Rabu, 04 Maret 2026

Cemburu Dengan Waktu

Langkah kakiku ku percepat, aku sudah terlambat 5 menit.

Gara – gara bensin langka aku terpaksa menggunakan sepeda untuk mencapai sekolah.

Sepertinya aku lupa dengan segala yang aku ajarkan pada anak didikku.

Pagi ini kebutuhan waktuku untuk masa sekarang terlalaikan.

Lupa untuk mengecek sepeda yang sudah lama tidak aku gunakan.

Belum lama mengayuh pedalnya aku merasa kesimbanganku oleng.

Rasa kesal menyelimuti hatiku, bagaimana tidak ban belakang sepedaku ternyata bocor.

Susash payah aku mencari bengkel dipagi buta, wal hasil terpaksa aku titipkan sepeda dipos satpam di depan gerbang sekolah setelah dengan susah payah mendorongya.

***

Kelasku sepi, tidak ada satupun peserta didik di dalamnya.

Aku cepat meraih HP di katong bajuku, memastikan pesanku terkirim ke piket untuk memberikan tugas karena keterlambatanku pagi ini.

Pesanku terkirim sempurana, tidak mungkin piket tidak menyampaikan pesanku.

Aku menscrool chat yang juga aku kirim ke ketua kelas, juga terkirim sempurna.

Kemana mereka, akhirnya dengan rasa lelah karena berlari untuk sampai kelas aku melangkah keluar kelas.

“Berkah umurnya Bu.” Suara koor menyambut langkahku yang ingin meninggalkan kelas.

Terkejut jangan ditanya, mereka semua anak didikku menyanyikan lagu mabaruk alfa maberuk dan menyodorkan cake mungil lengkap dengan angka 27 diatasnya.

Sungguh aku terharu, ternyata aku sudah mau mendekati kepala tiga tapi masih sendiri.

Setelah melayan kerenah mereka waktu belajarku tersita satu mata pelajaran.

Kue yang teruntuk diriku, kami bagi menjadi 32 potong dan kami makan bersama – sama. Tidak lupa aku memesan es teh yang menjadi minuman kekinian buat mereka.

Hari ini aku mengizinkan mereka untuk minum di dalam kelas dan melanjutkan materi yang tadi sempat tertunda karena mereka menyambut berkurangnya umur.

Aku mendapatkan ucapan dari teman – teman guru, ada rasa haru ketika mereka dengan ikhlas memberikan doa semoga tahun ini sudah ada teman hidup sebelum mencecah angka 28 tahun.

Ternyata disebalik musihan tapi pagi dari siang sampai sore hatiku gembira.

“Bu Aya, ban sepedanya sudah saya perbaiki.” Ucap Pak Satpam menambah rasa bahagiaku.

Dengan bersenandung aku mengayuh pedal sepeda menuju rumah.

Pandanganku menentap ketika melihat ada mobil avansa berwarna merah sedang parkir dengan gagahnya.

“Asssalamualikum.” Ucapku begitu mencapai pintu rumah.

“Walaikumsalam.” Suara koor terdengar dari ruang tamu.

“Bang Samsul.” Ucapku spontan.

Netraku menatap tamu satu persatu, sosok Bang Samsul berada diantara mereka.

Samsul Bahari, pria yang sudah lama aku kenal dan kami tidak putus komunikasi.

Satu almamater di kampus, kakak kelas yang membantuku sewaktu menginjakkan kaki pertama kali di Yogyakarta, orang kampung kami.

“Yang ditunggu sudah datang.” Suara perempuan sebaya Emakku.

“Duduk Soraya.” Ucap Mak

Tangan Mak menepuk sopa yang kosong di sebelahnya pertanda menyuruh aku duduk ditempat yang sudah diperintahkan.

“Boleh Aya ganti baju dulu, maaf gerah karena mengayuh sepeda dari sekolah.” Ucapku mencicit

Sungguh aku tidak pede dengan keadaanku saat ini, berkeringat karena mengayuh sepeda dari sekolah.

“Naik sepeda, memang tidak punya motor.” Ucap perempuan yang tadi sempat berkata ketika aku sampai di rumah.

“Besin lagi langka jadi Soraya ke sekolah pakai sepeda tadi pagi.” Ayah sekarang yang bersuara.

“Oh.” Suara koor terdengar tamu yang datang.

Aku menundukkan badan dan berlalu menuju kamarku.

“Bang ada acara apa sampai datang ke rumah? Mau mengantar undangan nikah Abang?” Sebelum mandi dan bertukar baju aku menyempatkan diri untuk menchat Bang Samsul.

Mandi secepat aku bisa, tidak mungkin aku membuat tamu lama menunggu.

“Cepat saja keluar, nanti tahu jawabanya.” Balas dari Bang Samsul.

Dahi berkerut membaca balasan dari Bang Samsul, sebelum aku meninggalkan kamarku.

Kepalaku penuh dengant tanda tanya, semakin mendekat ke ruang tamu jantungku semakin berdebar kencang ada apa sebenarnya sampai Bang Samsul datang bersama rombongan.

Suara – suara dari ruang tamu semakin jelas, deg jantung berdetak cepat.

Jangan bilang doa mereka teman sejawatku terkabulkan dengan cepat.

Tapi apakah mungkin Bang Samsul datang melamarku, selama ini komunikasi kami sebatas sahabat.

Bang Samsul Salwah pernah bertanya kepadaku bagaimana cara mendekati perempuan yang disukai tanpa membuat perempuannya merasa illfill.

Anganku melayang, jangan – jangan Bang Samsul ingin melamar kakakku bukankan mereka pernah dekat sewaktu SMA dulu.

Netraku mencari keberadaan kakakku setelah duduk disamping Mak.

“Kakak mana Mak?” aku berbisik dikuping Mak ketika ada kesempatan.

“Milalah lagi mak suruh beli camilan bersama tunangannya.

Aku memukul kepalaku, aku sampai lupa kalau pernikahan kakakku hanya menghitung bulan saja.

Mendadak jantungku semakin kencang degupnya, mungkinkah Bang Samsul datang untuk melamarku.

“Soraya, Abang datang bersama keluarga dengan niat untuk melamar Aya menjadi pendamping hidup Abang.” Lancang suara Bang Samsul masuk ke pendengaranku.

Jantungku bertambah laju degupnya, kepalaku tak mampu untuk mendoggak melihat sumber suara.

Tanganku menjadi dingin seketika, untung saja Mak dengan sigap mengenggam tangaku.

Boleh Samsul berbicara berdua dengan Aya di teras sebentar Ibu, Ayah, Pakcik, Makcik.” Terdengar lagi suara Bang Samsul.

“Sepertinya Soraya terkejut, sebaiknya kalian berbicang sebentar. Biarkan kami yang tua – tua ni berbual mengenang masa lalu.” Ucap Abah.

Dulu kami sekampung, pekerjaan membuat Ayah Bang Samsul memboyong keluarganya ke Batam.

Kami hanya bersilaturahmi ketika lebaran tiba ataupun ada keluarga Bang Samsul mengadakan hajatan yang dihadiri keluarga besarnya.

Karena itu ketika kuliah merasa satu kampung aku lebih senang Bang Samsul membantuku menyesuaikan diri.

Ada benih cinta tapi karena tidak mendapatkan sinyal balik dari Bang Samsul aku akhirnya menyerah dengan menganggap Bang Samsul sebagai Abang yang tidak aku miliki.

***

Aku menatap langit kamar, senyumku terus tersungging sejak acara lamaran tadi berlangsung.

Maaf kalau kedatangan Abang dan keluarga tidak diskusi dulu dengan Aya. Tapi jika Aya bisa menolak jika memang Aya tidak punya rasa dengan Abang.

Bukan ingin mengabaikan perasaan Aya, tapi Abang yakin Aya punya perasaan yang sama dengan Abang.”Bang Samsul menjeda ucapanya sambil menarik napas.

“Abang sudah sholat meminta pentunjuk, Abang datang bukan untuk mendesak silakan Aya sholat juga minta petunjuk juga.

Anggap saja hari ini kami sekeluarga bersilaturahmi, kebetulan tadi siang ada kerabat Abang yang hajatan.” Ucapan Bang Samsul.

“Silaturahmi”, kata Bang Samsul. Yang benar saja, seluruh keluargaku sudah setuju. Aku harus menahan malu karena jadi bulan – bulanan Abah dan Emak.

“Memang hebat si Aya tub tub orang datang melamar tak pakai merisik lagi. Diam – diam lepu tau tau orang masuk meminang” Oceh Abah setelah keluarga Bang Samsul pamit undur diri.

“Terima pinangan si Samsul, tak payah pikir. Abah Emak dah bekenan dengan Samsul. Jangan pilih – pilih tebu nanti terpilih ujung tebu baru tahu.” Tak habis – habis Ayah mengodaku.

Aku mengenang waktu pertama dekat dengan Bang Samsul.

Rasanya aku tidak pernah melihat pandangan istimewa dari Bang Samsul.

Akhirnya kami berpisah karena Bang Samsul harus kembali ke kampung halaman setelah meraih gelar sarjana.

Sesekali Bang Samsul memang ada menelepon dengan alasan rasa rindu dengan tempat kami menuntut ilmu.

Setelah pulang dengan membawa ijazah, kami sering bertemu karena Bang Samsul datang bertandang karena kami satu kampung.

Waktu berlalu rasanya aku tidak pernah melihat rasa tertariknya Bang Samsul kepadaku.

Kunjungan Bang Samsul ke rumah karena bersilaturahmi dengan kakakku dan tunangannya satu alumni di SMA.

Setiap berkujung hanya senyum sekilas yang aku terima dari Bang Samsul.

Aku mencebikkan bibirku ketika mengenang perkataan Bang Samsul sebelum pulang tadi.

“Setiap waktu Abang berdoa semoga kita berjodoh, tapi jika ketentuanya tidak Abang tidak bisa memaksa. Abang tunggu jawaban Aya secepatnya.

“ ucapnya yang membuatku iri dengan waktu.

Ah, lagi – lagi aku cemburu dengan waktu, bagaimana tidak waktuku tidak ada kenangan manis dengan Bang Samsul, sementara Bang Samsul mengatakan waktunya selalu penuh dengan ceritku sehingga harinya selalu ada rindu yang mengebu.

Rasanya aku ingin marah dengan waktuku, kenapa tidak ada cerita waktuku tentang Bang Samsul.

“Lihat ini.” Bang Samsul menunjukkan fotoku tersenyum cerita pada acara pernikahan karabatku yang ternyata teman baik Bang Samsul.

Kala itu aku sempat berbincang – bincang dengan Bang Samsul.

Sempat aku mengoda Bang Samsul dengan mengatakan ada temanku yang naksir denganya.

“Bukanya Soraya yang naksir dengan Abang.”  Goda Bang Samsul kala itu.

Aku Salwah mengiyakan ucapan Bang Samsul yang akhirnya suara riuh suara temanku dan teman Bang Samsul mengoda kami.Tapi waktu itu aku tidak menyangka Bang Samsul mengirim sinyal cinta untukku, sungguh aku cemburu dengan waktu.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Cemburu Dengan Waktu

Langkah kakiku ku percepat, aku sudah terlambat 5 menit. Gara – gara bensin langka aku terpaksa menggunakan sepeda untuk mencapai sekolah. S...