Jumat, 10 April 2026

Lepas Asa

 


Menatap langit kamar, menghitung detik jam.

Waktu berlalu sudah lebih dari 3 jam aku menunggu, tapi tidak ada tampak batang hidung suamiku yang berjanji akan pulang sebelu bada’ isyak.

Tadi aku sempat menunggu suamiku di ruang tamu, lelah membuatku masuk ke kamar kami dan membaringkan badan yang lelah.

Sepulangnya dari bekerja aku menyempatkan diri untuk memasak masakan kesukaan suamiku.

“Intan bisa buatkan Abang perkedel.” Pinta Bang Ikram dua hari lalu.

Jarang sekali Bang Ikram meminta aku memasak karena kami sama – sama bekerja.

Aku hanya memasak pada hari sabtu dan minggu, itupun hanya menu sederhana karena aku harus mencuci baju dan berkemas rumah.

Tidak jarang aku bertanya kepada Bang ikram untuk masalah makanan yang ingin aku masakkan.

Tapi jawaban bijak Bang Ikram mengatakan akan memakan apapun yang aku masak yang membuatku bertambah sayang kepada Bang Ikram.

Tidak biasanya Bang Ikram mengingkarai janji yang sudah dibuatnya.

Pikiranku mulai melayang kemana – mana, jangan sampai Bang Ikram terkena musibah.

Aku beristifar dalam hati dan berdoa semoga Bang Ikram baik – baik saja.

Aku meraih hpku dan menekan nomor Bang Ikram.

Netraku menatap hpku yang menampilkan kalimat memanggil berarti hp Bang Ikram tidak aktif.

Bukannya setengah jam yang lalu Bang Ikram masih online, batinku cemas

Lelah menunggu akhirnya aku terlelap.

Suara terahim terdengar sayup dari masjid yang berlokasi di daerah rumahku.

Tersentak aku mengingat semalam aku menunggu Bang Ikram.

Aku menatap ke samping, dimana biasanya Bang Ikram tidur.

Netraku membulat, jam berapa Bang Ikram pulang.

Aku bangkit dengan perlahan, melihat wajah lelah Bang Ikram rasanya tidak tega untuk membangunkannya tapi dengan terpaksa aku membangunkannya juga.

“Bang bangun, sudah masuk sholat subuh.” Ucapku sambil mengoyang pelan legan Bang Ikram. 

Subuh ini agak liat aku membangunkan Bang Ikram, untung saja sabarku masih banyak.

Dengan mengeliat Bang Ikram bangun dengan muka bantalnya menuju kamar mandi.

“Tunggu Abang, kita sholat bersama.” Sebelum Bang Ikram masuk ke dalam kamar mandi.

Aku membaca ayat – ayat pendek sambil menanti Bang Ikram siap mengambil wudhu sementera sejadah serta kopiah dan baju Bang Ikram sudah aku siapkan.

***

Menunggu pekerjaan yang melelahkan, sedari selesai sholat subuh aku berharap Bang Ikram bercerita keterlambatannya pulang tadi malam.

Akhirnya setelah mencium tangan Bang Ikram karena kami menggunakan kendaraan berbeda untuk berkerja aku sempatkan bertanya untuk menghilangkan rasa penasaranku.

Tapi jawaban yang aku terima tidak memuaskan hatiku sama sekali.

Dengan perasaan kesal aku pergi kerja dengan mengendarai motorku dengan berbagai pertanyaan tentang keterlambatan Bang Ikram pulang tadi malam.

Seharian ini kerjaku banyak melamun, untung saja hari ini tugasku hanya sebagai guru piket.

Jika saya aku mengajar dengan jam padat tentu rasa kesalku bertambah dengan tingkah anak baru gede yang banyak maunya.

Setelah sholat asar aku menyempatkan diri untuk menchat Bang Ikram menanyakan apakah dirinya pulang sore atau malah pulang malam seperti kemaren.

Jawabanya yang ambigu dari chat Bang Ikram membuatku bertambah kesal.

“Lihat sikon.” Chat Bang Ikram

***

Menjelang magrib batang hidung Bang Ikram tidak kelihatan.

Segudang pertanyaan mengelayuti benakku, untuk menghapus rasa ragu aku mengambil wudhu lebih baik aku membaca alquran untuk menenangkan hati.

Azan magrib bergema, aku mendengarkannya dengan khusus.

Doa aku panjatkan setelah mendengar azan berakhir.

Berdiri mengatur badan untuk mengangkat takbir setelah membaca niat sholat magrib.

Khusuk aku menjalankan sholat magrib, amin menandakan aku berdoa kepada-Nya memohon kebaikkan dalam rumah tanggaku.

Melipat perlengkapan sholat dan meletak pada tempatnya.

Aku melangkah menuju pintu kamar, rasanya tidak perlu aku menahan lapar, entah jam berapa Bang Ikram pulang.

Sudah dua suap nasi masuk dalam mulutku, bunyi pintu depan dibuka.

Aku tidak mengalihkan pandanganku dari piring makanku.

Langkah mendekat tetap tidak membuatku berniat melihat siapa yang datang mendekati.

Aroma tercium aku bisa memastikan Bang Ikram yang pulang.

“Tidak menunggu Abang makannya.?” Ucap Bang Ikram.

Aku hanya berdehem saja untuk menjawab pertanyaan Bang Ikram.

Bang Ikram menduduki kuris di sebelahku, tangannya meraih piring yang sudah aku siapkan.

Walaupun tidak tahu jam berapa Bang Ikram pulang aku tetap menyiapkan piring dan lauk pauk untuk makam malam Bang Ikram.

Sudah menjadi kebiasan siapa yang makan terakhir akan menyimpan sisa makanan di dalam kulkas.

Aku hanya diam, biasanya mulutku akan protes jika Bang Ikram langsung makan tidak membersihak badan terlebih dahulu.

Kami makan dalam sepi yang mencekam, tidak ada yang membuka suara.

Aku berdiri sambil membawa piring makanku yang telah kosong.

Melewati kursi Bang Ikram dengan santai.

“Intan ambilkan Abang air es.” Ucap Bang Ikram.

Aku berlalu tanpa menjawab Bang Ikram, setelah meletakkan piring di zink tempat cuci piring aku mengambil gelas menuju kulkas untuk mengambilkan air es untuk Bang Ikram.

Seetelah meletakkan gelas berisi air es di dekat piring Bang Ikram aku berlalu menuju kamar untuk membuat tes formatif persiapan sekolah besok.

Pojok kamar yang aku sulap menjadi tempat kerjaku terlihat jelas ketika aku membuka kamar tidur kami.

Langkahku lesu, ada rasa yang mengigit ketika tidak ada perbincangan hangat ketika makan tadi.

Kebiasan yang tidak pernah terjadi ketika kami makan malam.

Makan malam sebelumnya selalu hangat dengan saling bertukar cerita tentang keseharian kami yang beda tempat.

Tawa – tawa kecil akan terdengar ketika salah satu dari kami bercerita hal lucu yang tidak lepas dari keseharian kami.

Tapi malam ini hening, aku menanti Bang Ikram bercerita kemana perginya dirinya kemaren malam serta hari ini kenapa pulang setelah magrib datang.

Dengan malas aku menghempaskan diri pada kursi kerjaku.

Membuka laptop yang menjadi senjata kerjaku setiap hari.

File tes formatif yang sudah terisi beberapa soal akhirnya aku pandangi saja tanpa menyentuh sedikitpun laptop yang tersadai di depanku.

Helaan napas berat meluncur dengan berat, rasanya aku ingin menjerit dengan keadaan ini, tapi aku jadi mengingat cerita sepekan yang lalu ketika salah satu guru senior mengatakan suaminya berubah setahun terakhir ini dan sebulan yang lalu terbokar sudah menikah lagi.

Jangan terlalu cerewet seperti saya, dan akhirnya menyesal akhirnya, kalimat yang terngiang terus dibenakku.

Apakah aku terlalu cerewet, sepertinya tidak.

Aku tidak pernah melarang kegiatan yang dilakukan Bang Ikram, kadang ada rasa dimana Bang Ikram lebih banyak diluar daripada menghabiskan waktu bersamaku ketika saat kami baru berumah tangga.

Berjalannya waktu aku mulai memberikan waktu untuk diri sendiri kepada Bang Ikram karena takut jika aku mengekang Bang Ikram sementara kami masih berdua dalam kurun waktu 5 tahun berumah tangga.

Rasa bosan sendiri kadang membuatku menghabiskan waktu dengan menulis pada komunitas menulis yang aku ikuti.

Banyak pengalaman yang aku banyak dari cerita fiksi yang mungkin terinspriasi dari kehidupan nyata membuatku mawas diri.

Seperti bermail layang – layang aku menarik ulur hubungan kami.

Rasanya baru sepekan ini aku melihat perubahan dari diri Bang Ikram.

Tepukan di pundakku membuatku terhempas dari lamunan.

Aku menolehkan badan melihat Bang Ikram yang berdiri tegak disampingku.

Senyum Bang Ikram merekah, tangannya menyodorkan kotak kecil.

“Happy Annivesary Sayang.” Ucap Bang Ikram sambil mencium keningku lembut.

Aku terharu, mataku mengembun aku meraih tangan Bang Ikram untuk dicium takzim.

“Maaf Intan lupa.” Ucapku sedih.

“Maafkan juga Abang yang sengaja menyibuk diri, pulang malam. Sebenarnya Abang sengaja untuk memancing marah Intan. ternyata Istri Abang tak marah Abang pulang malam tanpa kabar. Abang kecewa.

Aku mencebik mendengar perkataan Bang Ikram.

Sambil tersedu aku menceritakan betapa beberapa hari ini pikiranku kotor dengan segala praduga yang membuat dadaku sesak.

Aku tidak ingin menambah masalah dengan banyak pertanyaan yang akan membuat hubungan kami menjadi rengang. 

Senyum Bang Ikram merekah indah, mendekapku erat sambil mencium pucuk kepalaku berulang kali.

“Maaf Abang membuat Intan kesal, Intan terlalu sempurna menjadi istri Abang.

Kadang Abang berpikir, tidak ada rasa cemburu dalam diri Intan Untuk Abang. Beberapa hari ini entah kenapa Abang ingin sekali melihat Intan cemburu.

Dan Abang berhasil, terima kasih untuk cinta dan segala perhatiannya.

Bertambahnya usia pernikahan kita semoga tetap dalam berkah dan lindungannya.” Kalimat panjang terucap dari bibir Bang Ikran.

Antara senang dan kesal tiba – tiba saja kepalaku mendadak pusing, pandanganku menjadi kabur setelah itu aku tidak mengingat apa – apa lagi.

***

Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri.

Ketika membuka mata aku asing dengan ruangan yang saat ini aku berada.

Senyumku mengembang ketika melihat Bang Ikram duduk disamping ranjang tempat aku berbaring.

Genggaman erat tangan Bang Ikram membuatku merasa hangat.

“Alhamdulillan Intan sudah sadar, terima ksaih.” Ucap Bang Ikram dengan mata berkaca-kaca.

Pikiranku kalut, apa jangan – jangan aku mengidap sakit keras, batinku.

Bang Ikram berdiri mengecup keningku lembut, kembali duduk dan kembali bang Ikram mencium tanganku yang dalam mengenggamnya berulang kali.

Kalut membuatku menangis, melihatku menangis Bang Ikram menjadi kalut.

Bukannya menenangkanku kami malah berjamah menangis.

“Bapak Ibu kenapa?” suara perawat mengejutkan kami.

Spontan kami berhenti menangis, Bang Ikram mengusap air yang mengalir deras dipipiku sebelumnya Bang Ikram menghapus airmatany terlebih dahulu.

“Kami terharu, setelah lima tahun menunggu Allah menitipkan harapan besar untuk memiliki keturunan terkabul.” Spontan aku menatap Bang Ikram setelah mendengar ucapnya.

Tangisku yang tadi berhenti sekarang terdengar lagi.

Mendekap Bang Ikram spontan aku lakukan, senyum malu perawat terlihat jelas olehku.

Tapi rasa bahagia membuatku lupa diri.

“Malu ada perawat.” Ucap Bang Ikram

Aku tetap memeluk pingang Bang Ikram.

“Saya hanya ingin memberitahu jika sudah istrinya bisa di bawa pulang Pak.” Perawat berlalu setelah menyampaikan pesan.

Akhirnya doa kami diijabah, asaku yang sempat aku lepas untuk memiliki keturunan akhirnya berakhir manis.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Lepas Asa

  Menatap langit kamar, menghitung detik jam. Waktu berlalu sudah lebih dari 3 jam aku menunggu, tapi tidak ada tampak batang hidung suami...