” Ucap Emak kala itu.

Sepekan setelah Abah menghembuskan napas terakhirnya.

Penyakit menahun yang diderita Abah akhirnya merengut Abah dari kami sekeluarga.

Sebagai anak tertua aku harus meringan beban Mak, rasanya cukup sudah aku bisa membaca dan menulis.

Ijazah SMP yang aku punyai rasanya tidak menjamin aku mendapatkan pekerjaan seperti impian anak sekarang paling tidak aku bisa menggunakan tulang empat keratku untuk mencari uang.

Yang penting menulis dan membaca serta berhitung tidak aku ditipu jika aku berjualan.

Senyum mirisku tersungging ketika melihat mereka berhambuaran berlari ke dalam kelas ketika bel tanda masuk belajar.

Puas dengan melihat mereka memakai seragam putih abu, setelah sepi aku meninggalkan sekolah yang menjadi langgananku berjualan.

Bunyi berderit dari ban motor yang di rem paksa membuat kau menolehkan wajahku ke arah suara.

Dia lagi, batinku.

Minggu, 05 April 2026

Ruang Waktu

Memerah mataku menatap status WA dari aplikasi yang akhir – akhir ini menjadi fokusku.

Statusnya hari ini sungguh melukai harga diriku.

Secepat kilat aku mengetik kalimat untuk mengomentarinya.

“Kami hanya rekan kerja tidak lebih, jangan berlebiha curiga Abang tidak suka.” Kalimat Bang Imran teringat olehku.

Itu sepekan lalu, aku menujukkan status dari teman sekantor Bang Imran yang aku rasa sudah tidak bisa ditoleri lagi.

Aku yang tunangan Bang Imran saja malu untuk memasang status seperti itu, apalagi Bang Imran selalu mengingatkan kami baru bertunang.

Aku menghapus kembali chat yang sudah aku tulis.

Aku menghela napas berat, meletakkan HP pada meja kecil yang terletak disamping ranjangku.

Malam minggu seharusnya kami berbicara banyak tentang hubungan kami yang sebentar lagi menuju pelaminan.

Chat Bang Imran tadi sore menggatakan tidak bisa datang karena ada jamuan makan di kantornya.

Minggu, 29 Maret 2026

Persimpangan Jalan

 “Percuma Bu Laras, tetap saja salah.” Tergiang suara Bu Intan sepekan lalu ketika kami berbincang masalah pekerjaan.

“Saya lelah selalu disalahkan, padahal banyak yang salah tapi kesalahan saya sepertinya tidak termaafkan.” Masih bermain ucapan Bu Intan dibenakku.

Pagi ini aku tidak mau lagi mendengar keluh kesah Bu Intan yang sepertinya sudah kecewa dengan sikon yang tidak nyaman di kantorku.

Sebenarnya aku sudah merasakan hal ini dua tahun lebih tapi aku mentulikan teliga membutakan mata selagi kinerjaku tidak dipermasalahkan rasanya aku masih bisa mentolirirnya.

Tapi sekarang keadaan seperti tidak bersahabat denganku, ada saja yang tidak kena aku yang datang pagi dipermasalahn oleh teman sekantor katanya mencari muka.

Mencari muka dimana, sejak awal bekerja aku selau datang lebih awal karena tidak ingin terjebak macet yang memusingkan kepala.

Belum lagi polisi yang diakibatkan oleh berebutnya kendaraan bermotor jika sudah jam padat dengan karyawan yang berlomba ke kantornya masing – masing.

Demi menjadi kesehatanku aku memilih datang lebih awal untuk mengelak semua hiruk pikuk serta membatasi diri dari polusi yang semakin menjadi dewasa ini.

Sabtu, 28 Maret 2026

Pilihan

Langkahku gontai, lorong rumah sakit sepi, sesepi hatiku saat ini.

Airmata yang menumpuk sedari ruangan periksa tidak bisa aku tahan.

Satu persatu air itu turun bersama luruhnya badanku ke ubin rumah sakit.

Untung saja lorong tempat aku bersimpuh sepi. entah ini janji sang pencipta untuk menutup aibku karena aku menutup aib suamiku.

Apa aibku, hanya karena aku terlalu sedih memikirkan nasibku yang sudah tidak dianggap suamiku saat ini dan apa nasib janin yang sebetulnya lama aku tunggu tapi datang tidak tepat waktu.

“Abang akan menikah lagi, suka tidak suka terima.” Ucap suamiku tiga bulan lalu.

Seandainya Bang Zikri meminta baik – baik aku pasti mengizinkan dirinya untuk menikah lagi.

Menjelang tujuh tahun pernikahan belum juga ada jerit tangis bayi di rumah kami.

Dan hari ini, aku dikejutkan dengan berita yang sudah lama aku tidak aku harapkan lagi.

Postingan Terbaru

Abu Menjadi Hitam

Menatap sepatu hitam yang sudah memudar warnanya. Beberapa kali aku ditegur bagian kesiswaan karena mereka menyangka aku memakai sepatu ...