Tatapanku nanar melihat mereka dengan seragam putih abu – abu.
Tawa
mereka menambah luka di hatiku.
Genggaman
tanganku di bakul jualanku semakin kencang, ada yang mengiris hatiku.
“Hana
terpaksa sekolah Hana putus dulu.” Ucap Emak kala itu.
Sepekan
setelah Abah menghembuskan napas terakhirnya.
Penyakit
menahun yang diderita Abah akhirnya merengut Abah dari kami sekeluarga.
Sebagai
anak tertua aku harus meringan beban Mak, rasanya cukup sudah aku bisa membaca
dan menulis.
Ijazah
SMP yang aku punyai rasanya tidak menjamin aku mendapatkan pekerjaan seperti
impian anak sekarang paling tidak aku bisa menggunakan tulang empat keratku
untuk mencari uang.
Yang
penting menulis dan membaca serta berhitung tidak aku ditipu jika aku
berjualan.
Senyum
mirisku tersungging ketika melihat mereka berhambuaran berlari ke dalam kelas
ketika bel tanda masuk belajar.
Puas
dengan melihat mereka memakai seragam putih abu, setelah sepi aku meninggalkan
sekolah yang menjadi langgananku berjualan.
Bunyi
berderit dari ban motor yang di rem paksa membuat kau menolehkan wajahku ke
arah suara.
Dia lagi, batinku.
Motor
pembalap yang mendadak di rem, seperti biasanya membuat Pak Satpam hanya
mengeleng kepala melihatnya.
“Maaf Pak
saya terlambat lagi, tapi hari ini hanya 2 menit.” Teriaknya sambil melempar
senyum manis.
Anehnya
Pak Satpam tidak pernah marah, malah dengan ramah membuka lebar gerbang sekolah
yang sudah ditutup.
Lebih
anehnya lagi, pemuda yang aku rasa berada di atas usiaku akan menuntut sepeda
balapnya masuk ke pekarang sekolah.
Biasanya
pemuda itu akan terlambat lebih dari 10 menit, tapi masih saja mendapatkan
sapaan ramah dari Pak Satpam sekolah.
Aku
memandang punggung yang mendorong motor itu.
Terdengar
siulan dari mulutnya, tidak ada rasa bersalah bahwa dirinya terlambat datang
kesekolah.
Helaan
napasku semakin kencang, ketika mengingat sewaktu aku sekolah di SMP dulu.
Terlambat 1 menit saja, Satpam sekolahku akan mengomel sampai teligaku panas mendengarnya.
Terlambat
1 menit saja, Satpam sekolahku akan mengomel sampai teligaku panas
mendengarnya.
Belum
lagi guru jam pertama yang sepertinya sudah menunggu momen untuk memarahi kami
yang terlambat.
Yang
terlambat dimarah imbasnya kepada kami yang tidak terlambat juga.
“Kalian
harus ingat yang terlambat menganggu kosentrasi Ibu dan menghabiskan waktu Ibu
untuk berkata yang tidak ada hubungannya dengan materi Ibu.” Jerit guruku kala
itu.
Sekali
lagi pagi ini, helaan napas berat aku hembuskan, melihat mereka ke sekolah ada
yang luka di dadaku.
***
“Assalamualaikum.”
Ucapku lemah sesampainya di rumah.
Seri
rumah kami sudah redup, sejak Abah pergi hanya kesunyian di rumah kami.
Mak
selalu menjawab salam dengan suara rendah, mungkin semutpun tidak mendengar
suara Emak.
Setelah
menutup pintu aku menuju dapur untuk meletakkan bakul daganganku yang sudah
kosong.
Lumayan
hari ini aku mendapatkan Rp 78 ribu hasil berdagang.
Mendengar
suara batuk dari dalam kamar Emak, aku mempercepat langkah menuju kamar Emak.
Menekan
panel pintu dengan tergesa ketika terdengar lagi suara batuk yang tiada henti.
Mak
bergulung di tempat tidur, pemandangan yang sepekan ini menjadi santapan
mataku.
Mak sakit
tapi tidak mau kerumah sakit.
Aku tahu
alasanya, takut rezeki kami yang sedikit harus berbagi dengan biaya rumah
sakit.
Mak
memilih untuk mengkonsumsi obat herbat seperti kunyit yang dicampur dengan
lemon.
Tapi sudah sepekan mengkonsumsinya aku tidak melihat efek menyembuhkan.
Mak
memilih untuk mengkonsumsi obat herbat kunyit yang dicampur dengan lemon.
Tapi
sudah sepekan mengkonsumsinya aku tidak melihat efek menyembukan, batuk Mak
masih terus berlangsung.
Pintu
kamar Mak terbuka, miris melihat kondisi Mak yang terus terbatuk.
Langkahku
tergesa mendekati Mak.
Mengurut
dada Mak dengan minyak angina yang sempat ku raih sebelum sampai di ranjang
Mak.
Senyum
Mak terlihat tipis.
“Bagaimana
dagangannya laris?” ucapnya terbata sambil menahan batuk yang hendak keluar.
Aku
meraih gelas berisi air, memberikannya kepada Mak sebelum menjawab
pertanyaanya.
“Mak kita
ke pukesmas ya Mak.” Pujukku.
“Alhamdulillah
kue dan nasi lemak habis, Hana rasa cukup uang untuk berobat Mak.” Ucapku
sendu.
Hatiku
was – was, takut Mak menolak untuk pergi berobat.
“Kita
pergi ke pukesmas.” Ucap Mak lelah.
Hatiku
bersorak riang, mendengar ucapan Mak.
Bergegas
aku membantu Mak untuk berganti pakaian, jangan sampai Mak berubah pikiran.
Dengan
berkudakan motor butut peninggalan Abah aku membonceng Mak menuju pukesmas.
***
Aku
menatap Mak, tak terasa setetes air bening keluar disudut mataku.
Memang
penyakit Mak tidak terbilang parah, tapi dokter menasehati Mak untuk
beristirahat total selama dua hari.
Bagaimana
nasib kami sekeluarga jika Mak tidak membuat kue dan nasi lemak, darimana
penghasilan kami.
Suara
ketukan dipintu depan serta suara salam membuatku meninggalkan kamar Mak.
Berjalan
lemah menuju ruang tamu yang sempit.
“Walaikumsalam.”
Ucapku menjawab salam dari tamu yang datang.
Wajah Ibu
dan Pak RT jelas terlihat, aku memberikan senyumku kepada mereka.”
“ Ada
Maknya Hana?.” Tanya Bu RT
“Mak lagi
sakit Bu, sekarang sedang istirahat di kamar.” Infoku kepada Ibu dan Pak RT.
“Kalau
begitu biarkan Mak istirahat, Ibu hanya ingin menyampaikan ada sedikit dana
dari pemerintah untuk keluarga kurang mampu. Seharusnya dana ini diberikan
sepekan yang lalu tapi karena Ibu dan Bapak kemarin pulang kampung, jadi hari
ini Bapak ingin menyerahkannya kepada Mak Hana.
Lega
rasanya mendengar penuturuan Pak RT, ternyata Allah mengijabah doaku.
Dengan
terharu aku menerima dana dari Pak RT, sambil mengucapkan terima kasih.
Tak lupa
Bu RT menitipkan parcel buah dan roti untuk Mak sebelum mereka meniggalkan
rumah kami.
***
Aku
mengaduk bubur yang sedang aku buat untuk makan malam Mak.
Rasanya
lega setelah melihat dana yang kami terima dari Pak RT.
Cukup
untuk makan sebulan lebih, untuk dua hari ini aku akan mengurus Mak di rumah.
Aku terus
mengingat kejadian siang menjelang sore tadi.
Seandainya
ada keajaiban aku bisa bersekolah kembali rasanya mustahil.
Untung
saja bubur Mak tidak hangus, aku hanyut dalam khayal tak bertepi untuk kembali
ke sekolah.
Aku
mematikan kompor, mengambil mangkuk memasukkan bubur ke dalam mangkuk.
Berjalan
pelan menuju kamar mak dengan talam berisi mangkuk bubur serta air putih untuk
mak.
Membenahi
wajahku sebelum masuk ke dalam kamar Mak.
“Mak,
makan dulu baru habis itu makan obat dan istriahat.” Ucapku setelah sampai di
ranjang Mak.
Hening
tidak ada yang membuka suara, Mak makan dengan aku suap.
“Alhamdulillah.”
Ucapku setelah Mak menghabiskan semangkuk bubur yang aku buat.
Dengan
cepat aku mengambil obat Mak dan menyodorkan air putih.
“Hana
bekemas di dapur Mak, stelah itu Hana istirahat. Mak juga harus istirahat.”
Ucapku setelah Mak selesai memakan Obat.
Aku
menutup pintu kamar Mak sebelumnya aku meletakkan talam berisi piring dan gelas
kotor dilantai luar kamar Mak.
Berjalan
menuju dapur untuk mencuci piring, gelas serta peralatan untuk makan malam.
Setelah
memastikan semuanya bersih di dapur, aku melangkahkan kaki menuju kamar
tidurku.
Mematikan
semua lampu dan mengecek pintu dan jendela sebelum menuju kamar tidurku
tentunya.
Aku
merebahkan badanku yang letih di kasur yang sudah menipis.
Menatap
langit kamar, aku rindu dengan suasana sekolah.
Mereka
dengan putih abu – abu sungguh mengoda.
Tapi aku
hanya bisa merindu saja.
Kapan
rinduku untuk sekolah kembali terealisasi, batinku pasrah.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar