Jumat, 27 Maret 2026

Lentera Hati

 

Helaan napas berat membuatku merasa lega, mengusir sebak yang menyesakkan dada.

Badanku yang lelah bertambah lelah, dan akhirnya hari ini aku bisa merasa lega dan melemaskan otot yang sudah dua pekan ini berkutat di depan laptop mengolah data dan rekan - rekannya untuk nilai mata pelajaranku dan memprint rapor sebagai tugas yang ditambahkan selain mengajar.

Sudah terbayang bagaimana aku mengisi waktu selama dua pekan ini.

Bebas mengajar bukan bebas bekerja, batinku.

Senyumku terkembang, belum pernah selama mengajar aku merasa selega ini menghadapi libur mengajar.

Dua hari meliburkan diri dari memegang laptop untuk meramu perencaan pembelajaran.

Dua hari untuk mengolah lemari bajuku yang sudah tidak berantakan selama 6 bulan kerana sibuk dengan mengajar.

Kamis, 26 Maret 2026

Labirin Cinta

 


Suara azan menghentikan tanganku yang asyik dengan pekerjaan dapur.

Tugas wajib sebelum mengistirahatkan diri menjelang tidur nanti.

Setelah makan bersama keluarga besar kami menyebutnya.

Ada Ayah, Emak, Abang dan iparku serta adik bontotku.

Ya, kami hanya tiga bersaudara sementara Abangku baru sebulan menikah dan insyallah pekan depan akan pindah rumah.

“Sudah ada calon In.” terdengar suara iparku bertanya.

“”Masih abu – abu Kak.” Ucapku santai

“Abu – abu? Kenapa abu – abu, ada berapa yang naksir Intan.” suara terkejut iparku.

“Intan yang suka sama Dia, tapi dianya belum tahu>” ucapku dengan hati yang gamang.

“Ooooh.” Hening seketika.

“Waktu acara nikahan orangnya ada?” kepo iparku

Hanya senyum yang menjawab pertanyaan iparku.

Untung saja azan sholat isya menyelamatkanku dari rentetan pertanyaan iparku yang kepo.

Senin, 16 Maret 2026

Rinduku

 


“Aow”. Pekikku

Minyak dari pengorengan muncrat dengan pantas ke tanganku.

Menghela napas berat, pikiran yang tidak focus membuatku celaka.

Sudah dua hari tidak ada kabar berita dari suamiku.

Pekerjaan yang membuatnya harus ke Batam.

Bukan masalah ke Batamnya yang aku pikirkan tapi status dari seseorang yang menganggu pikiranku.

Bukannya tidak percaya dengan suamiku tapi aku tidak percaya dengan pengirim statusnya.

Bukan kebiasaanya Bang Amran tapi ini pertama kalinya tidak memberi kabar setelah sampai tempat tujuan bertugas.

Hatiku terus bertanya, dua hari rasanya waktu yang pasti membuat istri manapun akan merasa curiga jika suaminya tidak berkirim pesan.

Minggu, 08 Maret 2026

Ada Apa Dengan Rasa

 


Netraku menatap sayu taman bunga yang tak berbunga.

Sepuluh tahun lalu, semuanya berwarna warni sejak saat itu dua tahun lalu semuanya jadi tak lagi berwarna warni.

Warna warni dari cat menjadi pemadangan indah yang tidak asri.

Langkahku terus melaju menuju kelas yang berada dipojok ujung sekolah.

Suara riuh sudah terdengar, hanya ada dua kelas tapi suara ributnya bagaikan sepuluh kelas saja.

Langkahku terhenti sejenak di kelas satunya sebelum aku sampai di kelas tempat aku mengajar.

Melihat sekilas, mereka peserta didikku memainkan gitar dan mengeluarkan suara bagaikan tersampuk saja.

Dua kelas ini selalu saja menjadi kelas yang jarang dikunjungi guru.

Berbagai alasan yang diberikan oleh mereka yang tidak masuk dengan pembenaran yang hanya mereka yang tahu.

Sabtu, 07 Maret 2026

Menakar Sepi



Nanar aku menatap air yang turun lebat dari langit.

“Hm.” Helaan napas berat terdengar dari mulutku.

Seperti sinetron saja, ketika aku dilanda rasa gelisah karena belum ada daganganku yang laku.

“Ah, seandainya aku bisa membaca cuaca tentu hari ini bukan dagangan ini yang aku buat.” Monolog hatiku.

Melirik sekilas dengan kedagangan yang susah payah aku buat sejak pukul 3.30 pagi tadi.

Ternyata doaku tidak diijabah-Nya, hujan menemaniku menanti pelanggan yang mungkin terkurung hujan seperti diriku saat ini.

Getar dari HP bututku membuat aku melepas segala andai yang sejak tadi memenuhi kepalaku.

Mengeluarkan HP dari tas selempang yang setia menenamiku.

HP butut dengan ram yang tidak memungkinan ada aplikasi dengan ram besar yang selalu menjadi keluahan anakku jika ada tugas sekolah mereka serta recehan uang yang menjadi penghuni sebagai temannya..

Rabu, 04 Maret 2026

Cemburu Dengan Waktu

Langkah kakiku ku percepat, aku sudah terlambat 5 menit.

Gara – gara bensin langka aku terpaksa menggunakan sepeda untuk mencapai sekolah.

Sepertinya aku lupa dengan segala yang aku ajarkan pada anak didikku.

Pagi ini kebutuhan waktuku untuk masa sekarang terlalaikan.

Lupa untuk mengecek sepeda yang sudah lama tidak aku gunakan.

Belum lama mengayuh pedalnya aku merasa kesimbanganku oleng.

Rasa kesal menyelimuti hatiku, bagaimana tidak ban belakang sepedaku ternyata bocor.

Susash payah aku mencari bengkel dipagi buta, wal hasil terpaksa aku titipkan sepeda dipos satpam di depan gerbang sekolah setelah dengan susah payah mendorongya.

***

Minggu, 01 Maret 2026

Persimpangan Jalan

 

“Percuma Bu Laras, tetap saja salah.” Tergiang suara Bu Intan sepekan lalu ketika kami berbincang masalah pekerjaan.

“Saya lelah selalu disalahkan, padahal banyak yang salah tapi kesalahan saya sepertinya tidak termaafkan.” Masih bermain ucapan Bu Intan dibenakku.

Pagi ini aku tidak mau lagi mendengar keluh kesah Bu Intan yang sepertinya sudah kecewa dengan sikon yang tidak nyaman di kantorku.

Sebenarnya aku sudah merasakan hal ini dua tahun lebih tapi aku mentulikan teliga membutakan mata selagi kinerjaku tidak dipermasalahkan rasanya aku masih bisa mentolirirnya.

Tapi sekarang keadaan seperti tidak bersahabat denganku, ada saja yang tidak kena aku yang datang pagi dipermasalahn oleh teman sekantor katanya mencari muka.

Mencari muka dimana, sejak awal bekerja aku selau datang lebih awal karena tidak ingin terjebak macet yang memusingkan kepala.

Belum lagi polisi yang diakibatkan oleh berebutnya kendaraan bermotor jika sudah jam padat dengan karyawan yang berlomba ke kantornya masing – masing.

Postingan Terbaru

Lentera Hati

  Helaan napas berat membuatku merasa lega, mengusir sebak yang menyesakkan dada. Badanku yang lelah bertambah lelah, dan akhirnya hari in...