“Saya lelah selalu
disalahkan, padahal banyak yang salah tapi kesalahan saya sepertinya tidak
termaafkan.” Masih bermain ucapan Bu Intan dibenakku.
Pagi ini aku tidak mau lagi
mendengar keluh kesah Bu Intan yang sepertinya sudah kecewa dengan sikon yang
tidak nyaman di kantorku.
Sebenarnya aku sudah
merasakan hal ini dua tahun lebih tapi aku mentulikan teliga membutakan mata
selagi kinerjaku tidak dipermasalahkan rasanya aku masih bisa mentolirirnya.
Tapi sekarang keadaan
seperti tidak bersahabat denganku, ada saja yang tidak kena aku yang datang
pagi dipermasalahn oleh teman sekantor katanya mencari muka.
Mencari muka dimana, sejak
awal bekerja aku selau datang lebih awal karena tidak ingin terjebak macet yang
memusingkan kepala.
Belum lagi polisi yang
diakibatkan oleh berebutnya kendaraan bermotor jika sudah jam padat dengan
karyawan yang berlomba ke kantornya masing – masing.
Demi menjadi kesehatanku aku memilih datang lebih awal untuk mengelak semua hiruk pikuk serta membatasi diri dari polusi yang semakin menjadi dewasa ini.
Aku tinggal satu – satunya
karyawan yang datang pagi dan menjadi penghuni tetap kantor.
Sementara mereka dengan
alasan yang sebenarnya tidak masuk akal dibuat menjadi masuk akal karena ada
kebutuhan yang membenarkan apa yang salah menjadi benar.
Inpeksi mendadak dari
kantor pusat, membuat mereka menyalahkan diriku karena tidak bisa mencover
perbuatan mereka yang alpa pada jam pagi keberadaan di kantor.
Mengapa aku tidak mencari
alasan ketidak hadirian mereka sewaktu
ada pemeriksaan.
Jumlah mereka yang tidak
hadir banyak bagaimana aku mencari alasan untuk satu persatu mereka.
Hatiku menjadi sakit,
ketika mengingat perkataan Bu Intan sepekan sebelum diberhentikan dari kantor
karena absen yang banyak.
Padahal aku tahu pasti
ketidak beradanya Bu Intan karena anaknya yang harus berulang alik masuk rumah
sakit.
Sementara Bu Intan single
parent, ditinggal suaminya yang lebih memilih istri muda.
Sementara Bu Intan pendatang di kota tempat kami mengkais rezeki.
Seandainya mencari
pekerjaan mudah mungkin aku sudah memilih untuk berhenti.
Tatapan laser dari mata
mereka yang merasa terzolimi padahal mereka yang salah membuatku tidak betah.
Seharian ini rasa gerah
menghingapi diriku, suhu AC yang sudah rendah tidak membuat diriku merasa
nyaman.
Aku bagaikan ayam berak
kapur tidak bisa mengangkat kepala.
Salwas melihat tatapan
mereka yang katanya terluka padahal mereka tahu pasti kesalahan ada pada
mereka.
Aku melangkah menuju pantry
untuk menyeduh pop mie, walaupun aku tahu memakan mie tidak sehat tapi dengan
terpaksa aku memakannya daripada tidak bisa menelan nasi yang tersaji hangat di
kantin kantor dengan tatapan menyalahkan dari kawan yang tidak merasa salah.
Semakin dikuliti, setelah
makan siang aku mendengar kata sindiran yang menyakitkan ketika kepala cabang
baru memanggilku untuk masuk ke ruangannya.
Helaan napas panjang aku
lepas yang menyesakkan dada setelah melihat jam yang dengan angkuhnya
menunjukkan angka 4.30 waktunya semua pulan dan menganti siang hari dengan
senja yang akan menyosong Salwam dimana semua yang bekerja mendapatkan jatah
untuk mengistirahatkan lelah setelah seharian bekerja.
Langkahku tertatih melepas
lelah yang menghimpit dada sejak pagi, tidak ada menyahut kata ketika aku
berpamitan pada mereka.
Aku bagaikan kasat mata,
tidak suara bahkan wujudku seakan tidak ada.
“Pulang Bu Laras.” Sapa
dari Satpam yang menyapaku ramah.
Senyum terbit setelah
seharian ini tidak ada yang menyapaku.
“Iya Pak sudah waktunya
pulang.” Ucapku ramah.
“Hati – hati dijalan Bu,
mendung sudah mengelayut di langit semoga Ibu tidak berkena hujan.”Ucap Satpam
kantor
Ya Allah setelah seharian mendapatkan celaan dari teman kantor, akhirnya dipenghujung siang ada yang memberikan doa, hatiku seketika menjadi sejuk dan dengan ringan aku menjalankan kendaraaan yang menjadi teman pergi dan pulang dari mencari rezeki untuk kehidupanku sekeluargan.
“Assalmualaikum.’ Ucapku
memberi salam ketika membuka pintu rumah yang tak terkunci.
Helaan napas berat untuk
menghilangkan resah yang tiba – tiba menyerang.
“Jika Abang termasuk dengan
karyawan di PHK bagaimana.” Ucap suamiku sepekan lalu.
Berat rasanya kakiku
melangkah masuk, seharusnya aku yang tiba di rumah, melihat rumah tidak
terkunci berarti suamiku pulang dulu dan itu tidak biasa.
Merapal doa semoga
ketakutan kami sepekan lalu tidak menjadi kenyataan, suamiku di PHK.
“Walaikumsalam.” Suara
berat menyambut salamku.
“Abang sudah pulang.”
Senyum termanisku harus aku tampilkan walaupun berat.
“Baru nyampai rumah juga.”
Netra kami saling bertautan.
Aku tidak melihat
kegelisahan di netra suami, senyum yang jarang terukir di bibirnya juga manis
terlihat oleh netraku.
Melangkah mendekat, meraih
tangannya untuk aku cium tanda takzim seorang istri.
“Abang mau minum, Ara
buatkan.” Ucapku
“Kopi manis semanis istri
Abang, buat dua ya. Abang ingin duduk santai berdua.” Ucapnya membuatku kekeh
mendengarnya.
Bang Ikran bukan tipe yang
romantis, selalu kaku tapi beliau sangat mencintaiku.
Bergegas menuju kamar
meletakkan tas dan menganti baju dengan daster bunga – bunga.
Melajukan langkah menuju
dapur untuk membuat minuman buat kami berdua.
Melihat sekeliling teras
tidak melihat keberadaan Bang Ikram.
“Abang di pandopo samping
rumah. “ Teriak Bang ikram memberitahuku
Ku susul keberadaan Bang
Ikram, Bang Ikram menyambutku dengan menepuk tangan meminta aku duduk
disampingnya.
“Ara tidak memakai jilbab
Bang.” Rutukku kepada Bang Ikran.
“Kita duduk dipondopo
samping rumah tidak akan ada yang melihatnya.” Dengan muka selambe Bang Ikram
berkata.
“Duduklah santai sejenak,
anak – anak lagi di rumah neneknya.” Baru ingin bertanya kemana anak – anak
karena rumah sepi tanpa perdebatan yang terjadi diantara mereka.
Indra dan Intan buah hati
kami yang terpaut 3 tahun selalu menjadi peramai rumah.
Netraku membulat ketika
Bang Ikram menarikku dalam peluknya dan mendaratkan kecupan kecil dikeningku
dua kali.
“Abang kenapa?” ucapku
terkejut.
“Kenapa apa?” bukan menjawab pertanyaanku Salwah Bang Ikram balik bertanya.
“Abang baik – baik saja,
ada yang ingin Abang bicarakan dengan Ara?” ucapku mengatur kalimat jangan
sampai Bang Ikram tertekan.
Sepekan ini Bang Ikram
selalu termenung setelah mengatakan akan ada PHK di kantornya.
“Terima kasih sudah menjadi
istri yang baik dan Ibu yang hebat untuk
anak – anak kita. Doa Istri menjadi penguat suami dalam bekerja.” Bang Ikram
menjeda kalimatnya.
Hati ini bertambah
degupanya menanti sambungan kalimat dari Bang Ikram.
“Abang naik jabatan, terima
kasih ini berkat doa Zahara dan anak – anak.” Sudut netraku menghangat cairan
bening menetes mendengar ucapan Bang Ikram yang membuat hati lega setelah tadi
sempat merasa tidak nyaman menunggu kalimat dari Bang Ikram.
“Alhamdulillah.” Bergetar
suaraku mengucapkan hamdallah.
Spontan aku memeluk tubuh
Bang Ikram dan meletakkan kepalaku di dadanya yang bidang.
Sekali aku mendapatkan
kecupan hangat dipucuk kepalaku dan kening.
Netra kami beradu dan
senyumpun mengembang.
“Ayah, Ibu kami pulang.”
Teriak jagoanku sementara si bungsu hanya tubuh mungilnya terlihat oleh
netraku.
Mereka berlomba mendekati
kami, dengan sigap Bang Ikram bangun dari duduknya dengan melepas lembut
pelukanku dan meraih tubuh mungil si bungsu dan mengendongnya serta kembali
duduk di sebelahku.
“Adek manja, sudah besar
juga minta gendong dengan Ayah.” Rutuk kesal anak tuaku.
Padahal dirinya dengan
manja melabuhkan dirinya dalam pelukkanku.
“Nenek mana? Tanya suamiku
kepada kedua anakku.
“Nenek sama Atok mengantar
sampai depan saja, kata Atok ingin melihat temannya yang sakit. Atok sudah
menelepon Ayah tapi tidak diangkat.” Celoteh Indra anakku.
“HP Ayah tertinggal di
kamar, pasti HP Ibu juga tertinggal di kamar.” Ucap suamiku sambil memukul
dahinya yang tidak bersalah.
Kami serempak ketawa
melihat tingkah suamiku.
Menjelang magrib baru kami masuk rumah untuk sholat berjamah.
***
“Anak – anak sudah tidur.”
Ucap Bang Ikram
Aku tersenyum dan
menganggukkan kepala, seraya berjalan kearah Bang Ikram yang sedang duduk
diranjang kami sambil menonton TV, acara sport kegemarannya.
“Bang, Laras mengundurkan
diri dari kantor bagaimana pendapat Abang.” ucapku setelah duduk disebelah Bang
Ikram.
Netra kami saling bertemu
senyum pelit ciri Bang Ikram terlihat jelas di wajahnya saat ini.
“Yakin ingin berhenti
kerja, jangan karena masalah kecil Laras memutuskan untuk berhenti kerja. Dunia
pekerjaan pasti ada masalahnya, sayang sudah tahun ke dua puluh bekerja mau
berhenti.
Berdoa saja semoga ada
perubahan dalam suasan kerja, tetap bertahan dengan prinsip kerja Laras. Suntikkan
pelan – pelan kepada teman sekerja Laras bahwa rezeki itu ada pertanggung
jawabanya bekerja dengan mengharap ridho Sang Pencipta ada nisabnya
kelak.”Panjang kali lebar suamiku memberi petuah.
Helaan napas berat mengikis
beban beratku, setelah dipikir apa yang dikatakan suamiku adalah benar.
Aku tidak bisa mengubah air
laut menjadi tawar secara instan tapi perlu proses yang tidak mudah.
Lega rasanya setelah
berbicara dengan suamiku.
Persimpangan jalan
pikiranku sudah menemukan jalan lurusnya, semoga.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar