Langkahku gontai, lorong rumah sakit sepi, sesepi hatiku saat ini.
Airmata yang menumpuk
sedari ruangan periksa tidak bisa aku tahan.
Satu persatu air itu turun
bersama luruhnya badanku ke ubin rumah sakit.
Untung saja lorong tempat
aku bersimpuh sepi. entah ini janji sang pencipta untuk menutup aibku karena
aku menutup aib suamiku.
Apa aibku, hanya karena aku
terlalu sedih memikirkan nasibku yang sudah tidak dianggap suamiku saat ini dan
apa nasib janin yang sebetulnya lama aku tunggu tapi datang tidak tepat waktu.
“Abang akan menikah lagi,
suka tidak suka terima.” Ucap suamiku tiga bulan lalu.
Seandainya Bang Zikri
meminta baik – baik aku pasti mengizinkan dirinya untuk menikah lagi.
Menjelang tujuh tahun
pernikahan belum juga ada jerit tangis bayi di rumah kami.
Dan hari ini, aku dikejutkan dengan berita yang sudah lama aku tidak aku harapkan lagi.
“Sudah 14 minggu ya Bu. Ibu
beruntung tidak merasakan mual diawal kehamilan.” Kalimat dokter kandungan
membuat duniaku menjadi terang benderang tapi seketika mengingat suamiku sudah
menjatuhkan talak sebulan lalu walaupun kami belum menjalani sidang perceraian.
Izin sudah kuberikan, tapi
entah apa yang menyebabkan suamiku menjatuhkan talak kepadaku.
“Niah, ada apa?” terkejut
jangan lagi ditanya.
Suara Ibu mertuaku
terdengar, bukan suara tapi sosok keibuanya sedang mensejajarkan posisi kami.
Tanganku di raihnya,
mengajakku untuk berdiri.
“Kita duduk di situ.” Ucap
Ibu mertuaku sambil membimbingku kearah kursi yang berjejer dilorong rumah
sakit yang selalu digunakan oleh penjaga orang sakit jika jenuh berada di dalam
kamar rawat inap.
“Mana Zikri?” tanya Ibu
mertuaku.
Sangking gugup tanpa
sengaja aku menjatuhkan foto USG-ku.
“Alhamdulillah.” Ucap Ibu
mertuaku
Aku kalah cepat dengan Ibu
mertuaku untuk memungut foto USG yang terjatuh.
Kecupan di pucuk kepala dan
pipiku tanda terima kasih Ibu mertuaku aku terima dengan suka cita.
“Ibu berharap kehamilan ini
akan mengugurkan niat Zikri untuk berpisah.” Harap Ibu mertuaku.
Sosok penganti Ibuku yang
telah pergi pada tahun ke tiga pernikahanku.
Aku tidak pernah merasa kehilangan sosok Ibu dengan mempunyai mertua rasa Ibu
Selalu memberikan semangat
jika aku merasa jatuh kedasar jurang kelelahan dari ucapan – ucapan tak
bertanggung jawab yang menafikan hak peto milik sang pencipta, dengan belum
menitipkan keturunan pada pernikahan aku dan Bang Zikri.
Mertua yang selalu menjadi
garda terdepan jika Bang Zikri mulai lelah dengan ucapan orang tentang
keturunan yang belum juga kami peroleh.
“Zaniah lebih terluka Zik,
jadi jangan jadi duri dalam daging dalam pernikahan kalian. Poligami bukan
mudah, tidak ada keadilan dalam poligami sekarang. Zikri bukan Nabi ingat itu.”
Ucap Mertuaku setahun setelah Ibuku meninggalkan.
Rumah tangga kami sempat
tergucang karena ulah Bang Zikri yang termakan ucapan teman – temannya yang
mengatakan mendingan menikah lagi daripada mengadopsi anak yang belum tentu
keturunan siapa.
Anak sendiri saja sudah di
atur, apalagi anak orang yang tidak tahu asal usulnya.
Jadi menyesal Aku kala itu
mengusulkan untuk mengadopsi anak.
Akhirnya hampir setahun
rumah tangga kami bagaikan neraka buatku, untung saja Ibu Mertuaku selalu
menjadi pendamping setia dan akhirnya mereda niat Bang Zikri untuk poligami.
Mulutku terasa berat untuk
mengatakan jika Bang Zikri sudah menalakku.
Aku yakin jika berita ini
aku sampaikan Bang Zikri pasti kena amukan Ibu Mertuaku.
Bukan tanpa alasan aku
mengatakan demikian.
Istri kedua suamiku adalah
mantan terindahnya sewaktu kuliah yang sudah menjanda tanpa anak.
Kabarnya perceraian mereka
karena KDRT yang menyebabkan keguguran sehingga memilih untuk bercerai.
Lamunanku terganggu ketika
mendengar suara Ibu mertuaku yang sedang berbicara dengan seseorang lewat
telepon.
“Zikri ke rumah sakit
sekarang.” Hanya kalimat itu yang aku dengar.
“Ibu menelepon Bang Zikri.”
Ucapku setelah melihat Ibu mertuaku menurunkan teleponnya dari telinganya.
“Ibu hamil tidak baik
banyak melamun, sudah setengah jam Ibu menelpon Zikr, Niah.” Ucap Ibu Mertuaku.
Kegalauan melandaku saat
ini, bagaimana caranya aku memberi kabar kalau kami sudah pisah rumah.
“Assalamualaikum Mak.” Lagi
– lagi jantungku dibuat berdetak lebih cepat.
Suara Bang Zikra memenuhi pendengaranku, spontan aku menoleh kearah datangya suara.
Senyum itu manis, semanis
saat Bang Zikri melamarku untuk menjadi istrinya.
Rasa bahagia yang datang
cepat secepat itu pergi, senyum itu bukan lagi milikku.
“Benar, Niah hamil.” Entah
kapan tanganku sudah di raih Bang Zikri.
Dengan pelan aku melepaskan
genggaman tangan Bang Zikri.
Netra Ibu Mertuaku memerah
melihat aku melepas genggaman tangan putranya.
“Ada yang kalian
sembunyikan dari Mak. Zikri, NIah.” Ucapan yang paling aku takutkan keluar dari
mulut mertuaku.
Aku menundukkan kepala,
biarlah Bang Zikri yang menjawab aku terlalu lelah menghadapi semua ini.
“Mak, izinkan Niah pulang.
Niah butuh istirahat.” Ucapku setelah menguatkan hati.
Salwas untuk berlama – lama
dengan Bang Zikri.
“Apa yang terjadi dengan
kalian, Niah mau pulang kemana?” meninggu suara mertuaku.
Tanganku dicekal erat Ibu
Mertuaku, tidak ada jalan untuk melangkah pergi.
“Kami sudah berpisah
sebulan yang lalu, Mak.” Bergetar suara Bang terdengar ketika mengucapkan
kalimatnya.
“Berpisah, hal sebesar ini
tidak kau beritahu Mak, apa Mak sudah mati buat Kau Zikri.” Bergelegar suara
Mak membuat bulu kudukku meremang.
Belum pernah aku melihat
Ibu Mertuaku semarah Ini.
“Mari Niah, kita pulang.
Tinggalkan budak tak berhati perut ini.” Ucap Mak marah sambil mengandeng
tanganku meningggalkan Bang Zikri yang hanya mematung mendengar kemarahan
Maknya.
***
Aku menatap langit kamar
yang dulu menjadi tempat aku menginap jika datang ke rumah Ibu Mertuaku.
Ada rasa canggung ketika
Mak tadi menyuruhku untuk langsung istirahat setibanya kami di rumah Ibu
Mertuaku.
Bukanya aku mendapatkan
pertanyaan bertubi – tubi dari Ibu mertuaku Salwah aku di suruh Istirahat
dengan janji jika aku sudah tenang baru kami bicara.
Aroma kamar ini membuatku
merindukan Bang Zikra.
Rinduku semakin mengunung
dengan berada di kamar ini.
Gambar pernikahan kami
tergantung manis di atas tempat tidur.
Senyum menghiasi bibir kami berdua, sungguh aku tidak berpikir akhirnya kata talak itu terucap dari bibir Bang Zikra yang katanya tidak akan pernah mengucapkan kata pisah sampai maut memisahkan kami.
Ada sesak yang tiba – tiba
menyerang dadaku, aku bangun dari baringku melangkah pelan menuju pintu tidak
sanggup untuk berlama di kamar ini.
Bukannya bisa istirahat aku
Salwah semakin tersiksa karena rindu yang mengunung.
Perlahan aku menekan pintu
kamar Bang Zikri berharap Ibu Mertuaku berada di kamarnya.
Dengan begitu aku bisa
meninggalkan rumahnya dan kembali kerumah orangtuaku yang menjadi tempat
tinggalku setelah kata talak terucap dari mulut Bang Zikri.
Harapanku punah, ketika
melangkah ke ruang tamu, aku mendapati Bang Zikri sedang di sidang oleh kedua
orang tuanya.
“Niah, kesini tidak jadi
istirahat. Apa suara kami sampai ke kamar.” Ucap Ibu Mertuaku lembut.
Kepalaku penuh dengan
masalah sehingga aku tidak mendengarkan apa yang terjadi luar kamar tadi.
Helaan napas berat seberat
langkahku mendekati sofa yang ditunjuk oleh Ibu Mertuaku untuk aku duduki.
Hening sejenak, setelah aku
duduk aku melihat sekilas kearah Bang Zikri yang menatapku lekat.
“Niah pasti sengaja
menyembunyikan kehamilanya untuk membalas sakit hatinya Mak, pasti Niah sudah
tahu jika Salbiah tidak bisa memberikan aku keturunan karena setelah
kegugurannya dulu rahimnya diangkat.” Lantang suara bang Zikri.
Aku dan kedua orang tua
Bang Zikri menatap tak percaya ke arah Bang Zikri.
Bukannya aku yang dibuang,
masalah yang disebutkan Bang Zikri jika tidak terkeluar dari mulutnya Aku tidak
akan tahu kalau istri kedua Bang Zikri tidak bisa memberikan dirinya keturunan.
“Sejak kapan, Niah pernah
berbual dengan istri Abang sampai Niah tahu masalah yang begitu besar.” Ucapku
lantang menahan emosiku karena tidak diterima dituduh Bang Zikri.
“Tujuh tahun kita menikah, apa pernah Niah membicarakan masalah rumah tangga kita kepada kedua orang tua kita? Abang jangan mencari kesalah Niah, berkacalah dengan keadaan selama ini. Siapa yang biasa mengumbar aib rumah tangga kita. Niah atau Abang.” Lanjutku.
Sesak rasanya dada ini, Ibu
Mertuaku yang duduk disofa yang sama denganku meraih bahuku untuk memberikan
pelukan yang aku butuhkan.
Dada bergetar hebat, tapi
pantang bagiku menangis di depan Bang Zikri setelah dengan teganya menalakku
tanpa mengatakan alasan yang jelas setelah aku memberikan izin untuk dirinya
berpoligami.
Dua bulan aku dipoligami,
hanya dua kali Bang Zikri pulang kerumah dan pulang waktu ketiga aku ditalaknya
tanpa alasan jelas.
Memang Bang Zikri tidak
memintaku untuk meninggalkan rumah kami.
Tapi chat dari istri kedua
Bang Zikri membuatku berpikir ulang untuk tetap tinggal di rumah kami.
Dua bulan aku tinggal
dirumah peninggalan orang tuaku, entah Bang Zikri tahu atau tidak.
Untung saja setiap ingin
kerumah Ibu Mertuaku selalu memberi kabar sehingga aku selalu beralasan berada
di luar rumah dan lebih memilih mengunjungi rumah Mertuaku untuk menutup Aib
suamiku.
Tuduhan barusan sungguh
membuat hatiku tambah luka, belum kering luka yang diberikan Bang Zikri kini
luka itu ditambah lagi dengan tuduhan lain.
“Apa Abang tahu, selama 2
bulan ini Niah tidak tinggal diruman kita, tentu Abang tidak tahukan.” Ucapku
ketus.
Aku mengeluarkan chat yang
masih aku simpan dari maduku.
“Niah tahu diri untuk
tinggal di rumah yang kata Abang milik kita. Abang bisa tanya tetangga kalau
tidak percaya.” Ucapku lagi.
Kening Bang Zikri berkedut
membaca Chat dari istri barunya.
“Setengah tahun Abang tidak
memberi nafkah kepada Niah, apa Niah mengeluh.” Cecarku lagi.
“Kita belum resmi bercerai
Bang, jika Niah jahat Niah bisa datang ke kantor Abang. Abang bisa dipecat
karena menikah tanpa izin istri tua tapi Niah tidak mau berbuat itu. Cukup
Abang yang zolim dengan Niah.” Sesak rasanya mengucapkan apa yang membatu
dihatiku.
Lega rasanya setelah
meluahkan semua rasa yang menghimpit diri.
“Mak rasanya Niah istirahat
dirumah Niah sendiri saja, maaf sudah menyusahkan Abah Mak. Niah sudah memesan
ojek. Niah izin balek.” Aku berdiri dari tempat dudukku melangkah menuju pintu
rumah Mertuaku.
Tiga manusia yang selalu
aku hormati setelah kedua orang tuaku harus melihat emosiku dan suaraku yang
meninggi.
Rasa sesal sebenarnya
meninggikan suara di depan Mertuaku.
***
Tak sampai lima belas menit
aku sampai di rumah peninggalan orang tuaku.
Kami memang satu kampung,
tapi kerana kesibukan hanya sekali waktu bisa datang berkunjung kerumah mertua.
Mertua yang sibuk dengan
kegiatan sosial sejak pensiun membuatku kadang rasa bersalah karena belum
memberikan mereka cucu yang diharapkan dari anak laki – laki mereka satu –
satunya.
Setelah menyalakan lampu teras, aku melangkah menuju ruang tengah sengaja mematikan lampu ruang tamu.
Menghemat listirk,
melangkah menuju kamar masa gadisku untuk mengistirahatkan badan dan perasaanku
yang lelah.
Tanpa sengaja tanganku
meraba perutku yang masih rata.
“Kita akan bahagia tanpa
Ayah Nak.” Lirihku sambil tersenyum untuk diriku dan janinku.
Belum juga aku sempat
membuka pintu kamar, suara salam mengema dari ruang tamu.
Rasanya Salwas untuk
melayan tamu, tapi untuk rasa sosial membuatku melangkahkan kami menuju ruang
tamu.
Setelah menyalakan lampu
ruang tamu, aku menuju pintu depan.
Menekan panel pintu, ada
sosok Bang Zikri yang berdiri dengan tatapan yang membuatku merasa muak melihat
wajahnya.
Aku menutup pintu kembali, Salwas
untuk melayan Bang Zikri.
Suara meringis terdengar
dipendengaranku, netraku menatap pintu yang tidak bisa aku tutup rapat.
Melihat ada tangan dan kaki
yang menghalang aku menutup pintu.
“Izinkan Abang masuk.”
Pinta Bang Zikri.
“Pulanglah Bang, tidak baik
dilihat orang jika abang datang ke rumah mantan Abang.” Ucapku Salwas.
“Kita belum resmi bercerai
Niah.”
“Abang sudah menalak Niah,
ingat itu.” Ucapku ketus.
Kami masih saling bertahan
dengan memegang pintu rumah dengan kekuatan masing – masing.
“Masalah agama Niah pasti
paham, izinkan Abang masuk.” Memelas Bang Zikri mengucapkannya.
Akhirnya aku mengizinkan
Bang Zikri masuk, Salwas juga rasanya menambah masalah, masalahku sudah banyak
apalagi selam dua bulan di rumah orang tuaku mengundang gunjingan yang
mempertanyakan stasusku.
Untung saja aku bekerja
jika tidak pasti aku kenyang dengan makan hati karena gunjingan tetangga yang
mempertanyakan masalah kenapa aku tinggal kembali di rumah orang tuaku.
“Maaf.” Kata terucap
setelah kami duduk diruang tamu.
Aku mengangkat wajahku yang
sengaja aku tundukkan Salwas untuk menatap wajah Bang Zikri.
“Maaf untuk apa, menalak
Niah atau menuduh Niah menyembunyikan kehamilan Niah.
Yang perlu Abang tahu, baru
Salwam ini Niah mengetahui Niah hamil.
Tak ada niat untuk
menyembunyikan, Niah saja terkejut dengan kehamilan Niah, mungkin ini cara Sang
Pencipta untuk mengantikan Abang sosok Abang dikehidupan Niah setelah
menceraikan Niah dengan menitipkan Anak Abang di Rahim Niah.” Ucapku pilu.
Tentang masalah Abang dengan istri kedua Abang,
Niah berani bersumpah demi
anak dalam kandungan Niah, Niah tidak tahu kalau istri kedua Abang tidak bisa
memberikan keturunan untuk Abang.” Lanjutku lagi, aku tidak mau Bang Zikri
salah paham denganku.
Aku ingin semua terbuka,
sehingga aku bisa menjalani kehamilan ini dengan tenang.
Lama kami terdiam dalam
pikiran masing – masing.
“Maaf Niah, sebenarnya
abang juga baru tahu kalau Salbiah tidak bisa memberikan keturunan, ketika
orang tua Salbiah meminta kami untuk menjaga anak adiknya yang baru kehilangan
istrinya.
Abang bersikukuh tidak mau,
karena kami baru saja menikah kenapa harus mengadopsi anak yang nanti Salwah
merepotkan Sal menjaga sehingga susah untuk hamil, itu pikiran Abang.
Tapi Salbiah dan
orangtuanya terus mendesak, dan puncaknya dua hari yang lalu si kecil sakit dan
menangis terus.
Kedua orang tua salbiah
stress dan akhirnya terkeluarlah kalimant yang sungguh mengejutkan Abang.
Kenyataanya Salbiah tidak
akan bisa memberikan Abang keturunan, sementara Abang menolak mengadopsi anak.
Sewaktu Mak menelepon Abang
tadi, sungguh abang merasa seperti Allah menghukum Abang yang zolim kepada
Niah.
Abang berucap tanpa
berpikir, sungguh Abang menyesal. Maafkanlah Abang Saniah.” Lirih suara Bang
Zikri berucap.
Bukanya bahagia mendengar
ucapan bang Zikri aku Salwah kasihan dengan nasib Salbiah, jangan sampai Bang
Zikri menalaknya seperti Bang Zikri menalakku.
Aku ada anakku, bagaimana
dengan Salbiah jika sampai di tinggal Bang Zikri.
“Pulanglah Bang, biarkan
semuanya berjalan seperit kemauan Abang. Niah cukup dengan anak kita saja,
sementara jika Abang meninggal Salbiah, Salbiah akan sendiri kasihan dengan Salbiah.” Ucapku
mantanp.
Ada kilatan marah dan
kecewa di netra Bang Zikri, aku tidak peduli, rasa sakit yang diberikan Bang
Zikri ketika menalakku masih terasa parah, dan aku tidak ingin rasa sakit ini
dirasakan oleh perempuan lain cukup aku saja.
“Saniah, Abang sudah ditipu
ole Salbiah dengan memanfaatkan kekurangan rumah tangga kita.
Menjanjikan keturuan buat
Abang, ternyata keturunan yang dijanjikan adalah anak adiknya Abang tidak bisa
terima.” Teriak Bang Zikri marah.
Kasian, tentu tidak Bang
Zikri sudah mengkhianatiku.
Izin menikah sudah aku
berikan, berharap tidak ada talak untukku.
Aku menerim nasib jika
nanti maduku yang bisa memberikan keturunan kepada Bang Zikri dan berharap
dapat menumpang kasih dengan anak mereka kelak.
Harapan tinggal harapanku
saja, setelah menikah Salwah aku di talak dengan alasan yang tak jelas.
“Pulanglah Bang, sudah Salwam
rasanya cukup dua bulan ini Niah menahan rasa dikate orang sekampung kenapa
Niah balik tinggal rumah orangtua Niah sendiri.
Ingin teriak mengatakan Niah janda, tapi pengadilan belum memutuskan kita bercerai, jadi tolong jangan buat Niah menderita lagi.
Biarkan Niah tenang dengan
calon anak kita Bang.” Ucapku menghiba.
Harap dengan menghiba Bang
Zikri secepatnya meninggalkan rumahku tapi naas dalil tentang cerai terkeluar
dari mulut Bang Zikri membuatku dengan kesal terpaksa mengizinkan Bang Zikri
untuk menginap daripada Bang Zikri membuat masalah Salwam ini Salwah aku tidak
bisa istirahat.
***
Azan subuh berkumandang,
rasa kantukku menguap tapi bau yang membangkitkan selera makanku meningkat.
Bergegas aku menuju dapur
bukannya mengambil wudhu untuk salam subuh Salwah aku membuka tudung saji.
Netraku membulat ada
beberapa lauk yang menjadi favoritku terhidang dengan harum yang menyesak
hidung.
“Kita sholat subuh dulu
baru makan.” Suara Bang Zikri memecah rasa kagumku pada hidangan yang
menguapkan asapnya karena baru siap dimasak.
Dengan Salwas aku mengambil
wudhu dan melangkah menuju ruang sholat yang tersedia di rumah orangtuaku.
“Kenapa Bang Zikri tidak
sholat di masjid,” batinku kesal.
Aku mendengarkan doa yang
dipanjatkan Bang Zikri, ada rasa haru ketika Bang Zikri memohon ampun kepada
Sang Pencipta karena zolim kepadaku.
Doa untuk kesehatan calon
anak kami dan meminta perpanjangan jodoh kami sampai maut memisahkan.
Tanpa sadar aku mengaminkan
doa Bang Zikri, ketika Bang Zikri membalikkan badan dan menyodorkan tangan
kepadaku seperti kebiasan kami setelah sholat berjamah aku baru tersadar bahwa
kami bukanlah muhrim.
Bergegas aku bangun dan
meninggalkan Bang Zikri sendiri.
Ada rasa sesal dihati
kenapa hari ini, hari ahad tidak ada alasan untukku mengusir Bang Zikri pulang
untuk pergi kerja, begitu juga denganku tidak ada alasan untuk meninggalkan
rumah karena aku tidak mengajar hari ini.
“Saniah, mari kita sarapan
nanti sejuk masakan Abang tidak enak.” Panggil Bang Zikri di depan pintu
kamarku.
Sejak habis solat subuh
tadi aku mengurung diri di kamarku.
Pantas saja perukku sudah
berdemo ria, melirik jam dinding ternyata sudah pukul 9 pagi.
Batas akhir untuk
bersarapan, aku mengelus perutku yang masih datar.
“Maafkan Mak Nak.” Batinku.
Dengan berat hati aku
menerima ajakan Bang Zikri untuk sarapan jangan sampai aku mensia – siakan
anugrah yang sudah lama aku nanti dengan tidak memberikan makanan untuk tumbuh
kembangnya.
***
Aku masih berkurung di dalam kamar setelah sarapan.
Jam sudah menunjukkan pukul
11.30 siang, rasa bosan jangan dikatakan lagi tapi sungguh aku tidak ingin
berinteraksi dengan Bang Zikri.
Bunyi dering HP ku yang
melengking membuat aku mengalihkan perhatianku dari memandang buah pelam yang
sedang berbuah lebat dari jendela kamarku.
“Salbiah.” Aku mengeja nama
yang terpampang di layar HP–ku.
Angina apa yang membuatnya
menghubungiku, rasanya sejak Salbiah memakiku dengan mengatakan aku tidak tahu
diri karena Bang Zikri menginap dua Salwam karena aku demam dan sepekan
kemudian talak atas diriku jatuh dari Bang Zikri.
Siapa yang tidak tahu diri,
aku ataukah Salbiah, jika tidak karena izinku belum tentu dirinya dan Bang
Zikri bisa menikah.
Ku biarkan HP – ku menjerit
memekakkan teliga untuk mengangkatnya aku Salwas. Pasti kealpaan Bang Zikri
tadi Salwam dirumahnya pasti aku yang akan disalahkan, lebih baik untuk
mengabaikan panggilan dari Salbiah saja.
Notifkasi dari masuknya
chat sekarang yang mengangguku, Salwas untuk melihat isi chatnya.
Sumpah serampah sudah pasti
isinya, daripada merusak moodku dengan membaca isi chat Salbiah lebih baik aku
menyuruh Bang Zikri saja yang pulang.
Dengan Salwas aku mencari
keberadaan Bang Zikri.
Dari belakan sampai ke
depan rumah aku tidak melihat keberadaan Bang Zikri.
Geduk, aku mendengar suara
sesuatu yang jatuh dari samping rumah.
Berjalan cepat aku menuju
samping rumah, netra hampir saja meloncat dari cangkang mataku ketika melihat
Bang Zikri terongok di tanah dengan tangan mengosok bokongnya serta wajah yang
meringis menahan sakit.
Pecah sudah tawaku, ide
darimana Bang Zikri memanjat pohon pelam yang padat dengan kerengge tu.
Bergegas aku mendekat ke
Bang Zikri membuang semut kerengge yang banyak dikepala dan badan Bang Zikri.
Setelah itu aku membantu
Bang Zikri untuk bangun dari tanah.
Senyum manis yang dulu
menjadi milikku tapi sekarang harus berbagi dengan yang lain membuatku
terpesona.
“Niah pasti menginginkan buah pelam ni kan, Abangkan Ambil pelam yang masak sampai yang muda untuk niah.” Tangan Bang Zikri terhulur memberikan pelam yang dipetiknya.
“Abang dah gila, pokok banyak semut Abang panjat. Beli saja di pasar banyak buah pelam ni, sekarang lagi musim tak perlu memanjat dan membuat Abang jatuh apakah berbaloi.” Teriakku marah.
Dengan wajah kesal aku
mendekati Bang Zikri dan membantunya untuk bangun.
Semut kerengge yang
menempel dikepala dan badan Bang Zikri aku kibas dengan tanganku.
“Aow.” aku menjerit ketika
salah satu dari semut kerengge itu mengigitku.
“Mana yang digigit.” Dengan
sigap Bang Zikri bertanya sementara matanya terus meneliti setiap inci badanku.
Gerah aku melihat tingkah
Bang Zikri, dengan kesal aku melangkah lebar meninggalkan Bang Zikri yang masih
meringgis karena ada semut yang tak terlihat oleh mataku sewaktu mengusirnya
mengigit anggota tubuh Bang Zikri.
Bunyi Bum terdengar keras,
sangking kesalnya aku dengan tingkah Bang Zikri yang tidak masuk akal.
***
Ketukkan di pintu kamar,
tidak membuatku serta merta membukanya.
Paling Bang Zikri yang
mengetuk pintu, sejak aku meninggalkan dirinya tadi pagi dan mendekam di kamar.
Untung ada persedian
makanan yang aku bawa ke kamar sehingga sampaikan sore aku tidak perlu bertemu
dengan Bang Zikri yang masih saja betah di rumah walaupun sudah beberapa kali
aku memintanya untuk pulang ke rumah istri keduanya.
“Saniah buka pintunya,
kasian dengan anak kita pasti kelaparan.” Kata rayuan yang sejak pagi aku
dengar.
Rasanya ada yang mengiris
hati, bukan gembira ketika Bang Zikri mengucapkan kata anak kami, lupakah Bang
Zikri akan dirinya yang sempat tergoda menceraikanku.
Tanganku meraih headset dan
meletakkannya diteliga menyetel sholawat untuk menenangkan hati, dan mulutku
tidak berhenti mengunyah pelan yang sudah dikupas dan tinggalkan di depan
kamarku oleh Bang Zikri yang kesal mengetuk pintu tidak juga aku buka.
“Niah, jangan makan pelam
muda tu saja nanti sakit perut.” Masih juga terdengar rayuan Bang Zikri disela
suara sholawat dari HP yang aku sambungkan ke headset.
Senyum tersunging dari
bibirku, membayangkan rasa kesal Bang Zikri karena aku mengacuhkanya dari pagi
tadi.
***
Akhirnya aku mendengar kendaraan yang selalu ditunggangi Bang Zikri meninggalkan rumah.
Lega rasanya, aku sudah
mengurung diri lebih dari 8 jam, sesak tentu saja apalagi sejak hamil aku lebih
suka duduk disamping rumah sambil memandangi pohon pelam yang lebat berbuah.
Aku menekan panel pintu
kamarku, ringan melangkahkan kakiku menuju pintu samping terus menuju pondok
yang berada di samping rumah tempat aku selalu melepas lelah dari aktifitas
setiap hari.
Tanganku penuh dengan tentengan
buah dan air putih untuk menemaniku santai di samping rumah.
“Ah leganya.” Gumamku sambil
memandang pohon pelam yang berbuah lebat.
Kekehanku mengingat kejadian
tadi pagi ketika dengan semangat baja Bang Zikri ingin mengambil hatiku dengan
memanjat pohon yang banyak semutnya, tapi tidak ada lagi rasa kagum atas semua
yang dilakukan Bang Zikri.
Rasanya Salwas untuk berurusan
dengan Bang Zikri apalagi maduku yang tidak menginginkan menjadi madunya.
Aku hanya ingin memikirkan
kesehatanku dan bayi yang aku kandung saja saat ini.
Senandung kecil terdengar
sesekali dari bibirku, walaupun aku tahu makan sambil bersenandung tidak baik
apalagi bisa membuat aku tersedak tapi entahlah saat ini aku hanya ingin
bersenandung saja.
“Hm Hm.” Hampir saja aku
tersedak camilanku
Suara deheman dari sosok yang
enggan aku lihat saat ini.
Elusan lembut di pungungku
membuat aku berdiri seketika.
Menepis tangan Bang Zikri
spontan.
“Kenapa?” tanya Bang Zikri
marah.
Melihat aku menepis tangannya
yang mengelus punggunku.
“Niah baik – baik saja.” Ucapku
datar.
“Abang masih muhrim Niah, apa
tidak boleh Abang perhatian kepada Niah.” Tinggi intonasi Bang Zikri berucap.
Ekor mataku, menatap tidak suka
kearah samping Bang Zikri.
Saat ini Salbiah maduku menatap
tidak suka kepadaku.
Rasanya enggan untuk bertegang
urat dengannya, andai saja aku bisa mencerita segala perbuatan Salbiah kepada
Bang Zikri, betapa piciknya Salbiah selama kami bermadu.
Tapi apakah Bang Zikri akan
percaya kepadaku?, rasanya hanya buang napas dan tenaga.
Melihat selama kami bermadu, aku selalu saja salah di mata Bang Zikri.
“Apakabar Kak.” Suara
Salbiah terdengar
Geli aku mendengarnya,
bagaimana tidak umurku lebih muda darinya yang notabene seumuran dengan Bang
Zikri hanya karena aku kakak madunya dengan ringan Salbiah memanggilku Kakak.
“Aku baik – baik saja tadi,
tapi sekarang rasanya kepalaku pusing dan harus istirahat di kamar.” Ucapku
sambil berdiri dan siap melangkah ke kamarku kembali.
“Hanya pusing, bukanya
lebih baik berada luar ruangan daripada terperap dikamar.” Sarkas Salbiah
ketus.
“Sudah terlalu lama aku
duduk di sini.” Ucapku acuh dan terus melangkah.
“Belum satu jam, Niah.
Abang sengaja mengajak Sal kesini untuk memujuk Niah untuk keluar dari kamar.”
Sela Bang Zikri membuatku muak.
“Niah lebih suka sendiri,
lebih tenang. Niah membutuhkan ketenangan bukan hiruk pikuk yang menyebabkan
sakit kepala.” Lanjutku berucap.
Bergegas aku mengayuh
langkah lebar, semakin dilayan pasti banyak kalimat sarkas yang akan terucap
dari mulutku.
Aku tidak mau aku berdosa
karena berucap kasar, walaupun aku tahu bukan aku yang memulainya.
Langkah – langkah terdengar
menyusulku yang terus berjalan menuju kamar.
“Niah, Sal izin menggunakan
dapur. Kata Abang dari pagi Niah belum makan nasi.”Ucapan yang membuatku merasa
muak.
“Tak payah, sewaktu Abang
pulang tadi saya sudah makan empat sehat lima sempurna dengan susunya.” Ucapku.
“Alhamdulillah, Abang risau
Niah tak mau makan sejak pagi karena itu Abang menjemput Sal, Sal masakannya
enak.” Puji Bang Zikri.
“Terima kasih, Niah sudah
terbiasa dengan masakan sendiri, dan rasanya tidak baik menyusahkan orang.”
Ucapku tetap membantah.
“Abang, Sal lebih baik
pulang. Sepertinya Niah tidak suka Sal berada di sini, padahal ini rumah
Abangkan?” ucap kesal Salbiah.
“Maaf rumah ini, aku beli
dengan uang hasil kerjaku.” Emosiku terpancing.
Rasanya ingin aku berteriak
mengatakan selama menjadi istri Bang Zikri aku tidak pernah pasrah hidup dengan
Bang Zikri.
Hanya mobil yang katanya
hadiah untukku dari Bang Zikri tetapi akhirnya Bang Zikri juga yang
menggunakannya karena aku lebih suka menaiki motor hasil titik peluhku saja.
Hanya jika berpergian dengan Bang Zikri aku menikmati hadiahku itu.
“Niah abang minta maaf jika
abang salah lagi, Sal bersikukuh ikut kesini. Abang pikir akan membuat Niah
gembira karena aka nada temannya.” Ucap Bang Zikri tak bersalah.
Sejak kapan api dan air
akan bersatu itulah perumpanan aku dan maduku.
Aku mengetik papan sesuatu
di gawaiku, Salwam untuk mengeluarkan suaraku yang berharga kepada pasangan
yang selalu memancing emosiku.
“Cepat bawa Sal pergi, Niah
lebih baik sendiri daripada ditemani Sal. Mengertilah dengan kondisi Niah saat
ini. Niah sudah mengikuti kemauan Abang sekarang giliran Abang untuk sedikit
pengertian dengan Niah.” Chatku kepada Bang Zikri.
“Alhamdulillah.” Desahku
Tenang, setelah kedua virus
itu pergi dari rumahku.
Semoga Bang Zikri faham
dengan kalimatku, aku ingin tenang dalam menjalani kehamilanku walaupun tidak
seperti istri – istri lain yang ditemani oleh suaminya.
“Ah.” Mengingat Bang Zikri lelah hatiku.
Saat semuanya sudah aku
pasrahkan, Bang Zikri membuatnya menjadi benang kusut kembali.
***
Damai, dua hari ini aku
rasakan.
Sendiri tidak membuatku
merasa sendirian, aku lebih bahagia dengan leluasa mondar mandir mengililingi
rumah.
Semoga kedamaian ini terus,
aku tidak memperdulikan keberadaan Bang Zikri yang bisa dipastikan berada
dirumah maduku.
Sedang asyik menikmati
salad buah, suara notifikasi terdengar.
Aku melirik kelayar HP,
nama Bang Zikri tertera.
“Foto.” Batinku
Rasa penasaran membuatku
membukanya, mataku terbelalak melihat fota yang tersaji jelas di depan mata.
“Dirumah sakit mana Bang?”
chatku
“RSUD, kamar 1B.” Balasan
singkat kuterima.
Ragu, ingin tidak peduli
tapi aku masih sah istri Bang Zikri tapi jika aku pergi takut ada drama yang
membuat diriku tak tenang.
“Bismillah.” Ucapku setelah
membulatkan hati menjalankan kendaraan yang akan mengantarku ke RSUD.
Butuh waktu setengah jam,
sengaja berlama – lama di jalan dengan harapan tidak terlalu lama di RSUD.
Aku mengetuk pintu setelah
sampai di kamar rawat inap Bang Zikri.
“Masuk” terdengar suara dari dalam kamar.
Perempuan paruh baya yang
menyanyangiku bagai anak sendiri.
Tapi sejak Bang Zikri
menikah lagi hubungan kami menjadi renggang.
Ulah Bang Zikri membuat Ibu
Mertuaku merasa malu.
Hanya chat darinya yang
selalu menenamiku.
Melihat sekeliling berharap
doaku terkabulkan tidak ada maduku ataupun keluarganya yang selalu merasa aku
yang merampas kebahagian anak mereka.
Melihatku masih berdiri di
depan pintu, mertuaku menyusul dan memelukku erat.
Buah yang sedang dikupasnya
tergeletak manis diatas wadah diatas meja.
“Mereka tidak ada, dasar
keluarga parasite. Meninggalkan Zikri seorang diri di RSUD.
Urat malu Zikri masih ada,
kalau tidak rumah sakit yang menelepon Mak, tentu Mak tak tahu Zikri dirumah
sakit.
Sampai saja di rumah sakit
Mak langsung mengirim foto Zikri dengan telepon Zikri kepada Niah.
Mak yakin Zikri malu untuk
berkabar kondisinya saat ini.” Ucap Mak panjang lebar.
Helaan napasku berat,
mataku menatap buah yang belum terkupas sempurna oleh Ibu Mertuaku.
Bukan menuju kearah Bang
Zikri yang dengan lemah menatapku sejak aku melangkah masuk.
“Mak Niah minta buah ni
ye.” Ucapku penuh harap kepada Ibu Mertuaku.
“Makan, jangan sampai buat
calon Cucu Mak ileran.” Ucapnyat sambil tersenyum lebar.
Seharian aku dan Ibu
Mertuaku berbual mesra, Bang Zikri hanya menatap lemah kearah kami yang tidak
menganggap dirinya kasat mata.
Menjelang sore aku pamit,
punggungku terasa panas hanya duduk seharian.
“Hati – hati di jalan.”
Pesan Ibu Mertua dan Bang Zikri.
“Allahuakbar.” Aku berucap
Membuka pintu melihat wajah
masam Salbiah yang menatapku horor.
Aku menyampingkan diri
memberi laluan kepada Salbiah.
“Pantas Abang tak berkabar,
ternyata Abang sudah dijaga sama Niah.” Ketus ucapan Salbiah
Aku hanya menghela napas
berat, ini drama yang ku maksud.
Masih segar dalam ingatanku, ketika Ibu Mertuaku memperlihatkan chat Bang Zikri dari HP Bang Zikri berkabar kalau dirinya dua hari lalu kena musibah di langgar orang ketika menyebarang jalan.
Salwas berlama – lama aku
memilih melangkah lebar meninggalkan ruang rawat inap Bang Zikri.
***
“Abang keluar dari rumah
sakit hari ini. Boleh Abang pulang ke rumah Niah.” Isi chat dari Bang Zikri.
Apakah aku berdosa sebagai
istri hanya sekali aku melihat Bang Zikri di rumah sakit.
Sepertinya calon bayiku
memberikan alasan untuk aku tidak menjengguknya.
Mual bagaikan minum obat
saja, pagi, siang dan sore di jam besuk pasti aku muntah sehingga badanku
terasa lemah.
Untung saja Ibu mertuaku
selama tiga hari ini menjagaku setelah mengetahui keadaanku.
“Niah tunggu Abang di
rumah, tapi Niah tidak mau ada drama dari Salbiah.” Tulisku membalas chat Bang
Zikri.
Aku mengelap pinggir
bibirku dari bekas muntahan yang tertinggal.
“Zikri mau pulang ke sini.”
Ucap Ibu Mertuaku
Aku menoleh ke arah pintu
kamar dimana Ibu Mertuaku berada saat ini.
Setiap mendengar aku muntah
Ibu mertuaku yang 3 hari ini menginap disebelah kamar pasti akan menyusul ke
kamarku.
Ternyata Bang Zikri sudah
berkabar dengan Ibunya.
Suara kendaraan terdengar
dari arah depan, Ibu mertuaku bergegas kedepan meninggalkanku yang masih
terkulai lemah setelah muntah.
Langkah tergesa terdengar
menuju kamarku, dengan kaki yang diseret aku melihat wajah Bang Zikri di pintu
kamar.
“Maaf, Abang bukan suami
yang siaga saat Niah hamil.” Ada gurat kecewa dari wajah Bang Zikri.
“Maaf, ternyata Abang salah
pilih. Kaca yang terlihat seperti permata sehingga Abang meninggalkan berlian
yang sudah digenggam. Abang harap berlian ini masih mau abang genggam erat
kembali.” ucap Bang Zikri sepenuh hati.
Aku mengambil amplop yang
disodorkan Bang Zikri setelah duduk sempurna di sampingku.
Logo pengadilan agama
terlihat, keningku berkerut. Dadaku bertalu lebih cepat, dengan tangan gemetar
dan ketakutan luar biasa aku membukanya.
Setetes air mata keluar di
sudut mataku, helaan napas lega aku keluarkan.
Rasa yang berkecamuk galau
ketika membukanya hilang sudah.
“Kami sudah bercerai,
jangan rasa bersalah karena yang bersalah itu Abang.
Menurutkan nafsu dan obsesi
masa muda membuat Abang lupa diri dan akhirnya diri Abang yang rugi karena
pilihan yang tidak tepat.” Banyak lagi kalimat Bang Zikri yang tidak aku
dengar.
Hanya rasa beban lepas dari
pundakku, saat ini aku tidak ingin berbagi jika Bang Zikri memilih Salbiah aku
sudah ikhlas.
Pilihan Ikhlasku ternyata
berbuah manis, ikhlas dilepas ternyata aku yang dipilih Bang Zikri.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar