Sabtu, 07 Maret 2026

Menakar Sepi



Nanar aku menatap air yang turun lebat dari langit.

“Hm.” Helaan napas berat terdengar dari mulutku.

Seperti sinetron saja, ketika aku dilanda rasa gelisah karena belum ada daganganku yang laku.

“Ah, seandainya aku bisa membaca cuaca tentu hari ini bukan dagangan ini yang aku buat.” Monolog hatiku.

Melirik sekilas dengan kedagangan yang susah payah aku buat sejak pukul 3.30 pagi tadi.

Ternyata doaku tidak diijabah-Nya, hujan menemaniku menanti pelanggan yang mungkin terkurung hujan seperti diriku saat ini.

Getar dari HP bututku membuat aku melepas segala andai yang sejak tadi memenuhi kepalaku.

Mengeluarkan HP dari tas selempang yang setia menenamiku.

HP butut dengan ram yang tidak memungkinan ada aplikasi dengan ram besar yang selalu menjadi keluahan anakku jika ada tugas sekolah mereka serta recehan uang yang menjadi penghuni sebagai temannya..

“Kak Intan bisa antarkan pudding ke kantor 200 picies kalau bisa secepatnya.” Senyumku terbit seketika.

Ada rasa sesal mendalam sudah berfikirian doaku tidak ijabah.

Sabarku harus lebih luas, didetik keputus asaan ternyata tangan rezekiku tidak putus.

Aku membungkus diri dengan mantel dan menutup erat daganganku dan meletakkannya dibelakang boncengan kendaran yang akan mengantarku ke tempat tujuan.

Hentaman air yang turun dari langit tidak membuat semangat kendur, walaupun terasa sakit tapi imbalannya sangat aku butuhkan.

***

Butuh setengahnya aku sampai di tempat pesananku, hujan sungguh membuatku tidak berani rempuhnya dalam waktu seperempat jam jika hari cerah.

Setelah melepas jas hujan yang menutupi tubuhku, aku menurunkan barang daganganku ketempat yang kering.

“Pak saya titip sebentar.” Ucapku pada Satpam yang berjaga di gerbang masuk kantor yang aku tuju.

Jilbabku basah sedikit, tapi yang pasti hatiku menghangat dengan pesanan yang aku terima.

“Ibu Santinya ada?” tanyaku pada resepsionis yang berjaga menerima tamu.

“Dengan Kak Intan Ya. Saya terima pesanannya dan ini uang untuk Kak Intan.” ucap resepsionis.

Aku menghitung uang bukan tidak percaya tapi hanya untuk berjaga – jaga saja.

Keningku berkerut, ada kelebihan uang.

“Maaf Bu uangnya kebanyakan.” Ucapku kepada resepsionis.

“Kata Bu Santi itu untuk Ibu karena Puding Ibu membawa rezeki lebih untuk Ibu Santi.” Aku mengucup syukur berulang kali dihatiku karena rezekinya.

***

Lelahku menjadi lillah, hujan yang lebat juga sudah meninggalkan rintinya saja.

Aku berjalan menuju tempat roda duaku terpakir sempurna.

Mengambil jas hujan memakainya, untuk berjaga – jaga mana tahu hujan turun tanpa permisi.

Laris manis pudingku, tidak perlu berlama – lama di luar aku menuju rumah, lega rasanya.

Ujung atap rumahku sudah terlihat, senyumku tipis rasanya hari ini aku bisa menjemput mimpi sebentar sebelum azan zuhur berkumandang.

Setelah menyimpan kendaraan roda duaku di belakang rumah.

Aku membuka kunci pintu belakang, kebiasaanku jika pulang dari berdagang.

Melangkah masuk, menatap ruang dapur yang sudah bersih, melewatinya menuju ruang tengah tempat kamar tidurku berada.

Membuka pintu dengan kunci yang aku keluarkan dari tas selempangku.

Meraih gagangnya menatap kamar yang sudah empat bulann ini menjadi sepi karena belahan jiwaku terpaksa mengkais rezeki di Negara tetangga.

Aku menatap sepi kamarku, berjalan menuju lemari kayu untuk mengambil pakaian ganti supaya aku tidak masuk angin.

***

Tidur ayamku terganggu oleh suara azan yang berkumandang dari arah toa masjid yang tidak jauh dari rumahku.

Mataku seakan dilem dengan super lem sangat susah terbuka.

Rasa gatal di tenggorokan membuatku merasakan kelelahan yang tiada tara.

Dengan terseok aku membajakan hati untuk tidak melewatkan temu janjiku dengan Sang Pencipta.

Rasa dingin menyerang tubuhku ketika membuka kran air untuk berwudhu.

Dari ujung kuku tangan sampai ke ujung kaki aku merasakan dingin yang menjalar mengigit tubuhku.

Sepi menyerang diriku, saat ini aku rindu dengan belahan jiwaku.

Perutku yang sudah menonjol buah cinta kami membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Dengan berat hati suamiku Bang Aslan harus mengambil job selama 6 bulan sebagai kuli bangunan yang menjanjikan pendapatan yang besar untuk menyambut buah cinta kami yang hadir pada tahun kelima pernikahan kami.

Masih sisa 2 bulan tapi aku merasakan sepi yang mencekam.

Tidak aku indahkan larangan Bang Aslan untuk tidak lagi berdagang sepekan lalu.

Lebih baik aku menyibukkan diri daripada mati karena sepi tidak mengerjakan apa – apa. 

 Deru napasku panas, rasa gatal di tenggorokan yang menjadi – jadi.

Aku butuh Bang Aslan saat ini, rasanya berat berpisah selama 4 bulan ini.

Setelah aku dinyatakan positif hamir 1,5 bulan, rezeki mendatangi kami dengan diterima Bang Aslan bekerja dengan gaji besar di Negara tetangga.

Semula Bang Aslan menolak dengan alasan Aku hamil muda dengan gigih aku memujuk dengan alasan kami butuh banyak dana untuk melahirkan nanti sementara daganganku tidak setiap hari laris manis.

Dengan berat hati Bang Aslam berangkat, aku mengantarnya dengan rasa ikhlas yang aku paksakan.

Senyumku kala itu hanya diindah dipermukaan bibirku saja tapi hatiku menjerit kenapa kami harus berpisah sementara kehamilan ini sudah lama kami nantikan bersama.

***

Semakin Salwam kepalaku semakin berat, untuk mengkomsumsi obat sembarangan aku takut dengan kehamilanku yang masih kecil.

Derai airmata tidak lagi bisa aku tahan, isakku mengema di ruang kamar yang kecil.

Bunyi HP membuatku menyusut air mata yang semakin teras keluar, nama yang terpampang jelas membuatku merasa bahagia.

Meraih HP dengan kecepatan kilat dan menekan tombol hijau untuk mendengar suara belahan jiwaku yang sangat aku rindukan.

“Assalamualikum Sayangnya Abang.” Isakku kembali terdengar mendengar kalimat dari Bang Aslan dari seberang sana.

“Kenapa menangis, jangan buat Abang risau Intan.” suara Bang Aslan terdengar risau.

“Maaf, Intan baik hanya rindu dengan Abang.” Ucapku malu.

Helaan napas lega terdengar jelas oleh teligaku, senyumku terbit.

“Abang fikir Intan sakit, rasanya sepi semakin mencekam hati Abang Intan.” hatiku juga mengatakan hal yang sama dengan Bang Aslan.

“Dua bulan ini kita akan menakar sepi karena berjauhan, semoga dua bulan ini kita bisa saling sabar.

Intan harus bahagia, bayangkan Abang selalu ada dekat Intan, insyallah semuanya akan berjalan lancar.

Ah, rindu ini bertepi.

Sepi membuatku menghitung hari, hari berjalan bagaikan lambat berlalu.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ada Apa Dengan Rasa

  Netraku menatap sayu taman bunga yang tak berbunga. Sepuluh tahun lalu, semuanya berwarna warni sejak saat itu dua tahun lalu semuanya...