Helaan napas berat membuatku merasa lega, mengusir sebak yang menyesakkan dada.
Badanku yang lelah bertambah
lelah, dan akhirnya hari ini aku bisa merasa lega dan melemaskan otot yang
sudah dua pekan ini berkutat di depan laptop mengolah data dan rekan - rekannya
untuk nilai mata pelajaranku dan memprint rapor sebagai tugas yang ditambahkan
selain mengajar.
Sudah terbayang bagaimana
aku mengisi waktu selama dua pekan ini.
Bebas mengajar bukan bebas
bekerja, batinku.
Senyumku terkembang, belum
pernah selama mengajar aku merasa selega ini menghadapi libur mengajar.
Dua hari meliburkan diri
dari memegang laptop untuk meramu perencaan pembelajaran.
Dua hari untuk mengolah lemari bajuku yang sudah tidak berantakan selama 6 bulan kerana sibuk dengan mengajar.
Setelah itu aku akan
melihat apakah webinar yang bisa aku ikuti untuk mengisi libur pekan pertama.
Sementara pekan kedua juga
rencanya aku mengikuti satu lagi webinar setelah itu aku akan mengisi hari
setelah sibuk dengan tugas Ibu Negara menyiapkan bahan untuk mengajar di tahun
pelajaran baru.
Dering HP ku yang
mengelegar membuat buyar semua rencana yang aku susun.
Melirik mencari tahu siapa
yang menganggu acaraku merencanakan hari libur mengajarku.
Tidak ada nama, bukan
sombong tapi sejak aku terkena masalah dengan panggilan masuk tidak bernama aku
berhati – hati untuk menggangkat telepon yang masuk.
Masih menjerit HP – Ku,
tetap kubiarkan dan akhirnya dan notifkasi ada chat yang masuk.
“Maaf menganggu liburan
Ibu, Saya orangtua dari Sita salah satu siswa Ibu. Boleh saya menelepon Ibu?”
Chatnya aku baca.
Aku langsung menekan tombol
hijau.
“Assalmualaikum.” Suara
terdengar dari seberang sana.
“Waalaikumsalam, apa yang
bisa saya bantu Bu.” Jawabku.
“Saya ingin memindah Sita
ke sekolah Ibu.” Terjeda suara dari seberang sana.
“Maaf Ibu mendapat nomor
saya dari siapa?” tanyaku sopan.
“Apakah kita pernah bertemu
sebelumnya.” Ucapku lagi.
“Boleh saya ke rumah Ibu.
Rasanya lebih enak bicara sambil tatap muka daripada di telepon.” Ucap
penelepon dari seberang sana.
“Ibu tahu rumah Saya.”
Ucapku terkejut.
“Saya tahu, jika Ibu
izinkan kerumah Ibu dalam waktu lima menit saya sudah sampai.” Mulutku sambil
mengangga mendengarnya.
“Bagaimana Ibu bisa saya ke rumah Ibu.” Suara dari seberang sana.
“Baiklah.” Ucapku tak
berdaya.
Rasanya sulit untuk
menolak, apalagi ada kompentensi sosial dari kerjaku yang menjadi tanggung
jawab moral.
Bergegas menganti baju yang
pantas untuk menyambut tamu.
Jilbab instans menjadi
pilihanku jika berada di rumah.
Belum juga selesai
membereskan penampilan suar ketukan pintu terdengar dari arah depan rumahku.
Bergegas berjalan menuju
ruang tamu, menekan panel pintu sambil melempar senyum.
Senyum manisku menjadi
hambar ketika melihat siapa tamu yang datang.
“Indah Aritonang,
masuklah.” Ucapku lemah
Masih seperti dulu, senyum
pura – pura selalu menghiasi bibir Indah.
Indah sahabatku ketika
kuliah, kami berpisah setelah mendapatkan pekerjaan.
Gelas Sarjana Pendidikan
tidak menghalang Indah untuk mendapatkan pekerjaan diluar lingkup pendidikan.
Aku heran, mengapa bersusah
payah kuliah di IKIP tapi tidak bersedia menjadi guru.
Masih segar dalam
ingatanku, ketika dengan nada menghina dirinya mengatakan buat apa jadi guru
dengan gaji kecil pada pertemuan reuni angkatanku.
Tidak menyimpan dendam tapi
sungguh aku tidak menyangka seorang berpendidikan sepertinya merendahkan
profesi guru yang mulia.
Baik buruknya peserta didik
menjadi tanggung jawab guru terus, halo kemana peran orangtua, semua itu aku
telan sendiri karena aku menjadi pendidik dengan hati.
“Ada masalah apa dengan
anakmu, sehingga pindah sekolah. Bukanya anakmu sekolah di sekolah swasta yang
hebat. Sekolahku hanya sekolah negeri yang banyak kekurangnya.” Ucapku panjang
lebar.
Jangan sampai anak Indah
bersekolah di tempatku mengajar, bisa geger dunia persilatan sekolahku.
Salwas untuk berbasa – basi
dengan Indah, menelisik penampilan Indah yang selalu glamor.
Senyum tipis, ciri khas
Indah walaupun dalam keadaan tersudut indah selalu angkuh.
“Kami pindah rumah yang
dekat dengan sekolah tempat Kau mengajar Aini. Jika tidak terdesak rasanya
lebih baik anakku sekolah ditempatnya yag lama saja. Ucap Indah pongah.
“orang kelebihan duit
sepertimu rasanya tidak mungkin tidak bisa membayar jasa antar jemput.” Ujarku
santai.
Tidak ada maksud untuk membuli hanya saja orang seperti Indah harus diberikan pengertian tidak semua kehendaknya harus terkabulkan.
“Maaf Indah, kita memang
bersahabat tapi sekolah punya peraturan sendiri. Lebih baik bertemu dengan
wakil kesiswaan.” Ucapku menjeda kalimat.
Indah sudah menunjukkan
raut tidak sukanya mendengar penuturanku.
“Aku ini hanya guru biasa
yang tidak bisa seenaknya, Indah pasti tahu bagaimana bawahankan.” Tekanku
sambil menatap wajah Indah.
“Percuma sudah bekerja
belasan tahun tidak bisa menolong sahabat.” Masih saja aku direndahkan oleh
Indah.
“Alhamdulillah walaupun
bawahan aku bahagia indah. Hidupku selalu tenang.” Ucapku merendah.
Rasanya percuma bicara sama
Indah, akhirnya Indah bicara tak tentu tujuan. Aku hanya menganggapnya angina
lalu, setelah penat bicara aku berharap Indah meninggalkan rumahku.
Satu jam aku mendengar
ocehan Indah yang menganggap remeh diriku yang katanya tidak kompenten.
Lega rasanya setelah
melihat kendaraan roda empat Indah meninggalkan pekarangan rumahku.
Habis sudah waktu
berhargaku dengan meladeni orang yang tidak mau kalah.
***
Aku membuka aplikasi yang
wajib kami buka sebagai seorang abdi Negara.
Rasa kecewa langsung
menancap menusuk hatiku, rasanya ingin saja aku seperti mereka yang
kontribusinya sedikit tapi mendapatkan penilaian kinerja yang baik.
Jadi teringat kata teman
sejawatku yang luar biasa Salwasnya masuk kelas.
“Yang penting pandai
mengambil hati kepala dan menipu aplikasi nilai bagus.” Ucapnya kala kami sibuk
mencari poin pemenuhan sasaran kinerja pegawai.
Bukankah tidak ada yang
memaksa untuk menjadi pendidik, tapi setelah mendapatkan status yang diinginkan
dengan gaji yang katanya berupa tanggung jawab kepada pemberi rezeki Salwah diabaikan.
“Orang yang datang tepat
waktu bukan loyal kepada pekerjaan tapi orang yang datang lebih awal dari tepat
waktu itu yang loyal.” Ucapan salah satu mantan Kepala Sekolah dalam ucapan
perpisahan karena harus dimutasi ke sekolah lain.
“Bekerjalah dengan hati,
bukan karena imbalan yang diterima. Guru tidak ada pendapatan diluar seperti
pegawai lainnya, bukan berarti kita harus iri dengan penghasilan orang lain.
Ingat kata pepatah jangan sampai pasak lebih besar dari tiang.” Ah, beliau adalah
kepala sekolah yang menjadi contoh teladanku.
Mengabdi dan mengabdi alur
jalur seorang guru, jangankan korupsi uang, korupsi waktu saja tidak boleh
untuk seorang guru.
Benar guru bukan robot,
tapi jangan jadi robot karena mendengarkan kata orang, sehingga melalaikan arti
budi pekerti.
Akhirnya aku menghela napas
keras untuk melegakan dada.
Biarkan kecurangan berlaku
tapi paling tidak kita sudah mengingatkan dan berlapang dadalah bahwa kehidupan
tak selamanya mulus, berjalan lambat saja sudah syukur daripada tersandung batu
dan melakukan kesalahan.
Lentara dalam dadaku tetap nyala, kewarasanku harus tetap sama bahwa pengabdian dan berjalan pada roda yang benar membuat hidupku lebih nyaman.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar