Minggu, 05 April 2026

Ruang Waktu

Memerah mataku menatap status WA dari aplikasi yang akhir – akhir ini menjadi fokusku.

Statusnya hari ini sungguh melukai harga diriku.

Secepat kilat aku mengetik kalimat untuk mengomentarinya.

“Kami hanya rekan kerja tidak lebih, jangan berlebiha curiga Abang tidak suka.” Kalimat Bang Imran teringat olehku.

Itu sepekan lalu, aku menujukkan status dari teman sekantor Bang Imran yang aku rasa sudah tidak bisa ditoleri lagi.

Aku yang tunangan Bang Imran saja malu untuk memasang status seperti itu, apalagi Bang Imran selalu mengingatkan kami baru bertunang.

Aku menghapus kembali chat yang sudah aku tulis.

Aku menghela napas berat, meletakkan HP pada meja kecil yang terletak disamping ranjangku.

Malam minggu seharusnya kami berbicara banyak tentang hubungan kami yang sebentar lagi menuju pelaminan.

Chat Bang Imran tadi sore menggatakan tidak bisa datang karena ada jamuan makan di kantornya.

Minggu, 29 Maret 2026

Persimpangan Jalan

 “Percuma Bu Laras, tetap saja salah.” Tergiang suara Bu Intan sepekan lalu ketika kami berbincang masalah pekerjaan.

“Saya lelah selalu disalahkan, padahal banyak yang salah tapi kesalahan saya sepertinya tidak termaafkan.” Masih bermain ucapan Bu Intan dibenakku.

Pagi ini aku tidak mau lagi mendengar keluh kesah Bu Intan yang sepertinya sudah kecewa dengan sikon yang tidak nyaman di kantorku.

Sebenarnya aku sudah merasakan hal ini dua tahun lebih tapi aku mentulikan teliga membutakan mata selagi kinerjaku tidak dipermasalahkan rasanya aku masih bisa mentolirirnya.

Tapi sekarang keadaan seperti tidak bersahabat denganku, ada saja yang tidak kena aku yang datang pagi dipermasalahn oleh teman sekantor katanya mencari muka.

Mencari muka dimana, sejak awal bekerja aku selau datang lebih awal karena tidak ingin terjebak macet yang memusingkan kepala.

Belum lagi polisi yang diakibatkan oleh berebutnya kendaraan bermotor jika sudah jam padat dengan karyawan yang berlomba ke kantornya masing – masing.

Demi menjadi kesehatanku aku memilih datang lebih awal untuk mengelak semua hiruk pikuk serta membatasi diri dari polusi yang semakin menjadi dewasa ini.

Sabtu, 28 Maret 2026

Pilihan

Langkahku gontai, lorong rumah sakit sepi, sesepi hatiku saat ini.

Airmata yang menumpuk sedari ruangan periksa tidak bisa aku tahan.

Satu persatu air itu turun bersama luruhnya badanku ke ubin rumah sakit.

Untung saja lorong tempat aku bersimpuh sepi. entah ini janji sang pencipta untuk menutup aibku karena aku menutup aib suamiku.

Apa aibku, hanya karena aku terlalu sedih memikirkan nasibku yang sudah tidak dianggap suamiku saat ini dan apa nasib janin yang sebetulnya lama aku tunggu tapi datang tidak tepat waktu.

“Abang akan menikah lagi, suka tidak suka terima.” Ucap suamiku tiga bulan lalu.

Seandainya Bang Zikri meminta baik – baik aku pasti mengizinkan dirinya untuk menikah lagi.

Menjelang tujuh tahun pernikahan belum juga ada jerit tangis bayi di rumah kami.

Dan hari ini, aku dikejutkan dengan berita yang sudah lama aku tidak aku harapkan lagi.

Jumat, 27 Maret 2026

Lentera Hati

 

Helaan napas berat membuatku merasa lega, mengusir sebak yang menyesakkan dada.

Badanku yang lelah bertambah lelah, dan akhirnya hari ini aku bisa merasa lega dan melemaskan otot yang sudah dua pekan ini berkutat di depan laptop mengolah data dan rekan - rekannya untuk nilai mata pelajaranku dan memprint rapor sebagai tugas yang ditambahkan selain mengajar.

Sudah terbayang bagaimana aku mengisi waktu selama dua pekan ini.

Bebas mengajar bukan bebas bekerja, batinku.

Senyumku terkembang, belum pernah selama mengajar aku merasa selega ini menghadapi libur mengajar.

Dua hari meliburkan diri dari memegang laptop untuk meramu perencaan pembelajaran.

Dua hari untuk mengolah lemari bajuku yang sudah tidak berantakan selama 6 bulan kerana sibuk dengan mengajar.

Kamis, 26 Maret 2026

Labirin Cinta

 


Suara azan menghentikan tanganku yang asyik dengan pekerjaan dapur.

Tugas wajib sebelum mengistirahatkan diri menjelang tidur nanti.

Setelah makan bersama keluarga besar kami menyebutnya.

Ada Ayah, Emak, Abang dan iparku serta adik bontotku.

Ya, kami hanya tiga bersaudara sementara Abangku baru sebulan menikah dan insyallah pekan depan akan pindah rumah.

“Sudah ada calon In.” terdengar suara iparku bertanya.

“”Masih abu – abu Kak.” Ucapku santai

“Abu – abu? Kenapa abu – abu, ada berapa yang naksir Intan.” suara terkejut iparku.

“Intan yang suka sama Dia, tapi dianya belum tahu>” ucapku dengan hati yang gamang.

“Ooooh.” Hening seketika.

“Waktu acara nikahan orangnya ada?” kepo iparku

Hanya senyum yang menjawab pertanyaan iparku.

Untung saja azan sholat isya menyelamatkanku dari rentetan pertanyaan iparku yang kepo.

Senin, 16 Maret 2026

Rinduku

 


“Aow”. Pekikku

Minyak dari pengorengan muncrat dengan pantas ke tanganku.

Menghela napas berat, pikiran yang tidak focus membuatku celaka.

Sudah dua hari tidak ada kabar berita dari suamiku.

Pekerjaan yang membuatnya harus ke Batam.

Bukan masalah ke Batamnya yang aku pikirkan tapi status dari seseorang yang menganggu pikiranku.

Bukannya tidak percaya dengan suamiku tapi aku tidak percaya dengan pengirim statusnya.

Bukan kebiasaanya Bang Amran tapi ini pertama kalinya tidak memberi kabar setelah sampai tempat tujuan bertugas.

Hatiku terus bertanya, dua hari rasanya waktu yang pasti membuat istri manapun akan merasa curiga jika suaminya tidak berkirim pesan.

Minggu, 08 Maret 2026

Ada Apa Dengan Rasa

 


Netraku menatap sayu taman bunga yang tak berbunga.

Sepuluh tahun lalu, semuanya berwarna warni sejak saat itu dua tahun lalu semuanya jadi tak lagi berwarna warni.

Warna warni dari cat menjadi pemadangan indah yang tidak asri.

Langkahku terus melaju menuju kelas yang berada dipojok ujung sekolah.

Suara riuh sudah terdengar, hanya ada dua kelas tapi suara ributnya bagaikan sepuluh kelas saja.

Langkahku terhenti sejenak di kelas satunya sebelum aku sampai di kelas tempat aku mengajar.

Melihat sekilas, mereka peserta didikku memainkan gitar dan mengeluarkan suara bagaikan tersampuk saja.

Dua kelas ini selalu saja menjadi kelas yang jarang dikunjungi guru.

Berbagai alasan yang diberikan oleh mereka yang tidak masuk dengan pembenaran yang hanya mereka yang tahu.

Postingan Terbaru

Ruang Waktu

Memerah mataku menatap status WA dari aplikasi yang akhir – akhir ini menjadi fokusku. Statusnya hari ini sungguh melukai harga diriku. ...