Sabtu, 31 Januari 2026

Lentera Hati

 


Helaan napas berat membuatku merasa lega, mengusir sebak yang menyesakkan dada.

Badanku yang lelah bertambah lelah, dan akhirnya hari ini aku bisa merasa lega dan melemaskan otot yang sudah dua pekan ini berkutat di depan laptop mengolah data dan rekan - rekannya untuk nilai mata pelajaranku dan memprint rapor sebagai tugas yang ditambahkan selain mengajar.

Sudah terbayang bagaimana aku mengisi waktu selama dua pekan ini.

Bebas mengajar bukan bebas bekerja, batinku.

Senyumku terkembang, belum pernah selama mengajar aku merasa selega ini menghadapi libur mengajar.

Dua hari meliburkan diri dari memegang laptop untuk meramu perencaan pembelajaran.

Dua hari untuk mengolah lemari bajuku yang sudah tidak berantakan selama 6 bulan kerana sibuk dengan mengajar.

Setelah itu aku akan melihat apakah webinar yang bisa aku ikuti untuk mengisi libur pekan pertama.

Sementara pekan kedua juga rencanya aku mengikuti satu lagi webinar setelah itu aku akan mengisi hari setelah sibuk dengan tugas Ibu Negara menyiapkan bahan untuk mengajar di tahun pelajaran baru.

Dering HP ku yang mengelegar membuat buyar semua rencana yang aku susun.

Melirik mencari tahu siapa yang menganggu acaraku merencanakan hari libur mengajarku.

Tidak ada nama, bukan sombong tapi sejak aku terkena masalah dengan panggilan masuk tidak bernama aku berhati – hati untuk menggangkat telepon yang masuk.

Masih menjerit HP – Ku, tetap kubiarkan dan akhirnya dan notifkasi ada chat yang masuk.

“Maaf menganggu liburan Ibu, Saya orangtua dari Sita salah satu siswa Ibu. Boleh saya menelepon Ibu?” Chatnya aku baca.

Aku langsung menekan tombol hijau.

“Assalmualaikum.” Suara terdengar dari seberang sana.

“Waalaikumsalam, apa yang bisa saya bantu Bu.” Jawabku.

“Saya ingin memindah Sita ke sekolah Ibu.” Terjeda suara dari seberang sana.

“Maaf Ibu mendapat nomor saya dari siapa?” tanyaku sopan.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya.” Ucapku lagi.

“Boleh saya ke rumah Ibu. Rasanya lebih enak bicara sambil tatap muka daripada di telepon.” Ucap penelepon dari seberang sana.

“Ibu tahu rumah Saya.” Ucapku terkejut.

“Saya tahu, jika Ibu izinkan kerumah Ibu dalam waktu lima menit saya sudah sampai.” Mulutku sambil mengangga mendengarnya.

“Bagaimana Ibu bisa saya ke rumah Ibu.” Suara dari seberang sana.

“Baiklah.” Ucapku tak berdaya.

Rasanya sulit untuk menolak, apalagi ada kompentensi sosial dari kerjaku yang menjadi tanggung jawab moral.

Bergegas menganti baju yang pantas untuk menyambut tamu.

Jilbab instans menjadi pilihanku jika berada di rumah.

Belum juga selesai membereskan penampilan suar ketukan pintu terdengar dari arah depan rumahku.

Bergegas berjalan menuju ruang tamu, menekan panel pintu sambil melempar senyum.

Senyum manisku menjadi hambar ketika melihat siapa tamu yang datang.

“Indah Aritonang, masuklah.” Ucapku lemah

Masih seperti dulu, senyum pura – pura selalu menghiasi bibir Indah.

Indah sahabatku ketika kuliah, kami berpisah setelah mendapatkan pekerjaan.

Gelas Sarjana Pendidikan tidak menghalang Indah untuk mendapatkan pekerjaan diluar lingkup pendidikan.

Aku heran, mengapa bersusah payah kuliah di IKIP tapi tidak bersedia menjadi guru.

Masih segar dalam ingatanku, ketika dengan nada menghina dirinya mengatakan buat apa jadi guru dengan gaji kecil pada pertemuan reuni angkatanku.

Tidak menyimpan dendam tapi sungguh aku tidak menyangka seorang berpendidikan sepertinya merendahkan profesi guru yang mulia.

Baik buruknya peserta didik menjadi tanggung jawab guru terus, halo kemana peran orangtua, semua itu aku telan sendiri karena aku menjadi pendidik dengan hati.

“Ada masalah apa dengan anakmu, sehingga pindah sekolah. Bukanya anakmu sekolah di sekolah swasta yang hebat. Sekolahku hanya sekolah negeri yang banyak kekurangnya.” Ucapku panjang lebar.

Jangan sampai anak Indah bersekolah di tempatku mengajar, bisa geger dunia persilatan sekolahku.

Salwas untuk berbasa – basi dengan Indah, menelisik penampilan Indah yang selalu glamor.

Senyum tipis, ciri khas Indah walaupun dalam keadaan tersudut indah selalu angkuh.

“Kami pindah rumah yang dekat dengan sekolah tempat Kau mengajar Aini. Jika tidak terdesak rasanya lebih baik anakku sekolah ditempatnya yag lama saja. Ucap Indah pongah.

“orang kelebihan duit sepertimu rasanya tidak mungkin tidak bisa membayar jasa antar jemput.” Ujarku santai.

Tidak ada maksud untuk membuli hanya saja orang seperti Indah harus diberikan pengertian tidak semua kehendaknya harus terkabulkan.

 

“Maaf Indah, kita memang bersahabat tapi sekolah punya peraturan sendiri. Lebih baik bertemu dengan wakil kesiswaan.” Ucapku menjeda kalimat.

Indah sudah menunjukkan raut tidak sukanya mendengar penuturanku.

“Aku ini hanya guru biasa yang tidak bisa seenaknya, Indah pasti tahu bagaimana bawahankan.” Tekanku sambil menatap wajah Indah.

“Percuma sudah bekerja belasan tahun tidak bisa menolong sahabat.” Masih saja aku direndahkan oleh Indah.

“Alhamdulillah walaupun bawahan aku bahagia indah. Hidupku selalu tenang.” Ucapku merendah.

Rasanya percuma bicara sama Indah, akhirnya Indah bicara tak tentu tujuan. Aku hanya menganggapnya angina lalu, setelah penat bicara aku berharap Indah meninggalkan rumahku.

Satu jam aku mendengar ocehan Indah yang menganggap remeh diriku yang katanya tidak kompenten.

Lega rasanya setelah melihat kendaraan roda empat Indah meninggalkan pekarangan rumahku.

Habis sudah waktu berhargaku dengan meladeni orang yang tidak mau kalah.

***

Aku membuka aplikasi yang wajib kami buka sebagai seorang abdi Negara.

Rasa kecewa langsung menancap menusuk hatiku, rasanya ingin saja aku seperti mereka yang kontribusinya sedikit tapi mendapatkan penilaian kinerja yang baik.

Jadi teringat kata teman sejawatku yang luar biasa Salwasnya masuk kelas.

“Yang penting pandai mengambil hati kepala dan menipu aplikasi nilai bagus.” Ucapnya kala kami sibuk mencari poin pemenuhan sasaran kinerja pegawai.

Bukankah tidak ada yang memaksa untuk menjadi pendidik, tapi setelah mendapatkan status yang diinginkan dengan gaji yang katanya berupa tanggung jawab kepada pemberi rezeki Salwah diabaikan.

“Orang yang datang tepat waktu bukan loyal kepada pekerjaan tapi orang yang datang lebih awal dari tepat waktu itu yang loyal.” Ucapan salah satu mantan Kepala Sekolah dalam ucapan perpisahan karena harus dimutasi ke sekolah lain.

“Bekerjalah dengan hati, bukan karena imbalan yang diterima. Guru tidak ada pendapatan diluar seperti pegawai lainnya, bukan berarti kita harus iri dengan penghasilan orang lain. Ingat kata pepatah jangan sampai pasak lebih besar dari tiang.” Ah, beliau adalah kepala sekolah yang menjadi contoh teladanku.

Mengabdi dan mengabdi alur jalur seorang guru, jangankan korupsi uang, korupsi waktu saja tidak boleh untuk seorang guru.

Benar guru bukan robot, tapi jangan jadi robot karena mendengarkan kata orang, sehingga melalaikan arti budi pekerti.

Akhirnya aku menghela napas keras untuk melegakan dada.

Biarkan kecurangan berlaku tapi paling tidak kita sudah mengingatkan dan berlapang dadalah bahwa kehidupan tak selamanya mulus, berjalan lambat saja sudah syukur daripada tersandung batu dan melakukan kesalahan.

Lentara dalam dadaku tetap nyala, kewarasanku harus tetap sama bahwa pengabdian dan berjalan pada roda yang benar membuat hidupku lebih nyaman.***

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Lentera Hati

  Helaan napas berat membuatku merasa lega, mengusir sebak yang menyesakkan dada. Badanku yang lelah bertambah lelah, dan akhirnya hari in...