Memerah mataku menatap status WA dari aplikasi yang akhir – akhir ini menjadi fokusku.
Statusnya
hari ini sungguh melukai harga diriku.
Secepat
kilat aku mengetik kalimat untuk mengomentarinya.
“Kami hanya rekan kerja
tidak lebih, jangan berlebiha curiga Abang tidak suka.” Kalimat Bang Imran
teringat olehku.
Itu
sepekan lalu, aku menujukkan status dari teman sekantor Bang Imran yang aku
rasa sudah tidak bisa ditoleri lagi.
Aku yang
tunangan Bang Imran saja malu untuk memasang status seperti itu, apalagi Bang
Imran selalu mengingatkan kami baru bertunang.
Aku
menghapus kembali chat yang sudah aku tulis.
Aku
menghela napas berat, meletakkan HP pada meja kecil yang terletak disamping
ranjangku.
Malam
minggu seharusnya kami berbicara banyak tentang hubungan kami yang sebentar
lagi menuju pelaminan.
Chat Bang Imran tadi sore menggatakan tidak bisa datang karena ada jamuan makan di kantornya.
Aku
pernah menanyakan kenapa Bang Imran tidak lagi mengajakku jika ada jamaun di
kantornya.
“jangan terlalu diexpose
hubungangan kita, takutnya ada mata jahat sehingga hubungan kita renggang.” Ucap Bang Imran kala itu
“Bukannya Abang takut
perempuan di luar sana tahu Abang sudah bertunang atau Abang malu dengan
tunangan Abang.” Ucapku
sinis kala itu
“Mas orang bertunang banyak
cobaan, Abang hanya ingin hubungan kita tenang sampa pada akad nikah nanti.” Tenang Bang Imran berkata.
Pembawaan
tenang Bang Imran inilah yang membuatku luluh ketika Bang Imran mendekatiku.
Kegagalan
rumah tangga Ayah Ibu membuatku menjaga jarak dengan mahluk bernama lelaki.
Pembawaanku
yang dulu cendrung pendiam berubah seribu persen ketika Ayah Ibu mengatakan
mereka ingin berpisah.
Cara
berontakku dengan menjadi sosok ketus dan pembangkang semakin kental sewaktu
Ayah menikah kembali dalam waktu yang cukup singkat setelah berpisah dengan
Ibu.
Aku
selalu mengatakan Ibu terlalu lemah terhadap Ayah.
Kedominan
Ayah selalu membuat Ibu yang benar menjadi salah apalagi akhir mendekati waktu
perceraian mereka.
Aku yang anak semata wayang menjadi kecewa dengan keputusan Ayah yang mengatakan menginginkan anak lelaki sebagai penerus namanya.
Ayah yang
dulu tidak peduli padaku semakin tidak peduli dengan lahirnya adik satu Ayah
yang notabene lelaki.
Aku tidak
membenci sosok lelaki tapi aku menjaga diri dengan bersikap ketus karena tidak
ingin disakiti oleh makluk egois berjenis kelamin lelaki.
***
Aku
melirik jam tangan yang bertenger manis di tanganku.
Sudah
lewat satu jam aku menunggu, rasanya kesabaranku sudah menipis.
Aku
melangkahkan kaki untuk pergi, tidak ada niat untuk menunggu lagi.
Akhirnya
aku menstop taxi lewat, daripada menunggu dan berakhir seperti kemaren lusa aku
menunggu bagaikan orang bodoh, hanya chat yang mengabarkan dirinya tidak bisa
datang setelah aku berjamur menunggunya.
Suara
riuh tiba – tiba menjadi senyap ketika aku mengucapkan salam.
“Intan.”
suara Bang Imran mengema.
Aku
menatap lekat Bang Imran, pandanganku beralih kepada perempuan yang kata Bang
Imran hanya teman kantornya ada di sebelah Bang Imran.
Alda
bukan hanya teman sekantor Bang Imran, Alda juga temanku sewaktu kuliah.
Setelah
tamat Alda langsung menikah dengan suaminya yang merupakan rekan kantor Bang
Imran.
Bukannya
menutupi hubunganku dengan Alda tapi belum ada kesempatan untuk memberitahu
Bang Imran.
Hari ini
Alda menyambut pertambahan umurnya, sebelum aku mengatakan Alda mengundangku
Bang Imran sudah memberi kabar ingin mengajakku datang pesta kesalah satu
temannya.
Entah
lupa atau pura – pura lupa, janji Bang Imran ingin menjemputku tidak ditepati.
Padahal
aku sudah menelepon Bang Imran sejam, karena tidak diangkat aku menchat Bang
Imran mengatakan aku sudah siap dan menunggu kedatangan Bang Imran untuk
menjemputku pergi ke pesta.
“Maaf aku
terlambat Alda, aku tidak bisa lama hanya ingin memberikan ini.” Ucapku
berdalih.
Setelah
cipika cipiki dengan Alda aku pamit sambil lempar senyum kepada semua yang
hadir.
Langkah
lebarku membawa hatiku yang sakit, melihat rekan kerja Bang Imran malah
bergelayut manja dilengan Bang Imran.
Tidak ada
tanda – tanda Bang Imran menyusulku.
Untung
saja ada taxi yang lewat sehingga aku tidak perlu berlama – lama di depn resto
tempat pesta berlangsung.
Menghela
napas berat setelah taxi yang aku tumpangi berlalu meninggalkan sejuta sakit
yang mengigit.
***
Aku menatap langit kamar, suara HP yang memekak telinga tidak aku hiraukan.
Aku terus
bergelayut dengan pikiran yang tidak tentu arah.
Bertanya
kepada angin apa yang membuat Bang Imran seakan tidak mengenaliku sewaktu di
resto tadi.
Bahkan
tidak ada sedikitpun reaksi ketika aku mengatakan hanya datang untuk memberikan
hadiah yang terpaksa pergi karena masih ada pekerjaan yang menanti.
“Intan,
ada Imran di depan.” Suara Mak mengentuk pintu kamarku.
Dengan
malas aku bangun dari tidurku, membuka pintu memberikan senyum palsu kepada
Mak.
“Mak,
bilang saja Intan sudah tidur.” Ucapku memelas kepada Mak.
‘Intan
lelah Mak, besok Intan janji akan telpon Bang Imran.” Sekali lagi aku memohon
kepada Mak.
Tidak
lupa aku memasang wajah yang kelelahan setengah mati.
Akhirnya
Mak berlalu setelah mengingatkanku untuk menelopon Bang Imran besok pagi.
Aku
menutup pintu kamar setelah Mak berlalu dengan omelan yang tidak terima
bersubahat berbohong kepada Bang Imran mengatakan aku sudah tidur.
Menghempas
badanku ke kasur, berharap segala rasa kesal hilang bersama terhempaskan
badanku di kasur.
Menatap
sekilas kea rah HP-ku tapi enggan untuk meraihnya.
***
Masih
tergiang ditelingaku, ucapan Mak sebelum aku meninggalkan rumah.
“Jangan
lupa hubungi Imran, seperti Imran khawatir sekali dengan Intan.” senyum mirisku
mengingat ucapan Mak.
Alhamdulillah,
batinku setelah mematikan kendaran yang menghantarku sampai di tempat kerja.
“Pagi
Pak.” Ucapku pada Pak Satpam ramah.
Melangkah
riang mencoba menghilangkan rasa sesak yang menyangkut di dadaku.
Sejak aku
menghidupkan mesin kendaraanku, HP-ku berhenti berbunyi, bisa dipastikan Bang
Imran yang meneleponku.
Sekali
lagi HP-ku berbunyi, aku mengambilnya dari dalam tas, kan benar Bang Imran yang
berusaha menghubungiku.
Bukanya
mengangkatnya, aku malah mematikan HP-ku dan memasukkannya dalam tas kembali.
Lega
rasanya setelah mematikan HP, semoga hariku tidak seburuk perasaanku saat ini.
Memastikan
hatiku baik – baik saja, aku merapal doa sambil berjalan dengan yang lain masuk
ke dalam kantor.
***
Baru saja
aku ingin melangkahkan kaki keluar dari lobi kantor aku melihat Bang Imran
duduk di salah satu kursi yang disediakan disana.
Aku
memutar arah sebelum Bang Imran melihatku,
Mengambil
jalan samping, malas untuk bertemu dengan Bang Imran.
Nasib
sial menghadangku, suara Pak Satpam yang menegurku membuat Bang Imran menoleh
kearahku.
Dengan
langkah cepat aku menuju tempat parkir kendaranku.
Berharap
Bang Imran tidak dapat menyusulku.
Kendaraanku
tidak bersahabat, pakai acara mogok.
“Intan.”
suara yang tidak aku harapkan terdengar.
Dengan
terpaksa aku mengarahkan badan dan pandangan kepada Bang Imran.
Yang
sudah menyusulku ke tempat parkir.
“Intan
baik – baik saja.” Terdengar kaku suara Bang Imran.
Ada yang
berdenyut nyeri di dadaku, daging yang bernama hati tidak terima mendengar
suara canggung Bang Imran menyebut dan menanyakan kabarku.
“Hm.” Hanya suara itu yang mampu
aku keluarkan.
“Bisa kita bicara sebentar.” Ah bagaikan orang asing
yang bertanya arah suara Bang Imran.
“Intan baik – baik saja,
hanya lelah. Lain kali saja kita bicara.
Abang tentu juga lelah
seharian bekerja, kenapa juga memaksakan diri menyambangi Intan.” ucapku datar.
Aku
mengambil HP untuk memesan ojek serta melambaikan tangan kepada Pak Satpam yang
selalu setia membantuku jika kendaraanku merajuk kepadaku.
“Ada apa Bu Intan.” ucap Pak Satpam ramah
“Pak, seperti biasa saya
butuh Bapak untuk menservis motor saja yang merajuk.” Aku berusaha bercanda
tapi kedengaran garing.
Selesai
aku meminta bantuan Pak Satpan, ojek yang aku pesan datang.
Tanpa
membuang waktu aku mengambil helm yang diberikan dan makainya.
“Jalan
Sakura Indah Gg. Payah Indah Pak.” Perintahku pada ojek.
“Siap bu.” Kita jalan.
Tidak ada
usaha Bang Imran untuk mencegahku menaiki ojek hanya menatapku dengan tatapan
yang tidak bisa aku artikan.
Rasa
kecewaku bertambah besar terhadap Bang Imran.
***
Aku
memandang langit kamar, mengusir rasa kesal dengan kejadian tadi sore.
Ketukan
dipintu membuat keningku berkerut, tidak biasa Mak mengangguku jika aku sudah
masuk ke kamar untuk beristirahat.
Melangkah
lemah menuju pintu kamar, berusaha tersenyum dihadapan Mak.
“Ada Imran di depan.” Ucap Mak.
Aku
menghela napas berat, meraih jilbab instan tidak ingin keluargaku tahu kami ada
masalah.
Aku
menatap Bang Imran yang asik mengutak – atik HP-nya.
Kebiasaan
yang akhir – akhir ini sering dilakukan dan tidak peduli tempat.
Apalagi
jika kami sedang bersama, Bang Imran lebih focus dengan Hp-nya.
Jika aku
bertanya jawabanya, chat dari tempat kantor berdiskusi masalah kantor.
Dehemanku
mengalihkan perhatian Bang Imran, sebegitunya focus Bang Imran dengan Hp –nya
padahal aku sudah lima belas menit berada di dekatanya dan memperhatikan
senyumnya yang terbit ketika membaca chat dari HP-nya.
“Ada perlu apa Bang.” Ucap datar
Mengambil
tempat duduk yang berseberangan dengan tempat duduk Bang Imran.
“Abang yang seharus
bertanya, ada apa dengan Intan.
Kenapa Abang ditinggal sore
tadi.” Intonasi
Bang Imran meninggi.
“Abang bertanya kepada Intan, ada apa dengan
Intan. Intan baik – baik saja, Abang itu yang ada apa.
Maunya Abang apa, dua bulan
ini rasanya Abang menjaga jarak.
Selalu merasa sibuk,
padahal kesibukan Abang tidaklah seberapa.
Abang selalu merasa risih
berdekatan dengan Intan, lebih baik kita memikirkan bagaimana hubungan kita ini
tidak membuat kita merasa tersiksa.” Ucapku datar.
Aku sudah memikirkannya
masak – masak, bertahan dengan sakit selalu rasanya aku tidak sanggup.
Jika memang Abang merasa
kita lebih baik sendiri – sendiri Intan tidak masalah.” Ucapku panjang lebar.
Lega
rasanya setelah mengucapkan rasa yang menganjal di hatiku.
Aku
melihat Bang Imran terkejut dengan perkataanku.
Mulutnya
seperti ingin mengucapkan sesuatu tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulut
Bang Imran.
“Pulanglah Bang, rasanya tidak ada yang dapat Abang katakana jika hati Abang dalam kegundahan.” Ucapku setelah lebih 15 menit tidak ada kata yang terucap dari mulut Bang Imran.
Aku
berjalan menuju pintu depan, membukakan pintu untuk Bang Imran.
“Intan,
Abang.” Suara ragu Bang Imran terdengar
Aku
menghela napas berat.
“Pulanglah
Bang, Intan lelah.
Apapun
keputusan Abang Intan terima..”Ucapku
lagi.
Sejak
tadi aku mendengar nada sambung dari HP-nya Imran.
Diangkat
HP-nya Bang, kasian yang menelepon Abang. Cukup Intan saja yang Abang abaikan
kalau menelepon, sakit rasanya tidak diperhatikan.” Ucapku santai ketika
melihat berulang kali Bang Imran natap HP-nya.
Bang
Imran belum juga beranjak dari duduknya, kegelisahan jelas terlihat di wajah
Bang Imran.
“Ayah,
Bang Imran ingin bicara dengan Ayah.” Ucapku melihat Ayah melintas di ruang
tengah.
Kegugupan
jelas terlihat di wajah Bang Imran, aku tidak peduli.
Saat ini,
detik ini aku muak melihat wajah Bang Imran yang salah tingkah.
Aku
berlalu menuju kamarku ketika Ayah sudah berada di ruang tamu.
“Ada yang
ingin disampaikan Bang Imran Yah, penting katanya.” Ucapku ketika berpas –
pasan dengan Ayah di ruang tamu.
“Intan.”
suara Bang Imran terdengar.
Tapi aku
tetap melangkahkan kaki meninggalkan ruang tamu.
Aku
mengunci pintu kamarku, berharap tidak ada lagi drama yang mengetuk pintu
kamarku.
Tak lama
aku mendengar suara kendaraan Bang Imran meninggalkan rumah.
Helaan
napas berat lagi – lagi keluar dari hidungku.
***
Azan
subuh menjadi alaramku, mengeliatkan badan untuk mengusir rasa mengantuk.
Lewat jam
dua baru aku terlelap setelah semalaman memikirkan apa yang dikatakan Bang
Imran kepada Ayah.
Setelah
sholat aku melangkahkan kaki menuju dapur untuk membantu Mak menyiapkan sarapan
serta bekal untuk aku bawa ke kantor.
“Intan,
ada masalah dengan Imran.” Ucap Mak ditengah kami menyiapkan sarapan.
“Bang
Imran yang ada masalah dengan Intan Mak, apapun yang terjadi dengah pertunangan
kami Intan ridho.” Ucapku lelah.
“Intan
tak baik becakap tu, istifar Nak.
Resam
orang bertunang macam tu, banyak godaan.” Nasehat Mak kepadaku.
Setelah
sarapan aku pamit pada Ayah dan Mak untuk pergi kerja.
Langkahku
terhenti ketika melihat Bang Imran sudah berada dihalaman rumah.
Wajah kusut Bang Irman menandakan tidurnya tidak nyenyak.
“Kenapa
HP-nya mati intan.” terdengar suara Bang Imran.
Aku
menepuk dahiku, dari kemaren pagi aku lupa mengaktifkan HP-ku.
Aku
merongoh tas kerjaku untuk mengambil HP-ku.
Mengaktifkan
HP-ku didepan mata Bang Imran.
Seketika
itu banyak pesan serta telpn dari nomor Bang Imran.
“Terlalu
banyak pesan, rasanya Abang bisa memberikan inti dari apa yang ingin Abang
sampaikan kepada Intan.” Ucapku santai.
“Abang
minta maaf, Abang salah.
Abang
terlena dengan yang tak seharusnya, Intan. mungkin ini yang dikatakan orang tua
dulu cobaan dalam masa bertunang.
Senyumku
kecut, godaan orang bertunang kata Bang Imran.
Aku sudah
beberapa kali mengingatkannya tapi selalu aku yang dipersalahkan.
Bukannya
aku tidak tahu, pasti Bang Imran sudah mengetauhi belang saras teman
sekantornya itu.
Aku
sengaja mengirim fota saras yang sebenarnya sudah bersuami kepada Bang Imran
dengan menggunkan nomor tak dikenal Bang Imran.
Dengan
chat menuliskan alamat saras biar Bang Imran melihat kebenaran yang
disembunyikan saras dari Bang Imran selama ini.
Jangan
ditanya dimana aku mendapatkan informasi saras dari siapa, pastinya dari
temanku Alda.
Alda juga
mengatakan saras sudah diperingatkan dengan status Bang Imran yang sudah
bertunang.
Sarasnya
saja yang tak tahu diri, sudah menjadi istri orang masih saja menganggu pria
lajang seperti Bang Imran.
Bang
Imran bukan korban pertama, saras dipindahkan dari kantor pusat ke kantor
cabang karena ketahuan main api dengan atasanya dikantor pusat.
Walaupun
Bang Imran korban dari sikap culas Saras, aku yang tersakiti disini.
Rasanya
tidak mudah untuk menata hati yang telah tergores, butuh waktu lama untuk
menatanya kembali.
Jika saja
aku tidak mengirim info tentang Saras tentu Bang Imran akan terus terlena
dengan pesonanya.
“Intan,
Abang tidak mau kehilangan Intan. Abang mengaku salah, nabi saja memaafkan
umatnya Intan.” panjang kali lebar Bang Imran meminta maaf padaku.
“Intan bukan nabi Bang, berikan satu alasan untuk Intan memaafkan Abang.
Intan
sudah berulang kali mengingatkan Abang tentang saras yang katanya Abang hanya
teman itu.” Ucapku sinis dan ketus.
Hening,
aku benci dengan keheningan ini.
Yakin
seratus persen Bang Imran pasti tidak menemukan alasan untuk menjawab
pertanyaanku.
Tidak
mungkin Bang Imran berani mengatakan kalau saras sudah bersuami kepadaku, harga
diri Bang Imran pasti jatuh karena aku sudah berkali – kali mengigatkannya
masalah saras.
“Sudahlah Bang, Intan bukan
pilihan terbaik untuk Abang.
Intan sadar dengan
kekurangan Intan.
Daripada kekurangan Intan
Abang ungkit setelah kita menikah rasanya akan lebih menyakitkan . “ helaan napas berdengar
ketika ucapanku berakhir.
Aku tidak
ingin melihat reaksi Bang Imran atas apa yang aku ucapkan.
Aku lebih
memilih melihat ke arah bawah, hanya desahan berat terdengar dari mulut Bang
Imran.
Aku
melepas cincin bertunang yang selama setahun ini bertahta manis di jari
manisku.
Tinggal
sebulan lagi kami akan naik pelamin, ada rasa berat untuk melepaskan.
Rentang
waktu yang cukup membuatku menangis dalam hati mengenang ada kenangan yang
mungkin hanya menjadi milikku abadi.
Aku
meletakkan cincin tunang kami di meja yang menghalangi tempat dudukku dan Bang
Imran.
“Insyallah
barang- barang lain serta uang untuk menikah akan menyusul.” Ucapkan sambil
berdiri dan melangkah meninggalkan Bang Imran yang masih duduk ditempatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar