Nanar aku menatap air yang turun lebat dari langit.
“Hm.”
Helaan napas berat terdengar dari mulutku.
Seperti
sinetron saja, ketika aku dilanda rasa gelisah karena belum ada daganganku yang
laku.
“Ah,
seandainya aku bisa membaca cuaca tentu hari ini bukan dagangan ini yang aku
buat.” Monolog hatiku.
Melirik
sekilas dengan kedagangan yang susah payah aku buat sejak pukul 3.30 pagi tadi.
Ternyata
doaku tidak diijabah-Nya, hujan menemaniku menanti pelanggan yang mungkin
terkurung hujan seperti diriku saat ini.
Getar
dari HP bututku membuat aku melepas segala andai yang sejak tadi memenuhi
kepalaku.
Mengeluarkan
HP dari tas selempang yang setia menenamiku.
HP butut dengan ram yang tidak memungkinan ada aplikasi dengan ram besar yang selalu menjadi keluahan anakku jika ada tugas sekolah mereka serta recehan uang yang menjadi penghuni sebagai temannya..
“Kak
Intan bisa antarkan pudding ke kantor 200 picies kalau bisa secepatnya.”
Senyumku terbit seketika.
Ada rasa
sesal mendalam sudah berfikirian doaku tidak ijabah.
Sabarku
harus lebih luas, didetik keputus asaan ternyata tangan rezekiku tidak putus.
Aku
membungkus diri dengan mantel dan menutup erat daganganku dan meletakkannya
dibelakang boncengan kendaran yang akan mengantarku ke tempat tujuan.
Hentaman
air yang turun dari langit tidak membuat semangat kendur, walaupun terasa sakit
tapi imbalannya sangat aku butuhkan.
***
Butuh
setengahnya aku sampai di tempat pesananku, hujan sungguh membuatku tidak
berani rempuhnya dalam waktu seperempat jam jika hari cerah.
Setelah
melepas jas hujan yang menutupi tubuhku, aku menurunkan barang daganganku
ketempat yang kering.
“Pak saya
titip sebentar.” Ucapku pada Satpam yang berjaga di gerbang masuk kantor yang
aku tuju.
Jilbabku
basah sedikit, tapi yang pasti hatiku menghangat dengan pesanan yang aku
terima.
“Ibu
Santinya ada?” tanyaku pada resepsionis yang berjaga menerima tamu.
“Dengan
Kak Intan Ya. Saya terima pesanannya dan ini uang untuk Kak Intan.” ucap
resepsionis.
Aku
menghitung uang bukan tidak percaya tapi hanya untuk berjaga – jaga saja.
Keningku
berkerut, ada kelebihan uang.
“Maaf Bu
uangnya kebanyakan.” Ucapku kepada resepsionis.
“Kata Bu Santi
itu untuk Ibu karena Puding Ibu membawa rezeki lebih untuk Ibu Santi.” Aku
mengucup syukur berulang kali dihatiku karena rezekinya.
***
Lelahku menjadi lillah, hujan yang lebat juga sudah meninggalkan rintinya saja.
Aku
berjalan menuju tempat roda duaku terpakir sempurna.
Mengambil
jas hujan memakainya, untuk berjaga – jaga mana tahu hujan turun tanpa permisi.
Laris
manis pudingku, tidak perlu berlama – lama di luar aku menuju rumah, lega
rasanya.
Ujung
atap rumahku sudah terlihat, senyumku tipis rasanya hari ini aku bisa menjemput
mimpi sebentar sebelum azan zuhur berkumandang.
Setelah
menyimpan kendaraan roda duaku di belakang rumah.
Aku
membuka kunci pintu belakang, kebiasaanku jika pulang dari berdagang.
Melangkah
masuk, menatap ruang dapur yang sudah bersih, melewatinya menuju ruang tengah
tempat kamar tidurku berada.
Membuka
pintu dengan kunci yang aku keluarkan dari tas selempangku.
Meraih
gagangnya menatap kamar yang sudah empat bulann ini menjadi sepi karena belahan
jiwaku terpaksa mengkais rezeki di Negara tetangga.
Aku
menatap sepi kamarku, berjalan menuju lemari kayu untuk mengambil pakaian ganti
supaya aku tidak masuk angin.
***
Tidur
ayamku terganggu oleh suara azan yang berkumandang dari arah toa masjid yang
tidak jauh dari rumahku.
Mataku
seakan dilem dengan super lem sangat susah terbuka.
Rasa
gatal di tenggorokan membuatku merasakan kelelahan yang tiada tara.
Dengan
terseok aku membajakan hati untuk tidak melewatkan temu janjiku dengan Sang
Pencipta.
Rasa
dingin menyerang tubuhku ketika membuka kran air untuk berwudhu.
Dari
ujung kuku tangan sampai ke ujung kaki aku merasakan dingin yang menjalar
mengigit tubuhku.
Sepi
menyerang diriku, saat ini aku rindu dengan belahan jiwaku.
Perutku
yang sudah menonjol buah cinta kami membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Dengan
berat hati suamiku Bang Aslan harus mengambil job selama 6 bulan sebagai kuli
bangunan yang menjanjikan pendapatan yang besar untuk menyambut buah cinta kami
yang hadir pada tahun kelima pernikahan kami.
Masih
sisa 2 bulan tapi aku merasakan sepi yang mencekam.
Tidak aku
indahkan larangan Bang Aslan untuk tidak lagi berdagang sepekan lalu.
Lebih baik aku menyibukkan diri daripada mati karena sepi tidak mengerjakan apa – apa.
Deru napasku panas, rasa gatal di tenggorokan yang menjadi – jadi.
Aku butuh
Bang Aslan saat ini, rasanya berat berpisah selama 4 bulan ini.
Setelah
aku dinyatakan positif hamir 1,5 bulan, rezeki mendatangi kami dengan diterima
Bang Aslan bekerja dengan gaji besar di Negara tetangga.
Semula
Bang Aslan menolak dengan alasan Aku hamil muda dengan gigih aku memujuk dengan
alasan kami butuh banyak dana untuk melahirkan nanti sementara daganganku tidak
setiap hari laris manis.
Dengan
berat hati Bang Aslam berangkat, aku mengantarnya dengan rasa ikhlas yang aku
paksakan.
Senyumku
kala itu hanya diindah dipermukaan bibirku saja tapi hatiku menjerit kenapa
kami harus berpisah sementara kehamilan ini sudah lama kami nantikan bersama.
***
Semakin Salwam
kepalaku semakin berat, untuk mengkomsumsi obat sembarangan aku takut dengan
kehamilanku yang masih kecil.
Derai
airmata tidak lagi bisa aku tahan, isakku mengema di ruang kamar yang kecil.
Bunyi HP
membuatku menyusut air mata yang semakin teras keluar, nama yang terpampang
jelas membuatku merasa bahagia.
Meraih HP
dengan kecepatan kilat dan menekan tombol hijau untuk mendengar suara belahan
jiwaku yang sangat aku rindukan.
“Assalamualikum
Sayangnya Abang.” Isakku kembali terdengar mendengar kalimat dari Bang Aslan
dari seberang sana.
“Kenapa
menangis, jangan buat Abang risau Intan.” suara Bang Aslan terdengar risau.
“Maaf,
Intan baik hanya rindu dengan Abang.” Ucapku malu.
Helaan
napas lega terdengar jelas oleh teligaku, senyumku terbit.
“Abang
fikir Intan sakit, rasanya sepi semakin mencekam hati Abang Intan.” hatiku juga
mengatakan hal yang sama dengan Bang Aslan.
“Dua
bulan ini kita akan menakar sepi karena berjauhan, semoga dua bulan ini kita
bisa saling sabar.
Intan
harus bahagia, bayangkan Abang selalu ada dekat Intan, insyallah semuanya akan
berjalan lancar.
Ah, rindu
ini bertepi.
Sepi
membuatku menghitung hari, hari berjalan bagaikan lambat berlalu.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar