Menatap langit kamar, menghitung detik jam.
Waktu
berlalu sudah lebih dari 3 jam aku menunggu, tapi tidak ada tampak batang
hidung suamiku yang berjanji akan pulang sebelu bada’ isyak.
Tadi aku
sempat menunggu suamiku di ruang tamu, lelah membuatku masuk ke kamar kami dan
membaringkan badan yang lelah.
Sepulangnya
dari bekerja aku menyempatkan diri untuk memasak masakan kesukaan suamiku.
“Intan
bisa buatkan Abang perkedel.” Pinta Bang Ikram dua hari lalu.
Jarang
sekali Bang Ikram meminta aku memasak karena kami sama – sama bekerja.
Aku hanya
memasak pada hari sabtu dan minggu, itupun hanya menu sederhana karena aku
harus mencuci baju dan berkemas rumah.
Tidak
jarang aku bertanya kepada Bang ikram untuk masalah makanan yang ingin aku
masakkan.
Tapi
jawaban bijak Bang Ikram mengatakan akan memakan apapun yang aku masak yang
membuatku bertambah sayang kepada Bang Ikram.
Tidak biasanya Bang Ikram mengingkarai janji yang sudah dibuatnya.
Pikiranku
mulai melayang kemana – mana, jangan sampai Bang Ikram terkena musibah.
Aku
beristifar dalam hati dan berdoa semoga Bang Ikram baik – baik saja.
Aku
meraih hpku dan menekan nomor Bang Ikram.
Netraku
menatap hpku yang menampilkan kalimat memanggil berarti hp Bang Ikram tidak
aktif.
Bukannya
setengah jam yang lalu Bang Ikram masih online, batinku cemas
Lelah
menunggu akhirnya aku terlelap.
Suara
terahim terdengar sayup dari masjid yang berlokasi di daerah rumahku.
Tersentak
aku mengingat semalam aku menunggu Bang Ikram.
Aku
menatap ke samping, dimana biasanya Bang Ikram tidur.
Netraku
membulat, jam berapa Bang Ikram pulang.
Aku
bangkit dengan perlahan, melihat wajah lelah Bang Ikram rasanya tidak tega
untuk membangunkannya tapi dengan terpaksa aku membangunkannya juga.
“Bang bangun, sudah masuk sholat subuh.” Ucapku sambil mengoyang pelan legan Bang Ikram.
Subuh ini
agak liat aku membangunkan Bang Ikram, untung saja sabarku masih banyak.
Dengan
mengeliat Bang Ikram bangun dengan muka bantalnya menuju kamar mandi.
“Tunggu
Abang, kita sholat bersama.” Sebelum Bang Ikram masuk ke dalam kamar mandi.
Aku
membaca ayat – ayat pendek sambil menanti Bang Ikram siap mengambil wudhu
sementera sejadah serta kopiah dan baju Bang Ikram sudah aku siapkan.
***
Menunggu
pekerjaan yang melelahkan, sedari selesai sholat subuh aku berharap Bang Ikram
bercerita keterlambatannya pulang tadi malam.
Akhirnya
setelah mencium tangan Bang Ikram karena kami menggunakan kendaraan berbeda
untuk berkerja aku sempatkan bertanya untuk menghilangkan rasa penasaranku.
Tapi
jawaban yang aku terima tidak memuaskan hatiku sama sekali.
Dengan
perasaan kesal aku pergi kerja dengan mengendarai motorku dengan berbagai
pertanyaan tentang keterlambatan Bang Ikram pulang tadi malam.
Seharian
ini kerjaku banyak melamun, untung saja hari ini tugasku hanya sebagai guru
piket.
Jika saya
aku mengajar dengan jam padat tentu rasa kesalku bertambah dengan tingkah anak
baru gede yang banyak maunya.
Setelah
sholat asar aku menyempatkan diri untuk menchat Bang Ikram menanyakan apakah
dirinya pulang sore atau malah pulang malam seperti kemaren.
Jawabanya
yang ambigu dari chat Bang Ikram membuatku bertambah kesal.
“Lihat
sikon.” Chat Bang Ikram
***
Menjelang
magrib batang hidung Bang Ikram tidak kelihatan.
Segudang
pertanyaan mengelayuti benakku, untuk menghapus rasa ragu aku mengambil wudhu
lebih baik aku membaca alquran untuk menenangkan hati.
Azan
magrib bergema, aku mendengarkannya dengan khusus.
Doa aku
panjatkan setelah mendengar azan berakhir.
Berdiri
mengatur badan untuk mengangkat takbir setelah membaca niat sholat magrib.
Khusuk
aku menjalankan sholat magrib, amin menandakan aku berdoa kepada-Nya memohon
kebaikkan dalam rumah tanggaku.
Melipat
perlengkapan sholat dan meletak pada tempatnya.
Aku
melangkah menuju pintu kamar, rasanya tidak perlu aku menahan lapar, entah jam
berapa Bang Ikram pulang.
Sudah dua suap nasi masuk dalam mulutku, bunyi pintu depan dibuka.
Aku tidak
mengalihkan pandanganku dari piring makanku.
Langkah
mendekat tetap tidak membuatku berniat melihat siapa yang datang mendekati.
Aroma
tercium aku bisa memastikan Bang Ikram yang pulang.
“Tidak
menunggu Abang makannya.?” Ucap Bang Ikram.
Aku hanya
berdehem saja untuk menjawab pertanyaan Bang Ikram.
Bang
Ikram menduduki kuris di sebelahku, tangannya meraih piring yang sudah aku
siapkan.
Walaupun
tidak tahu jam berapa Bang Ikram pulang aku tetap menyiapkan piring dan lauk
pauk untuk makam malam Bang Ikram.
Sudah
menjadi kebiasan siapa yang makan terakhir akan menyimpan sisa makanan di dalam
kulkas.
Aku hanya
diam, biasanya mulutku akan protes jika Bang Ikram langsung makan tidak
membersihak badan terlebih dahulu.
Kami
makan dalam sepi yang mencekam, tidak ada yang membuka suara.
Aku
berdiri sambil membawa piring makanku yang telah kosong.
Melewati
kursi Bang Ikram dengan santai.
“Intan
ambilkan Abang air es.” Ucap Bang Ikram.
Aku
berlalu tanpa menjawab Bang Ikram, setelah meletakkan piring di zink tempat
cuci piring aku mengambil gelas menuju kulkas untuk mengambilkan air es untuk
Bang Ikram.
Seetelah
meletakkan gelas berisi air es di dekat piring Bang Ikram aku berlalu menuju
kamar untuk membuat tes formatif persiapan sekolah besok.
Pojok
kamar yang aku sulap menjadi tempat kerjaku terlihat jelas ketika aku membuka
kamar tidur kami.
Langkahku
lesu, ada rasa yang mengigit ketika tidak ada perbincangan hangat ketika makan
tadi.
Kebiasan
yang tidak pernah terjadi ketika kami makan malam.
Makan
malam sebelumnya selalu hangat dengan saling bertukar cerita tentang keseharian
kami yang beda tempat.
Tawa –
tawa kecil akan terdengar ketika salah satu dari kami bercerita hal lucu yang
tidak lepas dari keseharian kami.
Tapi malam
ini hening, aku menanti Bang Ikram bercerita kemana perginya dirinya kemaren
malam serta hari ini kenapa pulang setelah magrib datang.
Dengan
malas aku menghempaskan diri pada kursi kerjaku.
Membuka
laptop yang menjadi senjata kerjaku setiap hari.
File tes formatif yang sudah terisi beberapa soal akhirnya aku pandangi saja tanpa menyentuh sedikitpun laptop yang tersadai di depanku.
Helaan
napas berat meluncur dengan berat, rasanya aku ingin menjerit dengan keadaan
ini, tapi aku jadi mengingat cerita sepekan yang lalu ketika salah satu guru
senior mengatakan suaminya berubah setahun terakhir ini dan sebulan yang lalu
terbokar sudah menikah lagi.
Jangan
terlalu cerewet seperti saya, dan akhirnya menyesal akhirnya, kalimat yang
terngiang terus dibenakku.
Apakah
aku terlalu cerewet, sepertinya tidak.
Aku tidak
pernah melarang kegiatan yang dilakukan Bang Ikram, kadang ada rasa dimana Bang
Ikram lebih banyak diluar daripada menghabiskan waktu bersamaku ketika saat
kami baru berumah tangga.
Berjalannya
waktu aku mulai memberikan waktu untuk diri sendiri kepada Bang Ikram karena
takut jika aku mengekang Bang Ikram sementara kami masih berdua dalam kurun
waktu 5 tahun berumah tangga.
Rasa
bosan sendiri kadang membuatku menghabiskan waktu dengan menulis pada komunitas
menulis yang aku ikuti.
Banyak
pengalaman yang aku banyak dari cerita fiksi yang mungkin terinspriasi dari
kehidupan nyata membuatku mawas diri.
Seperti
bermail layang – layang aku menarik ulur hubungan kami.
Rasanya
baru sepekan ini aku melihat perubahan dari diri Bang Ikram.
Tepukan
di pundakku membuatku terhempas dari lamunan.
Aku
menolehkan badan melihat Bang Ikram yang berdiri tegak disampingku.
Senyum
Bang Ikram merekah, tangannya menyodorkan kotak kecil.
“Happy
Annivesary Sayang.” Ucap Bang Ikram sambil mencium keningku lembut.
Aku
terharu, mataku mengembun aku meraih tangan Bang Ikram untuk dicium takzim.
“Maaf
Intan lupa.” Ucapku sedih.
“Maafkan
juga Abang yang sengaja menyibuk diri, pulang malam. Sebenarnya Abang sengaja
untuk memancing marah Intan. ternyata Istri Abang tak marah Abang pulang malam
tanpa kabar. Abang kecewa.
Aku
mencebik mendengar perkataan Bang Ikram.
Sambil
tersedu aku menceritakan betapa beberapa hari ini pikiranku kotor dengan segala
praduga yang membuat dadaku sesak.
Aku tidak ingin menambah masalah dengan banyak pertanyaan yang akan membuat hubungan kami menjadi rengang.
Senyum
Bang Ikram merekah indah, mendekapku erat sambil mencium pucuk kepalaku
berulang kali.
“Maaf
Abang membuat Intan kesal, Intan terlalu sempurna menjadi istri Abang.
Kadang
Abang berpikir, tidak ada rasa cemburu dalam diri Intan Untuk Abang. Beberapa
hari ini entah kenapa Abang ingin sekali melihat Intan cemburu.
Dan Abang
berhasil, terima kasih untuk cinta dan segala perhatiannya.
Bertambahnya
usia pernikahan kita semoga tetap dalam berkah dan lindungannya.” Kalimat
panjang terucap dari bibir Bang Ikran.
Antara
senang dan kesal tiba – tiba saja kepalaku mendadak pusing, pandanganku menjadi
kabur setelah itu aku tidak mengingat apa – apa lagi.
***
Entah
berapa lama aku tidak sadarkan diri.
Ketika
membuka mata aku asing dengan ruangan yang saat ini aku berada.
Senyumku
mengembang ketika melihat Bang Ikram duduk disamping ranjang tempat aku
berbaring.
Genggaman
erat tangan Bang Ikram membuatku merasa hangat.
“Alhamdulillan
Intan sudah sadar, terima ksaih.” Ucap Bang Ikram dengan mata berkaca-kaca.
Pikiranku
kalut, apa jangan – jangan aku mengidap sakit keras, batinku.
Bang
Ikram berdiri mengecup keningku lembut, kembali duduk dan kembali bang Ikram
mencium tanganku yang dalam mengenggamnya berulang kali.
Kalut
membuatku menangis, melihatku menangis Bang Ikram menjadi kalut.
Bukannya
menenangkanku kami malah berjamah menangis.
“Bapak
Ibu kenapa?” suara perawat mengejutkan kami.
Spontan
kami berhenti menangis, Bang Ikram mengusap air yang mengalir deras dipipiku
sebelumnya Bang Ikram menghapus airmatany terlebih dahulu.
“Kami
terharu, setelah lima tahun menunggu Allah menitipkan harapan besar untuk
memiliki keturunan terkabul.” Spontan aku menatap Bang Ikram setelah mendengar
ucapnya.
Tangisku
yang tadi berhenti sekarang terdengar lagi.
Mendekap
Bang Ikram spontan aku lakukan, senyum malu perawat terlihat jelas olehku.
Tapi rasa
bahagia membuatku lupa diri.
“Malu ada
perawat.” Ucap Bang Ikram
Aku tetap
memeluk pingang Bang Ikram.
“Saya
hanya ingin memberitahu jika sudah istrinya bisa di bawa pulang Pak.” Perawat
berlalu setelah menyampaikan pesan.
Akhirnya doa
kami diijabah, asaku yang sempat aku lepas untuk memiliki keturunan akhirnya
berakhir manis.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar