Minggu, 08 Maret 2026

Ada Apa Dengan Rasa

 


Netraku menatap sayu taman bunga yang tak berbunga.

Sepuluh tahun lalu, semuanya berwarna warni sejak saat itu dua tahun lalu semuanya jadi tak lagi berwarna warni.

Warna warni dari cat menjadi pemadangan indah yang tidak asri.

Langkahku terus melaju menuju kelas yang berada dipojok ujung sekolah.

Suara riuh sudah terdengar, hanya ada dua kelas tapi suara ributnya bagaikan sepuluh kelas saja.

Langkahku terhenti sejenak di kelas satunya sebelum aku sampai di kelas tempat aku mengajar.

Melihat sekilas, mereka peserta didikku memainkan gitar dan mengeluarkan suara bagaikan tersampuk saja.

Dua kelas ini selalu saja menjadi kelas yang jarang dikunjungi guru.

Berbagai alasan yang diberikan oleh mereka yang tidak masuk dengan pembenaran yang hanya mereka yang tahu.

Sabtu, 07 Maret 2026

Menakar Sepi



Nanar aku menatap air yang turun lebat dari langit.

“Hm.” Helaan napas berat terdengar dari mulutku.

Seperti sinetron saja, ketika aku dilanda rasa gelisah karena belum ada daganganku yang laku.

“Ah, seandainya aku bisa membaca cuaca tentu hari ini bukan dagangan ini yang aku buat.” Monolog hatiku.

Melirik sekilas dengan kedagangan yang susah payah aku buat sejak pukul 3.30 pagi tadi.

Ternyata doaku tidak diijabah-Nya, hujan menemaniku menanti pelanggan yang mungkin terkurung hujan seperti diriku saat ini.

Getar dari HP bututku membuat aku melepas segala andai yang sejak tadi memenuhi kepalaku.

Mengeluarkan HP dari tas selempang yang setia menenamiku.

HP butut dengan ram yang tidak memungkinan ada aplikasi dengan ram besar yang selalu menjadi keluahan anakku jika ada tugas sekolah mereka serta recehan uang yang menjadi penghuni sebagai temannya..

Rabu, 04 Maret 2026

Cemburu Dengan Waktu

Langkah kakiku ku percepat, aku sudah terlambat 5 menit.

Gara – gara bensin langka aku terpaksa menggunakan sepeda untuk mencapai sekolah.

Sepertinya aku lupa dengan segala yang aku ajarkan pada anak didikku.

Pagi ini kebutuhan waktuku untuk masa sekarang terlalaikan.

Lupa untuk mengecek sepeda yang sudah lama tidak aku gunakan.

Belum lama mengayuh pedalnya aku merasa kesimbanganku oleng.

Rasa kesal menyelimuti hatiku, bagaimana tidak ban belakang sepedaku ternyata bocor.

Susash payah aku mencari bengkel dipagi buta, wal hasil terpaksa aku titipkan sepeda dipos satpam di depan gerbang sekolah setelah dengan susah payah mendorongya.

***

Minggu, 01 Maret 2026

Persimpangan Jalan

 

“Percuma Bu Laras, tetap saja salah.” Tergiang suara Bu Intan sepekan lalu ketika kami berbincang masalah pekerjaan.

“Saya lelah selalu disalahkan, padahal banyak yang salah tapi kesalahan saya sepertinya tidak termaafkan.” Masih bermain ucapan Bu Intan dibenakku.

Pagi ini aku tidak mau lagi mendengar keluh kesah Bu Intan yang sepertinya sudah kecewa dengan sikon yang tidak nyaman di kantorku.

Sebenarnya aku sudah merasakan hal ini dua tahun lebih tapi aku mentulikan teliga membutakan mata selagi kinerjaku tidak dipermasalahkan rasanya aku masih bisa mentolirirnya.

Tapi sekarang keadaan seperti tidak bersahabat denganku, ada saja yang tidak kena aku yang datang pagi dipermasalahn oleh teman sekantor katanya mencari muka.

Mencari muka dimana, sejak awal bekerja aku selau datang lebih awal karena tidak ingin terjebak macet yang memusingkan kepala.

Belum lagi polisi yang diakibatkan oleh berebutnya kendaraan bermotor jika sudah jam padat dengan karyawan yang berlomba ke kantornya masing – masing.

Sabtu, 14 Februari 2026

Pilihan


Langkahku gontai, lorong rumah sakit sepi, sesepi hatiku saat ini.

Airmata yang menumpuk sedari ruangan periksa tidak bisa aku tahan.

Satu persatu air itu turun bersama luruhnya badanku ke ubin rumah sakit.

Untung saja lorong tempat aku bersimpuh sepi. entah ini janji sang pencipta untuk menutup aibku karena aku menutup aib suamiku.

Apa aibku, hanya karena aku terlalu sedih memikirkan nasibku yang sudah tidak dianggap suamiku saat ini dan apa nasib janin yang sebetulnya lama aku tunggu tapi datang tidak tepat waktu.

“Abang akan menikah lagi, suka tidak suka terima.” Ucap suamiku tiga bulan lalu.

Seandainya Bang Zikri meminta baik – baik aku pasti mengizinkan dirinya untuk menikah lagi.

Menjelang tujuh tahun pernikahan belum juga ada jerit tangis bayi di rumah kami.

Dan hari ini, aku dikejutkan dengan berita yang sudah lama aku tidak aku harapkan lagi.

“Sudah 14 minggu ya Bu. Ibu beruntung tidak merasakan mual diawal kehamilan.” Kalimat dokter kandungan membuat duniaku menjadi terang benderang tapi seketika mengingat suamiku sudah menjatuhkan talak sebulan lalu walaupun kami belum menjalani sidang perceraian.

Izin sudah kuberikan, tapi entah apa yang menyebabkan suamiku menjatuhkan talak kepadaku.

“Niah, ada apa?” terkejut jangan lagi ditanya.

Sabtu, 31 Januari 2026

Lentera Hati

 


Helaan napas berat membuatku merasa lega, mengusir sebak yang menyesakkan dada.

Badanku yang lelah bertambah lelah, dan akhirnya hari ini aku bisa merasa lega dan melemaskan otot yang sudah dua pekan ini berkutat di depan laptop mengolah data dan rekan - rekannya untuk nilai mata pelajaranku dan memprint rapor sebagai tugas yang ditambahkan selain mengajar.

Sudah terbayang bagaimana aku mengisi waktu selama dua pekan ini.

Bebas mengajar bukan bebas bekerja, batinku.

Senyumku terkembang, belum pernah selama mengajar aku merasa selega ini menghadapi libur mengajar.

Dua hari meliburkan diri dari memegang laptop untuk meramu perencaan pembelajaran.

Dua hari untuk mengolah lemari bajuku yang sudah tidak berantakan selama 6 bulan kerana sibuk dengan mengajar.

Sabtu, 27 Desember 2025

Sampai Waktunya



Seperti biasa dini hari aku sudah terbangun, rasa lelah tidak membuatku bermalas – malasan. Sebelum aku beranjak meninggalkan ranjang melihat sekilas suamiku yang masih hanyut dalam mimpinya.

Menuju dapur tempat untuk menyambut hari, dapur adalah tempat pertama untuk mengisi hariku sebelum menuju tempatku mengabdikan diri yang membuat rumah tanggaku akhir – akhir ini tidak nyaman.

Postingan Terbaru

Ada Apa Dengan Rasa

  Netraku menatap sayu taman bunga yang tak berbunga. Sepuluh tahun lalu, semuanya berwarna warni sejak saat itu dua tahun lalu semuanya...