Senin, 13 April 2026

Hatiku

 

Langkahku terhenti, bola kaki warna warni menghentikan langkahku.

Aku mengangkat kepala mencari sosok pemilik bola berwarna – warna.

Sedari tadi aku menundukkan kepala akan mencari uangku yang hilang saja.

Rasanya aku tidak punya muka untuk menatap orang – orang yang berada disekitarku setelah kejadian naas sejam yang lalu.

Andai saja ada pintu doraemon tentu aku akan menggunakannya untuk pergi ke negeri antah berantah.

Sungguh kesal rasanya jika mengingat kejadian sejam yang lalu.

Tiba – tiba saja aku yang lagi menunggu ojek online pesananku tertiban sial.

Bagaimana tidak sial, satu termos air tahu dingin tumbah oleh seorang lelaki dewasa karena ban motor yang dtumpanginya oleng.

Dan hari ini aku mandi air tahu, jika yang tumpah air susu mungkin lain ceritanya.

Untung saja ojek online tiba, sebenarnya ojek online tidak ingin mengantarku karena badanku basah kuyup.

Untung saja lelaki yang menumpahkan air tahu ke tubuhku bersikeras memaksa ojek online untuk mengantarkanku dengan memberikan bayaran yang lebih dari biasanya.

Dingin tubuhku tidak terasa karena rasa malu yang membakar hatiku.

Ada dua lampu merah yang dilalui membuat aku objek pemandangan yang begitu mengusik hatiku.

“Berhenti di depan ya Bang.” Ucapku setelah hampir setengah jam kami melewati jalan ke rumahku.

Malu, sampai aku lupa mengucapkan terima kasih seperti kebiasanku setiap hari selalu mengucapkan terima kasih.

“Han, kenapa basah? Hari tidak hujan.” Ucap Ibu ketika aku melintas di depannya untuk menuju kamarku.

Malas untuk menjawab pertanyaan Ibu aku menambah volume langkahku menjadi berlari untuk sampai ke kamarku.

Bum, suara pintu kamar yang aku tutup dengan kencang untuk meluapkan kekesalanku.

Menatap langit kamar, dua sholat sudah berlalu.

Lebih dari 4 jam aku mengurung diri setelah sampai di rumah sore tadi.

Kejadian hari ini sungguh membuat hatiku remuk redam.

Pertama mendapatkan kemarahan dari kepala sekolah karena kesalahan yang tidak aku perbuat.

Walaupun kepsek sudah memanggil sebelum jam pulang tapi hatiku sudah terlanjut patah.

Entah maksud apa hasil print pinjerku tertukar dengan salah satu guru yang reputasi kehadiran bisa dikatakan terlambat setiap hari.

Kedua entah dari nomor siapa yang menerorkan dengan gambar – gambar tunanganku yang lagi bermesraan dengan mantan terindah sebelum mengikatku dalam tali pertunangan karena perjodohan orangtua.

Ketiga tertumpah air tahu yang seharunya menghilangkan dahaga di saat lelahnya bekerja.

“Suhaila binti Amran dah malam makan.” Gedoran keras dipintu disertai teriakan Mak yang memekakkan teliga terdengar berulang kali.

Rasa laparku menguap mengingat kejadian dari pagi hingga sore hari.

Ting, suara notifikasi masuk di smarphoneku.

Paling foto tunanganku lagi, batinku malas.

Memilih mengisi perutku yang sudah menjerit dari sore daripada melayan orang yang tak jelas memberikan informasi hoak.

Wajah tak sedap Mak terpampang jelas ketika aku membuka pintu kamarku.

Cepat aku melangkah meninggalkan Mak daripada mendengarkan ocehan dari mulut Mak yang menambah resah hatiku.

***

“Bang tolong kasih tahu mantan abang untuk tidak meneror Ila dengan alasan yang tidak jelas.” Chatku kepada Anwar tunanganku.

Tulisku setelah mengirim foto – foto yang dari semalam memenuhi galeri fotoku.

Waktu zuhur yang panjang serta tidak adanya jam mengajar sebelum 2 jam terakhir aku masuk kelas aku gunakan untuk mengechat tunangan hasil perjodohan.

“Jangan menuduh sembarang nanti jadi fitnah.” Balasan secepat kita aku terima dari Bang Anwar tunanganku.

Helaan nafasku terdengar kasar, baru satu kata aku mengetik kalimat smarphoneku memperlihatkan ada panggilan masuk dari Bang Anwar.

“Assalamualikum Bang.” Ucapku setelah mendengar salam dari seberang sana.

“Walaikum salam.” Terdengar suara Bang Anwar menjawab salamku.

‘Ila selalu salah dimata Bang Anwar, maaf menganggu ketenangan Abang. Ila mau masuk kelas. Nanti lagi kita bicara.” Ucapku ketus sambil memutus sambungan telephone kami.

Sekali lagi helaan nafas keras terdengar dari mulutku.

Aku memfokuskan pikiran pada laptop yang memaparkan aplikasi untuk membuat lembar kerja peserta didik.

Aku selalu hilang dari kesenangan membuat tugas – tugas untuk mengupgrade diri dalam proses pembelajaran.

“Bu Ila ada yang mencari.” Fokusku terganggu dengan pemberitahuan dari pesuruh sekolah.

Aku mengangkat kepala melihat siapa yang mencariku.

Sosok besar tinggi dengan senyum yang menawan melihat kearahku.

Senyum itu menjadi salah satu factor aku menerima perjodohan ini.

Bang Anwar berjalan menuju mejaku dan menempati kursi yang tersedia di depan mejaku.

“Katanya masuk kelas, sudah pandai berbohong.” Ucap ketus Bang Anwar.

Ah sial aku lupa kalau Bang Anwar punya jadwal mengajarku.

Aku hanya tersenyum tipis.

“Daripada ribut, lebih baik berbohong sunat.” Ucapku membela diri.

“Siapa yang ribut.” Ucap Bang Anwar tidak mau kalah.

“Tetangga sebelah.” Ucapku asal.

“Abang bukan mau membela Intan, belum tentu juga Intan yang mengirim foto – foto itu Ila.” Ucap Bang Anwar lembut.

“Bang Ila masih bekerja, nanti saja kita bicaranya.” Ucapku sambil melirik beberapa guru yang memandang kearah kami.

Deg, jantungku berdegup kencang melihat Intan masuk ruangan majelis guru.

Intan satu sekolah denganku, dari dulu kami tidak pernah akur tapi aku selalu berpikiran postif terhadap Intan.

Penampilan kami jauh bagai bumi dan langit, aku tertutp dengan jilbag lebar sementara Intan selalu terlihat sexy bak model.

Untuk jawah kata teman – teman aku lebih dari Intan tapi yang Namanya cantik itu relative menurutku.

Bang Anwar mengalihkan tatapanya dari melihat diriku melihat sumber suara yang menyapanya.

Intan, selalu supel dan ramah, batinku nelangsa.

“Assalamualaiku Intan, bukan hai.” Ucap Bang Anwar

“Maaf yang sudah tunangan dengan santri tidak mau lagi di hallokan.” Ucap Intan sambil mengambil posisi di sebelah Bang Anwar duduk.

“Konsultasi anak siapa Bang, perasaan tidak ada ponaan Abang yang sekolah di sekolah kami.” Sindir Intan.

Ya aku wali kelas yang rajin berkomunikasi dengan orangtua murid.

Dua kali saja siswaku tidak masuk tanpa alasan aku akan memanggil orangtua siswa, itu aku lakukan untuk pembinaan yang aku rasa wajar saja.

Walaupun aku tahu sebagaian besar teman guruku menganggap itu berlebihan.

Aku tidak menerima jika ada orangtua yang mengechat lewat WA untuk ketidakhadiran anakknya disekolah aku selalu meminta surat sebagai bukti outentik seperti peraturan sekolah yang tertuang.

Jika tidak aku meminta video call untuk memastikan keadaan siswaku, baru setelah itu meminta orangtua tetap menulis surat yang akan diserahkan kepadaku keesokkan hari ketika siswa itu masuk sekolah.

Sedangkan untuk ketidakhadiran melebihi 3 hari harus ada surat dokter.

Bukanya kejam tapi kejahatan melalui aplikasi WA sudah banyak jikah hanya chat saja dan itu sudah terjadi pada diriku setahun yang lalu.

Chat yang mengatakan siswaku sakit, ternyata yang mengirim chat adalah siswanya sendiri untuk melegalkan dirinya tidak masuk di dalam kelas.

Intan masih saja mencari perhatian dengan Bang Anwar sudah dua kali aku bertanya kepada Bang Anwar mengapa menyetujui perjodohan kami.

Bukan sekali dua aku melihat Bang Anwar masih bersikap manis kepada Intan begitu sebaliknya Intan selalu bersikap manja kepada Bang Anwar.

Seperti saat ini Intan tanpa malu duduk disamping Bang Anwar kursi yang memang tersedia di depan setiap meja wali kelas seperti diriku yang selalu digunakan jika memproses siswa yang bermasalah.

“Ila pasti cemburu melihat Aku duduk disamping Bang Anwar.” Ucap Intan dengan suara manjanya.

Walaupun Aku tahu itu hanya candaan tapi sungguh siapa yang tidak cemburu tunangannya digoda didepan muka.

“Maaf, rasanya Pak Anwar ingin konsultasi dengan Bu Intan. Bukan Begitu Bu Humas.” Ucapku menyindir.

Aku melihat muka Bang Anwar merah seketika, sedangkan Intan masih dengan gaya sok sucinya menampakkan senyum manis yang menjijikkan.

“Maaf Bu Intan, Saya ingin membicarakan masa depan anak – anak kami kelak. Bisa Bu Intan memberikan kami ruang untuk berbicara berdua.” Aku terkejut mendengar ucapan Bang Anwar.

Seketika wajah Bu Intan menjadi merah padam karena emosi dan langsung meninggalkan kami dengan membuat kegaduhan suara kursi yang dengan sengaja di sentak kuat oleh Bu Intan.

Guru yang tepat berada disebelahku langsung menatap kami karena suara kegaduhan yang diciptakan Bu Intan.

Itu membuatku tidak nyaman dan menghela napas kuat.

“Abang pulang dulu nanti kita bicara lagi.” Ucapku pelan seakan takut semutpun dengarkan ucapanku.

“Janji dulu sama Bang Anwar kita benar bicara setelah Ila selesai mengajar, atau abang tunggu Ila di parkiran. Hanya tinggal 15 menit kan waktu pulangnya.” Dengan penuh penekanan Bang Anwar berbicara.”

Daripada menciptakan drama lagi aku anggukan kepala lemah terpaksa mengiyakan ucapan Bang Anwar.

***

Helaan napasku berat, melihat keberadaan Bang Ila diparkiran.

“Motor Ila sudah Abang antar kerumah, kita menggunakan menggunakan mobil Abang saja. Abang sudah izin sama Abah untuk mengajak Ila keluar sebelum magrib Abang antar Ila pulang.” Lagi – lagi helaan napasku terdengar.

Tidak usah ditanyakan bagaimana caranya Bang Anwar menstater motorku, setelah lonceng berbunyi aku kehilangan kunci motorku yang aku letakkan di mejaku.

Terjawab sudah kehilangan kunci motorku yang sempat membuatku lima menit mencarinya.

Seperti biasa jika aku tanpa sengaja meninggalkan kunci motor akan disimpan Pak Satpam di pos satpam.

Berjalan beriringan kami menuju mobil Bang Anwar yang terparkir sempurna di parkiran mobil.

Hanya ada ada dua mobil yang terparkir disana, milik Kepsek dan Bu Intan.

Ya Bu Intan anak orang terpandang di kota kami.

Bang Anwar membukakan pintu mobil dan mempersilakan aku masuk, setelahnya Bang Anwar menuju pintu supir.

Selama perjalanan hanya keheningan yang terasa, tidak ada salah satu darikami yang membuka percakapan.

Mobil menuju salah satu tempat keramaian yang ada di kota kami.

“Ila mau cendol atau air kepala.” Suara Bang Anwar memecah keheningan kami.

Aku menatap laut luas, tempat yang dipilih Bang Anwar adalah resto yang berada di atas air ditepi pantai.

“Disamakan saja dengan Abang.” Ucapku malas.

“Abang hanya ingin bicara dengan Ila tidak minum.” Canda Bang Anwar.

“Kalau begitu bicaralah setelah bicara antar Ila pulang.” Ucapku jengkel.

“Ila, Abang hanya bercanda. Ayolah kita nikmati sore ini.” Ucap Bang Anwar merayuku.

Sungguh aku lagi Lelah badan dan pikiran, ingin pulang berbersih diri dan merebahkan badan dikamarku. Itu saja yang aku butuhkan.

Terlalu banyak drama setelah bertunang dengan Bang Anwar membuatku lelah,

“Ayolah Ila jangan marah terus.” Ucap Bang Anwar

Aku tetap berdiam diri.

Tatapanku menjadi tajam ketika aku melihat Bu Intan dengan santai masuk ke dalam resto tempat kami berada.

Bagaimana bisa? batinku bertanya.

Bang Anwar memperhatikan tatapanku dan keterkejutan Bang Anwar nyata ketika arah pandang matanya melihat Bu Intan yang melangkah santai ke arah kami.

“Hai, kolega kita jumpa lagi. Ternyata bersama mantan terindah.” Terkekeh kecil Bu Intan ketika menyapa kami.

“Gabung bersama kami saja Bu Intan daripada sendiri.” Ucapku dengan kesal

“Maaf saya hanya mau berdua dengan tunangan saya, Bu Intan silakan meja sendiri sebaiknya cari meja yang agak jauh dari meja kami.” Ucap Bang Anwar ketus.

Aku menatap Bang Anwar terkejut mendengar intonasi suara yang tidak ramah kepada Bu Intan.

Dasar tidak tahu malu, Bu Intan bukannya pergi malah mengambil posisi duduk disebelah Bang Anwar.

“Maaf saya permisi.” Ucapku sambil berdiri dan meninggalkan meja kami.

Bang Anwar mengeser kursi tempat duduknya dengan kesal dan menyusulku.

“La, jangan marah sumpah Abang tidak tahu kenapa Intan sampai ada disini.” Ucap Bang Anwar cemas.

“Ila tahu Intan mengikuti kita sejak dari sekolah, sebaiknya Abang selesaikan urusan Abang sama mantan terindah Abang yang belum move on.

Hubungan kita pasti akan penuh drama jika Abang belum menyelesaikannya secara tuntas.” Ucapku kesal.

Akhirnya kami pulang kerumah, sesampainya di rumah Aku meninggalkan Bang Anwar dengan Abah yang kebetulan sedang duduk santai menikmati kopi sorenya ditemani Mak.

Kebiasa kedua orangtuaku yang menjadi harapanku jika kelak berrumah tangga akan mengambil moment sore berdua setelah lelah bekerja seharian.

Azan magrib bergema, aku membangunkan badan dari baring santaiku menuju ke kamar mandi untuk menjalankan kewajiban sebagai umat beragama.

Setelah magrib aku keluar kamar untuk membantu Mak menyiapkan makam malam kami.

Sungguh aku terkejut melihat Bang Anwar masih di rumah.

“Kita makan dulu setelah itu selesaikan urusan kalian.” Perintah Abah.

Helaan napas sering terdengar dari mulutku sejak 6 bulan bertunang dengan Bang Anwar.

Hening, biasanya akan ada obrolan ringan di meja makan.

Entah Aku atau Abah yang bertanya yang membuat hangat suasana makan malam keluarga kami.

Tapi saat ini tidak ada yang angkat bicara, hening sepi.

Aku sengaja mengangkat piring kotor ke zink pencucian untuk mengulur waktu.

Rasanya ingin di telan bumi saja daripada harus berhadapan dengan Bang Anwar saat ini.

“Ila, tinggal pekerjaan itu dengan Mak. Selesaikan urusan kalian.” Ucap ayah tegas.

Dengan malas aku meletakkan piring dan mengiring Bang Anwar ke ruang tamu.

Posisi kami berhadapan dihalangi meja tamu.

Bang Anwar menatapku, aku lebih memilih melihat meja yang berada di depan kami dengan hati merapal asma Allah.

“Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar.” Terus aku mengucapkannya dalam hati.

“Ila, Bang tahu Ila terganggu dengan tingkah Intan, tapi percaya sama Abang kami sudah selesai ketika Intan mendua.” Aku mengangkat kepala menatap terkejut kea rah Bang Anwar.

“Sebulan ini, Intan beberapa kali menghubungi Abang mengatakan menyesal dan ingin memperbaiki hubungan kami. Tapi Abang menolak, tapi karakter Intan yang pantang menyerah bukan salah Abang.

Abang mohon Ila mempertahankan Abang, ini bukan hanya perjodohan semata buat Abang.

Rasa sayang dan cinta itu perlahan tumbuh dihati Abang untuk Ila.

Dan Abang harap perasan yang sama juga ada di hati Ila untuk Abang.

Kita akan menghadapi cobaan orang bertunang bersama -sama, Ila maukan?” suara Abang Anwar  memintaku penuh harap.

Menjatuhkan pandanganku dari wajah Bang Anwar hatiku masih bimbang, semuanya terasa tidak kena aku tidak ingin terus merasa sakit dengan rasa sayang dan cinta yang tumbuh buat Bang Anwar.

“Ila, Abang mohon jangan menundukkan terus membuat Abang merasa Ila tidak ingin memperjuangan pertunangan kita.” Suara yang sarat keputusaan terdengar dari mulut Bang Anwar.

“Beri Ila sepekan untuk berpikir.” Ucapku mantap.

“Sebaiknya Abang pulang sudah terlalu lama Abang di rumah Ila, apa kata tetangga nanti. Kita baru bertunang belum nikah masih banyak yang harus kita jaga.” Ucapku pelan.

“Abang akan pulang dan memberikan waktu untuk Ila. Sepekan ini Abang tidak akan menghubungi Ila. Abang akan menunggu Ila yang menghubungi Abang. Semuanya keputusan Abang serahkan kepada Ila.

Tanpa menunggu aku beraksi Bang Anwar baangun dari duduknya mencari keberadaan orangtuaku untuk pamit.

Aku masih terpaku ditempat dudukku, memilah hatiku bertanya apakah keputusan sudah tepat.

***

Berlalu empat, tersisa 3 hari lagi.

4 malam ini aku bermunajab pada Pemilik Hati dan Kehidupan untuk diberikan petunjuk.

Sejak pagi aku terpikirkan Bang Anwar ada rasa kosong yang tiba – tiba menyergap hati dan pikiranku.

Lincah tanganku mencari no smartphone milik Bang Anwar.

“Assalamualikum Ila? Mengema suara dari seberang

Ya Allah apa yang aku lakukan, batinku tersentak mendengar suara Bang Anwar dari seberang sana.

Gelisah tentu saja aku seperti orang linglung yang baru sadar telah menelepon Bang Anwar.

“Ila, Ila ada apa? Ada sesuatu yang terjadi.” Suara cemas Bang Anwar menembus pendengaranku.

“Bisa kita bicara setelah Abang pulang kerja? Akhirnya kalimat itu terucapkan olehku.

“Mau Abang jemput, atau kita ketemu dimana? Ucap Bang Anwar.

“Di rumah saja Bang, Indah tunggu. Assalamualaikum.” Ucapku memutus pembicaraan kami tanpa menunggu jawaban salam dari Bang Anwr.

Helaan napas berat terdengar dari mulutku, ada apa dengan hatiku.

Hari berlangsung terasa berat, tidak ada sejenakpun tanpa memikirkan Bang Anwar.

Untung saja hari ini  kelas yang aku ajar lagi Asesmen Formatif jika tidak entah apa yang aku jelaskan di depan kelas dengan kondisi hati yang galau kata anak sekarang.

*** 

Alhamdulillah aku sudah sampai di rumah, mataku menyipit melihat kendaraan Bang Anwar sudah terpakir cantik di depan rumah.

Wajah cemas Bang Anwar menggelitik hatiku, senyum kecil tersungging sempurna di wajahku.

Aku menetralkan wajahku sebelum Bang Anwar melihat senyumku.

“Assalamualaikum Bang, sudah lama? Tidak kerja?” ucapku beruntun.

“Izin cepat pulang, ada apa Ila. Sejak Ila menelepon Abang tidak focus bekerja.” Ucap Bang Anwar memelas.

“Ila ganti baju dulu, gerah.” Ucapku santai

Sementara Bang Anwar melihatku dengan kesal tidak bisa berbuat apa – apa selain menungguku.

Setengah jam aku membiarkan Bang Anwar menungguku.

“Abang diminum dulu sirupnya.” Ucapku

Aku mengambil tempat duduk di depan Bang Anwar dan menundukkan kepala tidak mau melihat wajah Bang Anwar.

“Abang permisi, Assalamualaikum.” Ucap Bang Anwar

Aku secepat kilat mengangkat kepalaku, menatap Bang Anwar.

“Ila belum bicara Bang.” Ucapku gugup

“Abang sudah tahu apa yang mau Ila bicarakan. Semua pemberian Abang menjadi hak Ila tidak perlu dikembalikan Abang ikhlas. Sampaikan salam dengan orangtua Ila.” Ucap Bang Anwar sambil melangkah menuju pintu ruang tamu.

“Bang, Abang bukan peramal yang bisa membaca pikiran Ila, 4 hari ini Abang sabar menunggu keputusan Ila kenapa baru satu jam ini tidak.” Ucapku lembut.

“Sikap Ila sudah menjawab semuanya, percuma Abang berharap pada orang yang tidak mengharapkan Abang.” Ucap Bang Anwar emosi.

Lucu melihat Bang Anwar merajuk sedemikian rupa, lelaki yang selalunya tegas dan tidak bertele -tele akan terlihat lemah jika menghadapi wanita yang dicintainya.

Hatiku Bahagia ternyata aku bisa meluluhkan hati Bang Anwar.

“Abang tidak mau memperjuangan hubungan kita, kata Mak cobaan orang bertunang banyak sampai ke hari pernikahan. Mari kita berjuang bersama.” Ucapku lembut.

Bang Anwar menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatapku tajam.

“Ila jangan mempermainan Abang.” ucapnya ketus.

Ucapan dan tatapan mata Bang Anwar tidak sinkron tatapan penuh bahagia mendengar ucapku serta senyum yang menambah percaya diriku kalua Bang Anwar tidak marah padaku hanya kesal dengan sikapku yang sepertinya mempermainkan perasaan Bang Anwar.

“Kita keluar untuk quality time Abang mau?” ajakku malu – malu.

Heran aku melihat Bang Anwar melewatiku menuju ruang tengah rumah dimana Abah dan Mak lagi menikmati sore mereka.

“Abah Mak, Anwar izin mau ajak Ila makan malam di luar. Sebelum pukul 9 malam Anwar antar Ila pulang.” Ucap Bang Anwar.

“Tak terlalu cepat balik pukul 9 War.” Ucap Mak menimpali

Ah mak selalu mengada – ada, bantiknku mendengar suara Mak dari tengah rumah.

Untung aku sudah bersiap diri jadi tinggal berangkat saja.

Senyum mengembang tercetak jelas dari wajah Bang Anwar ketika Kembali keruang tamu.

Hatiku tersenyum melihat Bang Anwar tersenyum dengan kode mata aku berdiri mengiringi Langkah Bang Anwar untuk quality time kata seperti kataku tadi.***


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Hatiku

  Langkahku terhenti, bola kaki warna warni menghentikan langkahku. Aku mengangkat kepala mencari sosok pemilik bola berwarna – warna. S...