Sabtu, 11 April 2026

Abu Menjadi Hitam


Menatap sepatu hitam yang sudah memudar warnanya.

Beberapa kali aku ditegur bagian kesiswaan karena mereka menyangka aku memakai sepatu abu – abu.

Peraturan sekolah membuatku tidak berkutik, tapi memaksakan Ayah untuk membeli sepatu rasanya juta tidak memungkinkan.

Menatap wadah kecil yang sudah aku tinta isi ulang spidol whiteboard yang aku ambil sedikit untuk menyemir sepatuku biar kembali berwarna hitam.

Dengan teliti aku menyemir sepatuku, senyum puas tersunging di bibirku.

Berjalan menuju kursi kayu yang selalu menjadi teman setiap untuk menjemur sepatu sesudah aku cuci.

Biar buruk tapi sepatuku rajin aku cuci memastikan bau yang memabukkan tidak tertinggal di dalamnya.

Sering aku mendengar omelan guru – guru ketika kami masuk ruang majelis guru mengatakan ada koas kaki yang menyebarkan aroma menyesakkan hidung.

Bukan kaos kakinya yang bau, sepatu juga bau jika tidak sering dicuci, batinku.

“Indah, mari kesini sekejap.” Suara Mak mengema dari dalam rumah.

Mak selalu seperti itu, jarak kami tidak jauh tapi selalu memekik jika memanggilku.

Dengan kesal aku melangkah masuk ke dalam rumah.

“Mak malu dengan tetangga.” Ucapku kesal

“Muka tu macam rasa asam jawa, tapi selepas ni rasa asam tu pasti jadi manis rasa gula.” Ucap Mak berkelakar.

Aku tambah mengecutkan muka mendengar ocehan Mak yang tak bermutu.

“Ada apa Mak, Indah lagi menjemur sepatu.” Ucapku kesal.

Bukannya sudah di cuci sepatunya kemaren.” Ucap Mak bingung.

“Kemaren di jemur setelah dicuci, hari ini dijemur setelah disemir Mak.” Ucapku

Kening Mak berkerut mendengar ucapanku, tapi Mak tak menanyakankannya, malah menyodorkan bungkusan ke arahku.

Aku menatap bungkusan yang Mak sodorkan dengan bingung, tapi tanganku tetap meraih bungkusan yang Mak berikan.

“Apa ini Mak.” Ucapku

“Lihat saja sendiri, mudah – mudahan muat tak salah ukuran.” Ucap Mak.

Setelah mengatakan itu Mak berlalu menuju dapur tempat singgah sana kerajaannya.

Sekolah kami sudah lima hari belajar, sehingga hari  sabtu menjadi hari wajib untuk mencuci sepatu, kaos kaki setelah mencuci semua pakian kami yang menjadi tanggung jawabku setelah duduk di kelas dua SMP.

Tanpa membuka bungkusan yang Mak berikan, aku meletakkanya di atas meja belajar setelah sampai di kamar.

Minggu menjadi hari khusus untuk membantu Mak di dapur setelah Sabtu mencuci dipagi hari dan sorenya menyeterika jika hari tidak hujan.

Helaan napasku berat, mengingat sudah setahun penuh panas melanda kampung kami.

Mengarap kebuh yang tak seberapa menjadi lebih berat untuk Ayah dan Mak yang sehari – hari berkebun untuk kebutuhan hidup kami.

Hari minggu setelah membantu Mak memasak aku akan  berjalan ke kebun milik kami yang luasnya hanya setengah hektar tapi menjadi ladang kekayaan yang tidak terkira.

Ada berbagai jenis sayuran yang silih berganti untuk dipanen sehingga dapur akan selalu berasap.

Bukannya aku tidak suka dengan musim kemarau hanya merasa kasihan dengan Ayah lebih cepat lelah karena kepanasan.

Jika musim hujan yang menjadi ketakutan terbesar adalah tergenangnya air dikebun kami menyebabkan beberapa sayuran akan menjadi buruk akarnya.

“Bagaimana? Pas.” Ucap Mak

Belum juga aku mendudukkan bokongku Mak sudah bertanya.

“Apanya yang muat mak?” tanyaku lagi.

“Belum dibuka bungkusan yang Mak kasih tadi.”

“Belum.” Ucapku santai.

Aku melihat raut wajah kesal dari muka Mak, tapi hanya sekilas setelah itu Mak sibuk berkutat dengan menyiang ikan.

Tanganku dengan cekatan menyiang sayur untuk menjadi teman ikan yang mak bersihkan.

Setelah semua siap aku memasukkan makanan tadi dalam rantang kami akan menyantapnya di kebun.

Ayah sudah dari subuh berdjibaku di kebun, sekarang giliran Mak dan Aku menyambangi kebun milik kami.

Hanya butuh sepuluh menit berjalan kaki, kami sudah sampai di kebun.

Pemandangan yang menjadi titik focus ketika sampai di kebun adalah Ayah dengan cangkulnya atapun Ayah lagi memetik hasil panen.

Aku melihat beberapa pelangan Ayah sudah menunggu.

Hari ini kami panen kacang panjang dan timun serta cabe rawit.

Aku bergegas berjalan menuju tempat Ayah lagi sibuk menimbang timur.

15 kilo mataku menatap timbangan timun yang sedang dipegang Ayah.

Aku menurunkan timun dari timbangan setelah menulis angka 15 kg pada karung dengan menggunakan spidol permanen.

Bergantian sekarang kacang panjang yang Ayah timbang.

20 kg untuk kacang panjang sudah tertulis dengan spodol permanen pada karungya.

Senyum Ayah mengembang ketika pembeli hasil kebun kami menyerahkan uang kepada tangan Ayah.

Ucapan terima kasih berulang kali Ayah katakan tidak lupa mengucapkan kata untuk datang lagi membeli hasil kebuh kami.

***

Makan malam baru saja selesai, aku mengangkat semua perkakas makan dan mencucinya.

Mak dan Ayah sudah masuk kamar untuk istirahat.

Aku memastikan kompor sudah mati benar, pintu dan jendela dapur terkunci rapat setelah selesai mencuci piring.

Mematikan lampu dapur sebelum meninggalkan dapur.

 Menuju ruang tamu untuk memastikan semuanya terkunci menjadi tanggung jawabku sebelum masuk kamar untuk belajar sebelum tidur ketika jam menunjukkan angka 9 malam.

Mataku menatap bungkusan yang tadi pagi aku letakkan di meja belajar.

Melangkah mendekati bungkusan yang diberikan Mak tadi pagi.

Meraihnya dan perlahan membukanya, mataku membulat sempurna ketika melihat isi bungkusan yang saat ini berada di tanganku.

‘Ya Allah.” Batinku.

Air bening menetes dari sudut mataku, melihat warna hitam cerah dari benda yang bernama sepatu dari dalam bungkusan yang Mak berikan tadi pagi.

Pantas saja Mak mengatakan aku akan teriak kegirangan ketika melihatnya,

Dan ya, hatiku berteriak gembira ketika melihatnya.

Sudah hampir 3 tahun aku memakin sepatu hitam yang sudah berubah menjadi abu – abu karena keseringan di cuci karena tidak mau bau menyesakkan menempel dikakiku.

Aku mendekap erat sepatu pemberian Ayah dan Mak dengan bahagia,

Cerita Abu – abu menjadi hitam cemerlang kini nyata, membuatku gembira.***

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Abu Menjadi Hitam

Menatap sepatu hitam yang sudah memudar warnanya. Beberapa kali aku ditegur bagian kesiswaan karena mereka menyangka aku memakai sepatu ...