Membuka
jendela kamar, segarnya udara pagi aku harapkan memberikan harapan baru bagi
diriku.
Sempat
mengigil terkena tamparannya, tatapanku terkunci pada bunga mawar merah tak
jauh dari jendela kamar.
Senyum
mirisku terlihat, aku bagaikan bunga mawar yang tak tersentuh layaknya.
Umurku
menginjak kepala tiga sepekan lagi, ocehan Mak setiap hari menanyakan dimana
kabar tentang jodohku.
Hanya
hamparan senyum palsu serta kata yang mungkin menjadi pamunngkas kalimat.
Allah
masih menyimpan jodoh terbaik untukku.
Dengusan
kesal selalu terdengar dari Mak jika aku sudah menyebut kata campur tangan Sang
Pemilik Segalanya.
Bukannya tidak terpikir tapi lebih tepat mau memikirkan.
Cukup
sekali dan terlalu dalam rasa sakit karena penolakan dari keluarga orang yang
aku sayangi.
Pembelaan
darinya aku harapkan tapi nyatanya hanya bisu berkepanjangan serta kata
pamungkas kita tidak berjodoh.
Kemana
kebersamaan selama tiga tahun yang kami jalani.
Mimpi –
mimpi yang dirangkai bersama hanya menjadi mimpi buruk yang sampai saat ini
membekas dalam hatiku.
***
Bel
panjang berbunyi seharian ini aku bertempur dengan hatiku.
Ucapan
Mak sepekan ini tidak bisa aku hilangkan begitu saja dalam pikiranku.
Mulutku
bisa berucap semua takdir dari pemilik kehidupan tapi aku hanya manusia biasa
yang memiliki kekurangan.
Sekeping
daging bernama hati milikku mengingkari kata yang terucap aku butuh pendamping
yang mengisi kekosonganku.
Patokan
umur pada masyarakat membuatku menjadi cemas.
Bisik –
bisik dibelakangku tidak bisa aku tepis dengan senyum kepura – puraan bahwa aku
kuat.
“Perawan
tua tahunya hanya marah – marah, pantas tidak ada yang mau.” Bisik mereka
siswiku kala itu.
Mengajar
anak beranjak dewasa memiliki tantangan yang besar.
Bukan
hanya badannya yang sudah sama besar, ego mereka juga besar tidak bisa disentil
sedikit pasti mereka melawan.
Ucapan
verbal yang seharusnya mereka tahu benar merupakan bullying kasat mata lebih
menyakitkan daripada penyiksaan badan.
Rasanya
sudah cukup kami memberikan materi untuk tidak melakukan kekerasan fisik maupun
mental.
Aku
menata semua perlengkapan yang seharusnya aku bawa pulang sementara buku
latihan mereka sudah aku susun rapi agar besok pagi enak mata memandang.
Lelah
hati membuatku menghela napas beberapa kali sebelum melangkahkan kaki menuju
parkiran.
***
Mengeram mendadak kendaraanku terpaksa aku lakukan.
Ada
keributan di depanku, tidak hanya aku tapi beberapa kendaraan terpaksa berhenti
juga.
Rasanya
enggan untuk mencaritahu apa yang terjadi, tapi dari pembicaran orang
disampingku terucap ada skandal antara anak baru gede dengan menyebutkan nama
sekolahku tentu aku tidak bisa diam.
Setelah
memakirkan kendaraanku pada tempat yang aman, langkahku menuju titik tempat
terjadinya keributan.
Netraku
membulat ternyata peserta didikku yang mengatakan aku perawan tua lagi
terpojokkan oleh beberapa wanita dewasa.
“Maaf aku
Bu, apa yang dilakukan oleh anak didik saya.” Ucapku berusaha menenangkan
keadaan.
Tiga
pasang mata menatanpku seketika, tatapan membunuh sekarang tertuju padaku.
“Anak
didik Ibu pelakor, bagaimana cara Ibu mendidiknya.” Cercaan yang memanaskan
telingaku.
Ah
rasanya kesal, kenapa jadi aku yang disalahkan.
Kami
tidak mengajarkan mereka menjadi wanita pengoda tapi sudahlah.
“Maaf Bu,
apa tidak sebaiknya dibicarakan baik – baik. Kita cari tempat untuk bicara,
kasian sama pengguna jalan lainnya yang terganggu. Mungkin mereka ada keperluan
mendadak yang mengharuskan cepat ke tempat tujuan.” Ucapku memberi pengertian.
Untung
saja salah satu dari mereka mengerti situasi.
“Win sana
naik mobil dengan suamimu, kita ketemu di taman pojok sana. Bu guru ikut kami
bawa sekali anak didikknya.” Perintah dari salah satu kawanan wanita yang
bertampang seram.
Aku
mengadenga tangan Sinta, peserta didikku yang bermasalah menuju kendaraanku.
Dengan
tubuh yang bergetar hebat aku berusaha menenangkan peserta didikku.
“Sinta
apa yang terjadi?” Aku mengorek informasi.
“Cerita
dengan Ibu supaya Ibu bisa membantu.” Ucapku lembut.
Dengan
suara bergetar sinta bercerita, ternyata peserta didikku termakan rayuan buaya
tua yang mengaku ditinggal istrinya mati.
Klise,
tapi rayuan maut ini selalu menjadi makanan empuk untuk anak – anak baru gede
yang mencari jadi diri.
Sinta
dengan latar belakang broken home tentu saja merasa nyaman dengan perhatian
lebih dari lelaki yang seharusnya dia panggil Ayah.
Sinta tidak menolak ketika tadi dijemput pulang sekolah, dan terjadilah tragedy yang menyebabkan jalannya macet seketika.
Tidak
butuh lama kami sampai di taman yang dsepakati.
Aku
memandang sekilas wajah buaya tua yang masih terlihat ganteng pada usianya.
Pantas
saja Sinta mau dijadikan istiri katanya.
Pandanganku
beralih pada tiga wanita dewasa yang siap mengamuk untuk melapiaskan kekesalan
pada Sinta.
Sinta
berdiri dibelakangku, menjadikan tubuh kecil ini sebagai tameng.
Mengatur
napas sebelum berucap aku lakukan.
“Sebaiknya
kita mencari tempat untuk berbincang Ibu Bapak.” Ucapku tenang.
Aku
berjalan menuju kursi taman yang tersedia.
Sinta
duduk disebelahku, sementara suami istri memilih duduk didepan kami dengan
teman – teman istrinya berjejer disampingnya.
“Maaf
jika peserta didik saya salah, tapi sebaiknya kita mendengarkan dulu penjelasan
dari kedua pihak.” Ucapku.
Tatapan
menghunus terlihat dari si istri kepada sinta peserta didikku.
“Abang
bicara.” Sentak sang Istri.
“Sumpah
anak ini yang mengoda Abang, mengirim pesan terlebih dahulu dan mengajak
kencan. Sumpah Winda ini baru pertama abang menjemputnya disekolah. Semula
Abang ragu menjemputnya tapi karena Abang Ingin mendengar dari mulutnya kenapa
membohongi Abang dengan mengatakan dirinya sudah bekerja..” Ucap sang Suami
mulai mengarang cerita.
Untung
saja tadi aku sempat menyuruh sinta untuk mengscreenshot semua chat mereka
sewaktu di perjalanan menuju taman.
Wajah
ketakutan jelas terlihat dari wajah buaya tua itu.
Aku
mengenggam tangan Sinta yang berusaha membela diri dengan gerakan bibir meminta
Sinta untuk tetap diam.
Sinta
yang selalu bar –baran di sekolah tentu tidak terima dibilang sebagai pelakor.
Memang
salah Sinta tidak mencari kebenaran cerita dari buaya tua yang mengatakan
istrinya sudah meninggal.
Kurangnya
perhatian orangtua membuat sinta merasa nyaman dengan perhatian dari buaya tua
ini.
Aku
mengeluarkan hp sinta dan memperlihatkan semua chat sinta dan buaya tua itu.
“Saya
rasa Ibu wanita dewasa yang berpendidikan dan terhormant. Kesalahan peserta
didik saya ada tapi mereka sama – sama salah. Dan saya meminta maaf atas
perbuatannya. Saya harap Ibu berbesar hati untuk tidak memperpanjang masalah
yang sudah jelas siapa yang salah. Saya harap semua pihak saling intropeksi
diri dan berbenah diri.
Saya akan
pastikan peserta didik saya tidak akan mendekati suami Ibu, tapi suami Ibu juga
harus berjanji tidak menganggu peserta didik saya lagi.” Ucapku serius.
tegang,
tentu saja apalagi istri yang merasa dicurangi oleh suaminya tidak terima.
Tetap
ingin membalas sakit hatinya dengan membuat peserta didikku jera dengan
menyakiti fisiknya.
Aku
berusaha menghalangi tindakan yang akan menyakiti fisik peserta didikku.
Sinta
terlihat pucat pasi menghadapi keganasan dari tiga wanita dewasa yang tersulut
emosi.
“Maaf Ibu
– Ibu yang terhormat, Ibu penuh emosi sementara pihak yang bersalah.” Aku
menjeda kalimat.
“Lihat
Suami Ibu santai saja menghadapi masalah ini tanpa rasa bersalah, sementara
peserta didik saya sudah berjanji tidak akan menghubungi suami Ibu lagi. Saya
sudah berjanji untuk memasitkan peserta didik saya tidak menganggu suami Ibu.
Sekarang saya tanya bisakan Ibu atau teman – teman Ibu bahkan suami Ibu yang
berjanji tidak akan menganggu peserta didik saya.
Kita
orang dewas seharusnya menyikapi situasi ini dengan cara dewasa juga, kekerasan
tidak akan menyelesaikan masalah Bu.” Ucapku penuh penekanan.
Alhamdulillah
akhirnya semua terselesaikan aku meminta sinta untuk menyalami tangan ketiga
wanita dewasa seperti yang aku lakukan sementera kepada buaya tua kami hanya
menangkupkan tangan dan berlalu meninggalkan mereka.
***
Aku
menantap langit kamar, rasanya lelah hati dan lelah badan menghadapi semua
permasalah hari ini.
Sinta
yang menangis tersedu setelah aku menasehati dirinya, menyesal dengan tindakan
yang dia lakukan.
Untung
saja buaya tua belum mengambil kesempatan atas diri sinta.
Kenagan
itu kembali hadir, seorang wanita muda mendatangiku dengan perut membuncit.
Aku
menatap nanar perut yang membuncit sambil memainkan cicin pertunangan yang
melingkar manis di jariku.
Cerita
mengalir karena memang aku yang meminta wanita itu bercerita, akhirnya aku
memilih memutuskan pertunangan yang hanya menunggu sebulan sebelum kami naik
pelamin.
Janji
untuk setia ternodai,***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar