Langkah kakiku ku percepat, aku sudah terlambat 5 menit.
Gara –
gara bensin langka aku terpaksa menggunakan sepeda untuk mencapai sekolah.
Sepertinya
aku lupa dengan segala yang aku ajarkan pada anak didikku.
Pagi ini
kebutuhan waktuku untuk masa sekarang terlalaikan.
Lupa
untuk mengecek sepeda yang sudah lama tidak aku gunakan.
Belum
lama mengayuh pedalnya aku merasa kesimbanganku oleng.
Rasa
kesal menyelimuti hatiku, bagaimana tidak ban belakang sepedaku ternyata bocor.
Susash
payah aku mencari bengkel dipagi buta, wal hasil terpaksa aku titipkan sepeda
dipos satpam di depan gerbang sekolah setelah dengan susah payah mendorongya.
***
Kelasku
sepi, tidak ada satupun peserta didik di dalamnya.
Aku cepat
meraih HP di katong bajuku, memastikan pesanku terkirim ke piket untuk
memberikan tugas karena keterlambatanku pagi ini.
Pesanku
terkirim sempurana, tidak mungkin piket tidak menyampaikan pesanku.
Aku
menscrool chat yang juga aku kirim ke ketua kelas, juga terkirim sempurna.
Kemana
mereka, akhirnya dengan rasa lelah karena berlari untuk sampai kelas aku
melangkah keluar kelas.
“Berkah
umurnya Bu.” Suara koor menyambut langkahku yang ingin meninggalkan kelas.
Terkejut
jangan ditanya, mereka semua anak didikku menyanyikan lagu mabaruk alfa maberuk
dan menyodorkan cake mungil lengkap dengan angka 27 diatasnya.
Sungguh
aku terharu, ternyata aku sudah mau mendekati kepala tiga tapi masih sendiri.
Setelah
melayan kerenah mereka waktu belajarku tersita satu mata pelajaran.
Kue yang
teruntuk diriku, kami bagi menjadi 32 potong dan kami makan bersama – sama.
Tidak lupa aku memesan es teh yang menjadi minuman kekinian buat mereka.
Hari ini
aku mengizinkan mereka untuk minum di dalam kelas dan melanjutkan materi yang
tadi sempat tertunda karena mereka menyambut berkurangnya umur.
Aku
mendapatkan ucapan dari teman – teman guru, ada rasa haru ketika mereka dengan
ikhlas memberikan doa semoga tahun ini sudah ada teman hidup sebelum mencecah
angka 28 tahun.
Ternyata
disebalik musihan tapi pagi dari siang sampai sore hatiku gembira.
“Bu Aya,
ban sepedanya sudah saya perbaiki.” Ucap Pak Satpam menambah rasa bahagiaku.
Dengan bersenandung aku mengayuh pedal sepeda menuju rumah.
Pandanganku
menentap ketika melihat ada mobil avansa berwarna merah sedang parkir dengan
gagahnya.
“Asssalamualikum.”
Ucapku begitu mencapai pintu rumah.
“Walaikumsalam.”
Suara koor terdengar dari ruang tamu.
“Bang
Samsul.” Ucapku spontan.
Netraku
menatap tamu satu persatu, sosok Bang Samsul berada diantara mereka.
Samsul
Bahari, pria yang sudah lama aku kenal dan kami tidak putus komunikasi.
Satu
almamater di kampus, kakak kelas yang membantuku sewaktu menginjakkan kaki
pertama kali di Yogyakarta, orang kampung kami.
“Yang
ditunggu sudah datang.” Suara perempuan sebaya Emakku.
“Duduk
Soraya.” Ucap Mak
Tangan
Mak menepuk sopa yang kosong di sebelahnya pertanda menyuruh aku duduk ditempat
yang sudah diperintahkan.
“Boleh
Aya ganti baju dulu, maaf gerah karena mengayuh sepeda dari sekolah.” Ucapku
mencicit
Sungguh
aku tidak pede dengan keadaanku saat ini, berkeringat karena mengayuh sepeda
dari sekolah.
“Naik
sepeda, memang tidak punya motor.” Ucap perempuan yang tadi sempat berkata
ketika aku sampai di rumah.
“Besin
lagi langka jadi Soraya ke sekolah pakai sepeda tadi pagi.” Ayah sekarang yang
bersuara.
“Oh.”
Suara koor terdengar tamu yang datang.
Aku
menundukkan badan dan berlalu menuju kamarku.
“Bang ada
acara apa sampai datang ke rumah? Mau mengantar undangan nikah Abang?” Sebelum
mandi dan bertukar baju aku menyempatkan diri untuk menchat Bang Samsul.
Mandi
secepat aku bisa, tidak mungkin aku membuat tamu lama menunggu.
“Cepat
saja keluar, nanti tahu jawabanya.” Balas dari Bang Samsul.
Dahi
berkerut membaca balasan dari Bang Samsul, sebelum aku meninggalkan kamarku.
Kepalaku
penuh dengant tanda tanya, semakin mendekat ke ruang tamu jantungku semakin
berdebar kencang ada apa sebenarnya sampai Bang Samsul datang bersama
rombongan.
Suara –
suara dari ruang tamu semakin jelas, deg jantung berdetak cepat.
Jangan
bilang doa mereka teman sejawatku terkabulkan dengan cepat.
Tapi
apakah mungkin Bang Samsul datang melamarku, selama ini komunikasi kami sebatas
sahabat.
Bang Samsul Salwah pernah bertanya kepadaku bagaimana cara mendekati perempuan yang disukai tanpa membuat perempuannya merasa illfill.
Anganku
melayang, jangan – jangan Bang Samsul ingin melamar kakakku bukankan mereka
pernah dekat sewaktu SMA dulu.
Netraku
mencari keberadaan kakakku setelah duduk disamping Mak.
“Kakak
mana Mak?” aku berbisik dikuping Mak ketika ada kesempatan.
“Milalah
lagi mak suruh beli camilan bersama tunangannya.
Aku
memukul kepalaku, aku sampai lupa kalau pernikahan kakakku hanya menghitung
bulan saja.
Mendadak
jantungku semakin kencang degupnya, mungkinkah Bang Samsul datang untuk
melamarku.
“Soraya,
Abang datang bersama keluarga dengan niat untuk melamar Aya menjadi pendamping
hidup Abang.” Lancang suara Bang Samsul masuk ke pendengaranku.
Jantungku
bertambah laju degupnya, kepalaku tak mampu untuk mendoggak melihat sumber
suara.
Tanganku
menjadi dingin seketika, untung saja Mak dengan sigap mengenggam tangaku.
“Boleh Samsul berbicara berdua dengan Aya di
teras sebentar Ibu, Ayah, Pakcik, Makcik.” Terdengar lagi suara Bang Samsul.
“Sepertinya Soraya
terkejut, sebaiknya kalian berbicang sebentar. Biarkan kami yang tua – tua ni
berbual mengenang masa lalu.” Ucap Abah.
Dulu kami
sekampung, pekerjaan membuat Ayah Bang Samsul memboyong keluarganya ke Batam.
Kami
hanya bersilaturahmi ketika lebaran tiba ataupun ada keluarga Bang Samsul
mengadakan hajatan yang dihadiri keluarga besarnya.
Karena
itu ketika kuliah merasa satu kampung aku lebih senang Bang Samsul membantuku
menyesuaikan diri.
Ada benih
cinta tapi karena tidak mendapatkan sinyal balik dari Bang Samsul aku akhirnya
menyerah dengan menganggap Bang Samsul sebagai Abang yang tidak aku miliki.
***
Aku
menatap langit kamar, senyumku terus tersungging sejak acara lamaran tadi
berlangsung.
“Maaf kalau kedatangan Abang dan keluarga
tidak diskusi dulu dengan Aya. Tapi jika Aya bisa menolak jika memang Aya tidak
punya rasa dengan Abang.
Bukan ingin mengabaikan
perasaan Aya, tapi Abang yakin Aya punya perasaan yang sama dengan Abang.”Bang Samsul menjeda
ucapanya sambil menarik napas.
“Abang sudah sholat meminta
pentunjuk, Abang datang bukan untuk mendesak silakan Aya sholat juga minta
petunjuk juga.
Anggap saja hari ini kami sekeluarga bersilaturahmi, kebetulan tadi siang ada kerabat Abang yang hajatan.” Ucapan Bang Samsul.
“Silaturahmi”,
kata Bang Samsul. Yang benar saja, seluruh keluargaku sudah setuju. Aku harus
menahan malu karena jadi bulan – bulanan Abah dan Emak.
“Memang
hebat si Aya tub tub orang datang melamar tak pakai merisik lagi. Diam – diam
lepu tau tau orang masuk meminang” Oceh Abah setelah keluarga Bang Samsul pamit
undur diri.
“Terima
pinangan si Samsul, tak payah pikir. Abah Emak dah bekenan dengan Samsul.
Jangan pilih – pilih tebu nanti terpilih ujung tebu baru tahu.” Tak habis –
habis Ayah mengodaku.
Aku
mengenang waktu pertama dekat dengan Bang Samsul.
Rasanya
aku tidak pernah melihat pandangan istimewa dari Bang Samsul.
Akhirnya
kami berpisah karena Bang Samsul harus kembali ke kampung halaman setelah
meraih gelar sarjana.
Sesekali
Bang Samsul memang ada menelepon dengan alasan rasa rindu dengan tempat kami
menuntut ilmu.
Setelah
pulang dengan membawa ijazah, kami sering bertemu karena Bang Samsul datang
bertandang karena kami satu kampung.
Waktu
berlalu rasanya aku tidak pernah melihat rasa tertariknya Bang Samsul kepadaku.
Kunjungan
Bang Samsul ke rumah karena bersilaturahmi dengan kakakku dan tunangannya satu
alumni di SMA.
Setiap berkujung hanya senyum sekilas yang aku terima dari Bang Samsul.
Aku
mencebikkan bibirku ketika mengenang perkataan Bang Samsul sebelum pulang tadi.
“Setiap
waktu Abang berdoa semoga kita berjodoh, tapi jika ketentuanya tidak Abang
tidak bisa memaksa. Abang tunggu jawaban Aya secepatnya.
“ ucapnya
yang membuatku iri dengan waktu.
Ah, lagi
– lagi aku cemburu dengan waktu, bagaimana tidak waktuku tidak ada kenangan
manis dengan Bang Samsul, sementara Bang Samsul mengatakan waktunya selalu
penuh dengan ceritku sehingga harinya selalu ada rindu yang mengebu.
Rasanya
aku ingin marah dengan waktuku, kenapa tidak ada cerita waktuku tentang Bang
Samsul.
“Lihat
ini.” Bang Samsul menunjukkan fotoku tersenyum cerita pada acara pernikahan
karabatku yang ternyata teman baik Bang Samsul.
Kala itu
aku sempat berbincang – bincang dengan Bang Samsul.
Sempat
aku mengoda Bang Samsul dengan mengatakan ada temanku yang naksir denganya.
“Bukanya
Soraya yang naksir dengan Abang.” Goda
Bang Samsul kala itu.
Aku Salwah
mengiyakan ucapan Bang Samsul yang akhirnya suara riuh suara temanku dan teman
Bang Samsul mengoda kami.Tapi waktu itu aku tidak menyangka Bang Samsul
mengirim sinyal cinta untukku, sungguh aku cemburu dengan waktu.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar