Rabu, 15 April 2026

Kata Janji

 

Membuka jendela kamar, segarnya udara pagi aku harapkan memberikan harapan baru bagi diriku.

Sempat mengigil terkena tamparannya, tatapanku terkunci pada bunga mawar merah tak jauh dari jendela kamar.

Senyum mirisku terlihat, aku bagaikan bunga mawar yang tak tersentuh layaknya.

Umurku menginjak kepala tiga sepekan lagi, ocehan Mak setiap hari menanyakan dimana kabar tentang jodohku.

Hanya hamparan senyum palsu serta kata yang mungkin menjadi pamunngkas kalimat.

Allah masih menyimpan jodoh terbaik untukku.

Dengusan kesal selalu terdengar dari Mak jika aku sudah menyebut kata campur tangan Sang Pemilik Segalanya.

Bukannya tidak terpikir tapi lebih tepat mau memikirkan.

Senin, 13 April 2026

Hatiku

 

Langkahku terhenti, bola kaki warna warni menghentikan langkahku.

Aku mengangkat kepala mencari sosok pemilik bola berwarna – warna.

Sedari tadi aku menundukkan kepala akan mencari uangku yang hilang saja.

Rasanya aku tidak punya muka untuk menatap orang – orang yang berada disekitarku setelah kejadian naas sejam yang lalu.

Andai saja ada pintu doraemon tentu aku akan menggunakannya untuk pergi ke negeri antah berantah.

Sungguh kesal rasanya jika mengingat kejadian sejam yang lalu.

Tiba – tiba saja aku yang lagi menunggu ojek online pesananku tertiban sial.

Bagaimana tidak sial, satu termos air tahu dingin tumbah oleh seorang lelaki dewasa karena ban motor yang dtumpanginya oleng.

Sabtu, 11 April 2026

Abu Menjadi Hitam


Menatap sepatu hitam yang sudah memudar warnanya.

Beberapa kali aku ditegur bagian kesiswaan karena mereka menyangka aku memakai sepatu abu – abu.

Peraturan sekolah membuatku tidak berkutik, tapi memaksakan Ayah untuk membeli sepatu rasanya juta tidak memungkinkan.

Menatap wadah kecil yang sudah aku tinta isi ulang spidol whiteboard yang aku ambil sedikit untuk menyemir sepatuku biar kembali berwarna hitam.

Dengan teliti aku menyemir sepatuku, senyum puas tersunging di bibirku.

Berjalan menuju kursi kayu yang selalu menjadi teman setiap untuk menjemur sepatu sesudah aku cuci.

Jumat, 10 April 2026

Lepas Asa

 


Menatap langit kamar, menghitung detik jam.

Waktu berlalu sudah lebih dari 3 jam aku menunggu, tapi tidak ada tampak batang hidung suamiku yang berjanji akan pulang sebelu bada’ isyak.

Tadi aku sempat menunggu suamiku di ruang tamu, lelah membuatku masuk ke kamar kami dan membaringkan badan yang lelah.

Sepulangnya dari bekerja aku menyempatkan diri untuk memasak masakan kesukaan suamiku.

“Intan bisa buatkan Abang perkedel.” Pinta Bang Ikram dua hari lalu.

Jarang sekali Bang Ikram meminta aku memasak karena kami sama – sama bekerja.

Aku hanya memasak pada hari sabtu dan minggu, itupun hanya menu sederhana karena aku harus mencuci baju dan berkemas rumah.

Tidak jarang aku bertanya kepada Bang ikram untuk masalah makanan yang ingin aku masakkan.

Tapi jawaban bijak Bang Ikram mengatakan akan memakan apapun yang aku masak yang membuatku bertambah sayang kepada Bang Ikram.

Tidak biasanya Bang Ikram mengingkarai janji yang sudah dibuatnya.

Rabu, 08 April 2026

PUTIH ABU –ABU


Menatap nanar surat yang berada di genggaman tanganku saat ini.

Surat peringatan ke tiga, habis sudah nyawaku kali ini.

Berjalan lemah menuju rumah, malas untuk mengoes sadel sepada angkutanku untuk pergi dan pulang sekolah.

Aku menuntun sepedaku, berharap ada mukjizat yang datang.

“Intan, Abah belum punya uang untuk membayar uiran perpisahannya.” Ucap Abah 2 hari lalu.

Sebenarnya aku tidak ingin menyusahkan Abah, tapi hasil kesepakatan orangtua dengan sekolah perpisahaan tahun ini diselenggarakan oleh orangtua dengan panitia guru – guru untuk memudahkan pengorganisasian kerjanya.

Selasa, 07 April 2026

Rindu Dia

 


Tatapanku nanar melihat mereka dengan seragam putih abu – abu.

Tawa mereka menambah luka di hatiku.

Genggaman tanganku di bakul jualanku semakin kencang, ada yang mengiris hatiku.

“Hana terpaksa sekolah Hana putus dulu.” Ucap Emak kala itu.

Sepekan setelah Abah menghembuskan napas terakhirnya.

Penyakit menahun yang diderita Abah akhirnya merengut Abah dari kami sekeluarga.

Sebagai anak tertua aku harus meringan beban Mak, rasanya cukup sudah aku bisa membaca dan menulis.

Ijazah SMP yang aku punyai rasanya tidak menjamin aku mendapatkan pekerjaan seperti impian anak sekarang paling tidak aku bisa menggunakan tulang empat keratku untuk mencari uang.

Yang penting menulis dan membaca serta berhitung tidak aku ditipu jika aku berjualan.

Senyum mirisku tersungging ketika melihat mereka berhambuaran berlari ke dalam kelas ketika bel tanda masuk belajar.

Puas dengan melihat mereka memakai seragam putih abu, setelah sepi aku meninggalkan sekolah yang menjadi langgananku berjualan.

Bunyi berderit dari ban motor yang di rem paksa membuat kau menolehkan wajahku ke arah suara.

Dia lagi, batinku.

Minggu, 05 April 2026

Ruang Waktu

Memerah mataku menatap status WA dari aplikasi yang akhir – akhir ini menjadi fokusku.

Statusnya hari ini sungguh melukai harga diriku.

Secepat kilat aku mengetik kalimat untuk mengomentarinya.

“Kami hanya rekan kerja tidak lebih, jangan berlebiha curiga Abang tidak suka.” Kalimat Bang Imran teringat olehku.

Itu sepekan lalu, aku menujukkan status dari teman sekantor Bang Imran yang aku rasa sudah tidak bisa ditoleri lagi.

Aku yang tunangan Bang Imran saja malu untuk memasang status seperti itu, apalagi Bang Imran selalu mengingatkan kami baru bertunang.

Aku menghapus kembali chat yang sudah aku tulis.

Aku menghela napas berat, meletakkan HP pada meja kecil yang terletak disamping ranjangku.

Malam minggu seharusnya kami berbicara banyak tentang hubungan kami yang sebentar lagi menuju pelaminan.

Chat Bang Imran tadi sore menggatakan tidak bisa datang karena ada jamuan makan di kantornya.

Postingan Terbaru

Kata Janji

  Membuka jendela kamar, segarnya udara pagi aku harapkan memberikan harapan baru bagi diriku. Sempat mengigil terkena tamparannya, tatapa...