“Percuma Bu Laras, tetap saja salah.” Tergiang suara Bu Intan sepekan lalu ketika kami berbincang masalah pekerjaan.
“Saya
lelah selalu disalahkan, padahal banyak yang salah tapi kesalahan saya
sepertinya tidak termaafkan.” Masih bermain ucapan Bu Intan dibenakku.
Pagi ini
aku tidak mau lagi mendengar keluh kesah Bu Intan yang sepertinya sudah kecewa
dengan sikon yang tidak nyaman di kantorku.
Sebenarnya
aku sudah merasakan hal ini dua tahun lebih tapi aku mentulikan teliga
membutakan mata selagi kinerjaku tidak dipermasalahkan rasanya aku masih bisa
mentolirirnya.
Tapi
sekarang keadaan seperti tidak bersahabat denganku, ada saja yang tidak kena
aku yang datang pagi dipermasalahn oleh teman sekantor katanya mencari muka.
Mencari
muka dimana, sejak awal bekerja aku selau datang lebih awal karena tidak ingin
terjebak macet yang memusingkan kepala.
Belum lagi polisi yang diakibatkan oleh berebutnya kendaraan bermotor jika sudah jam padat dengan karyawan yang berlomba ke kantornya masing – masing.






