Minggu, 26 April 2026

Tak Seindah Kenyataan

 

Suara terahim sayup – sayup menusuk pendengaranku.

Rasa ngantuk bergelayut manja, mataku masih terpejam erat.

Rasanya baru sebentar aku memanjakan mataku, tapi pagi tidak mau kompromi.

Hatiku lelah, setiap hari dengan kenyataan yang sama.

Dapurku berasap hanya untuk menjerang air untuk secangkir teh pengisi perut sebelum aku berangkat mengajar.

Berita – berita diluar sana membuat pikiranku tidak sejalan dengan hati.

Saat ini semuanya serba mahal tapi dunia pendidikan sudah mandarah daging.

Dunia yang sudah membuat aku Bahagia, sejak meninggalkan dunia kuliah 35 tahun yang lalu.

Covid tidak memberikan aku banyak pilihan, gelar sarjana tidak membuatku mendapatkan pekerjaan yang layak.

Akhirnya aku terdampar di sekolah yang memberikan aku kehidupan.

Menghirup hawa muda dengan kehadiran mereka yang bergairah membuatku merasa Bahagia.

Bahagiaku tak panjang, rasanya aku ingin menjerit Ketika masuk sekolah lagi setelah terkurung dalam ruang meet/zoom untuk mengajar.

Mereka yang dulu tekun dalam menimba ilmu sekarang berkalang dengan gawai dan tergantung dengan aplikasi.

Suaraku yang menjerit habis menerangkan terasa tak berarti oleh mereka.

Kehadiranku tidak bermakna entah secara terang – terangan atau sembunyi mereka menggunakan gawai untuk mencari informasi.

Peranku tak tergantikan oleh mesin tapi kehadiranku tidak diperhatikan oleh mereka, aku lelah dan inginnya rasanya menyerah kalah. 

Menatap nanar gawai dari salah satu siswaku, keluaran terbaru.

Sekilas senyum kecut tersunging, aku yang sudah lama mengajar masih menggunakan gawai keluaran lama.

Terlalu banyak foto maka akan heng, dengan berat hati aku membuat foto yang seharusnya menjadi kenangan abadi.

Ingin mencetaknya juga uangku tidak terlalu banyak.

Aku menekan tomboh untuk menghidupkan gawai canggih yang berada di tanganku.

Wallpapernya menampakkan gambar dua remaja yang masih terlalu dini untuk berfose seperti ini.

Ya Allah, aku terus mengucap dan membuka aplikasi chat.

Kalimat manis dan rayuan seperti lelaki dewasa merayu pujaan hatinya.

Ada yang mengiris hatiku, mereka siswaku yang seharusnya memikirkan masa depan dengan Pendidikan tinggi malah memikirkan dunia rumah tangga yang belum mampu mereka arungi hanya dengan berbekal cinta.

Malu aku membaca chatnya, tanganku dengan cepat mengeser aplikasi foto.

Segudang foto yang menurutku terlalu vulgar untuk umur mereka.

Apa mau dikata, sekali lagi mataku ternoda dengan kalimat dan gambar.

Helaan napas berat terdengar dari mulutku, rasa kesal menggunung di dadaku.

Selama aku menerangkan mereka, siswaku bercengkrama kehadiranku tidak ada artinya.

Aku meletakkan gawai yang telah membuatku merasa tidak tenang di atas meja.

Malas untuk menatapnya, aku menutup gawai siswaku dengan selembar tisu.

Suara memekakkan teliga mengejutkan, gawai berharga mahal itu berbunyi nyaring.

“Sayang, tempat biasa ya. Jangan lama.” Aku membaca chat yang terkirim dari nomor yang bermana Sayangku.

Anak sekarang, hanya untuk membuat gaduh notifakasi chat saja menggunakan lagu yang memekakkan telinga.

Belum hilang rasa bising dari notifikasi tadi sekarang suara berasal dari gawai siswaku berbunyi lagi.

“Saya sudah 10 menit, cepat aku sudah rindu.” Aku malu membaca chat yang tertulis dengan emoticon ciuman yang bertubi – tubi.

Baru 10 menit batinku mengeluh. 

Rindu semudah itu mereka mengatakan rindu baru 10 menit batinku resah.

Melengking lagu suara notifikasi dari gawai canggih di depanku.

Dengan kesal aku ingin meraihnya belum sampai tanganku pada gawai canggih itu tiba – tiba suaranya hilang.

Jantungku berdegup kencang jangan sampai gawai canggih ini rusak di tanganku.

Bisa bolong kantongku membayar perbaikannya.

Bagaimana dengan nasib dapurku pasti tidak ada asap sedikitpun.

Terdengar suara salam, bergegas suara langkah menuju tempat dudukku.

Aku memang sudah menanti pemilik gawai ini menghadapku.

Sesuai dengan janji kami tadi di dalam kelas, akan diselesaikan di jam terakhir setelah pembelajaran.

Helaan napasku kencang, ternyata siswaku membawa orangtunya.

Begitu rapuh jiwa anak muda sekarang, berani berbuat salah tapi tidak berani bertanggung jawab.

“Siang Bu.” Sapa tidak ramah menembus gendang teligaku.

Senyumku terpaksa aku hadiahkan kehadapan orangtua siswa yang saat ini duduk didepanku sebelum sempat aku mempersilakannya duduk.

“Assalamualaikum, selamat siang Pak.” Ucapku Lelah.

“Saya tidak banyak banyak, masalah gawai anak saya mohon dimengerti Bu. Pihak sekolah mengizinkan siswa membawa gawai, seharusnya pemantauan guru untuk pemakaianya sudah ada.

Siswa bermain gawai disaat belajar menjadi tanggung jawab sekolah.

Sekolah tidak punya hak untuk menyita gawai siswa.” Keras suaranya membuatku merasa muak.

Usiaku mungkin seusia orangtuanya tapi tidak ada rasa empati kepada guru.

“Maaf Pak, anak bapak Saya ambil gawainya karena kami lagi kuis dengan menggunakan aplikasi quizizz.

Saya berkeliling kelas memastikan siswa tidak ada yang bermain curang, anak bapak dengan santai berbalas chat dengan yang katanya pacarnya.

Apakah itu buat bapak tidak menjadi masalah.

Selama 1 jam gawai ini berbunyi dengan chat yang menurut saya belum pantas anak seumuranya mendapatkan chat demikian.

Mungkin kami guru lalai menjalankan tugas kami, tapi berharap sebagai orangtua bapak juga memantau anak bapak.

Jangan sampai terjadi hal yang nanti akan disesali dikemudian hari.

Saya kembalikan gawai anak bapak, rasanya saya tidak perlu lagi memberikan pembinaan kepada anak bapak.

Cukup Bapak saja yang memberikannya, maaf sudah menyita waktu Bapak yang sudah datang kesekolah.

Bapak boleh membawa gawai dan anak Bapak pulang” Ucapku sambil mendorong gawai kearahnya.

 

Tidak lagi melihat orangtua dan siswaku, aku berdiri mengambil tas ransel yang berisi perlengkapan perangku untuk mengajar.

Menatap sekilas orangtua yang masih duduk terpaku.

“Assalamualaikum, saya mau pulang.” Ucapku sambil berdiri dari tempatku duduk mereka.

“Apa maksud Ibu mau pulang urusan kita belum selesai.” Ucapnya marah dan berdiri dari tempat duduknya.

“Saya sudah meminta maaf, bukanya waktu Bapak tidak banyak. Saya tidak mau menganggu waktu Bapak yang berharga untuk masalah sekolah yang sepele ini.

Waktu di sekolah Saya sudah habis, sekarangnya waktunya saya bersama keluarga saya.” Ucapku menatap lekat orangtua siswaku.

Menghela napas sebelum menyambung kalimatku.

“Ada lagi keluhan Bapak terhadap Saya atau Sekolah, jika tidak menyita waktu bapak akan saya dengarkan.” Ucapku sambil duduk Kembali.

Pandaganku tidak lepas dari wajah orangtua yang sudah bisa aku pastikan seumuran anakku yang sudah memberikan cucu sebesar anaknya.

Orangtua yang lebih memilih pekerjaan dengan melimpahkan tanggung jawab kepada sekolah.

Orangtua yang tidak terima anaknya disalahkan jika ada pelanggaran.

Otakku yang sudah tua terlalu lelah memikirkan permasalahan ini tapi bentuk tanggung jawab karena memilih profesi ini tidak dapat aku abaikan.

Banyak penolakan atas kebijakan sekolah kadang kami harus toleransi dengan segala bentuk kesalahan yang dilegalkan oleh beberapa organisasi yang katanya membela kepentingan anak.

“saya tahu banyak orangtua yang tidak puas dengan sekolah tapi kami pihak sekolah tidak bisa berdiri sendiri dalam mencerdaskan anak bangsa.

Ada kolaborasi yang mendukung program kami, tapi jika bapak hanya menuntut kami pihak sekolah rasanya masalah ini sudah selesai.” Ucapku datar.

“Lebih baik kita menenangkan hati dengan sholat, suara azan terdengar.” Ucapku.

Helaan napas jelas terlihat dari wajah orangtua di depanku saat ini.

“Maaf Bu, Saya akan menasehati anak saya. Saya permisi, assalamualaiku.” Ucapnya sambil berdiri dan berlalu dari hadapanku.

***

Terpaksa aku menunaikan sholat azar di mushola sekolah, seharusnya di hari jumat ini aku sudah bisa menikmati secangkir teh jahe hangat dengan beberapa potong ubi rebus bersama suami.

Waktu sulit terbayang lagi Ketika pertama mengabdi di sekolah dengan honor yang kecil dan sekarang nominalnya besar tapi tetap saja kecil untuk ukuran sekarang.

Bersaing dengan lulusan yang baru selesai dimana mereka dibekali ilmu aplikasi rasanya untuk menjadi P3K rasanya jauh dari jangkauan.

Tinggal 5 tahun lagi masa mengabdikan, tidak ada purna bakti karena aku bukan ASN.

Pahit manisnya mengajar sudah aku jalani, tapi untuk beberapa tahun kebelangkan ini usai covid semuanya sudah tidak sama.

Hanya berharap menyelesaikan tugas penuh tanggung jawab.

Masuk tepat waktu, memaksimalkan proses pembelajaran terus belajar dan belajar sudah menjadi moto seorang guru.

Menantap rindu dengan sosok disebelahku yang setia menemani.

Berdua dalam rumah susun yang menjadi milik kami yang dulu sesak dengan tawa mereka anak – anakku sekarang mereka punya kehidupan sendiri.

Kami tetap dalam kesederhana walau kadang dapur tak berasap karena kami sama – sama pendidik.

Tidak ada purna bakti untuk diriku dan suami karena kami hanya honor provinsi.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Tak Seindah Kenyataan

  Suara terahim sayup – sayup menusuk pendengaranku. Rasa ngantuk bergelayut manja, mataku masih terpejam erat. Rasanya baru sebentar ak...