Minggu, 05 April 2026

Ruang Waktu

Memerah mataku menatap status WA dari aplikasi yang akhir – akhir ini menjadi fokusku.

Statusnya hari ini sungguh melukai harga diriku.

Secepat kilat aku mengetik kalimat untuk mengomentarinya.

“Kami hanya rekan kerja tidak lebih, jangan berlebiha curiga Abang tidak suka.” Kalimat Bang Imran teringat olehku.

Itu sepekan lalu, aku menujukkan status dari teman sekantor Bang Imran yang aku rasa sudah tidak bisa ditoleri lagi.

Aku yang tunangan Bang Imran saja malu untuk memasang status seperti itu, apalagi Bang Imran selalu mengingatkan kami baru bertunang.

Aku menghapus kembali chat yang sudah aku tulis.

Aku menghela napas berat, meletakkan HP pada meja kecil yang terletak disamping ranjangku.

Malam minggu seharusnya kami berbicara banyak tentang hubungan kami yang sebentar lagi menuju pelaminan.

Chat Bang Imran tadi sore menggatakan tidak bisa datang karena ada jamuan makan di kantornya.

Aku pernah menanyakan kenapa Bang Imran tidak lagi mengajakku jika ada jamaun di kantornya.

“jangan terlalu diexpose hubungangan kita, takutnya ada mata jahat sehingga hubungan kita renggang.” Ucap Bang Imran kala itu

“Bukannya Abang takut perempuan di luar sana tahu Abang sudah bertunang atau Abang malu dengan tunangan Abang.” Ucapku sinis kala itu

“Mas orang bertunang banyak cobaan, Abang hanya ingin hubungan kita tenang sampa pada akad nikah nanti.” Tenang Bang Imran berkata.

Pembawaan tenang Bang Imran inilah yang membuatku luluh ketika Bang Imran mendekatiku.

Kegagalan rumah tangga Ayah Ibu membuatku menjaga jarak dengan mahluk bernama lelaki.

Pembawaanku yang dulu cendrung pendiam berubah seribu persen ketika Ayah Ibu mengatakan mereka ingin berpisah.

Cara berontakku dengan menjadi sosok ketus dan pembangkang semakin kental sewaktu Ayah menikah kembali dalam waktu yang cukup singkat setelah berpisah dengan Ibu.

Aku selalu mengatakan Ibu terlalu lemah terhadap Ayah.

Kedominan Ayah selalu membuat Ibu yang benar menjadi salah apalagi akhir mendekati waktu perceraian mereka.

Aku yang anak semata wayang menjadi kecewa dengan keputusan Ayah yang mengatakan menginginkan anak lelaki sebagai penerus namanya.

Ayah yang dulu tidak peduli padaku semakin tidak peduli dengan lahirnya adik satu Ayah yang notabene lelaki.

Aku tidak membenci sosok lelaki tapi aku menjaga diri dengan bersikap ketus karena tidak ingin disakiti oleh makluk egois berjenis kelamin lelaki.

***

Aku melirik jam tangan yang bertenger manis di tanganku.

Sudah lewat satu jam aku menunggu, rasanya kesabaranku sudah menipis.

Aku melangkahkan kaki untuk pergi, tidak ada niat untuk menunggu lagi.

Akhirnya aku menstop taxi lewat, daripada menunggu dan berakhir seperti kemaren lusa aku menunggu bagaikan orang bodoh, hanya chat yang mengabarkan dirinya tidak bisa datang setelah aku berjamur menunggunya.

Suara riuh tiba – tiba menjadi senyap ketika aku mengucapkan salam.

“Intan.” suara Bang Imran mengema.

Aku menatap lekat Bang Imran, pandanganku beralih kepada perempuan yang kata Bang Imran hanya teman kantornya ada di sebelah Bang Imran.

Alda bukan hanya teman sekantor Bang Imran, Alda juga temanku sewaktu kuliah.

Setelah tamat Alda langsung menikah dengan suaminya yang merupakan rekan kantor Bang Imran.

Bukannya menutupi hubunganku dengan Alda tapi belum ada kesempatan untuk memberitahu Bang Imran.

Hari ini Alda menyambut pertambahan umurnya, sebelum aku mengatakan Alda mengundangku Bang Imran sudah memberi kabar ingin mengajakku datang pesta kesalah satu temannya.

Entah lupa atau pura – pura lupa, janji Bang Imran ingin menjemputku tidak ditepati.

Padahal aku sudah menelepon Bang Imran sejam, karena tidak diangkat aku menchat Bang Imran mengatakan aku sudah siap dan menunggu kedatangan Bang Imran untuk menjemputku pergi ke pesta.

“Maaf aku terlambat Alda, aku tidak bisa lama hanya ingin memberikan ini.” Ucapku berdalih.

Setelah cipika cipiki dengan Alda aku pamit sambil lempar senyum kepada semua yang hadir.

Langkah lebarku membawa hatiku yang sakit, melihat rekan kerja Bang Imran malah bergelayut manja dilengan Bang Imran.

Tidak ada tanda – tanda Bang Imran menyusulku.

Untung saja ada taxi yang lewat sehingga aku tidak perlu berlama – lama di depn resto tempat pesta berlangsung.

Menghela napas berat setelah taxi yang aku tumpangi berlalu meninggalkan sejuta sakit yang mengigit.

***

Aku menatap langit kamar, suara HP yang memekak telinga tidak aku hiraukan.

Aku terus bergelayut dengan pikiran yang tidak tentu arah.

Bertanya kepada angin apa yang membuat Bang Imran seakan tidak mengenaliku sewaktu di resto tadi.

Bahkan tidak ada sedikitpun reaksi ketika aku mengatakan hanya datang untuk memberikan hadiah yang terpaksa pergi karena masih ada pekerjaan yang menanti.

“Intan, ada Imran di depan.” Suara Mak mengentuk pintu kamarku.

Dengan malas aku bangun dari tidurku, membuka pintu memberikan senyum palsu kepada Mak.

“Mak, bilang saja Intan sudah tidur.” Ucapku memelas kepada Mak.

‘Intan lelah Mak, besok Intan janji akan telpon Bang Imran.” Sekali lagi aku memohon kepada Mak.

Tidak lupa aku memasang wajah yang kelelahan setengah mati.

Akhirnya Mak berlalu setelah mengingatkanku untuk menelopon Bang Imran besok pagi.

Aku menutup pintu kamar setelah Mak berlalu dengan omelan yang tidak terima bersubahat berbohong kepada Bang Imran mengatakan aku sudah tidur.

Menghempas badanku ke kasur, berharap segala rasa kesal hilang bersama terhempaskan badanku di kasur.

Menatap sekilas kea rah HP-ku tapi enggan untuk meraihnya.

***

Masih tergiang ditelingaku, ucapan Mak sebelum aku meninggalkan rumah.

“Jangan lupa hubungi Imran, seperti Imran khawatir sekali dengan Intan.” senyum mirisku mengingat ucapan Mak.

Alhamdulillah, batinku setelah mematikan kendaran yang menghantarku sampai di tempat kerja.

“Pagi Pak.” Ucapku pada Pak Satpam ramah.

Melangkah riang mencoba menghilangkan rasa sesak yang menyangkut di dadaku.

Sejak aku menghidupkan mesin kendaraanku, HP-ku berhenti berbunyi, bisa dipastikan Bang Imran yang meneleponku.

Sekali lagi HP-ku berbunyi, aku mengambilnya dari dalam tas, kan benar Bang Imran yang berusaha menghubungiku.

Bukanya mengangkatnya, aku malah mematikan HP-ku dan memasukkannya dalam tas kembali.

Lega rasanya setelah mematikan HP, semoga hariku tidak seburuk perasaanku saat ini.

Memastikan hatiku baik – baik saja, aku merapal doa sambil berjalan dengan yang lain masuk ke dalam kantor.

***

Baru saja aku ingin melangkahkan kaki keluar dari lobi kantor aku melihat Bang Imran duduk di salah satu kursi yang disediakan disana.

Aku memutar arah sebelum Bang Imran melihatku,

Mengambil jalan samping, malas untuk bertemu dengan Bang Imran.

Nasib sial menghadangku, suara Pak Satpam yang menegurku membuat Bang Imran menoleh kearahku.

Dengan langkah cepat aku menuju tempat parkir kendaranku.

Berharap Bang Imran tidak dapat menyusulku.

Kendaraanku tidak bersahabat, pakai acara mogok.

“Intan.” suara yang tidak aku harapkan terdengar.

Dengan terpaksa aku mengarahkan badan dan pandangan kepada Bang Imran.

Yang sudah menyusulku ke tempat parkir.

“Intan baik – baik saja.” Terdengar kaku suara Bang Imran.

Ada yang berdenyut nyeri di dadaku, daging yang bernama hati tidak terima mendengar suara canggung Bang Imran menyebut dan menanyakan kabarku.

“Hm.” Hanya suara itu yang mampu aku keluarkan.

“Bisa kita bicara sebentar.” Ah bagaikan orang asing yang bertanya arah suara Bang Imran.

“Intan baik – baik saja, hanya lelah. Lain kali saja kita bicara.

Abang tentu juga lelah seharian bekerja, kenapa juga memaksakan diri menyambangi Intan.” ucapku datar.

Aku mengambil HP untuk memesan ojek serta melambaikan tangan kepada Pak Satpam yang selalu setia membantuku jika kendaraanku merajuk kepadaku.

“Ada apa Bu Intan.” ucap Pak Satpam ramah

“Pak, seperti biasa saya butuh Bapak untuk menservis motor saja yang merajuk.” Aku berusaha bercanda tapi kedengaran garing.

Selesai aku meminta bantuan Pak Satpan, ojek yang aku pesan datang.

Tanpa membuang waktu aku mengambil helm yang diberikan dan makainya.

“Jalan Sakura Indah Gg. Payah Indah Pak.” Perintahku pada ojek.

“Siap bu.” Kita jalan.

Tidak ada usaha Bang Imran untuk mencegahku menaiki ojek hanya menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.

Rasa kecewaku bertambah besar terhadap Bang Imran.

***

Aku memandang langit kamar, mengusir rasa kesal dengan kejadian tadi sore.

Ketukan dipintu membuat keningku berkerut, tidak biasa Mak mengangguku jika aku sudah masuk ke kamar untuk beristirahat.

Melangkah lemah menuju pintu kamar, berusaha tersenyum dihadapan Mak.

“Ada Imran di depan.” Ucap Mak.

Aku menghela napas berat, meraih jilbab instan tidak ingin keluargaku tahu kami ada masalah.

Aku menatap Bang Imran yang asik mengutak – atik HP-nya.

Kebiasaan yang akhir – akhir ini sering dilakukan dan tidak peduli tempat.

Apalagi jika kami sedang bersama, Bang Imran lebih focus dengan Hp-nya.

Jika aku bertanya jawabanya, chat dari tempat kantor berdiskusi masalah kantor.

Dehemanku mengalihkan perhatian Bang Imran, sebegitunya focus Bang Imran dengan Hp –nya padahal aku sudah lima belas menit berada di dekatanya dan memperhatikan senyumnya yang terbit ketika membaca chat dari HP-nya.

“Ada perlu apa Bang.” Ucap datar

Mengambil tempat duduk yang berseberangan dengan tempat duduk Bang Imran.

“Abang yang seharus bertanya, ada apa dengan Intan.

Kenapa Abang ditinggal sore tadi.” Intonasi Bang Imran meninggi.

Abang bertanya kepada Intan, ada apa dengan Intan. Intan baik – baik saja, Abang itu yang ada apa.

Maunya Abang apa, dua bulan ini rasanya Abang menjaga jarak.

Selalu merasa sibuk, padahal kesibukan Abang tidaklah seberapa.

Abang selalu merasa risih berdekatan dengan Intan, lebih baik kita memikirkan bagaimana hubungan kita ini tidak membuat kita merasa tersiksa.” Ucapku datar.

Aku sudah memikirkannya masak – masak, bertahan dengan sakit selalu rasanya aku tidak sanggup.

Jika memang Abang merasa kita lebih baik sendiri – sendiri Intan tidak masalah.” Ucapku panjang lebar.

Lega rasanya setelah mengucapkan rasa yang menganjal di hatiku.

Aku melihat Bang Imran terkejut dengan perkataanku.

Mulutnya seperti ingin mengucapkan sesuatu tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulut Bang Imran.

“Pulanglah Bang, rasanya tidak ada yang dapat Abang katakana jika hati Abang dalam kegundahan.” Ucapku setelah lebih 15 menit tidak ada kata yang terucap dari mulut Bang Imran.

Aku berjalan menuju pintu depan, membukakan pintu untuk Bang Imran.

“Intan, Abang.” Suara ragu Bang Imran terdengar

Aku menghela napas berat.

“Pulanglah Bang, Intan lelah.

Apapun keputusan Abang Intan terima..”Ucapku  lagi.

Sejak tadi aku mendengar nada sambung dari HP-nya Imran.

Diangkat HP-nya Bang, kasian yang menelepon Abang. Cukup Intan saja yang Abang abaikan kalau menelepon, sakit rasanya tidak diperhatikan.” Ucapku santai ketika melihat berulang kali Bang Imran natap HP-nya.

Bang Imran belum juga beranjak dari duduknya, kegelisahan jelas terlihat di wajah Bang Imran.

“Ayah, Bang Imran ingin bicara dengan Ayah.” Ucapku melihat Ayah melintas di ruang tengah.

Kegugupan jelas terlihat di wajah Bang Imran, aku tidak peduli.

Saat ini, detik ini aku muak melihat wajah Bang Imran yang salah tingkah.

Aku berlalu menuju kamarku ketika Ayah sudah berada di ruang tamu.

“Ada yang ingin disampaikan Bang Imran Yah, penting katanya.” Ucapku ketika berpas – pasan dengan Ayah di ruang tamu.

“Intan.” suara Bang Imran terdengar.

Tapi aku tetap melangkahkan kaki meninggalkan ruang tamu.

Aku mengunci pintu kamarku, berharap tidak ada lagi drama yang mengetuk pintu kamarku.

Tak lama aku mendengar suara kendaraan Bang Imran meninggalkan rumah.

Helaan napas berat lagi – lagi keluar dari hidungku.

***

Azan subuh menjadi alaramku, mengeliatkan badan untuk mengusir rasa mengantuk.

Lewat jam dua baru aku terlelap setelah semalaman memikirkan apa yang dikatakan Bang Imran kepada Ayah.

Setelah sholat aku melangkahkan kaki menuju dapur untuk membantu Mak menyiapkan sarapan serta bekal untuk aku bawa ke kantor.

“Intan, ada masalah dengan Imran.” Ucap Mak ditengah kami menyiapkan sarapan.

“Bang Imran yang ada masalah dengan Intan Mak, apapun yang terjadi dengah pertunangan kami Intan ridho.” Ucapku lelah.

“Intan tak baik becakap tu, istifar Nak.

Resam orang bertunang macam tu, banyak godaan.” Nasehat Mak kepadaku.

Setelah sarapan aku pamit pada Ayah dan Mak untuk pergi kerja.

Langkahku terhenti ketika melihat Bang Imran sudah berada dihalaman rumah.

Wajah kusut Bang Irman menandakan tidurnya tidak nyenyak.

“Kenapa HP-nya mati intan.” terdengar suara Bang Imran.

Aku menepuk dahiku, dari kemaren pagi aku lupa mengaktifkan HP-ku.

Aku merongoh tas kerjaku untuk mengambil HP-ku.

Mengaktifkan HP-ku didepan mata Bang Imran.

Seketika itu banyak pesan serta telpn dari nomor Bang Imran.

“Terlalu banyak pesan, rasanya Abang bisa memberikan inti dari apa yang ingin Abang sampaikan kepada Intan.” Ucapku santai.

“Abang minta maaf, Abang salah.

Abang terlena dengan yang tak seharusnya, Intan. mungkin ini yang dikatakan orang tua dulu cobaan dalam masa bertunang.

Senyumku kecut, godaan orang bertunang kata Bang Imran.

Aku sudah beberapa kali mengingatkannya tapi selalu aku yang dipersalahkan.

Bukannya aku tidak tahu, pasti Bang Imran sudah mengetauhi belang saras teman sekantornya itu.

Aku sengaja mengirim fota saras yang sebenarnya sudah bersuami kepada Bang Imran dengan menggunkan nomor tak dikenal Bang Imran.

Dengan chat menuliskan alamat saras biar Bang Imran melihat kebenaran yang disembunyikan saras dari Bang Imran selama ini.

Jangan ditanya dimana aku mendapatkan informasi saras dari siapa, pastinya dari temanku Alda.

Alda juga mengatakan saras sudah diperingatkan dengan status Bang Imran yang sudah bertunang.

Sarasnya saja yang tak tahu diri, sudah menjadi istri orang masih saja menganggu pria lajang seperti Bang Imran.

Bang Imran bukan korban pertama, saras dipindahkan dari kantor pusat ke kantor cabang karena ketahuan main api dengan atasanya dikantor pusat.

Walaupun Bang Imran korban dari sikap culas Saras, aku yang tersakiti disini.

Rasanya tidak mudah untuk menata hati yang telah tergores, butuh waktu lama untuk menatanya kembali.

Jika saja aku tidak mengirim info tentang Saras tentu Bang Imran akan terus terlena dengan pesonanya.

“Intan, Abang tidak mau kehilangan Intan. Abang mengaku salah, nabi saja memaafkan umatnya Intan.” panjang kali lebar Bang Imran meminta maaf padaku.

“Intan bukan nabi Bang, berikan satu alasan untuk Intan memaafkan Abang.

Intan sudah berulang kali mengingatkan Abang tentang saras yang katanya Abang hanya teman itu.” Ucapku sinis dan ketus.

Hening, aku benci dengan keheningan ini.

Yakin seratus persen Bang Imran pasti tidak menemukan alasan untuk menjawab pertanyaanku.

Tidak mungkin Bang Imran berani mengatakan kalau saras sudah bersuami kepadaku, harga diri Bang Imran pasti jatuh karena aku sudah berkali – kali mengigatkannya masalah saras.

“Sudahlah Bang, Intan bukan pilihan terbaik untuk Abang.

Intan sadar dengan kekurangan Intan.

Daripada kekurangan Intan Abang ungkit setelah kita menikah rasanya akan lebih menyakitkan . “ helaan napas berdengar ketika ucapanku berakhir.

Aku tidak ingin melihat reaksi Bang Imran atas apa yang aku ucapkan.

Aku lebih memilih melihat ke arah bawah, hanya desahan berat terdengar dari mulut Bang Imran.

Aku melepas cincin bertunang yang selama setahun ini bertahta manis di jari manisku.

Tinggal sebulan lagi kami akan naik pelamin, ada rasa berat untuk melepaskan.

Rentang waktu yang cukup membuatku menangis dalam hati mengenang ada kenangan yang mungkin hanya menjadi milikku abadi.

Aku meletakkan cincin tunang kami di meja yang menghalangi tempat dudukku dan Bang Imran.

“Insyallah barang- barang lain serta uang untuk menikah akan menyusul.” Ucapkan sambil berdiri dan melangkah meninggalkan Bang Imran yang masih duduk ditempatnya.

Ada rasa lega setelah melepas cincin bertunang yang menjadi belenggu raung waktu yang menyiksa batihinku.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ruang Waktu

Memerah mataku menatap status WA dari aplikasi yang akhir – akhir ini menjadi fokusku. Statusnya hari ini sungguh melukai harga diriku. ...