Surat peringatan ke tiga, habis sudah nyawaku kali ini.
Berjalan lemah menuju rumah, malas untuk mengoes sadel sepada angkutanku untuk pergi dan pulang sekolah.
Aku menuntun sepedaku, berharap ada mukjizat yang datang.
“Intan, Abah belum punya uang untuk membayar uiran perpisahannya.” Ucap Abah 2 hari lalu.
Sebenarnya aku tidak ingin menyusahkan Abah, tapi hasil kesepakatan orangtua dengan sekolah perpisahaan tahun ini diselenggarakan oleh orangtua dengan panitia guru – guru untuk memudahkan pengorganisasian kerjanya.
Hasil tabunganku ternyata tidak cukup untuk menutupi iuran perpisahaan, masih kurang seratus ribu.
Aku menatap tanah tempat aku berjalan berharap ada uang yang tertinggal oleh pemiliknya yang kelebihan uang, aku tertawa miris memikirkan isi otakku yang mulai error.
Suara klapson membuatku menganggkat wajah memandang sumber suara.
Aku sudah menaikkan sepedaku di trotoar tempat pejalan kaki.
Menuntun sepedaku seakan rusak saja, sehingga tidak ada protes dari pejalan kaki lainya.
Suara klapson yang terus menganggu pendengaranku membuatku bingung.
Senyum manis terpampang dari balik jendela mobil yang tadi suara klapsonya memekakkan teliga.
Saras, teman satu kelasku.
Anak pengusaha kaya yang mau berteman dengan anak orang susah sepertiku.
Banyak sekali bantuan yang aku terima dari Saras.
Aku tersenyum manis kearah Saras, kenapa aku tidak terpikir untuk meminjam uang kepada Saras.
Belum juga aku membuka mulut, hatiku berkata untuk tidak selalu menyusahkan Saras dengan masalahku.
Saras sudah membelikan baju untuk perpisahan kami, katanya ini sebagai hadiah karena aku selalu membantunya dalam pembelajaran.
Masa aku menyusahkan Saras lagi dengan meminjam uang, batinku.
“Pesawatmu rusak.” Teriak Saras.
Suasana jalan yang ramai membuat Saras harus berteriak.
“Iya ni, pesawatku rusak jadi harus di doroang.” Balasku kepada Saras.
Kami tertawa setelah itu.
Saras selalu menjadi teman tawaku dalam duka.
“Aku antar pulang Intan, Papa menitipkan sesuatu kepada Abahmu.” Teriak Saras lagi.
“Pesawatku, bagaimana.” Teriakku kepada Saras.
“Letakkan di atas mobil saja.” Ucap saras.
Dibantu oleh supir saras aku menaikan sepedaku di atas mobil saras.
Setelah itu aku membuka pintu penumpang mobil dan duduk disamping Saras.
Boleh dihitung jadi aku menumpang di mobil Saras.
Walaupun kami berteman baik, Aku tidak mau mengambil kesempaan yang ada.
Bau harum mobil Saras membuatku tersenyum tipis.
Enaknya jadi orang yang mampu memiliki mobil, batinku sendu.
Aku menggelengkan kepala, bukankah Saras pernah bercerita jika dirinya selalu kesepian karena kedua orangtuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan.
Saras selalu mampir ke rumahku dengan membawa makanan, dengan alasan ingin ditemani makan karena Aku, Abah dan Emak serta didikku selalu makan bersama disore hari.
Setelah magrib baru Saras pulang kerumahnya dijemput mobil Papanya.
“Melamun, temanku satu ini akhir – akhir ini selalu melamun.” Kaget aku mendengar suara Saras.
“Aku hanya capek mendorong pesawatku,” dalihku.
Suasan yang tadi sempat sepi sekarang, riuh dengan senda gurau kami.
Tak terasa mobil Saras sudah sampai di gubukku.
Masih dengan saling melempar canda Aku dan Saram mengucapkan salam.
Suara mengema dari dalam menyambut salam kami.
Aku menekan panel pintu depan, melangkah menuju dapur bersama Saras untuk menjumpai Ibu yang selalu berada di dapur jam menjelang sholat asar untuk memasak makan malam kami.
“Mak, ini ada titipan makanan buat Ibu, sementara amplop ini kata Papa untuk Abah.” Ucap Saras.
Saras sudah seperti keluarga, memanggil Emak dan Abah seperti diriku.
“Kata Papa, Abah boleh mengangsur membenahi kebun jika sudah datang bibitnya.” Aku terus memperhatikan Emak dan Saras berbicara.
Jika saja aku bisa sebahagia saras dalam meniti jalan mengakhiri masa putih abau – abu tentu banyak cerita yang bisa aku ukir saat ini.
“Intan jangan lupa masih banyak tunggakkan yang harus di selesaikan.” Ucapan bendahara komite beberapa hari lalu.
Helaan napas berat spontan keluar dari hidungku, mengenang apa yang diucapkan bendahara komite.
Uang pangkal masuk sekolah yang seharusnya lunas ketika aku menginjakkan kaki di kelas dua masih menjadi tanggungan Abah.
Untung saja aku berprestasi sehingga hadiah siswa karena prestasi sedikit meringgankan beban Abah.
Ketukkan dipintu membuat aku membuang jauh pikiran yang membuat kepalaku menjadi pusing.
Aku melangkah menuju pintu kamar, wajahku harus ceria jangan sampai Mak melihat wajahku yang kusut memikirkan masalah cicilan uang sekolah yang harus segera di lunasi.
“Intan sudah tidur” ucap Mak ketika pintu aku buka.
“Sedikit lagi tidur Mak, tapi ketukan pintu membuat Intan terbangun lagi.” Ucapku sambil pura – pura mengosok mata.
Pasti ada hal penting yang ingin Mak ucapkan sehingg tidak menunggu pagi Mak mengetuk pintuku.
“Besok bayar cicilan yang menunggak.” Ucap Mak sambil menyodorkan amploop.
Aku mengenali ampolop itu, amplop yang tadi siang diberikan oleh Saras yang katanya titipan untuk Abah.
“Paling tidak ini bisa mengurangi cicilan yang menunggak.” Ucap Mak.
Aku memasang senyum termanis untuk Mak, aku menyimpan rasa sakit karena Abah dan Mak terpaksa mengutang sana sini untuk menutupi iuran komite sekolahku.
Rasanya aku menambah beban Abah Mak jika aku memaksakan untuk menamatkan sekolah.
Putih abu – abu, rasanya aku harus merelakan semua cerita tentangmu.
“Mak rasanya Intan berhenti sekolah saja.” Ucapku.
Menata hati untuk menyampaikan apa isi hatiku kepada Mak.
Hening tidak ada yang berkata – kata.
Belum juga aku membuka mulut, Mak memelukku erat.
“Alhamdulillah kita dapat rezeki sedikit, ini untuk Intan membayar tunggakkan sekolah.” Hatiku langsung bersorak riang.
Tak terasa air bening dimataku menetes jatuh, aku merasa beban yang tadi sempat mengalayut dihatiku menguap entah kemana.
Aku menerima amplop yang Mak sodorkan kepadaku.
Sedikit tebal, mudah – mudah cukup untuk melunasi semua cicilan sekolah, batinku.
Setelah Mak meninggalkan kamarku, aku berjalan menuju ranjang, dengan tergesa aku membuka amplop yang Mak sodorkan tadi.
Warna merah semua uang yang ada di dalam amplop tadi, tak terasa senyumku mengambang.
Setelah aku menghitung jumlahnya hatiku bertambah riang, bagaimana tidak uangnya lebih daripada cukup untuk melunasi cicilan uang sekolah.
Aku teringat sebelum Mak keluar kamar tadi sempat mengatakan ada sisa uang untuk keperluan sekolahku.
***
Pagi ini aku bangun dengan rasa beban yang berkurang.
Kelegaan terasa sekali menyapa hariku ini.
Sambil bersenandung aku menuju sekolah, mengayuh sepeda yang riang.
Seperti biasa aku berpaspasan dengan saras sahabatku.
“Alhamdulillah hari ini sahabatku tampak ceria.” Suara teriakkan saras dari dalam kendaraannya.
Aku melambaikan tangan kepada saras dan mengayuh sadel sepedaku lebih cepat untuk menyusul kendaraan yang ditumpangi Saras.
Dengan napas ngos – ngosan akhirnya aku sampai di pintu pagar sekolah.
Saras dengan setia menugguku, sambil melempar senyum manisnya untukku.
Saras dengan setia menugguku, sambil melempar senyum manisnya untukku.
Sambil bercanda kami menuju kelas dengan semangat pagi.
Bel bunyi tanda istirahat aku berdiri dengan cepat meronggoh amplop menuju kantor TU tempat bendahara sekolah bermukim.
Saras tidak mengikuti langkahku kali ini, biasanya kami akan menuju kantin waktu istirahat.
Pagi tadi aku sudah berkabar kepada Saras pas waktu istirahat untuk melunasi tunggakkan sekolah yang harus aku bayar.
Dengan langkah ringan dan bersenandung kecil.
***
“Terima kasih Saras.” Ucapku setelah sampai di depan rumah.
Hari ini aku dipaksa Saras untuk menaiki kendaraanya.
Dengan dibantu sopir akhirnya kuda besiku berongok manis di atas mobilnya.
Sepanjang jalan kami bercerita tentang kejadian di sekolah tadi pagi.
Tawa kami mengema di ruang segi empat yang sedang berjalan.
Aku menatap masa depan dengan senyum tersunging di bibir.
Akhirnya ada cerita putih abu – abuku tidak lagi abu.
Ada cerita bagaimana leganya hatiku tidak usah memikirkan nama yang selalu di panggil oleh bendahara komite karena menunggak pembayaran.
Ingin rasanya berteriak ketika bendahara komite mengatakan ada donator yang memberikan bea siswa penuh sampai menamatkan sekolah karena prestasi yang sudah aku raih.
Putih abuku tak lagi menjadi kenangan pahit berubah menjadi manis, senyumku tersungging manis.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar