Menatap sepatu hitam yang sudah memudar warnanya.
Beberapa
kali aku ditegur bagian kesiswaan karena mereka menyangka aku memakai sepatu
abu – abu.
Peraturan
sekolah membuatku tidak berkutik, tapi memaksakan Ayah untuk membeli sepatu
rasanya juta tidak memungkinkan.
Menatap wadah
kecil yang sudah aku tinta isi ulang spidol whiteboard yang aku ambil sedikit
untuk menyemir sepatuku biar kembali berwarna hitam.
Dengan
teliti aku menyemir sepatuku, senyum puas tersunging di bibirku.
Berjalan menuju kursi kayu yang selalu menjadi teman setiap untuk menjemur sepatu sesudah aku cuci.
Biar
buruk tapi sepatuku rajin aku cuci memastikan bau yang memabukkan tidak
tertinggal di dalamnya.
Sering
aku mendengar omelan guru – guru ketika kami masuk ruang majelis guru
mengatakan ada koas kaki yang menyebarkan aroma menyesakkan hidung.
Bukan
kaos kakinya yang bau, sepatu juga bau jika tidak sering dicuci, batinku.
“Indah,
mari kesini sekejap.” Suara Mak mengema dari dalam rumah.
Mak
selalu seperti itu, jarak kami tidak jauh tapi selalu memekik jika memanggilku.
Dengan
kesal aku melangkah masuk ke dalam rumah.
“Mak malu
dengan tetangga.” Ucapku kesal
“Muka tu
macam rasa asam jawa, tapi selepas ni rasa asam tu pasti jadi manis rasa gula.”
Ucap Mak berkelakar.
Aku
tambah mengecutkan muka mendengar ocehan Mak yang tak bermutu.
“Ada apa
Mak, Indah lagi menjemur sepatu.” Ucapku kesal.
Bukannya
sudah di cuci sepatunya kemaren.” Ucap Mak bingung.
“Kemaren
di jemur setelah dicuci, hari ini dijemur setelah disemir Mak.” Ucapku
Kening
Mak berkerut mendengar ucapanku, tapi Mak tak menanyakankannya, malah
menyodorkan bungkusan ke arahku.
Aku
menatap bungkusan yang Mak sodorkan dengan bingung, tapi tanganku tetap meraih
bungkusan yang Mak berikan.
“Apa ini
Mak.” Ucapku
“Lihat
saja sendiri, mudah – mudahan muat tak salah ukuran.” Ucap Mak.
Setelah
mengatakan itu Mak berlalu menuju dapur tempat singgah sana kerajaannya.
Sekolah
kami sudah lima hari belajar, sehingga hari
sabtu menjadi hari wajib untuk mencuci sepatu, kaos kaki setelah mencuci
semua pakian kami yang menjadi tanggung jawabku setelah duduk di kelas dua SMP.
Tanpa
membuka bungkusan yang Mak berikan, aku meletakkanya di atas meja belajar
setelah sampai di kamar.
Minggu
menjadi hari khusus untuk membantu Mak di dapur setelah Sabtu mencuci dipagi
hari dan sorenya menyeterika jika hari tidak hujan.
Helaan
napasku berat, mengingat sudah setahun penuh panas melanda kampung kami.
Mengarap
kebuh yang tak seberapa menjadi lebih berat untuk Ayah dan Mak yang sehari –
hari berkebun untuk kebutuhan hidup kami.
Hari
minggu setelah membantu Mak memasak aku akan
berjalan ke kebun milik kami yang luasnya hanya setengah hektar tapi
menjadi ladang kekayaan yang tidak terkira.
Ada
berbagai jenis sayuran yang silih berganti untuk dipanen sehingga dapur akan
selalu berasap.
Bukannya aku tidak suka dengan musim kemarau hanya merasa kasihan dengan Ayah lebih cepat lelah karena kepanasan.
Jika
musim hujan yang menjadi ketakutan terbesar adalah tergenangnya air dikebun
kami menyebabkan beberapa sayuran akan menjadi buruk akarnya.
“Bagaimana?
Pas.” Ucap Mak
Belum
juga aku mendudukkan bokongku Mak sudah bertanya.
“Apanya
yang muat mak?” tanyaku lagi.
“Belum
dibuka bungkusan yang Mak kasih tadi.”
“Belum.”
Ucapku santai.
Aku
melihat raut wajah kesal dari muka Mak, tapi hanya sekilas setelah itu Mak
sibuk berkutat dengan menyiang ikan.
Tanganku
dengan cekatan menyiang sayur untuk menjadi teman ikan yang mak bersihkan.
Setelah
semua siap aku memasukkan makanan tadi dalam rantang kami akan menyantapnya di
kebun.
Ayah
sudah dari subuh berdjibaku di kebun, sekarang giliran Mak dan Aku menyambangi
kebun milik kami.
Hanya
butuh sepuluh menit berjalan kaki, kami sudah sampai di kebun.
Pemandangan
yang menjadi titik focus ketika sampai di kebun adalah Ayah dengan cangkulnya
atapun Ayah lagi memetik hasil panen.
Aku
melihat beberapa pelangan Ayah sudah menunggu.
Hari ini
kami panen kacang panjang dan timun serta cabe rawit.
Aku
bergegas berjalan menuju tempat Ayah lagi sibuk menimbang timur.
15 kilo
mataku menatap timbangan timun yang sedang dipegang Ayah.
Aku
menurunkan timun dari timbangan setelah menulis angka 15 kg pada karung dengan
menggunakan spidol permanen.
Bergantian
sekarang kacang panjang yang Ayah timbang.
20 kg
untuk kacang panjang sudah tertulis dengan spodol permanen pada karungya.
Senyum
Ayah mengembang ketika pembeli hasil kebun kami menyerahkan uang kepada tangan
Ayah.
Ucapan
terima kasih berulang kali Ayah katakan tidak lupa mengucapkan kata untuk
datang lagi membeli hasil kebuh kami.
***
Makan
malam baru saja selesai, aku mengangkat semua perkakas makan dan mencucinya.
Mak dan
Ayah sudah masuk kamar untuk istirahat.
Aku
memastikan kompor sudah mati benar, pintu dan jendela dapur terkunci rapat
setelah selesai mencuci piring.
Mematikan
lampu dapur sebelum meninggalkan dapur.
Menuju ruang tamu untuk memastikan semuanya
terkunci menjadi tanggung jawabku sebelum masuk kamar untuk belajar sebelum
tidur ketika jam menunjukkan angka 9 malam.
Mataku
menatap bungkusan yang tadi pagi aku letakkan di meja belajar.
Melangkah
mendekati bungkusan yang diberikan Mak tadi pagi.
Meraihnya
dan perlahan membukanya, mataku membulat sempurna ketika melihat isi bungkusan
yang saat ini berada di tanganku.
‘Ya
Allah.” Batinku.
Air
bening menetes dari sudut mataku, melihat warna hitam cerah dari benda yang
bernama sepatu dari dalam bungkusan yang Mak berikan tadi pagi.
Pantas
saja Mak mengatakan aku akan teriak kegirangan ketika melihatnya,
Dan ya, hatiku berteriak gembira ketika melihatnya.
Sudah
hampir 3 tahun aku memakin sepatu hitam yang sudah berubah menjadi abu – abu
karena keseringan di cuci karena tidak mau bau menyesakkan menempel dikakiku.
Aku
mendekap erat sepatu pemberian Ayah dan Mak dengan bahagia,
Cerita
Abu – abu menjadi hitam cemerlang kini nyata, membuatku gembira.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar