Langkahku terhenti, bola kaki warna warni menghentikan langkahku.
Aku
mengangkat kepala mencari sosok pemilik bola berwarna – warna.
Sedari
tadi aku menundukkan kepala akan mencari uangku yang hilang saja.
Rasanya
aku tidak punya muka untuk menatap orang – orang yang berada disekitarku
setelah kejadian naas sejam yang lalu.
Andai
saja ada pintu doraemon tentu aku akan menggunakannya untuk pergi ke negeri
antah berantah.
Sungguh
kesal rasanya jika mengingat kejadian sejam yang lalu.
Tiba –
tiba saja aku yang lagi menunggu ojek online pesananku tertiban sial.
Bagaimana tidak sial, satu termos air tahu dingin tumbah oleh seorang lelaki dewasa karena ban motor yang dtumpanginya oleng.
Dan hari
ini aku mandi air tahu, jika yang tumpah air susu mungkin lain ceritanya.
Untung
saja ojek online tiba, sebenarnya ojek online tidak ingin mengantarku karena
badanku basah kuyup.
Untung
saja lelaki yang menumpahkan air tahu ke tubuhku bersikeras memaksa ojek online
untuk mengantarkanku dengan memberikan bayaran yang lebih dari biasanya.
Dingin
tubuhku tidak terasa karena rasa malu yang membakar hatiku.
Ada dua
lampu merah yang dilalui membuat aku objek pemandangan yang begitu mengusik
hatiku.
“Berhenti
di depan ya Bang.” Ucapku setelah hampir setengah jam kami melewati jalan ke
rumahku.
Malu,
sampai aku lupa mengucapkan terima kasih seperti kebiasanku setiap hari selalu
mengucapkan terima kasih.
“Han,
kenapa basah? Hari tidak hujan.” Ucap Ibu ketika aku melintas di depannya untuk
menuju kamarku.
Malas
untuk menjawab pertanyaan Ibu aku menambah volume langkahku menjadi berlari
untuk sampai ke kamarku.
Bum, suara pintu kamar yang aku tutup dengan kencang untuk meluapkan kekesalanku.
Menatap
langit kamar, dua sholat sudah berlalu.
Lebih
dari 4 jam aku mengurung diri setelah sampai di rumah sore tadi.
Kejadian
hari ini sungguh membuat hatiku remuk redam.
Pertama
mendapatkan kemarahan dari kepala sekolah karena kesalahan yang tidak aku
perbuat.
Walaupun
kepsek sudah memanggil sebelum jam pulang tapi hatiku sudah terlanjut patah.
Entah
maksud apa hasil print pinjerku tertukar dengan salah satu guru yang reputasi
kehadiran bisa dikatakan terlambat setiap hari.
Kedua
entah dari nomor siapa yang menerorkan dengan gambar – gambar tunanganku yang
lagi bermesraan dengan mantan terindah sebelum mengikatku dalam tali
pertunangan karena perjodohan orangtua.
Ketiga
tertumpah air tahu yang seharunya menghilangkan dahaga di saat lelahnya
bekerja.
“Suhaila
binti Amran dah malam makan.” Gedoran keras dipintu disertai teriakan Mak yang
memekakkan teliga terdengar berulang kali.
Rasa
laparku menguap mengingat kejadian dari pagi hingga sore hari.
Ting,
suara notifikasi masuk di smarphoneku.
Paling
foto tunanganku lagi, batinku malas.
Memilih
mengisi perutku yang sudah menjerit dari sore daripada melayan orang yang tak
jelas memberikan informasi hoak.
Wajah tak
sedap Mak terpampang jelas ketika aku membuka pintu kamarku.
Cepat aku
melangkah meninggalkan Mak daripada mendengarkan ocehan dari mulut Mak yang
menambah resah hatiku.
***
“Bang
tolong kasih tahu mantan abang untuk tidak meneror Ila dengan alasan yang tidak
jelas.” Chatku kepada Anwar tunanganku.
Tulisku
setelah mengirim foto – foto yang dari semalam memenuhi galeri fotoku.
Waktu
zuhur yang panjang serta tidak adanya jam mengajar sebelum 2 jam terakhir aku
masuk kelas aku gunakan untuk mengechat tunangan hasil perjodohan.
“Jangan
menuduh sembarang nanti jadi fitnah.” Balasan secepat kita aku terima dari Bang
Anwar tunanganku.
Helaan
nafasku terdengar kasar, baru satu kata aku mengetik kalimat smarphoneku
memperlihatkan ada panggilan masuk dari Bang Anwar.
“Assalamualikum Bang.” Ucapku setelah mendengar salam dari seberang sana.
“Walaikum
salam.” Terdengar suara Bang Anwar menjawab salamku.
‘Ila
selalu salah dimata Bang Anwar, maaf menganggu ketenangan Abang. Ila mau masuk
kelas. Nanti lagi kita bicara.” Ucapku ketus sambil memutus sambungan telephone
kami.
Sekali
lagi helaan nafas keras terdengar dari mulutku.
Aku
memfokuskan pikiran pada laptop yang memaparkan aplikasi untuk membuat lembar
kerja peserta didik.
Aku
selalu hilang dari kesenangan membuat tugas – tugas untuk mengupgrade diri
dalam proses pembelajaran.
“Bu Ila
ada yang mencari.” Fokusku terganggu dengan pemberitahuan dari pesuruh sekolah.
Aku
mengangkat kepala melihat siapa yang mencariku.
Sosok
besar tinggi dengan senyum yang menawan melihat kearahku.
Senyum
itu menjadi salah satu factor aku menerima perjodohan ini.
Bang
Anwar berjalan menuju mejaku dan menempati kursi yang tersedia di depan mejaku.
“Katanya
masuk kelas, sudah pandai berbohong.” Ucap ketus Bang Anwar.
Ah sial
aku lupa kalau Bang Anwar punya jadwal mengajarku.
Aku hanya
tersenyum tipis.
“Daripada
ribut, lebih baik berbohong sunat.” Ucapku membela diri.
“Siapa
yang ribut.” Ucap Bang Anwar tidak mau kalah.
“Tetangga
sebelah.” Ucapku asal.
“Abang
bukan mau membela Intan, belum tentu juga Intan yang mengirim foto – foto itu
Ila.” Ucap Bang Anwar lembut.
“Bang Ila
masih bekerja, nanti saja kita bicaranya.” Ucapku sambil melirik beberapa guru
yang memandang kearah kami.
Deg,
jantungku berdegup kencang melihat Intan masuk ruangan majelis guru.
Intan
satu sekolah denganku, dari dulu kami tidak pernah akur tapi aku selalu
berpikiran postif terhadap Intan.
Penampilan kami jauh bagai bumi dan langit, aku tertutp dengan jilbag lebar sementara Intan selalu terlihat sexy bak model.
Untuk
jawah kata teman – teman aku lebih dari Intan tapi yang Namanya cantik itu
relative menurutku.
Bang
Anwar mengalihkan tatapanya dari melihat diriku melihat sumber suara yang
menyapanya.
Intan,
selalu supel dan ramah, batinku nelangsa.
“Assalamualaiku
Intan, bukan hai.” Ucap Bang Anwar
“Maaf
yang sudah tunangan dengan santri tidak mau lagi di hallokan.” Ucap Intan
sambil mengambil posisi di sebelah Bang Anwar duduk.
“Konsultasi
anak siapa Bang, perasaan tidak ada ponaan Abang yang sekolah di sekolah kami.”
Sindir Intan.
Ya aku
wali kelas yang rajin berkomunikasi dengan orangtua murid.
Dua kali
saja siswaku tidak masuk tanpa alasan aku akan memanggil orangtua siswa, itu
aku lakukan untuk pembinaan yang aku rasa wajar saja.
Walaupun
aku tahu sebagaian besar teman guruku menganggap itu berlebihan.
Aku tidak
menerima jika ada orangtua yang mengechat lewat WA untuk ketidakhadiran
anakknya disekolah aku selalu meminta surat sebagai bukti outentik seperti
peraturan sekolah yang tertuang.
Jika
tidak aku meminta video call untuk memastikan keadaan siswaku, baru setelah itu
meminta orangtua tetap menulis surat yang akan diserahkan kepadaku keesokkan
hari ketika siswa itu masuk sekolah.
Sedangkan
untuk ketidakhadiran melebihi 3 hari harus ada surat dokter.
Bukanya
kejam tapi kejahatan melalui aplikasi WA sudah banyak jikah hanya chat saja dan
itu sudah terjadi pada diriku setahun yang lalu.
Chat yang
mengatakan siswaku sakit, ternyata yang mengirim chat adalah siswanya sendiri
untuk melegalkan dirinya tidak masuk di dalam kelas.
Intan
masih saja mencari perhatian dengan Bang Anwar sudah dua kali aku bertanya
kepada Bang Anwar mengapa menyetujui perjodohan kami.
Bukan
sekali dua aku melihat Bang Anwar masih bersikap manis kepada Intan begitu
sebaliknya Intan selalu bersikap manja kepada Bang Anwar.
Seperti
saat ini Intan tanpa malu duduk disamping Bang Anwar kursi yang memang tersedia
di depan setiap meja wali kelas seperti diriku yang selalu digunakan jika
memproses siswa yang bermasalah.
“Ila
pasti cemburu melihat Aku duduk disamping Bang Anwar.” Ucap Intan dengan suara
manjanya.
Walaupun Aku tahu itu hanya candaan tapi sungguh siapa yang tidak cemburu tunangannya digoda didepan muka.
“Maaf,
rasanya Pak Anwar ingin konsultasi dengan Bu Intan. Bukan Begitu Bu Humas.”
Ucapku menyindir.
Aku
melihat muka Bang Anwar merah seketika, sedangkan Intan masih dengan gaya sok
sucinya menampakkan senyum manis yang menjijikkan.
“Maaf Bu
Intan, Saya ingin membicarakan masa depan anak – anak kami kelak. Bisa Bu Intan
memberikan kami ruang untuk berbicara berdua.” Aku terkejut mendengar ucapan
Bang Anwar.
Seketika
wajah Bu Intan menjadi merah padam karena emosi dan langsung meninggalkan kami
dengan membuat kegaduhan suara kursi yang dengan sengaja di sentak kuat oleh Bu
Intan.
Guru yang
tepat berada disebelahku langsung menatap kami karena suara kegaduhan yang
diciptakan Bu Intan.
Itu
membuatku tidak nyaman dan menghela napas kuat.
“Abang
pulang dulu nanti kita bicara lagi.” Ucapku pelan seakan takut semutpun
dengarkan ucapanku.
“Janji
dulu sama Bang Anwar kita benar bicara setelah Ila selesai mengajar, atau abang
tunggu Ila di parkiran. Hanya tinggal 15 menit kan waktu pulangnya.” Dengan
penuh penekanan Bang Anwar berbicara.”
Daripada
menciptakan drama lagi aku anggukan kepala lemah terpaksa mengiyakan ucapan
Bang Anwar.
***
Helaan
napasku berat, melihat keberadaan Bang Ila diparkiran.
“Motor
Ila sudah Abang antar kerumah, kita menggunakan menggunakan mobil Abang saja.
Abang sudah izin sama Abah untuk mengajak Ila keluar sebelum magrib Abang antar
Ila pulang.” Lagi – lagi helaan napasku terdengar.
Tidak
usah ditanyakan bagaimana caranya Bang Anwar menstater motorku, setelah lonceng
berbunyi aku kehilangan kunci motorku yang aku letakkan di mejaku.
Terjawab
sudah kehilangan kunci motorku yang sempat membuatku lima menit mencarinya.
Seperti
biasa jika aku tanpa sengaja meninggalkan kunci motor akan disimpan Pak Satpam
di pos satpam.
Berjalan
beriringan kami menuju mobil Bang Anwar yang terparkir sempurna di parkiran
mobil.
Hanya ada
ada dua mobil yang terparkir disana, milik Kepsek dan Bu Intan.
Ya Bu
Intan anak orang terpandang di kota kami.
Bang
Anwar membukakan pintu mobil dan mempersilakan aku masuk, setelahnya Bang Anwar
menuju pintu supir.
Selama
perjalanan hanya keheningan yang terasa, tidak ada salah satu darikami yang
membuka percakapan.
Mobil
menuju salah satu tempat keramaian yang ada di kota kami.
“Ila mau cendol atau air kepala.” Suara Bang Anwar memecah keheningan kami.
Aku
menatap laut luas, tempat yang dipilih Bang Anwar adalah resto yang berada di
atas air ditepi pantai.
“Disamakan
saja dengan Abang.” Ucapku malas.
“Abang
hanya ingin bicara dengan Ila tidak minum.” Canda Bang Anwar.
“Kalau
begitu bicaralah setelah bicara antar Ila pulang.” Ucapku jengkel.
“Ila,
Abang hanya bercanda. Ayolah kita nikmati sore ini.” Ucap Bang Anwar merayuku.
Sungguh
aku lagi Lelah badan dan pikiran, ingin pulang berbersih diri dan merebahkan
badan dikamarku. Itu saja yang aku butuhkan.
Terlalu
banyak drama setelah bertunang dengan Bang Anwar membuatku lelah,
“Ayolah
Ila jangan marah terus.” Ucap Bang Anwar
Aku tetap
berdiam diri.
Tatapanku
menjadi tajam ketika aku melihat Bu Intan dengan santai masuk ke dalam resto
tempat kami berada.
Bagaimana
bisa? batinku bertanya.
Bang
Anwar memperhatikan tatapanku dan keterkejutan Bang Anwar nyata ketika arah
pandang matanya melihat Bu Intan yang melangkah santai ke arah kami.
“Hai,
kolega kita jumpa lagi. Ternyata bersama mantan terindah.” Terkekeh kecil Bu
Intan ketika menyapa kami.
“Gabung
bersama kami saja Bu Intan daripada sendiri.” Ucapku dengan kesal
“Maaf
saya hanya mau berdua dengan tunangan saya, Bu Intan silakan meja sendiri
sebaiknya cari meja yang agak jauh dari meja kami.” Ucap Bang Anwar ketus.
Aku
menatap Bang Anwar terkejut mendengar intonasi suara yang tidak ramah kepada Bu
Intan.
Dasar
tidak tahu malu, Bu Intan bukannya pergi malah mengambil posisi duduk disebelah
Bang Anwar.
“Maaf
saya permisi.” Ucapku sambil berdiri dan meninggalkan meja kami.
Bang
Anwar mengeser kursi tempat duduknya dengan kesal dan menyusulku.
“La,
jangan marah sumpah Abang tidak tahu kenapa Intan sampai ada disini.” Ucap Bang
Anwar cemas.
“Ila tahu
Intan mengikuti kita sejak dari sekolah, sebaiknya Abang selesaikan urusan
Abang sama mantan terindah Abang yang belum move on.
Hubungan
kita pasti akan penuh drama jika Abang belum menyelesaikannya secara tuntas.”
Ucapku kesal.
Akhirnya
kami pulang kerumah, sesampainya di rumah Aku meninggalkan Bang Anwar dengan
Abah yang kebetulan sedang duduk santai menikmati kopi sorenya ditemani Mak.
Kebiasa kedua orangtuaku yang menjadi harapanku jika kelak berrumah tangga akan mengambil moment sore berdua setelah lelah bekerja seharian.
Azan
magrib bergema, aku membangunkan badan dari baring santaiku menuju ke kamar
mandi untuk menjalankan kewajiban sebagai umat beragama.
Setelah
magrib aku keluar kamar untuk membantu Mak menyiapkan makam malam kami.
Sungguh
aku terkejut melihat Bang Anwar masih di rumah.
“Kita
makan dulu setelah itu selesaikan urusan kalian.” Perintah Abah.
Helaan
napas sering terdengar dari mulutku sejak 6 bulan bertunang dengan Bang Anwar.
Hening,
biasanya akan ada obrolan ringan di meja makan.
Entah Aku
atau Abah yang bertanya yang membuat hangat suasana makan malam keluarga kami.
Tapi saat
ini tidak ada yang angkat bicara, hening sepi.
Aku
sengaja mengangkat piring kotor ke zink pencucian untuk mengulur waktu.
Rasanya
ingin di telan bumi saja daripada harus berhadapan dengan Bang Anwar saat ini.
“Ila,
tinggal pekerjaan itu dengan Mak. Selesaikan urusan kalian.” Ucap ayah tegas.
Dengan
malas aku meletakkan piring dan mengiring Bang Anwar ke ruang tamu.
Posisi
kami berhadapan dihalangi meja tamu.
Bang
Anwar menatapku, aku lebih memilih melihat meja yang berada di depan kami
dengan hati merapal asma Allah.
“Subhanallah,
Alhamdulillah, Allahuakbar.” Terus aku mengucapkannya dalam hati.
“Ila,
Bang tahu Ila terganggu dengan tingkah Intan, tapi percaya sama Abang kami
sudah selesai ketika Intan mendua.” Aku mengangkat kepala menatap terkejut kea
rah Bang Anwar.
“Sebulan
ini, Intan beberapa kali menghubungi Abang mengatakan menyesal dan ingin
memperbaiki hubungan kami. Tapi Abang menolak, tapi karakter Intan yang pantang
menyerah bukan salah Abang.
Abang
mohon Ila mempertahankan Abang, ini bukan hanya perjodohan semata buat Abang.
Rasa
sayang dan cinta itu perlahan tumbuh dihati Abang untuk Ila.
Dan Abang
harap perasan yang sama juga ada di hati Ila untuk Abang.
Kita akan
menghadapi cobaan orang bertunang bersama -sama, Ila maukan?” suara Abang Anwar
memintaku penuh harap.
Menjatuhkan
pandanganku dari wajah Bang Anwar hatiku masih bimbang, semuanya terasa tidak
kena aku tidak ingin terus merasa sakit dengan rasa sayang dan cinta yang
tumbuh buat Bang Anwar.
“Ila,
Abang mohon jangan menundukkan terus membuat Abang merasa Ila tidak ingin
memperjuangan pertunangan kita.” Suara yang sarat keputusaan terdengar dari
mulut Bang Anwar.
“Beri Ila
sepekan untuk berpikir.” Ucapku mantap.
“Sebaiknya Abang pulang sudah terlalu lama Abang di rumah Ila, apa kata tetangga nanti. Kita baru bertunang belum nikah masih banyak yang harus kita jaga.” Ucapku pelan.
“Abang
akan pulang dan memberikan waktu untuk Ila. Sepekan ini Abang tidak akan
menghubungi Ila. Abang akan menunggu Ila yang menghubungi Abang. Semuanya
keputusan Abang serahkan kepada Ila.
Tanpa
menunggu aku beraksi Bang Anwar baangun dari duduknya mencari keberadaan
orangtuaku untuk pamit.
Aku masih
terpaku ditempat dudukku, memilah hatiku bertanya apakah keputusan sudah tepat.
***
Berlalu
empat, tersisa 3 hari lagi.
4 malam
ini aku bermunajab pada Pemilik Hati dan Kehidupan untuk diberikan petunjuk.
Sejak
pagi aku terpikirkan Bang Anwar ada rasa kosong yang tiba – tiba menyergap hati
dan pikiranku.
Lincah
tanganku mencari no smartphone milik Bang Anwar.
“Assalamualikum
Ila? Mengema suara dari seberang
Ya Allah
apa yang aku lakukan, batinku tersentak mendengar suara Bang Anwar dari
seberang sana.
Gelisah
tentu saja aku seperti orang linglung yang baru sadar telah menelepon Bang
Anwar.
“Ila, Ila
ada apa? Ada sesuatu yang terjadi.” Suara cemas Bang Anwar menembus
pendengaranku.
“Bisa
kita bicara setelah Abang pulang kerja? Akhirnya kalimat itu terucapkan olehku.
“Mau
Abang jemput, atau kita ketemu dimana? Ucap Bang Anwar.
“Di rumah
saja Bang, Indah tunggu. Assalamualaikum.” Ucapku memutus pembicaraan kami
tanpa menunggu jawaban salam dari Bang Anwr.
Helaan
napas berat terdengar dari mulutku, ada apa dengan hatiku.
Hari
berlangsung terasa berat, tidak ada sejenakpun tanpa memikirkan Bang Anwar.
Untung
saja hari ini kelas yang aku ajar lagi
Asesmen Formatif jika tidak entah apa yang aku jelaskan di depan kelas dengan
kondisi hati yang galau kata anak sekarang.
***
Alhamdulillah
aku sudah sampai di rumah, mataku menyipit melihat kendaraan Bang Anwar sudah
terpakir cantik di depan rumah.
Wajah
cemas Bang Anwar menggelitik hatiku, senyum kecil tersungging sempurna di
wajahku.
Aku
menetralkan wajahku sebelum Bang Anwar melihat senyumku.
“Assalamualaikum
Bang, sudah lama? Tidak kerja?” ucapku beruntun.
“Izin
cepat pulang, ada apa Ila. Sejak Ila menelepon Abang tidak focus bekerja.” Ucap
Bang Anwar memelas.
“Ila
ganti baju dulu, gerah.” Ucapku santai
Sementara
Bang Anwar melihatku dengan kesal tidak bisa berbuat apa – apa selain
menungguku.
Setengah
jam aku membiarkan Bang Anwar menungguku.
“Abang
diminum dulu sirupnya.” Ucapku
Aku
mengambil tempat duduk di depan Bang Anwar dan menundukkan kepala tidak mau
melihat wajah Bang Anwar.
“Abang
permisi, Assalamualaikum.” Ucap Bang Anwar
Aku
secepat kilat mengangkat kepalaku, menatap Bang Anwar.
“Ila
belum bicara Bang.” Ucapku gugup
“Abang
sudah tahu apa yang mau Ila bicarakan. Semua pemberian Abang menjadi hak Ila
tidak perlu dikembalikan Abang ikhlas. Sampaikan salam dengan orangtua Ila.”
Ucap Bang Anwar sambil melangkah menuju pintu ruang tamu.
“Bang,
Abang bukan peramal yang bisa membaca pikiran Ila, 4 hari ini Abang sabar
menunggu keputusan Ila kenapa baru satu jam ini tidak.” Ucapku lembut.
“Sikap
Ila sudah menjawab semuanya, percuma Abang berharap pada orang yang tidak
mengharapkan Abang.” Ucap Bang Anwar emosi.
Lucu
melihat Bang Anwar merajuk sedemikian rupa, lelaki yang selalunya tegas dan
tidak bertele -tele akan terlihat lemah jika menghadapi wanita yang
dicintainya.
Hatiku
Bahagia ternyata aku bisa meluluhkan hati Bang Anwar.
“Abang
tidak mau memperjuangan hubungan kita, kata Mak cobaan orang bertunang banyak
sampai ke hari pernikahan. Mari kita berjuang bersama.” Ucapku lembut.
Bang
Anwar menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatapku tajam.
“Ila
jangan mempermainan Abang.” ucapnya ketus.
Ucapan
dan tatapan mata Bang Anwar tidak sinkron tatapan penuh bahagia mendengar
ucapku serta senyum yang menambah percaya diriku kalua Bang Anwar tidak marah
padaku hanya kesal dengan sikapku yang sepertinya mempermainkan perasaan Bang
Anwar.
“Kita
keluar untuk quality time Abang mau?” ajakku malu – malu.
Heran aku
melihat Bang Anwar melewatiku menuju ruang tengah rumah dimana Abah dan Mak
lagi menikmati sore mereka.
“Abah
Mak, Anwar izin mau ajak Ila makan malam di luar. Sebelum pukul 9 malam Anwar
antar Ila pulang.” Ucap Bang Anwar.
“Tak
terlalu cepat balik pukul 9 War.” Ucap Mak menimpali
Ah mak
selalu mengada – ada, bantiknku mendengar suara Mak dari tengah rumah.
Untung
aku sudah bersiap diri jadi tinggal berangkat saja.
Senyum
mengembang tercetak jelas dari wajah Bang Anwar ketika Kembali keruang tamu.
Hatiku
tersenyum melihat Bang Anwar tersenyum dengan kode mata aku berdiri mengiringi
Langkah Bang Anwar untuk quality time kata seperti kataku tadi.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar