Minggu, 08 Maret 2026

Ada Apa Dengan Rasa

 


Netraku menatap sayu taman bunga yang tak berbunga.

Sepuluh tahun lalu, semuanya berwarna warni sejak saat itu dua tahun lalu semuanya jadi tak lagi berwarna warni.

Warna warni dari cat menjadi pemadangan indah yang tidak asri.

Langkahku terus melaju menuju kelas yang berada dipojok ujung sekolah.

Suara riuh sudah terdengar, hanya ada dua kelas tapi suara ributnya bagaikan sepuluh kelas saja.

Langkahku terhenti sejenak di kelas satunya sebelum aku sampai di kelas tempat aku mengajar.

Melihat sekilas, mereka peserta didikku memainkan gitar dan mengeluarkan suara bagaikan tersampuk saja.

Dua kelas ini selalu saja menjadi kelas yang jarang dikunjungi guru.

Berbagai alasan yang diberikan oleh mereka yang tidak masuk dengan pembenaran yang hanya mereka yang tahu.

Kadang aku merasa ingin berbuat seperti mereka, tapi ada rasa bersalah jika aku mengabaikan kelas yang terletak dipojok sekolah.

Ingin membuka suara, tapi melihat mereka tidak memberikan atensi atas kehadiranku membuatku melangkahkan kaki menuju kelas tempat aku mengajar.

“Bu Zahara datang.” Teriak beberapa peserta didikku.

Senyumku tipis, selalu begitu.

Mereka sepertinya selalu meributkan hal yang tak penting.

Langkahku mantap, merapal doa dalam hati mohon diberikan kesabaran seluas samudra.

“Bislimillah.” Ucapku pelan

Menatap sekeliling kelas untuk memberikn efek aku menguasai mereka saat ini.

“Mana ketua kelas?” ucapku lantang

Ketua kelas sudah tahu maksud dari pertanyaanku.

Suara menyiapkan terdengar kemudian komando mengucapkan salam nyaring terdengar.

“Assalmualaikum.” Koor suara mereka terdengar.

Dengan senyum aku menjawab salam mereka.

“Masih semangat?” Tanyaku

“Masih.” Jawab mereka tidak semangat

“Ibu akan absen, nama yang Ibu panggil harus menjawab dengan Kalimat semangat dan ngatuk.” Ucapku keras.

“Aini.” Suaraku mengema

“Ngantuk Bu.” Ucap Aini

“Aisyah.” Ucapku

“Salwas Bu.” Ucap Aisyah

Helaan napasku kuat, hanya 5 orang yang mengatakan semangat sementera yang lainya mengatakan mengantuk.

Jam segini memang enaknya tidur, aku melirik jam tanganku, sepuluh menit lagi pukul tiga.

“Ok, semuanya berdiri.” Ucapku lantang.

“Ketika ibu mengatakan ekonomi mikro tangannya diangkat keatas, ketika Ibu mengatakan ekonomi makro tangannya diturunkan. Ekonomi terapan tangannya direntangkan dan yang terakhir ketika Ibu mengantakan ekonomi diskriptif tangan dilipat di dada.

Aku mengajak mereka untuk belajar pembagian ilmu ekonomi dengan ice breaking untuk membuat mereka tidak merasa mengantuk lagi.

Aku mulai memberikan aba – aba, pada instruksi pertama aku memberikan waktu yang cukup lama dalam memberi aba –aba semakin lama semakin cepat aku memberikan instruksi.

Dan walhasil mereka mulai merasa terpacu untuk mengikuti ice breaking yang aku berikan.

Melihat wajah – wajah yang hilang dari rasa kantuk membuatku merasa puas.

Aku memutar PTT yang sudah aku siapkan untuk materi hari ini.

Tawa mengema kencang, aku meletakkan gambar lucu untuk membuat mereka merasa santai.

Sejurus kemudian kening mereka terlihat berkerut, bagaimana tidak ada pertanyaan yang wajib mereka jawab.

Aku mulai memandang wajah mereka satu persatu.

“Jangan ada sanksi Bu.” Belum juga aku membuka mulutku terdengar suara protes.

Senyum tak dapat lagi aku sembunyikan, itulah aku selalu memberikan sanksi jika mereka tidak bisa menjawab pertanyaan dariku.

Tapi untuk kelas terakhir ini mereka selalu menganggap sanksiku adalah hukuman padahal aku hanya meminta mereka bernyanyi dengan mengubah lirik lagu anak – anak dengan materi pelajaran yang sedang berlangsung.

Music lagi balonku ada lima dengan lirik kegiatan ekonomi rasanya tidaklah sulit tapi bagi mereka yang berada dikelas X.8 adalah siksaan yang maha hebat.

Mereka X.8 anak – anak yang terkenal dengan Salwasnya belajar.

“Salwas belajar, kita buat kesepakatan bagaimana?” ucapku lantang.

“Ibu akan bertanya secara acak, jika bisa menjawab pertanyaan Ibu hari ini kita bebas belajar, dan sebagai gantinya kita main game bagaimana?” senyumku licik.

“Setuju.” Koor mereka serentak.

“Kalau salah jawabannya, apa kosenkuensinya Bu.” Ilham murid yang paling jago bersilat lidah.

“Kita belajar kemudian bermain quizizz, bagaimana? Aku memberikan penawaran.

“Quizizz itu yang menjawab pertanyaan – pertanyaankan Bu.” Suara santi terdengar.

Siswi yang paling cantik dengan mata bak Barbie bulat menawan.

“Yup.” Ucapku menirukan gaya mereka berbicara.

“Siapa takut.” Ucap Alex

Alexsandro Manurung nama lengkapnya, biang kerok nomor dua setelah Ilham.

Aku menunjuk salah satu siswi yang selalu tersenyum manis menunjukkan lesung pipinya.

“Hani, sebutkan contoh dari kegiatan produksi di kelas?’ ucapku.

Bagi mereka yang rajin belajar, soal yang aku berikan pasti dianggap tidak bermutu, tapi bagi mereka di kelas X.8 ini pasti akan membuat keringat dingin mengalir dipelipis.

Setelah dua menit aku mulai menghitung dari angka sepuluh jika hitungan sampai pada angka satu maka mereka kalah bertaruh denganku.

“Guru mengajar di depan kelas BU.” Ucap melur

Aku menatap melur dengan tersenyum, satu – satunya siswi yang otaknya lumayan encer di kelas X.8 hanya saja tertutup dengan pengaruh mereka yang berada di X.8.

Setiap ulangan harian di X.8 aku pasti mencari nama Melur untuk memberikan boombaster sebelum melihat nilai – nilai yang mengecewakan dari X.8.

“Sayang yang menjawab Melur, jika Hani yang menjawab pasti kalian menang.” Ucapku santoy.

Suara berisik mulai terdengar membuatku harus mendiamkan mereka.

“Ok, sekarang Ibu kasih peluang kepada Melur untuk menjawab. Ibu tidak mau dianggap tidak adil.” Ucapku lagi.

“Melur, berikan contoh untuk nilai guna pelayanan di sekolah.” Ucapku sambil tersenyum kecil.

Aku tahu kelemahan anak – anak didikku, mereka selalu menghapal materi dengan bahasa inggri saja seperti saat ini aku menanyakan Servise Utility kepada Hani.

Kelemahan yang membuat mereka selalu tidak bisa menjawab pertanyaanku jika sudah diubah contohnya.

Sinonim kata dalam pelajaran bahasa Indonesia sepertinya tidak dimengerti mereka.

Berubah saja kalimat contoh yang diminta maka mereka tidak bisa menjawabnya.

Helaan napas berat sering kali terkeluar dari mulutku saat menghadapi mereka.

“Tidak ada yang berproduksi di sekolah Bu.” Ucap Ilham santai

Naik rasanya darahku mendengar ucapan asal yang keluar dari Ilham

“Produksi adalah kegiatan manusia untuk menghasilkan/menciptakan/menambah nilai guna dari suatu barang/jasa Ilham.” Ucapku memberikan penekanan dalam menjelaskan.

“Bukankah Ibu memberikan nilai guna dari materi yang diajarkan melalui pelayan kepada siswa yang artinya service utility.” Lanjutku dengan menambah sabar seluar samudra di dadaku.

Sebagai konsekuensi tidak bisa menjawab pertanyaan Ibu, silakan anak – anak Ibu yang pintar membentuk kelompok sebanyak 3 orang dalam waktu 2 menit dan mulai membuat lirik dengan menggunakan materi kita hari ini dan lagunya adalah pelangi – pelangi ok.” Ucapku lantang

Aku mulai menggunakan stop wacht yang ada di HP ku.

Mereka terlihat kalang kabut, karena tidak ingin mendapatkan konsenkuensi jika tidak membuat kelompok dalam waktu 2 menit.

Senyum tipisku tersungging melihat mereka berdiri dan membentuk kelompok.

“Sekarang waktunya memikirkan lirik, waktunya 10 menit.” Keras terdengar suaraku.

Suaraku harus besar dan keras, karena mereka masih kasak – kusuk sehingga terdengar seperti lebah saja.

“Bu, bisa berikan contoh.” Suara ilham terdengar.

Aku tahu anak satu ini selalu ingin menguji gurunya.

“Jika ibu mencontohkannya tinggal dicontek saja oleh kalian.” Ucapku angkuh.

Mulutku mengatakan itu tapi aku tetap menyanyikan sedikit pembagian kebutuhan dengan arensemen balonku ada lima.

“Keren Bu.” Puji Mereka sambil bertepuk tangan mendengarkan nyanyianku.

Aku berkeliling kelas memastikan mereka mengerjakan tugas dariku.

Senyum tak lepas dari mulutku ketika mendengar mereka mengatakan suaranya nyanyian mereka sumbang dan ocehan lainnya.

Aku mengingatkan waktu kepada mereka, terdengar keluh kesah mereka karena belum mendapatkan apa yang mereka ingin tampilkan.

Gelak tawa memenuhi ruang kelas, inilah yang mereka inginkan.

Bermain sambil belajar, bukan belajar sambil bermain.

Akhirnya aku mendapati mereka berusaha untuk menampilkan yang terbaik.

Materi konsep ekonomi mengenai tindakan ekonomi  dan kebutuhan mudah dipahami.

Setiap kelompok yang tampil berusaha untuk mengingat meteri supaya penampilan mereka menarik.

Malu – malu akhirnya mereka malu – maluin ketika tanpa sadar berusaha unggul dari kelompok lainnya.

Bukan hanya suara yang terdengar, tapi mereka juga memperagakkan setiap tindakan dan kebutuhan dengan cara mereka.

Unik tapi itulah mereka, takutku menjadi lega ketika mereka dengan antusias tampil dengan cara mereka.

Tak terasa waktuku sudah berakhir, sewaktu akan masuk kelas aku membayangkan akan terasa lama ternyata setelah memutar otak untuk dapatkan ide bagi mempermudahkan mereka mengerti materi waktu berlalu dengan pantas.

Sebelum sempat aku menutup pembelajaran dengan mengambil kesimpulan.

“Bu pertemuan berikutnya kita seperti ini lagi.” Koor mereka.

Senyumku terbit bak mentarai di pagi hari, rasa yang hilang datang menyerlahkan hati dan wajahku.

Rasa puas jangan dikata, hanya rasa yang bisa mengatakannya.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ada Apa Dengan Rasa

  Netraku menatap sayu taman bunga yang tak berbunga. Sepuluh tahun lalu, semuanya berwarna warni sejak saat itu dua tahun lalu semuanya...