Jumat, 01 Mei 2026

Hatiku

 

Langkahku terhenti, bola kaki warna warni menghentikan langkahku.

Aku mengangkat kepala mencari sosok pemilik bola berwarna – warna.

Sedari tadi aku menundukkan kepala akan mencari uangku yang hilang saja.

Rasanya aku tidak punya muka untuk menatap orang – orang yang berada disekitarku setelah kejadian naas sejam yang lalu.

Andai saja ada pintu doraemon tentu aku akan menggunakannya untuk pergi ke negeri antah berantah.

Sungguh kesal rasanya jika mengingat kejadian sejam yang lalu.

Tiba – tiba saja aku yang lagi menunggu ojek online pesananku tertiban sial.

Bagaimana tidak sial, satu termos air tahu dingin tumbah oleh seorang lelaki dewasa karena ban motor yang dtumpanginya oleng.

Dan hari ini aku mandi air tahu, jika yang tumpah air susu mungkin lain ceritanya.

Untung saja ojek online tiba, sebenarnya ojek online tidak ingin mengantarku karena badanku basah kuyup.

Minggu, 26 April 2026

Tak Seindah Kenyataan

 

Suara terahim sayup – sayup menusuk pendengaranku.

Rasa ngantuk bergelayut manja, mataku masih terpejam erat.

Rasanya baru sebentar aku memanjakan mataku, tapi pagi tidak mau kompromi.

Hatiku lelah, setiap hari dengan kenyataan yang sama.

Dapurku berasap hanya untuk menjerang air untuk secangkir teh pengisi perut sebelum aku berangkat mengajar.

Berita – berita diluar sana membuat pikiranku tidak sejalan dengan hati.

Saat ini semuanya serba mahal tapi dunia pendidikan sudah mandarah daging.

Dunia yang sudah membuat aku Bahagia, sejak meninggalkan dunia kuliah 35 tahun yang lalu.

Covid tidak memberikan aku banyak pilihan, gelar sarjana tidak membuatku mendapatkan pekerjaan yang layak.

Akhirnya aku terdampar di sekolah yang memberikan aku kehidupan.

Rabu, 22 April 2026

Berprasangka

 


Dadaku turun naik, pengalaman menjadi guru selama 25 tahun ternyata tidak membuatku santai mengajar di kelas X.6.

Bagaimana tidak sejak masuk sudah ada kendala yang membuat merasa tidak nyaman mengajar.

Ruang kelas yang seyogyanya harus bersih, pagi ini bagaikan TPA saja penuh dengan sampah yang kemarin lusa tidak dibersihkan.

Rasa busuk yang menyengat membuatku beberapa kali bersin sehingga hidungku terasa perih.

Setelah upacara dipagi yang mataharinya menyengat membuatku ingin tenang mengajar di jam pertama lenyap sudah.

Jengah melihat ruang kelas yang berantakkan membuatku harus istifar dalam hati jangan sampai terpancing emosi.

Jadwalnya untuk mengambil nilai harus aku undur dengan membiarkan mereka membersihkan kelas terlebih dahulu.

Rabu, 15 April 2026

Kata Janji

 

Membuka jendela kamar, segarnya udara pagi aku harapkan memberikan harapan baru bagi diriku.

Sempat mengigil terkena tamparannya, tatapanku terkunci pada bunga mawar merah tak jauh dari jendela kamar.

Senyum mirisku terlihat, aku bagaikan bunga mawar yang tak tersentuh layaknya.

Umurku menginjak kepala tiga sepekan lagi, ocehan Mak setiap hari menanyakan dimana kabar tentang jodohku.

Hanya hamparan senyum palsu serta kata yang mungkin menjadi pamunngkas kalimat.

Allah masih menyimpan jodoh terbaik untukku.

Dengusan kesal selalu terdengar dari Mak jika aku sudah menyebut kata campur tangan Sang Pemilik Segalanya.

Bukannya tidak terpikir tapi lebih tepat mau memikirkan.

Senin, 13 April 2026

Hatiku

 

Langkahku terhenti, bola kaki warna warni menghentikan langkahku.

Aku mengangkat kepala mencari sosok pemilik bola berwarna – warna.

Sedari tadi aku menundukkan kepala akan mencari uangku yang hilang saja.

Rasanya aku tidak punya muka untuk menatap orang – orang yang berada disekitarku setelah kejadian naas sejam yang lalu.

Andai saja ada pintu doraemon tentu aku akan menggunakannya untuk pergi ke negeri antah berantah.

Sungguh kesal rasanya jika mengingat kejadian sejam yang lalu.

Tiba – tiba saja aku yang lagi menunggu ojek online pesananku tertiban sial.

Bagaimana tidak sial, satu termos air tahu dingin tumbah oleh seorang lelaki dewasa karena ban motor yang dtumpanginya oleng.

Sabtu, 11 April 2026

Abu Menjadi Hitam


Menatap sepatu hitam yang sudah memudar warnanya.

Beberapa kali aku ditegur bagian kesiswaan karena mereka menyangka aku memakai sepatu abu – abu.

Peraturan sekolah membuatku tidak berkutik, tapi memaksakan Ayah untuk membeli sepatu rasanya juta tidak memungkinkan.

Menatap wadah kecil yang sudah aku tinta isi ulang spidol whiteboard yang aku ambil sedikit untuk menyemir sepatuku biar kembali berwarna hitam.

Dengan teliti aku menyemir sepatuku, senyum puas tersunging di bibirku.

Berjalan menuju kursi kayu yang selalu menjadi teman setiap untuk menjemur sepatu sesudah aku cuci.

Jumat, 10 April 2026

Lepas Asa

 


Menatap langit kamar, menghitung detik jam.

Waktu berlalu sudah lebih dari 3 jam aku menunggu, tapi tidak ada tampak batang hidung suamiku yang berjanji akan pulang sebelu bada’ isyak.

Tadi aku sempat menunggu suamiku di ruang tamu, lelah membuatku masuk ke kamar kami dan membaringkan badan yang lelah.

Sepulangnya dari bekerja aku menyempatkan diri untuk memasak masakan kesukaan suamiku.

“Intan bisa buatkan Abang perkedel.” Pinta Bang Ikram dua hari lalu.

Jarang sekali Bang Ikram meminta aku memasak karena kami sama – sama bekerja.

Aku hanya memasak pada hari sabtu dan minggu, itupun hanya menu sederhana karena aku harus mencuci baju dan berkemas rumah.

Tidak jarang aku bertanya kepada Bang ikram untuk masalah makanan yang ingin aku masakkan.

Tapi jawaban bijak Bang Ikram mengatakan akan memakan apapun yang aku masak yang membuatku bertambah sayang kepada Bang Ikram.

Tidak biasanya Bang Ikram mengingkarai janji yang sudah dibuatnya.

Rabu, 08 April 2026

PUTIH ABU –ABU


Menatap nanar surat yang berada di genggaman tanganku saat ini.

Surat peringatan ke tiga, habis sudah nyawaku kali ini.

Berjalan lemah menuju rumah, malas untuk mengoes sadel sepada angkutanku untuk pergi dan pulang sekolah.

Aku menuntun sepedaku, berharap ada mukjizat yang datang.

“Intan, Abah belum punya uang untuk membayar uiran perpisahannya.” Ucap Abah 2 hari lalu.

Sebenarnya aku tidak ingin menyusahkan Abah, tapi hasil kesepakatan orangtua dengan sekolah perpisahaan tahun ini diselenggarakan oleh orangtua dengan panitia guru – guru untuk memudahkan pengorganisasian kerjanya.

Selasa, 07 April 2026

Rindu Dia

 


Tatapanku nanar melihat mereka dengan seragam putih abu – abu.

Tawa mereka menambah luka di hatiku.

Genggaman tanganku di bakul jualanku semakin kencang, ada yang mengiris hatiku.

“Hana terpaksa sekolah Hana putus dulu.” Ucap Emak kala itu.

Sepekan setelah Abah menghembuskan napas terakhirnya.

Penyakit menahun yang diderita Abah akhirnya merengut Abah dari kami sekeluarga.

Sebagai anak tertua aku harus meringan beban Mak, rasanya cukup sudah aku bisa membaca dan menulis.

Ijazah SMP yang aku punyai rasanya tidak menjamin aku mendapatkan pekerjaan seperti impian anak sekarang paling tidak aku bisa menggunakan tulang empat keratku untuk mencari uang.

Yang penting menulis dan membaca serta berhitung tidak aku ditipu jika aku berjualan.

Senyum mirisku tersungging ketika melihat mereka berhambuaran berlari ke dalam kelas ketika bel tanda masuk belajar.

Puas dengan melihat mereka memakai seragam putih abu, setelah sepi aku meninggalkan sekolah yang menjadi langgananku berjualan.

Bunyi berderit dari ban motor yang di rem paksa membuat kau menolehkan wajahku ke arah suara.

Dia lagi, batinku.

Minggu, 05 April 2026

Ruang Waktu

Memerah mataku menatap status WA dari aplikasi yang akhir – akhir ini menjadi fokusku.

Statusnya hari ini sungguh melukai harga diriku.

Secepat kilat aku mengetik kalimat untuk mengomentarinya.

“Kami hanya rekan kerja tidak lebih, jangan berlebiha curiga Abang tidak suka.” Kalimat Bang Imran teringat olehku.

Itu sepekan lalu, aku menujukkan status dari teman sekantor Bang Imran yang aku rasa sudah tidak bisa ditoleri lagi.

Aku yang tunangan Bang Imran saja malu untuk memasang status seperti itu, apalagi Bang Imran selalu mengingatkan kami baru bertunang.

Aku menghapus kembali chat yang sudah aku tulis.

Aku menghela napas berat, meletakkan HP pada meja kecil yang terletak disamping ranjangku.

Malam minggu seharusnya kami berbicara banyak tentang hubungan kami yang sebentar lagi menuju pelaminan.

Chat Bang Imran tadi sore menggatakan tidak bisa datang karena ada jamuan makan di kantornya.

Minggu, 29 Maret 2026

Persimpangan Jalan

 “Percuma Bu Laras, tetap saja salah.” Tergiang suara Bu Intan sepekan lalu ketika kami berbincang masalah pekerjaan.

“Saya lelah selalu disalahkan, padahal banyak yang salah tapi kesalahan saya sepertinya tidak termaafkan.” Masih bermain ucapan Bu Intan dibenakku.

Pagi ini aku tidak mau lagi mendengar keluh kesah Bu Intan yang sepertinya sudah kecewa dengan sikon yang tidak nyaman di kantorku.

Sebenarnya aku sudah merasakan hal ini dua tahun lebih tapi aku mentulikan teliga membutakan mata selagi kinerjaku tidak dipermasalahkan rasanya aku masih bisa mentolirirnya.

Tapi sekarang keadaan seperti tidak bersahabat denganku, ada saja yang tidak kena aku yang datang pagi dipermasalahn oleh teman sekantor katanya mencari muka.

Mencari muka dimana, sejak awal bekerja aku selau datang lebih awal karena tidak ingin terjebak macet yang memusingkan kepala.

Belum lagi polisi yang diakibatkan oleh berebutnya kendaraan bermotor jika sudah jam padat dengan karyawan yang berlomba ke kantornya masing – masing.

Demi menjadi kesehatanku aku memilih datang lebih awal untuk mengelak semua hiruk pikuk serta membatasi diri dari polusi yang semakin menjadi dewasa ini.

Sabtu, 28 Maret 2026

Pilihan

Langkahku gontai, lorong rumah sakit sepi, sesepi hatiku saat ini.

Airmata yang menumpuk sedari ruangan periksa tidak bisa aku tahan.

Satu persatu air itu turun bersama luruhnya badanku ke ubin rumah sakit.

Untung saja lorong tempat aku bersimpuh sepi. entah ini janji sang pencipta untuk menutup aibku karena aku menutup aib suamiku.

Apa aibku, hanya karena aku terlalu sedih memikirkan nasibku yang sudah tidak dianggap suamiku saat ini dan apa nasib janin yang sebetulnya lama aku tunggu tapi datang tidak tepat waktu.

“Abang akan menikah lagi, suka tidak suka terima.” Ucap suamiku tiga bulan lalu.

Seandainya Bang Zikri meminta baik – baik aku pasti mengizinkan dirinya untuk menikah lagi.

Menjelang tujuh tahun pernikahan belum juga ada jerit tangis bayi di rumah kami.

Dan hari ini, aku dikejutkan dengan berita yang sudah lama aku tidak aku harapkan lagi.

Jumat, 27 Maret 2026

Lentera Hati

 

Helaan napas berat membuatku merasa lega, mengusir sebak yang menyesakkan dada.

Badanku yang lelah bertambah lelah, dan akhirnya hari ini aku bisa merasa lega dan melemaskan otot yang sudah dua pekan ini berkutat di depan laptop mengolah data dan rekan - rekannya untuk nilai mata pelajaranku dan memprint rapor sebagai tugas yang ditambahkan selain mengajar.

Sudah terbayang bagaimana aku mengisi waktu selama dua pekan ini.

Bebas mengajar bukan bebas bekerja, batinku.

Senyumku terkembang, belum pernah selama mengajar aku merasa selega ini menghadapi libur mengajar.

Dua hari meliburkan diri dari memegang laptop untuk meramu perencaan pembelajaran.

Dua hari untuk mengolah lemari bajuku yang sudah tidak berantakan selama 6 bulan kerana sibuk dengan mengajar.

Kamis, 26 Maret 2026

Labirin Cinta

 


Suara azan menghentikan tanganku yang asyik dengan pekerjaan dapur.

Tugas wajib sebelum mengistirahatkan diri menjelang tidur nanti.

Setelah makan bersama keluarga besar kami menyebutnya.

Ada Ayah, Emak, Abang dan iparku serta adik bontotku.

Ya, kami hanya tiga bersaudara sementara Abangku baru sebulan menikah dan insyallah pekan depan akan pindah rumah.

“Sudah ada calon In.” terdengar suara iparku bertanya.

“”Masih abu – abu Kak.” Ucapku santai

“Abu – abu? Kenapa abu – abu, ada berapa yang naksir Intan.” suara terkejut iparku.

“Intan yang suka sama Dia, tapi dianya belum tahu>” ucapku dengan hati yang gamang.

“Ooooh.” Hening seketika.

“Waktu acara nikahan orangnya ada?” kepo iparku

Hanya senyum yang menjawab pertanyaan iparku.

Untung saja azan sholat isya menyelamatkanku dari rentetan pertanyaan iparku yang kepo.

Senin, 16 Maret 2026

Rinduku

 


“Aow”. Pekikku

Minyak dari pengorengan muncrat dengan pantas ke tanganku.

Menghela napas berat, pikiran yang tidak focus membuatku celaka.

Sudah dua hari tidak ada kabar berita dari suamiku.

Pekerjaan yang membuatnya harus ke Batam.

Bukan masalah ke Batamnya yang aku pikirkan tapi status dari seseorang yang menganggu pikiranku.

Bukannya tidak percaya dengan suamiku tapi aku tidak percaya dengan pengirim statusnya.

Bukan kebiasaanya Bang Amran tapi ini pertama kalinya tidak memberi kabar setelah sampai tempat tujuan bertugas.

Hatiku terus bertanya, dua hari rasanya waktu yang pasti membuat istri manapun akan merasa curiga jika suaminya tidak berkirim pesan.

Minggu, 08 Maret 2026

Ada Apa Dengan Rasa

 


Netraku menatap sayu taman bunga yang tak berbunga.

Sepuluh tahun lalu, semuanya berwarna warni sejak saat itu dua tahun lalu semuanya jadi tak lagi berwarna warni.

Warna warni dari cat menjadi pemadangan indah yang tidak asri.

Langkahku terus melaju menuju kelas yang berada dipojok ujung sekolah.

Suara riuh sudah terdengar, hanya ada dua kelas tapi suara ributnya bagaikan sepuluh kelas saja.

Langkahku terhenti sejenak di kelas satunya sebelum aku sampai di kelas tempat aku mengajar.

Melihat sekilas, mereka peserta didikku memainkan gitar dan mengeluarkan suara bagaikan tersampuk saja.

Dua kelas ini selalu saja menjadi kelas yang jarang dikunjungi guru.

Berbagai alasan yang diberikan oleh mereka yang tidak masuk dengan pembenaran yang hanya mereka yang tahu.

Sabtu, 07 Maret 2026

Menakar Sepi



Nanar aku menatap air yang turun lebat dari langit.

“Hm.” Helaan napas berat terdengar dari mulutku.

Seperti sinetron saja, ketika aku dilanda rasa gelisah karena belum ada daganganku yang laku.

“Ah, seandainya aku bisa membaca cuaca tentu hari ini bukan dagangan ini yang aku buat.” Monolog hatiku.

Melirik sekilas dengan kedagangan yang susah payah aku buat sejak pukul 3.30 pagi tadi.

Ternyata doaku tidak diijabah-Nya, hujan menemaniku menanti pelanggan yang mungkin terkurung hujan seperti diriku saat ini.

Getar dari HP bututku membuat aku melepas segala andai yang sejak tadi memenuhi kepalaku.

Mengeluarkan HP dari tas selempang yang setia menenamiku.

HP butut dengan ram yang tidak memungkinan ada aplikasi dengan ram besar yang selalu menjadi keluahan anakku jika ada tugas sekolah mereka serta recehan uang yang menjadi penghuni sebagai temannya..

Rabu, 04 Maret 2026

Cemburu Dengan Waktu

Langkah kakiku ku percepat, aku sudah terlambat 5 menit.

Gara – gara bensin langka aku terpaksa menggunakan sepeda untuk mencapai sekolah.

Sepertinya aku lupa dengan segala yang aku ajarkan pada anak didikku.

Pagi ini kebutuhan waktuku untuk masa sekarang terlalaikan.

Lupa untuk mengecek sepeda yang sudah lama tidak aku gunakan.

Belum lama mengayuh pedalnya aku merasa kesimbanganku oleng.

Rasa kesal menyelimuti hatiku, bagaimana tidak ban belakang sepedaku ternyata bocor.

Susash payah aku mencari bengkel dipagi buta, wal hasil terpaksa aku titipkan sepeda dipos satpam di depan gerbang sekolah setelah dengan susah payah mendorongya.

***

Minggu, 01 Maret 2026

Persimpangan Jalan

 

“Percuma Bu Laras, tetap saja salah.” Tergiang suara Bu Intan sepekan lalu ketika kami berbincang masalah pekerjaan.

“Saya lelah selalu disalahkan, padahal banyak yang salah tapi kesalahan saya sepertinya tidak termaafkan.” Masih bermain ucapan Bu Intan dibenakku.

Pagi ini aku tidak mau lagi mendengar keluh kesah Bu Intan yang sepertinya sudah kecewa dengan sikon yang tidak nyaman di kantorku.

Sebenarnya aku sudah merasakan hal ini dua tahun lebih tapi aku mentulikan teliga membutakan mata selagi kinerjaku tidak dipermasalahkan rasanya aku masih bisa mentolirirnya.

Tapi sekarang keadaan seperti tidak bersahabat denganku, ada saja yang tidak kena aku yang datang pagi dipermasalahn oleh teman sekantor katanya mencari muka.

Mencari muka dimana, sejak awal bekerja aku selau datang lebih awal karena tidak ingin terjebak macet yang memusingkan kepala.

Belum lagi polisi yang diakibatkan oleh berebutnya kendaraan bermotor jika sudah jam padat dengan karyawan yang berlomba ke kantornya masing – masing.

Sabtu, 14 Februari 2026

Pilihan


Langkahku gontai, lorong rumah sakit sepi, sesepi hatiku saat ini.

Airmata yang menumpuk sedari ruangan periksa tidak bisa aku tahan.

Satu persatu air itu turun bersama luruhnya badanku ke ubin rumah sakit.

Untung saja lorong tempat aku bersimpuh sepi. entah ini janji sang pencipta untuk menutup aibku karena aku menutup aib suamiku.

Apa aibku, hanya karena aku terlalu sedih memikirkan nasibku yang sudah tidak dianggap suamiku saat ini dan apa nasib janin yang sebetulnya lama aku tunggu tapi datang tidak tepat waktu.

“Abang akan menikah lagi, suka tidak suka terima.” Ucap suamiku tiga bulan lalu.

Seandainya Bang Zikri meminta baik – baik aku pasti mengizinkan dirinya untuk menikah lagi.

Menjelang tujuh tahun pernikahan belum juga ada jerit tangis bayi di rumah kami.

Dan hari ini, aku dikejutkan dengan berita yang sudah lama aku tidak aku harapkan lagi.

“Sudah 14 minggu ya Bu. Ibu beruntung tidak merasakan mual diawal kehamilan.” Kalimat dokter kandungan membuat duniaku menjadi terang benderang tapi seketika mengingat suamiku sudah menjatuhkan talak sebulan lalu walaupun kami belum menjalani sidang perceraian.

Izin sudah kuberikan, tapi entah apa yang menyebabkan suamiku menjatuhkan talak kepadaku.

“Niah, ada apa?” terkejut jangan lagi ditanya.

Sabtu, 31 Januari 2026

Lentera Hati

 


Helaan napas berat membuatku merasa lega, mengusir sebak yang menyesakkan dada.

Badanku yang lelah bertambah lelah, dan akhirnya hari ini aku bisa merasa lega dan melemaskan otot yang sudah dua pekan ini berkutat di depan laptop mengolah data dan rekan - rekannya untuk nilai mata pelajaranku dan memprint rapor sebagai tugas yang ditambahkan selain mengajar.

Sudah terbayang bagaimana aku mengisi waktu selama dua pekan ini.

Bebas mengajar bukan bebas bekerja, batinku.

Senyumku terkembang, belum pernah selama mengajar aku merasa selega ini menghadapi libur mengajar.

Dua hari meliburkan diri dari memegang laptop untuk meramu perencaan pembelajaran.

Dua hari untuk mengolah lemari bajuku yang sudah tidak berantakan selama 6 bulan kerana sibuk dengan mengajar.

Postingan Terbaru

Hatiku

  Langkahku terhenti, bola kaki warna warni menghentikan langkahku. Aku mengangkat kepala mencari sosok pemilik bola berwarna – warna. S...