Suara terahim sayup – sayup menusuk pendengaranku.
Rasa
ngantuk bergelayut manja, mataku masih terpejam erat.
Rasanya
baru sebentar aku memanjakan mataku, tapi pagi tidak mau kompromi.
Hatiku
lelah, setiap hari dengan kenyataan yang sama.
Dapurku
berasap hanya untuk menjerang air untuk secangkir teh pengisi perut sebelum aku
berangkat mengajar.
Berita –
berita diluar sana membuat pikiranku tidak sejalan dengan hati.
Saat ini
semuanya serba mahal tapi dunia pendidikan sudah mandarah daging.
Dunia
yang sudah membuat aku Bahagia, sejak meninggalkan dunia kuliah 35 tahun yang
lalu.
Covid
tidak memberikan aku banyak pilihan, gelar sarjana tidak membuatku mendapatkan
pekerjaan yang layak.
Akhirnya aku terdampar di sekolah yang memberikan aku kehidupan.
Menghirup
hawa muda dengan kehadiran mereka yang bergairah membuatku merasa Bahagia.
Bahagiaku
tak panjang, rasanya aku ingin menjerit Ketika masuk sekolah lagi setelah
terkurung dalam ruang meet/zoom untuk mengajar.
Mereka
yang dulu tekun dalam menimba ilmu sekarang berkalang dengan gawai dan
tergantung dengan aplikasi.
Suaraku
yang menjerit habis menerangkan terasa tak berarti oleh mereka.
Kehadiranku
tidak bermakna entah secara terang – terangan atau sembunyi mereka menggunakan
gawai untuk mencari informasi.
Peranku tak tergantikan oleh mesin tapi kehadiranku tidak diperhatikan oleh mereka, aku lelah dan inginnya rasanya menyerah kalah.
Menatap
nanar gawai dari salah satu siswaku, keluaran terbaru.
Sekilas
senyum kecut tersunging, aku yang sudah lama mengajar masih menggunakan gawai
keluaran lama.
Terlalu
banyak foto maka akan heng, dengan berat hati aku membuat foto yang seharusnya
menjadi kenangan abadi.
Ingin
mencetaknya juga uangku tidak terlalu banyak.
Aku
menekan tomboh untuk menghidupkan gawai canggih yang berada di tanganku.
Wallpapernya
menampakkan gambar dua remaja yang masih terlalu dini untuk berfose seperti
ini.
Ya Allah,
aku terus mengucap dan membuka aplikasi chat.
Kalimat
manis dan rayuan seperti lelaki dewasa merayu pujaan hatinya.
Ada yang
mengiris hatiku, mereka siswaku yang seharusnya memikirkan masa depan dengan
Pendidikan tinggi malah memikirkan dunia rumah tangga yang belum mampu mereka
arungi hanya dengan berbekal cinta.
Malu aku
membaca chatnya, tanganku dengan cepat mengeser aplikasi foto.
Segudang
foto yang menurutku terlalu vulgar untuk umur mereka.
Apa mau
dikata, sekali lagi mataku ternoda dengan kalimat dan gambar.
Helaan
napas berat terdengar dari mulutku, rasa kesal menggunung di dadaku.
Selama
aku menerangkan mereka, siswaku bercengkrama kehadiranku tidak ada artinya.
Aku
meletakkan gawai yang telah membuatku merasa tidak tenang di atas meja.
Malas
untuk menatapnya, aku menutup gawai siswaku dengan selembar tisu.
Suara
memekakkan teliga mengejutkan, gawai berharga mahal itu berbunyi nyaring.
“Sayang,
tempat biasa ya. Jangan lama.” Aku membaca chat yang terkirim dari nomor yang
bermana Sayangku.
Anak
sekarang, hanya untuk membuat gaduh notifakasi chat saja menggunakan lagu yang
memekakkan telinga.
Belum
hilang rasa bising dari notifikasi tadi sekarang suara berasal dari gawai
siswaku berbunyi lagi.
“Saya
sudah 10 menit, cepat aku sudah rindu.” Aku malu membaca chat yang tertulis
dengan emoticon ciuman yang bertubi – tubi.
Baru 10 menit batinku mengeluh.
Rindu
semudah itu mereka mengatakan rindu baru 10 menit batinku resah.
Melengking
lagu suara notifikasi dari gawai canggih di depanku.
Dengan
kesal aku ingin meraihnya belum sampai tanganku pada gawai canggih itu tiba –
tiba suaranya hilang.
Jantungku
berdegup kencang jangan sampai gawai canggih ini rusak di tanganku.
Bisa
bolong kantongku membayar perbaikannya.
Bagaimana
dengan nasib dapurku pasti tidak ada asap sedikitpun.
Terdengar
suara salam, bergegas suara langkah menuju tempat dudukku.
Aku
memang sudah menanti pemilik gawai ini menghadapku.
Sesuai
dengan janji kami tadi di dalam kelas, akan diselesaikan di jam terakhir
setelah pembelajaran.
Helaan
napasku kencang, ternyata siswaku membawa orangtunya.
Begitu
rapuh jiwa anak muda sekarang, berani berbuat salah tapi tidak berani
bertanggung jawab.
“Siang
Bu.” Sapa tidak ramah menembus gendang teligaku.
Senyumku
terpaksa aku hadiahkan kehadapan orangtua siswa yang saat ini duduk didepanku
sebelum sempat aku mempersilakannya duduk.
“Assalamualaikum,
selamat siang Pak.” Ucapku Lelah.
“Saya
tidak banyak banyak, masalah gawai anak saya mohon dimengerti Bu. Pihak sekolah
mengizinkan siswa membawa gawai, seharusnya pemantauan guru untuk pemakaianya
sudah ada.
Siswa
bermain gawai disaat belajar menjadi tanggung jawab sekolah.
Sekolah
tidak punya hak untuk menyita gawai siswa.” Keras suaranya membuatku merasa
muak.
Usiaku
mungkin seusia orangtuanya tapi tidak ada rasa empati kepada guru.
“Maaf
Pak, anak bapak Saya ambil gawainya karena kami lagi kuis dengan menggunakan
aplikasi quizizz.
Saya
berkeliling kelas memastikan siswa tidak ada yang bermain curang, anak bapak
dengan santai berbalas chat dengan yang katanya pacarnya.
Apakah
itu buat bapak tidak menjadi masalah.
Selama 1
jam gawai ini berbunyi dengan chat yang menurut saya belum pantas anak
seumuranya mendapatkan chat demikian.
Mungkin
kami guru lalai menjalankan tugas kami, tapi berharap sebagai orangtua bapak
juga memantau anak bapak.
Jangan
sampai terjadi hal yang nanti akan disesali dikemudian hari.
Saya
kembalikan gawai anak bapak, rasanya saya tidak perlu lagi memberikan pembinaan
kepada anak bapak.
Cukup
Bapak saja yang memberikannya, maaf sudah menyita waktu Bapak yang sudah datang
kesekolah.
Bapak boleh membawa gawai dan anak Bapak pulang” Ucapku sambil mendorong gawai kearahnya.
Tidak
lagi melihat orangtua dan siswaku, aku berdiri mengambil tas ransel yang berisi
perlengkapan perangku untuk mengajar.
Menatap
sekilas orangtua yang masih duduk terpaku.
“Assalamualaikum,
saya mau pulang.” Ucapku sambil berdiri dari tempatku duduk mereka.
“Apa
maksud Ibu mau pulang urusan kita belum selesai.” Ucapnya marah dan berdiri
dari tempat duduknya.
“Saya
sudah meminta maaf, bukanya waktu Bapak tidak banyak. Saya tidak mau menganggu
waktu Bapak yang berharga untuk masalah sekolah yang sepele ini.
Waktu di
sekolah Saya sudah habis, sekarangnya waktunya saya bersama keluarga saya.”
Ucapku menatap lekat orangtua siswaku.
Menghela
napas sebelum menyambung kalimatku.
“Ada lagi
keluhan Bapak terhadap Saya atau Sekolah, jika tidak menyita waktu bapak akan
saya dengarkan.” Ucapku sambil duduk Kembali.
Pandaganku
tidak lepas dari wajah orangtua yang sudah bisa aku pastikan seumuran anakku
yang sudah memberikan cucu sebesar anaknya.
Orangtua
yang lebih memilih pekerjaan dengan melimpahkan tanggung jawab kepada sekolah.
Orangtua
yang tidak terima anaknya disalahkan jika ada pelanggaran.
Otakku
yang sudah tua terlalu lelah memikirkan permasalahan ini tapi bentuk tanggung
jawab karena memilih profesi ini tidak dapat aku abaikan.
Banyak
penolakan atas kebijakan sekolah kadang kami harus toleransi dengan segala
bentuk kesalahan yang dilegalkan oleh beberapa organisasi yang katanya membela
kepentingan anak.
“saya
tahu banyak orangtua yang tidak puas dengan sekolah tapi kami pihak sekolah
tidak bisa berdiri sendiri dalam mencerdaskan anak bangsa.
Ada
kolaborasi yang mendukung program kami, tapi jika bapak hanya menuntut kami
pihak sekolah rasanya masalah ini sudah selesai.” Ucapku datar.
“Lebih
baik kita menenangkan hati dengan sholat, suara azan terdengar.” Ucapku.
Helaan
napas jelas terlihat dari wajah orangtua di depanku saat ini.
“Maaf Bu,
Saya akan menasehati anak saya. Saya permisi, assalamualaiku.” Ucapnya sambil
berdiri dan berlalu dari hadapanku.
***
Terpaksa
aku menunaikan sholat azar di mushola sekolah, seharusnya di hari jumat ini aku
sudah bisa menikmati secangkir teh jahe hangat dengan beberapa potong ubi rebus
bersama suami.
Waktu
sulit terbayang lagi Ketika pertama mengabdi di sekolah dengan honor yang kecil
dan sekarang nominalnya besar tapi tetap saja kecil untuk ukuran sekarang.
Bersaing
dengan lulusan yang baru selesai dimana mereka dibekali ilmu aplikasi rasanya
untuk menjadi P3K rasanya jauh dari jangkauan.
Tinggal 5
tahun lagi masa mengabdikan, tidak ada purna bakti karena aku bukan ASN.
Pahit
manisnya mengajar sudah aku jalani, tapi untuk beberapa tahun kebelangkan ini
usai covid semuanya sudah tidak sama.
Hanya
berharap menyelesaikan tugas penuh tanggung jawab.
Masuk
tepat waktu, memaksimalkan proses pembelajaran terus belajar dan belajar sudah
menjadi moto seorang guru.
Menantap
rindu dengan sosok disebelahku yang setia menemani.
Berdua
dalam rumah susun yang menjadi milik kami yang dulu sesak dengan tawa mereka
anak – anakku sekarang mereka punya kehidupan sendiri.
Kami
tetap dalam kesederhana walau kadang dapur tak berasap karena kami sama – sama
pendidik.
Tidak ada
purna bakti untuk diriku dan suami karena kami hanya honor provinsi.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar