Kamis, 22 Oktober 2026

Ketika Bangku Bertanya: "Ke Mana Guru?"

 

Lonceng berdentang membelah pagi

Rapi tertata jajaran kursi tak berisi

Buku terbuka, pena menanti,

 Meja di depan tetap sepi.

 

Menit bergulir, waktu terbuang,

Langkah kaki yang dinanti tak kunjung datang.

Kabar terdengar sayup dan pelan memecah sunyi

Jumat, 01 Mei 2026

Hatiku

 

Langkahku terhenti, bola kaki warna warni menghentikan langkahku.

Aku mengangkat kepala mencari sosok pemilik bola berwarna – warna.

Sedari tadi aku menundukkan kepala akan mencari uangku yang hilang saja.

Rasanya aku tidak punya muka untuk menatap orang – orang yang berada disekitarku setelah kejadian naas sejam yang lalu.

Andai saja ada pintu doraemon tentu aku akan menggunakannya untuk pergi ke negeri antah berantah.

Sungguh kesal rasanya jika mengingat kejadian sejam yang lalu.

Tiba – tiba saja aku yang lagi menunggu ojek online pesananku tertiban sial.

Bagaimana tidak sial, satu termos air tahu dingin tumbah oleh seorang lelaki dewasa karena ban motor yang dtumpanginya oleng.

Dan hari ini aku mandi air tahu, jika yang tumpah air susu mungkin lain ceritanya.

Untung saja ojek online tiba, sebenarnya ojek online tidak ingin mengantarku karena badanku basah kuyup.

Minggu, 26 April 2026

Tak Seindah Kenyataan

 

Suara terahim sayup – sayup menusuk pendengaranku.

Rasa ngantuk bergelayut manja, mataku masih terpejam erat.

Rasanya baru sebentar aku memanjakan mataku, tapi pagi tidak mau kompromi.

Hatiku lelah, setiap hari dengan kenyataan yang sama.

Dapurku berasap hanya untuk menjerang air untuk secangkir teh pengisi perut sebelum aku berangkat mengajar.

Berita – berita diluar sana membuat pikiranku tidak sejalan dengan hati.

Saat ini semuanya serba mahal tapi dunia pendidikan sudah mandarah daging.

Dunia yang sudah membuat aku Bahagia, sejak meninggalkan dunia kuliah 35 tahun yang lalu.

Covid tidak memberikan aku banyak pilihan, gelar sarjana tidak membuatku mendapatkan pekerjaan yang layak.

Akhirnya aku terdampar di sekolah yang memberikan aku kehidupan.

Rabu, 22 April 2026

Berprasangka

 


Dadaku turun naik, pengalaman menjadi guru selama 25 tahun ternyata tidak membuatku santai mengajar di kelas X.6.

Bagaimana tidak sejak masuk sudah ada kendala yang membuat merasa tidak nyaman mengajar.

Ruang kelas yang seyogyanya harus bersih, pagi ini bagaikan TPA saja penuh dengan sampah yang kemarin lusa tidak dibersihkan.

Rasa busuk yang menyengat membuatku beberapa kali bersin sehingga hidungku terasa perih.

Setelah upacara dipagi yang mataharinya menyengat membuatku ingin tenang mengajar di jam pertama lenyap sudah.

Jengah melihat ruang kelas yang berantakkan membuatku harus istifar dalam hati jangan sampai terpancing emosi.

Jadwalnya untuk mengambil nilai harus aku undur dengan membiarkan mereka membersihkan kelas terlebih dahulu.

Rabu, 15 April 2026

Kata Janji

 

Membuka jendela kamar, segarnya udara pagi aku harapkan memberikan harapan baru bagi diriku.

Sempat mengigil terkena tamparannya, tatapanku terkunci pada bunga mawar merah tak jauh dari jendela kamar.

Senyum mirisku terlihat, aku bagaikan bunga mawar yang tak tersentuh layaknya.

Umurku menginjak kepala tiga sepekan lagi, ocehan Mak setiap hari menanyakan dimana kabar tentang jodohku.

Hanya hamparan senyum palsu serta kata yang mungkin menjadi pamunngkas kalimat.

Allah masih menyimpan jodoh terbaik untukku.

Dengusan kesal selalu terdengar dari Mak jika aku sudah menyebut kata campur tangan Sang Pemilik Segalanya.

Bukannya tidak terpikir tapi lebih tepat mau memikirkan.

Senin, 13 April 2026

Hatiku

 

Langkahku terhenti, bola kaki warna warni menghentikan langkahku.

Aku mengangkat kepala mencari sosok pemilik bola berwarna – warna.

Sedari tadi aku menundukkan kepala akan mencari uangku yang hilang saja.

Rasanya aku tidak punya muka untuk menatap orang – orang yang berada disekitarku setelah kejadian naas sejam yang lalu.

Andai saja ada pintu doraemon tentu aku akan menggunakannya untuk pergi ke negeri antah berantah.

Sungguh kesal rasanya jika mengingat kejadian sejam yang lalu.

Tiba – tiba saja aku yang lagi menunggu ojek online pesananku tertiban sial.

Bagaimana tidak sial, satu termos air tahu dingin tumbah oleh seorang lelaki dewasa karena ban motor yang dtumpanginya oleng.

Sabtu, 11 April 2026

Abu Menjadi Hitam


Menatap sepatu hitam yang sudah memudar warnanya.

Beberapa kali aku ditegur bagian kesiswaan karena mereka menyangka aku memakai sepatu abu – abu.

Peraturan sekolah membuatku tidak berkutik, tapi memaksakan Ayah untuk membeli sepatu rasanya juta tidak memungkinkan.

Menatap wadah kecil yang sudah aku tinta isi ulang spidol whiteboard yang aku ambil sedikit untuk menyemir sepatuku biar kembali berwarna hitam.

Dengan teliti aku menyemir sepatuku, senyum puas tersunging di bibirku.

Berjalan menuju kursi kayu yang selalu menjadi teman setiap untuk menjemur sepatu sesudah aku cuci.

Postingan Terbaru

Ketika Bangku Bertanya: "Ke Mana Guru?"

  Lonceng berdentang membelah pagi Rapi tertata jajaran kursi tak berisi Buku terbuka, pena menanti,   Meja di depan tetap sepi.   ...