Selasa, 07 April 2026

Rindu Dia

 


Tatapanku nanar melihat mereka dengan seragam putih abu – abu.

Tawa mereka menambah luka di hatiku.

Genggaman tanganku di bakul jualanku semakin kencang, ada yang mengiris hatiku.

“Hana terpaksa sekolah Hana putus dulu.” Ucap Emak kala itu.

Sepekan setelah Abah menghembuskan napas terakhirnya.

Penyakit menahun yang diderita Abah akhirnya merengut Abah dari kami sekeluarga.

Sebagai anak tertua aku harus meringan beban Mak, rasanya cukup sudah aku bisa membaca dan menulis.

Ijazah SMP yang aku punyai rasanya tidak menjamin aku mendapatkan pekerjaan seperti impian anak sekarang paling tidak aku bisa menggunakan tulang empat keratku untuk mencari uang.

Yang penting menulis dan membaca serta berhitung tidak aku ditipu jika aku berjualan.

Senyum mirisku tersungging ketika melihat mereka berhambuaran berlari ke dalam kelas ketika bel tanda masuk belajar.

Puas dengan melihat mereka memakai seragam putih abu, setelah sepi aku meninggalkan sekolah yang menjadi langgananku berjualan.

Bunyi berderit dari ban motor yang di rem paksa membuat kau menolehkan wajahku ke arah suara.

Dia lagi, batinku.

Motor pembalap yang mendadak di rem, seperti biasanya membuat Pak Satpam hanya mengeleng kepala melihatnya.

“Maaf Pak saya terlambat lagi, tapi hari ini hanya 2 menit.” Teriaknya sambil melempar senyum manis.

Anehnya Pak Satpam tidak pernah marah, malah dengan ramah membuka lebar gerbang sekolah yang sudah ditutup.

Lebih anehnya lagi, pemuda yang aku rasa berada di atas usiaku akan menuntut sepeda balapnya masuk ke pekarang sekolah.

Biasanya pemuda itu akan terlambat lebih dari 10 menit, tapi masih saja mendapatkan sapaan ramah dari Pak Satpam sekolah.

Aku memandang punggung yang mendorong motor itu.

Terdengar siulan dari mulutnya, tidak ada rasa bersalah bahwa dirinya terlambat datang kesekolah.

Helaan napasku semakin kencang, ketika mengingat sewaktu aku sekolah di SMP dulu.

Terlambat 1 menit saja, Satpam sekolahku akan mengomel sampai teligaku panas mendengarnya. 

Terlambat 1 menit saja, Satpam sekolahku akan mengomel sampai teligaku panas mendengarnya.

Belum lagi guru jam pertama yang sepertinya sudah menunggu momen untuk memarahi kami yang terlambat.

Yang terlambat dimarah imbasnya kepada kami yang tidak terlambat juga.

“Kalian harus ingat yang terlambat menganggu kosentrasi Ibu dan menghabiskan waktu Ibu untuk berkata yang tidak ada hubungannya dengan materi Ibu.” Jerit guruku kala itu.

Sekali lagi pagi ini, helaan napas berat aku hembuskan, melihat mereka ke sekolah ada yang luka di dadaku.

***

“Assalamualaikum.” Ucapku lemah sesampainya di rumah.

Seri rumah kami sudah redup, sejak Abah pergi hanya kesunyian di rumah kami.

Mak selalu menjawab salam dengan suara rendah, mungkin semutpun tidak mendengar suara Emak.

Setelah menutup pintu aku menuju dapur untuk meletakkan bakul daganganku yang sudah kosong.

Lumayan hari ini aku mendapatkan Rp 78 ribu hasil berdagang.

Mendengar suara batuk dari dalam kamar Emak, aku mempercepat langkah menuju kamar Emak.

Menekan panel pintu dengan tergesa ketika terdengar lagi suara batuk yang tiada henti.

Mak bergulung di tempat tidur, pemandangan yang sepekan ini menjadi santapan mataku.

Mak sakit tapi tidak mau kerumah sakit.

Aku tahu alasanya, takut rezeki kami yang sedikit harus berbagi dengan biaya rumah sakit.

Mak memilih untuk mengkonsumsi obat herbat seperti kunyit yang dicampur dengan lemon.

Tapi sudah sepekan mengkonsumsinya aku tidak melihat efek menyembuhkan.

Mak memilih untuk mengkonsumsi obat herbat kunyit yang dicampur dengan lemon.

Tapi sudah sepekan mengkonsumsinya aku tidak melihat efek menyembukan, batuk Mak masih terus berlangsung.

Pintu kamar Mak terbuka, miris melihat kondisi Mak yang terus terbatuk.

Langkahku tergesa mendekati Mak.

Mengurut dada Mak dengan minyak angina yang sempat ku raih sebelum sampai di ranjang Mak.

Senyum Mak terlihat tipis.

“Bagaimana dagangannya laris?” ucapnya terbata sambil menahan batuk yang hendak keluar.

Aku meraih gelas berisi air, memberikannya kepada Mak sebelum menjawab pertanyaanya.

“Mak kita ke pukesmas ya Mak.” Pujukku.

“Alhamdulillah kue dan nasi lemak habis, Hana rasa cukup uang untuk berobat Mak.” Ucapku sendu.

Hatiku was – was, takut Mak menolak untuk pergi berobat.

“Kita pergi ke pukesmas.” Ucap Mak lelah.

Hatiku bersorak riang, mendengar ucapan Mak.

Bergegas aku membantu Mak untuk berganti pakaian, jangan sampai Mak berubah pikiran.

Dengan berkudakan motor butut peninggalan Abah aku membonceng Mak menuju pukesmas.

***

Aku menatap Mak, tak terasa setetes air bening keluar disudut mataku.

Memang penyakit Mak tidak terbilang parah, tapi dokter menasehati Mak untuk beristirahat total selama dua hari.

Bagaimana nasib kami sekeluarga jika Mak tidak membuat kue dan nasi lemak, darimana penghasilan kami.

Suara ketukan dipintu depan serta suara salam membuatku meninggalkan kamar Mak.

Berjalan lemah menuju ruang tamu yang sempit.

“Walaikumsalam.” Ucapku menjawab salam dari tamu yang datang.

Wajah Ibu dan Pak RT jelas terlihat, aku memberikan senyumku kepada mereka.”

“ Ada Maknya Hana?.” Tanya Bu RT

“Mak lagi sakit Bu, sekarang sedang istirahat di kamar.” Infoku kepada Ibu dan Pak RT.

“Kalau begitu biarkan Mak istirahat, Ibu hanya ingin menyampaikan ada sedikit dana dari pemerintah untuk keluarga kurang mampu. Seharusnya dana ini diberikan sepekan yang lalu tapi karena Ibu dan Bapak kemarin pulang kampung, jadi hari ini Bapak ingin menyerahkannya kepada Mak Hana.

Lega rasanya mendengar penuturuan Pak RT, ternyata Allah mengijabah doaku.

Dengan terharu aku menerima dana dari Pak RT, sambil mengucapkan terima kasih.

Tak lupa Bu RT menitipkan parcel buah dan roti untuk Mak sebelum mereka meniggalkan rumah kami.

***

Aku mengaduk bubur yang sedang aku buat untuk makan malam Mak.

Rasanya lega setelah melihat dana yang kami terima dari Pak RT.

Cukup untuk makan sebulan lebih, untuk dua hari ini aku akan mengurus Mak di rumah.

Aku terus mengingat kejadian siang menjelang sore tadi.

Seandainya ada keajaiban aku bisa bersekolah kembali rasanya mustahil.

Untung saja bubur Mak tidak hangus, aku hanyut dalam khayal tak bertepi untuk kembali ke sekolah.

Aku mematikan kompor, mengambil mangkuk memasukkan bubur ke dalam mangkuk.

Berjalan pelan menuju kamar mak dengan talam berisi mangkuk bubur serta air putih untuk mak.

Membenahi wajahku sebelum masuk ke dalam kamar Mak.

“Mak, makan dulu baru habis itu makan obat dan istriahat.” Ucapku setelah sampai di ranjang Mak.

Hening tidak ada yang membuka suara, Mak makan dengan aku suap.

“Alhamdulillah.” Ucapku setelah Mak menghabiskan semangkuk bubur yang aku buat.

Dengan cepat aku mengambil obat Mak dan menyodorkan air putih.

“Hana bekemas di dapur Mak, stelah itu Hana istirahat. Mak juga harus istirahat.” Ucapku setelah Mak selesai memakan Obat.

Aku menutup pintu kamar Mak sebelumnya aku meletakkan talam berisi piring dan gelas kotor dilantai luar kamar Mak.

Berjalan menuju dapur untuk mencuci piring, gelas serta peralatan untuk makan malam.

Setelah memastikan semuanya bersih di dapur, aku melangkahkan kaki menuju kamar tidurku.

Mematikan semua lampu dan mengecek pintu dan jendela sebelum menuju kamar tidurku tentunya.

Aku merebahkan badanku yang letih di kasur yang sudah menipis.

Menatap langit kamar, aku rindu dengan suasana sekolah.

Mereka dengan putih abu – abu sungguh mengoda.

Tapi aku hanya bisa merindu saja.

Kapan rinduku untuk sekolah kembali terealisasi, batinku pasrah.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Rindu Dia

  Tatapanku nanar melihat mereka dengan seragam putih abu – abu. Tawa mereka menambah luka di hatiku. Genggaman tanganku di bakul jual...