Netraku menatap sayu taman bunga yang tak berbunga.
Sepuluh
tahun lalu, semuanya berwarna warni sejak saat itu dua tahun lalu semuanya jadi
tak lagi berwarna warni.
Warna
warni dari cat menjadi pemadangan indah yang tidak asri.
Langkahku
terus melaju menuju kelas yang berada dipojok ujung sekolah.
Suara
riuh sudah terdengar, hanya ada dua kelas tapi suara ributnya bagaikan sepuluh
kelas saja.
Langkahku
terhenti sejenak di kelas satunya sebelum aku sampai di kelas tempat aku
mengajar.
Melihat
sekilas, mereka peserta didikku memainkan gitar dan mengeluarkan suara bagaikan
tersampuk saja.
Dua kelas
ini selalu saja menjadi kelas yang jarang dikunjungi guru.
Berbagai alasan yang diberikan oleh mereka yang tidak masuk dengan pembenaran yang hanya mereka yang tahu.
Kadang
aku merasa ingin berbuat seperti mereka, tapi ada rasa bersalah jika aku
mengabaikan kelas yang terletak dipojok sekolah.
Ingin
membuka suara, tapi melihat mereka tidak memberikan atensi atas kehadiranku
membuatku melangkahkan kaki menuju kelas tempat aku mengajar.
“Bu
Zahara datang.” Teriak beberapa peserta didikku.
Senyumku
tipis, selalu begitu.
Mereka
sepertinya selalu meributkan hal yang tak penting.
Langkahku
mantap, merapal doa dalam hati mohon diberikan kesabaran seluas samudra.
“Bislimillah.”
Ucapku pelan
Menatap
sekeliling kelas untuk memberikn efek aku menguasai mereka saat ini.
“Mana
ketua kelas?” ucapku lantang
Ketua
kelas sudah tahu maksud dari pertanyaanku.
Suara
menyiapkan terdengar kemudian komando mengucapkan salam nyaring terdengar.
“Assalmualaikum.”
Koor suara mereka terdengar.
Dengan
senyum aku menjawab salam mereka.
“Masih
semangat?” Tanyaku
“Masih.” Jawab mereka tidak semangat
“Ibu akan
absen, nama yang Ibu panggil harus menjawab dengan Kalimat semangat dan
ngatuk.” Ucapku keras.
“Aini.”
Suaraku mengema
“Ngantuk
Bu.” Ucap Aini
“Aisyah.”
Ucapku
“Salwas
Bu.” Ucap Aisyah
Helaan
napasku kuat, hanya 5 orang yang mengatakan semangat sementera yang lainya
mengatakan mengantuk.
Jam
segini memang enaknya tidur, aku melirik jam tanganku, sepuluh menit lagi pukul
tiga.
“Ok,
semuanya berdiri.” Ucapku lantang.
“Ketika
ibu mengatakan ekonomi mikro tangannya diangkat keatas, ketika Ibu mengatakan
ekonomi makro tangannya diturunkan. Ekonomi terapan tangannya direntangkan dan
yang terakhir ketika Ibu mengantakan ekonomi diskriptif tangan dilipat di dada.
Aku
mengajak mereka untuk belajar pembagian ilmu ekonomi dengan ice breaking untuk
membuat mereka tidak merasa mengantuk lagi.
Aku mulai
memberikan aba – aba, pada instruksi pertama aku memberikan waktu yang cukup
lama dalam memberi aba –aba semakin lama semakin cepat aku memberikan
instruksi.
Dan
walhasil mereka mulai merasa terpacu untuk mengikuti ice breaking yang aku berikan.
Melihat
wajah – wajah yang hilang dari rasa kantuk membuatku merasa puas.
Aku
memutar PTT yang sudah aku siapkan untuk materi hari ini.
Tawa
mengema kencang, aku meletakkan gambar lucu untuk membuat mereka merasa santai.
Sejurus
kemudian kening mereka terlihat berkerut, bagaimana tidak ada pertanyaan yang
wajib mereka jawab.
Aku mulai
memandang wajah mereka satu persatu.
“Jangan
ada sanksi Bu.” Belum juga aku membuka mulutku terdengar suara protes.
Senyum
tak dapat lagi aku sembunyikan, itulah aku selalu memberikan sanksi jika mereka
tidak bisa menjawab pertanyaan dariku.
Tapi
untuk kelas terakhir ini mereka selalu menganggap sanksiku adalah hukuman
padahal aku hanya meminta mereka bernyanyi dengan mengubah lirik lagu anak –
anak dengan materi pelajaran yang sedang berlangsung.
Music
lagi balonku ada lima dengan lirik kegiatan ekonomi rasanya tidaklah sulit tapi
bagi mereka yang berada dikelas X.8 adalah siksaan yang maha hebat.
Mereka X.8 anak – anak yang terkenal dengan Salwasnya belajar.
“Salwas
belajar, kita buat kesepakatan bagaimana?” ucapku lantang.
“Ibu akan
bertanya secara acak, jika bisa menjawab pertanyaan Ibu hari ini kita bebas
belajar, dan sebagai gantinya kita main game bagaimana?” senyumku licik.
“Setuju.”
Koor mereka serentak.
“Kalau
salah jawabannya, apa kosenkuensinya Bu.” Ilham murid yang paling jago bersilat
lidah.
“Kita
belajar kemudian bermain quizizz, bagaimana? Aku memberikan penawaran.
“Quizizz
itu yang menjawab pertanyaan – pertanyaankan Bu.” Suara santi terdengar.
Siswi
yang paling cantik dengan mata bak Barbie bulat menawan.
“Yup.”
Ucapku menirukan gaya mereka berbicara.
“Siapa
takut.” Ucap Alex
Alexsandro
Manurung nama lengkapnya, biang kerok nomor dua setelah Ilham.
Aku
menunjuk salah satu siswi yang selalu tersenyum manis menunjukkan lesung
pipinya.
“Hani,
sebutkan contoh dari kegiatan produksi di kelas?’ ucapku.
Bagi
mereka yang rajin belajar, soal yang aku berikan pasti dianggap tidak bermutu,
tapi bagi mereka di kelas X.8 ini pasti akan membuat keringat dingin mengalir
dipelipis.
Setelah
dua menit aku mulai menghitung dari angka sepuluh jika hitungan sampai pada
angka satu maka mereka kalah bertaruh denganku.
“Guru
mengajar di depan kelas BU.” Ucap melur
Aku
menatap melur dengan tersenyum, satu – satunya siswi yang otaknya lumayan encer
di kelas X.8 hanya saja tertutup dengan pengaruh mereka yang berada di X.8.
Setiap
ulangan harian di X.8 aku pasti mencari nama Melur untuk memberikan boombaster
sebelum melihat nilai – nilai yang mengecewakan dari X.8.
“Sayang
yang menjawab Melur, jika Hani yang menjawab pasti kalian menang.” Ucapku
santoy.
Suara
berisik mulai terdengar membuatku harus mendiamkan mereka.
“Ok,
sekarang Ibu kasih peluang kepada Melur untuk menjawab. Ibu tidak mau dianggap
tidak adil.” Ucapku lagi.
“Melur,
berikan contoh untuk nilai guna pelayanan di sekolah.” Ucapku sambil tersenyum
kecil.
Aku tahu
kelemahan anak – anak didikku, mereka selalu menghapal materi dengan bahasa
inggri saja seperti saat ini aku menanyakan Servise Utility kepada Hani.
Kelemahan
yang membuat mereka selalu tidak bisa menjawab pertanyaanku jika sudah diubah
contohnya.
Sinonim kata dalam pelajaran bahasa Indonesia sepertinya tidak dimengerti mereka.
Berubah
saja kalimat contoh yang diminta maka mereka tidak bisa menjawabnya.
Helaan
napas berat sering kali terkeluar dari mulutku saat menghadapi mereka.
“Tidak
ada yang berproduksi di sekolah Bu.” Ucap Ilham santai
Naik
rasanya darahku mendengar ucapan asal yang keluar dari Ilham
“Produksi
adalah kegiatan manusia untuk menghasilkan/menciptakan/menambah nilai guna dari
suatu barang/jasa Ilham.” Ucapku memberikan penekanan dalam menjelaskan.
“Bukankah
Ibu memberikan nilai guna dari materi yang diajarkan melalui pelayan kepada
siswa yang artinya service utility.” Lanjutku dengan menambah sabar seluar
samudra di dadaku.
Sebagai konsekuensi tidak bisa menjawab
pertanyaan Ibu, silakan anak – anak Ibu yang pintar membentuk kelompok sebanyak
3 orang dalam waktu 2 menit dan mulai membuat lirik dengan menggunakan materi
kita hari ini dan lagunya adalah pelangi – pelangi ok.” Ucapku lantang
Aku mulai
menggunakan stop wacht yang ada di HP ku.
Mereka terlihat
kalang kabut, karena tidak ingin mendapatkan konsenkuensi jika tidak membuat
kelompok dalam waktu 2 menit.
Senyum tipisku
tersungging melihat mereka berdiri dan membentuk kelompok.
“Sekarang
waktunya memikirkan lirik, waktunya 10 menit.” Keras terdengar suaraku.
Suaraku harus
besar dan keras, karena mereka masih kasak – kusuk sehingga terdengar seperti
lebah saja.
“Bu, bisa
berikan contoh.” Suara ilham terdengar.
Aku tahu anak
satu ini selalu ingin menguji gurunya.
“Jika ibu
mencontohkannya tinggal dicontek saja oleh kalian.” Ucapku angkuh.
Mulutku
mengatakan itu tapi aku tetap menyanyikan sedikit pembagian kebutuhan dengan
arensemen balonku ada lima.
“Keren Bu.”
Puji Mereka sambil bertepuk tangan mendengarkan nyanyianku.
Aku
berkeliling kelas memastikan mereka mengerjakan tugas dariku.
Senyum
tak lepas dari mulutku ketika mendengar mereka mengatakan suaranya nyanyian
mereka sumbang dan ocehan lainnya.
Aku mengingatkan waktu kepada mereka, terdengar keluh kesah mereka karena belum mendapatkan apa yang mereka ingin tampilkan.
Gelak
tawa memenuhi ruang kelas, inilah yang mereka inginkan.
Bermain
sambil belajar, bukan belajar sambil bermain.
Akhirnya
aku mendapati mereka berusaha untuk menampilkan yang terbaik.
Materi konsep
ekonomi mengenai tindakan ekonomi dan
kebutuhan mudah dipahami.
Setiap
kelompok yang tampil berusaha untuk mengingat meteri supaya penampilan mereka
menarik.
Malu –
malu akhirnya mereka malu – maluin ketika tanpa sadar berusaha unggul dari
kelompok lainnya.
Bukan
hanya suara yang terdengar, tapi mereka juga memperagakkan setiap tindakan dan
kebutuhan dengan cara mereka.
Unik tapi
itulah mereka, takutku menjadi lega ketika mereka dengan antusias tampil dengan
cara mereka.
Tak
terasa waktuku sudah berakhir, sewaktu akan masuk kelas aku membayangkan akan
terasa lama ternyata setelah memutar otak untuk dapatkan ide bagi
mempermudahkan mereka mengerti materi waktu berlalu dengan pantas.
Sebelum
sempat aku menutup pembelajaran dengan mengambil kesimpulan.
“Bu
pertemuan berikutnya kita seperti ini lagi.” Koor mereka.
Senyumku
terbit bak mentarai di pagi hari, rasa yang hilang datang menyerlahkan hati dan
wajahku.
Rasa puas
jangan dikata, hanya rasa yang bisa mengatakannya.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar