“Aow”. Pekikku
Minyak
dari pengorengan muncrat dengan pantas ke tanganku.
Menghela
napas berat, pikiran yang tidak focus membuatku celaka.
Sudah dua
hari tidak ada kabar berita dari suamiku.
Pekerjaan
yang membuatnya harus ke Batam.
Bukan
masalah ke Batamnya yang aku pikirkan tapi status dari seseorang yang menganggu
pikiranku.
Bukannya
tidak percaya dengan suamiku tapi aku tidak percaya dengan pengirim statusnya.
Bukan
kebiasaanya Bang Amran tapi ini pertama kalinya tidak memberi kabar setelah
sampai tempat tujuan bertugas.
Hatiku terus bertanya, dua hari rasanya waktu yang pasti membuat istri manapun akan merasa curiga jika suaminya tidak berkirim pesan.
Sekali
lagi aku mencoba menghubungi Bang Imran, hasilnya tidak bisa dihubungi.
Memanggil
itu kata yang tertulis, tidak mungkin paket Bang Imran habis, bisa pakai
internet hotel.
Apa
hotelnya tidak punya Wife, batinku geram.
Ku coba
menghubungi dengan telepon bisa hasilnya sama tidak diangkat, semakin kesal aku
dibuatnya.
Aku
mencium bau gosong, sekarang bukan hanya hatiku yang terbakar, lauk yang ku
masakpun ikut terbakar hagus.
Aku
mematikan kompor, dan berlalu meninggalkan dapur yang saat ini bukan sahabatku.
Berganti
pakaian, lebih baik aku mencari makan di luar.
Setelah
mengendarai kendaraanku dengan laju sedang, aku terus memikirkan Bang Imran.
Niat hati
ingin menyusul Bang Imran ke Batam, biar bisa weekend bersama.
Tapi
chatku tidak dibalas, bagaimana Bang Imran tahu rencanaku untuk menyusul.
Aku
takut, jika menyusul pekerjaan Bang Imran tidak bisa diganggu sama saja aku
liburan sendiri.
Lebih
baik aku berkemas di rumah daripada menunggu Bang Imran di hotel, batinku
meracau.
***
Menu
bebek bakar dengan petai bakar menjadi pilihanku.
Setelah
mengisi kampung tengah, aku melarikan kendaraanku menuju pantai untuk mencari
ketenangan batin.
Ahad,
pantai menjadi tujuan orang kampung untuk berehat melepas lelah setelah sepekan
bekerja membanting tulang.
Aku
mencari sudut yang ada rumah kayu untuk duduk melepas lelah hati dan badanku.
Berulang kali bayangan dari status yang menganggu pikiranku dari pagi terus berputar dikepalaku.
Ditambah dengan tidak bisa menghubungi Bang Imran membuatku hati semakin sekarat dan banyak pikiran kotor tentang Bang Imran.
Tak
terasa setitik air bening menetes membasahi pipiku.
Cepat aku
menghapusnya, jangan sampai pengunjung pantai melihat aku menangis.
Setelah
tad siang aku sholat zuhur di masjid tengah kota sekarang aku memilih shoat
asar dimasjid dekat pantai.
Tidak ada
niat untuk pulang kerumah, sepi membuatku mencari keramian ditengah pengunjung
pantai walaupun sepi masih saja bercokol dihatiku.
Senja
menunjukkan batang hidungnya, aku memandang warna jingga yang merona.
Bagi
pasangan kekasih ini merupakan moment romantis sambil berpegangan tangan
menatapnya.
Aku, ya
aku memandangnya dengan rasa rindu yang mencekam.
Belum
sempat aku menikmati sun set, hujan turun dengan lebat.
Badanku
basah sebelum mencapi kendaraan yang akan mengantarku pulang.
Kepalang
basah aku menembus hujan dengan derai air mata yang larut dalam hujan.
Sepanjang
satu jam perjalanan aku melampiaskan rasa sakit yang bercokol dihati.
Isak
sedanku tidak akan di dengar oleh mahluk hidup terhalang oleh suara hujan yang
lebat.
Derasnya
hujan menusuk badanku melebih rasa sakit yang menusuk hatiku.
Daun
pintu rumahku terlihat sayup karena terhalang derasnya hujan.
Siapa
yang berdiri tegap di depan pintu rumahku.
“Hayati.”
Suara cemas sosok di depan rumahku.
“Abang.”
Ucapku lirih
Aku
mematikan kendaran yang aku tunggangi dan berlari dalam dekap yang selama
beberapa hari ini amat aku rindui.
Isakku
yang tadi sempat hilang, kini terdengar lagi.
“Ada apa
yati, Maaf HP Abang tercebur ke dalam laut sewaktu berangkat ke Batam.
Abang
belum sempat menganti HP, karena kerjaan Abang padat.
Secepatnya
Abang pulang setelah pekerjaan Abang selesai.” Ucap Bang Imran panjang lebar.
Mendengar ucapan Bang Imran isak bertambah, apakah Bang Imran berkata jujur, batinku.
Aku
menatap wajah Bang Imran dengan lekat, ingin percaya tapi ada keraguan.
“Abang
bertemu dengan seseorang di Batam?” ucapku spontan dengan keraguan dihati.
Kening
Bang Imran berkerut, menatapku intens.
“Abang banyak bertemu orang di Batam, siapa yang Hayati maksud. Jangan membuat
Abang bingung.” Ucap Bang Imran.
Ada
keraguan dihatiku untuk menanyakan apakah Bang Imran bertemu dengan mantannya
yang memposting status wa yang membuatku menjadi resah dan gelisah.
“Sudahlah
anggap saja Hayati tidak bertanya kepada Abang.” Ucapku mengelak untuk
menjawab.
Aku
melepaskan pelukan kepada Bang Imran dan membuka pintu rumah.
“Hayati
jangan seperti ini, Abang tidak mau ada kesalah fahaman diantara kita. Jika
Abang salah tolong katakana.” Ucap Bang Imran menyusulku masuk ke dalam rumah.
Aku
mengabaikan panggilan Bang Imran dan terus masuk ke kamar untuk menganti
pakaianku yang basah terguyur air hujan.
Aku
mengambil handuk dan pakian ganti dan membawanya masuk ke kamar mandi.
Enggan
untuk berlama – lama di dalam kamar mandi, cukup sudah aku diguyur hujan selama
perjalanan menuju rumah.
Pintu
kamar mandi terbuka, sosok Bang Imran berdiri tepat di depanku.
Aku
menundukka kepala Salwas untuk bertatapan dengan Bang Imran, memberikan jalan
kepada Bang Imran untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Bergegas aku keluar kamar, lebih baik aku menuju dapur untuk menyiapkan makan Salwam untuk kami berdua.
Makan Salwam
berlalu dalam hening, tidak ada dari kami yang membuka percakapan.
Aku
memilih ruang tengah untuk menonton TV yang acaranya tidak masuk ke hatiku.
Mataku
menatap layar TV tapi pikiranku tidak pada cara yang sedang ditayangkan.
“Abang
masuk kamar dulu, mau istirahat.” Alasan lelah membuat aku hanya duduk sendiri
di ruang tengah.
Biasanya
setelah makan Salwam kami akan bercanda sambil menonton TV walau sepenat apapun
Bang Imran.
Helaan
napas melalui dadaku yang terasa sesak seketika.
Waktu
terus berjalan, semakin enggan aku melangkahkan kaki ke kamar untuk melepas
lelahku.
Aku
memilih membaringkan diriku pada hambal yang aku bentang di depan TV.
Terus
menerus menguap akhirnya aku terlelap dengan TV menatapku tentunya.
Goncangan
dibadanku, membuat perlahan membuka mata yang sedang lagi enak tidur.
“Kenapa
tidur disini, bukannya masuk ke kamar.” Tegur Bang Imran.
Salwas
untuk menjawab Bang Imran, aku membangunkan badan dan menuju kamar tamu.
Setelah
masuk kamar tamu aku menguncinya dan melangkah menuju tempat tidur.
“Hayati
buka pintunya.” Suara ketukan keras serta suara Bang Imran terdengar keras.
Seolah
tidak mendengar suara Bang Imran aku meletakkan kepala di bantal dan menjemput
mimpiku yang tadi terganggu oleh Bang Imran.
Untung
aku sempat meraih earphone yang di meja sudut ruangan sebelum masuk kamar tamu.
Suara
Bang Imran tertutup oleh suara sholawat yang aku putar untuk mengantar tidurku.
Aku
merasa guncangan pada tempat tidur yang aku tempati.
Rasanya
belum lama aku tertidur, apakah terjadi gempa sehingga tempat tidurku
terguncang.
Cepat aku
membuka mata, netraku membulat sempurna aku melihat Bang Imran naik ke atas
tempat tidur dan menempatakan dirinya pada sebelahku.
Belum
hilang rasa terkejutku, tangan kekar Bang Imran memelukku erat.
Ingin
rasanya aku memaki, tapi melihat wajah lelah Bang Imran yang sudah menutup
matanya membuatku tidak tega untuk marah.
Aku memilih untuk menutup mata, biarlah semuanya terselesaikan besok pagi saja, batinku.
Lelah
hatiku terlewatkan azan subuh, hal yang jarang aku lakukan.
Dan pagi
ini aku mencium aroma masakan yang mengelitik hidungku membuat mataku terpaksa
terbuka.
Dengan Salwas
aku melihat kesamping, ternyata kosong.
Jangan
katakana aroma yang mengelitik hidungku dari masakan yang di masak Bang Imran.
Suamiku
bisa dikatakan suami yang siaga walaupun dalam pernikahan kami yang sudah
mencecah angka 5 tahun kami masih berdua saja.
Tapi aku
selalu dibantu dalam hal rumah tangga.
Bang
Imran tidak segan untuk memasak dan mencuci baju jika melihat aku kelelahan.
Kondisi
rahimku yang tidak baik – baik saja kadang membuatku sering merasa lelah.
Ah jika
mengingat ini semua rasanya aku tidak berhak untuk cemburu kepada Bang Imran.
Dalam
kesempurnaan diri Bang Imran sebagai lelaki tentu banyak perempuan di luar sana
yang mengincarnya.
Bukan
tidak pernah aku mendapatkan sindirian pedas mengenai kondisiku yang belum juga
memberikan keturunan.
Hal ini
juga sudah kami bahas, dengan ikhlas aku mengizinkan Bang Imran untuk menikah
lagi tapi penolakan berat aku terima.
Masih ada
waktu, kenapa tidak menunggu kala itu Bang Imran berkata.
Baru 3
tahun kita tunggu sampai 5 tahun baru bicarakan tentang anak, pembahasan kami
sudah sampai disitu.
Kepalaku
pusing mendadak setelah mengingat pembicaraan kami dulu.
Angka 5
membuatku takut, jangan – jangan Bang Imran sudah mulai mencari perempuan yang
bisa membuatnya menjadi seorang Ayah.
rasa yang
mendorong dari tenggorokan membuatku berlari ke kamar mandi.
Hal ini
terus saja melandaku akhir – akhir ini, rasa mual dan sakit kepala.
Apakah
sakit maagku kembali lagi, setelah sekian tahun tidak menyerang.
Rasa
nyaman masuk ke dalam hatiku, ketika dengan lembut tangan Bang Imran memijat
leherku.
“Masuk
angin, Abang buatkan the jahe ya.” Ucap Bang Imran.
Setelah
menolongku berbaring kembali di ranjang, Bang Imran berlalu menuju dapur.
Untung
saja hari ahad sehingga aku dan Imran tidak perlu bergegas meninggal rumah
untuk pergi bekerja.
Pintu
kamar berderit, sosok Bang Imran masuk.
Ditangan Bang Imran ana nampan berisi teh jahe seperti janjinya tadi.
Tidak
hanya teh jahe, ada semangguk mie yang selalu membuatku rindu dengan masakan
Bang Imran.
Bang
Imran jago membuat mie jawa, kata Bang Imran belajar memasaknya sewaktu
menuntut ilmi di tanah jawa.
Senyumku
miris, sanggupkah aku berbagi hati Bang Imran dengan perempuan lain.
Semakin
Bang Imran mendekat semakin hatiku menanggis tapi senyumku harus tetap manis
jangan sampai aku mengecewakan lelaki yang sudah menghalalkanku 5a tahun lalu
dengan segala kekuranganku menerimanya dengan tulus hati.
Salahkan
takdirku yang belum sempurna menjadi istir, sampai detik ini aku belum bisa
menjadikannya seorang ayah.
“Abang
mak mie jawa, yati rindu dengan masakan Abang.” Ucapku semanis mungkin.
Senyumku
palsu untuk menyenangkan Bang Imran.
“Jangan
berpura – pura, kita sudah 5 tahun bersama. Katakana apa yang membuat sayangnya
Abang menempuh hujan sehingga jatuh sakit.” Ucap Bang Imran datar.
Suara
Bang Imran datar, ini yang aku takutkan.
Bang
Imran tidak pernah meledak – ledak marah, tapi jika suaranya sudah datar
berarti Bang Imran marah besar.
“Maaf,
yati cemburu dengan status seseorang yang mengatakan bahagia bertemu Abang.”
Akhirnya aku berterus terang yang membuatku galau,
“Ha ha ha
.” tawa pecah Bang Imran terdengar
“Ternyata
istirinya Abang lagi cemburu. Iya Abang bertemu dengan Zana secara tidak
sengaja ketika Abang melaporkan kehilangan HP di kantor Telkom untuk memblokir
nomor Abang.
Ternyata
Zana juga sedang melaporkan masalah nomornya.
Apakah di
foto itu Abang terlihat memperhatikan Zana atau bagaimana? Tanya Bang Imran.
Pikiranku
melayang mengingat foto yang di status wa Zana.
Foto yang
diambil zana terlihat dari samping dimana Bang Imran tidak memandang sedikitpun
ke arah zana.
Aku
tersenyum malu, malu dengan tingkahku yang sepertinya bucin sekali kepada Bang
Imran.
Belum
lagi rindu yang entah mengapa akhir – akhir ini selalu mendera padahal kami
baru perpisah beberapa jam.
Baru
masuk beberapa suap aku kembali merasa mual, tanpa sengaja memuntahkan apapun
yang masuk ke mulutku.
Habis
baju Bang Imran terkena muntahanku, nanar mataku menatap bersalah kepada Bang
Imran.
“Sebaiknya kita kerumah sakit.” Ucap Bang Imran serius.
Aku tidak
membantah, lebih baik memeriksakan diri daripada aku berlanjut sakit dan
menyusahkan Bang Imran.
***
“Sebaiknya
istri bapak bawa kebagian dokter kandungan Saja.” Ucap dokter UGD setelah
memeriksaku.
Aku dan
Bang Imran saling tatap, ada doa yang panjang di dalam hati semoga apa yang
menjadi praduga dokter yang memeriksaku menjadi kenyataan, bahawa aku hamil.
Bergegas
kami berjalan menuju tempat pendaftaran dokter kandungan.
Karena
masih pagi, kami mendapatkan nomor urut satu dan tidak mengantri karena
langsung dipersilakan masuk oleh suster jaga.
Sungguh
hatiku berdebar tak karuan, berharap lebih tapi juga ada rasa khawatir yang
besar jika ini hanya harapan kosong.
Berbaring
diatas brankas pemeriksaan menuruti perintah suster.
Bajuku
disingkap sedikit untuk menyapukan gel diatas perutku sebelum alat untuk
mendekteksi kehamilan ditempelkan oleh dokter.
“Selamat
Ibu hamil menurut perkiraan sudah masuk bulan 3, itu sudah terlihat walaupun
masih kecil sekali.” Ucap dokter yang memeriksaku.
Sudut
mataku berair, begitu juga dengan mata Bang Imran yang sudah terlihat menahan
jangan sampai menangis di depan dokter.
“Terima
kasih.” Tanganku diraih Bang Imran dan menciumnya.
Tumpah
sudah tangis yang sekuat tenaga aku tahan, isak kecilku terdengar.
“Bapak
Ibu sudah berapa lama menunggu, sekali lagi selamat saya ucapkan semoga selamat
sampai lahiran.” Ucap dokter lagi.
Aku
dibantu bangun oleh Bang Imran, setelah merapikan penampilanku.
Kami
pamit untuk pulang, sepanjang jalan Bang Imran tidak melepas genggaman
tangannya.
Teryata
rinduku akan kehadiran si buah hati diijabah Allah.
Penantian
serta doa yang tak lelah aku panjatkan kehadapannya setiap sholat wajib dan
sunah.
Sambil
meraba perutku sedikit membuncit, senyumku terbit.
Bagaimana
bisa aku tidak menyadari aku hamil, selama ini aku berusaha menampik rinduku
akan anak karena tidak mau kecewa seperti yang sudah – sudah.
Terima
kasih Ya Allah atas rinduku yang terbalaskan, sejak tadi aku melihat senyum tak
lepas dari bibir Bang Imran.
Senyum
yang selalu aku rindu.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar