Rabu, 15 April 2026

Kata Janji

 

Membuka jendela kamar, segarnya udara pagi aku harapkan memberikan harapan baru bagi diriku.

Sempat mengigil terkena tamparannya, tatapanku terkunci pada bunga mawar merah tak jauh dari jendela kamar.

Senyum mirisku terlihat, aku bagaikan bunga mawar yang tak tersentuh layaknya.

Umurku menginjak kepala tiga sepekan lagi, ocehan Mak setiap hari menanyakan dimana kabar tentang jodohku.

Hanya hamparan senyum palsu serta kata yang mungkin menjadi pamunngkas kalimat.

Allah masih menyimpan jodoh terbaik untukku.

Dengusan kesal selalu terdengar dari Mak jika aku sudah menyebut kata campur tangan Sang Pemilik Segalanya.

Bukannya tidak terpikir tapi lebih tepat mau memikirkan.

Cukup sekali dan terlalu dalam rasa sakit karena penolakan dari keluarga orang yang aku sayangi.

Pembelaan darinya aku harapkan tapi nyatanya hanya bisu berkepanjangan serta kata pamungkas kita tidak berjodoh.

Kemana kebersamaan selama tiga tahun yang kami jalani.

Mimpi – mimpi yang dirangkai bersama hanya menjadi mimpi buruk yang sampai saat ini membekas dalam hatiku.

***

Bel panjang berbunyi seharian ini aku bertempur dengan hatiku.

Ucapan Mak sepekan ini tidak bisa aku hilangkan begitu saja dalam pikiranku.

Mulutku bisa berucap semua takdir dari pemilik kehidupan tapi aku hanya manusia biasa yang memiliki kekurangan.

Sekeping daging bernama hati milikku mengingkari kata yang terucap aku butuh pendamping yang mengisi kekosonganku.

Patokan umur pada masyarakat membuatku menjadi cemas.

Bisik – bisik dibelakangku tidak bisa aku tepis dengan senyum kepura – puraan bahwa aku kuat.

“Perawan tua tahunya hanya marah – marah, pantas tidak ada yang mau.” Bisik mereka siswiku kala itu.

Mengajar anak beranjak dewasa memiliki tantangan yang besar.

Bukan hanya badannya yang sudah sama besar, ego mereka juga besar tidak bisa disentil sedikit pasti mereka melawan.

Ucapan verbal yang seharusnya mereka tahu benar merupakan bullying kasat mata lebih menyakitkan daripada penyiksaan badan.

Rasanya sudah cukup kami memberikan materi untuk tidak melakukan kekerasan fisik maupun mental.

Aku menata semua perlengkapan yang seharusnya aku bawa pulang sementara buku latihan mereka sudah aku susun rapi agar besok pagi enak mata memandang.

Lelah hati membuatku menghela napas beberapa kali sebelum melangkahkan kaki menuju parkiran.

***

Mengeram mendadak kendaraanku terpaksa aku lakukan.

Ada keributan di depanku, tidak hanya aku tapi beberapa kendaraan terpaksa berhenti juga.

Rasanya enggan untuk mencaritahu apa yang terjadi, tapi dari pembicaran orang disampingku terucap ada skandal antara anak baru gede dengan menyebutkan nama sekolahku tentu aku tidak bisa diam.

Setelah memakirkan kendaraanku pada tempat yang aman, langkahku menuju titik tempat terjadinya keributan.

Netraku membulat ternyata peserta didikku yang mengatakan aku perawan tua lagi terpojokkan oleh beberapa wanita dewasa.

“Maaf aku Bu, apa yang dilakukan oleh anak didik saya.” Ucapku berusaha menenangkan keadaan.

Tiga pasang mata menatanpku seketika, tatapan membunuh sekarang tertuju padaku.

“Anak didik Ibu pelakor, bagaimana cara Ibu mendidiknya.” Cercaan yang memanaskan telingaku.

Ah rasanya kesal, kenapa jadi aku yang disalahkan.

Kami tidak mengajarkan mereka menjadi wanita pengoda tapi sudahlah.

“Maaf Bu, apa tidak sebaiknya dibicarakan baik – baik. Kita cari tempat untuk bicara, kasian sama pengguna jalan lainnya yang terganggu. Mungkin mereka ada keperluan mendadak yang mengharuskan cepat ke tempat tujuan.” Ucapku memberi pengertian.

Untung saja salah satu dari mereka mengerti situasi.

“Win sana naik mobil dengan suamimu, kita ketemu di taman pojok sana. Bu guru ikut kami bawa sekali anak didikknya.” Perintah dari salah satu kawanan wanita yang bertampang seram.

Aku mengadenga tangan Sinta, peserta didikku yang bermasalah menuju kendaraanku.

Dengan tubuh yang bergetar hebat aku berusaha menenangkan peserta didikku.

“Sinta apa yang terjadi?” Aku mengorek informasi.

“Cerita dengan Ibu supaya Ibu bisa membantu.” Ucapku lembut.

Dengan suara bergetar sinta bercerita, ternyata peserta didikku termakan rayuan buaya tua yang mengaku ditinggal istrinya mati.

Klise, tapi rayuan maut ini selalu menjadi makanan empuk untuk anak – anak baru gede yang mencari jadi diri.

Sinta dengan latar belakang broken home tentu saja merasa nyaman dengan perhatian lebih dari lelaki yang seharusnya dia panggil Ayah.

Sinta tidak menolak ketika tadi dijemput pulang sekolah, dan terjadilah tragedy yang menyebabkan jalannya macet seketika.

Tidak butuh lama kami sampai di taman yang dsepakati.

Aku memandang sekilas wajah buaya tua yang masih terlihat ganteng pada usianya.

Pantas saja Sinta mau dijadikan istiri katanya.

Pandanganku beralih pada tiga wanita dewasa yang siap mengamuk untuk melapiaskan kekesalan pada Sinta.

Sinta berdiri dibelakangku, menjadikan tubuh kecil ini sebagai tameng.

Mengatur napas sebelum berucap aku lakukan.

“Sebaiknya kita mencari tempat untuk berbincang Ibu Bapak.” Ucapku tenang.

Aku berjalan menuju kursi taman yang tersedia.

Sinta duduk disebelahku, sementara suami istri memilih duduk didepan kami dengan teman – teman istrinya berjejer disampingnya.

“Maaf jika peserta didik saya salah, tapi sebaiknya kita mendengarkan dulu penjelasan dari kedua pihak.” Ucapku.

Tatapan menghunus terlihat dari si istri kepada sinta peserta didikku.

“Abang bicara.” Sentak sang Istri.

“Sumpah anak ini yang mengoda Abang, mengirim pesan terlebih dahulu dan mengajak kencan. Sumpah Winda ini baru pertama abang menjemputnya disekolah. Semula Abang ragu menjemputnya tapi karena Abang Ingin mendengar dari mulutnya kenapa membohongi Abang dengan mengatakan dirinya sudah bekerja..” Ucap sang Suami mulai mengarang cerita.

Untung saja tadi aku sempat menyuruh sinta untuk mengscreenshot semua chat mereka sewaktu di perjalanan menuju taman.

Wajah ketakutan jelas terlihat dari wajah buaya tua itu.

Aku mengenggam tangan Sinta yang berusaha membela diri dengan gerakan bibir meminta Sinta untuk tetap diam.

Sinta yang selalu bar –baran di sekolah tentu tidak terima dibilang sebagai pelakor.

Memang salah Sinta tidak mencari kebenaran cerita dari buaya tua yang mengatakan istrinya sudah meninggal.

Kurangnya perhatian orangtua membuat sinta merasa nyaman dengan perhatian dari buaya tua ini.

Aku mengeluarkan hp sinta dan memperlihatkan semua chat sinta dan buaya tua itu.

“Saya rasa Ibu wanita dewasa yang berpendidikan dan terhormant. Kesalahan peserta didik saya ada tapi mereka sama – sama salah. Dan saya meminta maaf atas perbuatannya. Saya harap Ibu berbesar hati untuk tidak memperpanjang masalah yang sudah jelas siapa yang salah. Saya harap semua pihak saling intropeksi diri dan berbenah diri.

Saya akan pastikan peserta didik saya tidak akan mendekati suami Ibu, tapi suami Ibu juga harus berjanji tidak menganggu peserta didik saya lagi.” Ucapku serius.

tegang, tentu saja apalagi istri yang merasa dicurangi oleh suaminya tidak terima.

Tetap ingin membalas sakit hatinya dengan membuat peserta didikku jera dengan menyakiti fisiknya.

Aku berusaha menghalangi tindakan yang akan menyakiti fisik peserta didikku.

Sinta terlihat pucat pasi menghadapi keganasan dari tiga wanita dewasa yang tersulut emosi.

“Maaf Ibu – Ibu yang terhormat, Ibu penuh emosi sementara pihak yang bersalah.” Aku menjeda kalimat.

“Lihat Suami Ibu santai saja menghadapi masalah ini tanpa rasa bersalah, sementara peserta didik saya sudah berjanji tidak akan menghubungi suami Ibu lagi. Saya sudah berjanji untuk memasitkan peserta didik saya tidak menganggu suami Ibu. Sekarang saya tanya bisakan Ibu atau teman – teman Ibu bahkan suami Ibu yang berjanji tidak akan menganggu peserta didik saya.

Kita orang dewas seharusnya menyikapi situasi ini dengan cara dewasa juga, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah Bu.” Ucapku penuh penekanan.

Alhamdulillah akhirnya semua terselesaikan aku meminta sinta untuk menyalami tangan ketiga wanita dewasa seperti yang aku lakukan sementera kepada buaya tua kami hanya menangkupkan tangan dan berlalu meninggalkan mereka.

***

Aku menantap langit kamar, rasanya lelah hati dan lelah badan menghadapi semua permasalah hari ini.

Sinta yang menangis tersedu setelah aku menasehati dirinya, menyesal dengan tindakan yang dia lakukan.

Untung saja buaya tua belum mengambil kesempatan atas diri sinta.

Kenagan itu kembali hadir, seorang wanita muda mendatangiku dengan perut membuncit.

Aku menatap nanar perut yang membuncit sambil memainkan cicin pertunangan yang melingkar manis di jariku.

Cerita mengalir karena memang aku yang meminta wanita itu bercerita, akhirnya aku memilih memutuskan pertunangan yang hanya menunggu sebulan sebelum kami naik pelamin.

Janji untuk setia ternodai,***

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Kata Janji

  Membuka jendela kamar, segarnya udara pagi aku harapkan memberikan harapan baru bagi diriku. Sempat mengigil terkena tamparannya, tatapa...