Senin, 16 Maret 2026

Rinduku

 


“Aow”. Pekikku

Minyak dari pengorengan muncrat dengan pantas ke tanganku.

Menghela napas berat, pikiran yang tidak focus membuatku celaka.

Sudah dua hari tidak ada kabar berita dari suamiku.

Pekerjaan yang membuatnya harus ke Batam.

Bukan masalah ke Batamnya yang aku pikirkan tapi status dari seseorang yang menganggu pikiranku.

Bukannya tidak percaya dengan suamiku tapi aku tidak percaya dengan pengirim statusnya.

Bukan kebiasaanya Bang Amran tapi ini pertama kalinya tidak memberi kabar setelah sampai tempat tujuan bertugas.

Hatiku terus bertanya, dua hari rasanya waktu yang pasti membuat istri manapun akan merasa curiga jika suaminya tidak berkirim pesan.

Sekali lagi aku mencoba menghubungi Bang Imran, hasilnya tidak bisa dihubungi.

Memanggil itu kata yang tertulis, tidak mungkin paket Bang Imran habis, bisa pakai internet hotel.

Apa hotelnya tidak punya Wife, batinku geram.

Ku coba menghubungi dengan telepon bisa hasilnya sama tidak diangkat, semakin kesal aku dibuatnya.

Aku mencium bau gosong, sekarang bukan hanya hatiku yang terbakar, lauk yang ku masakpun ikut terbakar hagus.

Aku mematikan kompor, dan berlalu meninggalkan dapur yang saat ini bukan sahabatku.

Berganti pakaian, lebih baik aku mencari makan di luar.

Setelah mengendarai kendaraanku dengan laju sedang, aku terus memikirkan Bang Imran.

Niat hati ingin menyusul Bang Imran ke Batam, biar bisa weekend bersama.

Tapi chatku tidak dibalas, bagaimana Bang Imran tahu rencanaku untuk menyusul.

Aku takut, jika menyusul pekerjaan Bang Imran tidak bisa diganggu sama saja aku liburan sendiri.

Lebih baik aku berkemas di rumah daripada menunggu Bang Imran di hotel, batinku meracau.

***

Menu bebek bakar dengan petai bakar menjadi pilihanku.

Setelah mengisi kampung tengah, aku melarikan kendaraanku menuju pantai untuk mencari ketenangan batin.

Ahad, pantai menjadi tujuan orang kampung untuk berehat melepas lelah setelah sepekan bekerja membanting tulang.

Aku mencari sudut yang ada rumah kayu untuk duduk melepas lelah hati dan badanku.

Berulang kali bayangan dari status yang menganggu pikiranku dari pagi terus berputar dikepalaku.

Ditambah dengan tidak bisa menghubungi Bang Imran membuatku hati semakin sekarat dan banyak pikiran kotor tentang Bang Imran.

Tak terasa setitik air bening menetes membasahi pipiku.

Cepat aku menghapusnya, jangan sampai pengunjung pantai melihat aku menangis.

Setelah tad siang aku sholat zuhur di masjid tengah kota sekarang aku memilih shoat asar dimasjid dekat pantai.

Tidak ada niat untuk pulang kerumah, sepi membuatku mencari keramian ditengah pengunjung pantai walaupun sepi masih saja bercokol dihatiku.

Senja menunjukkan batang hidungnya, aku memandang warna jingga yang merona.

Bagi pasangan kekasih ini merupakan moment romantis sambil berpegangan tangan menatapnya.

Aku, ya aku memandangnya dengan rasa rindu yang mencekam.

Belum sempat aku menikmati sun set, hujan turun dengan lebat.

Badanku basah sebelum mencapi kendaraan yang akan mengantarku pulang.

Kepalang basah aku menembus hujan dengan derai air mata yang larut dalam hujan.

Sepanjang satu jam perjalanan aku melampiaskan rasa sakit yang bercokol dihati.

Isak sedanku tidak akan di dengar oleh mahluk hidup terhalang oleh suara hujan yang lebat.

Derasnya hujan menusuk badanku melebih rasa sakit yang menusuk hatiku.

Daun pintu rumahku terlihat sayup karena terhalang derasnya hujan.

Siapa yang berdiri tegap di depan pintu rumahku.

“Hayati.” Suara cemas sosok di depan rumahku.

“Abang.” Ucapku lirih

Aku mematikan kendaran yang aku tunggangi dan berlari dalam dekap yang selama beberapa hari ini amat aku rindui.

Isakku yang tadi sempat hilang, kini terdengar lagi.

“Ada apa yati, Maaf HP Abang tercebur ke dalam laut sewaktu berangkat ke Batam.

Abang belum sempat menganti HP, karena kerjaan Abang padat.

Secepatnya Abang pulang setelah pekerjaan Abang selesai.” Ucap Bang Imran panjang lebar.

Mendengar ucapan Bang Imran isak bertambah, apakah Bang Imran berkata jujur, batinku. 

Aku menatap wajah Bang Imran dengan lekat, ingin percaya tapi ada keraguan.

“Abang bertemu dengan seseorang di Batam?” ucapku spontan dengan keraguan dihati.

Kening Bang Imran berkerut, menatapku intens.


“Abang banyak bertemu orang di Batam, siapa yang Hayati maksud. Jangan membuat Abang bingung.” Ucap Bang Imran.

Ada keraguan dihatiku untuk menanyakan apakah Bang Imran bertemu dengan mantannya yang memposting status wa yang membuatku menjadi resah dan gelisah.

“Sudahlah anggap saja Hayati tidak bertanya kepada Abang.” Ucapku mengelak untuk menjawab.

Aku melepaskan pelukan kepada Bang Imran dan membuka pintu rumah.

“Hayati jangan seperti ini, Abang tidak mau ada kesalah fahaman diantara kita. Jika Abang salah tolong katakana.” Ucap Bang Imran menyusulku masuk ke dalam rumah.

Aku mengabaikan panggilan Bang Imran dan terus masuk ke kamar untuk menganti pakaianku yang basah terguyur air hujan.

Aku mengambil handuk dan pakian ganti dan membawanya masuk ke kamar mandi.

Enggan untuk berlama – lama di dalam kamar mandi, cukup sudah aku diguyur hujan selama perjalanan menuju rumah.

Pintu kamar mandi terbuka, sosok Bang Imran berdiri tepat di depanku.

Aku menundukka kepala Salwas untuk bertatapan dengan Bang Imran, memberikan jalan kepada Bang Imran untuk masuk ke dalam kamar mandi.

Bergegas aku keluar kamar, lebih baik aku menuju dapur untuk menyiapkan makan Salwam untuk kami berdua. 

Makan Salwam berlalu dalam hening, tidak ada dari kami yang membuka percakapan.

Aku memilih ruang tengah untuk menonton TV yang acaranya tidak masuk ke hatiku.

Mataku menatap layar TV tapi pikiranku tidak pada cara yang sedang ditayangkan.

“Abang masuk kamar dulu, mau istirahat.” Alasan lelah membuat aku hanya duduk sendiri di ruang tengah.

Biasanya setelah makan Salwam kami akan bercanda sambil menonton TV walau sepenat apapun Bang Imran.

Helaan napas melalui dadaku yang terasa sesak seketika.

Waktu terus berjalan, semakin enggan aku melangkahkan kaki ke kamar untuk melepas lelahku.

Aku memilih membaringkan diriku pada hambal yang aku bentang di depan TV.

Terus menerus menguap akhirnya aku terlelap dengan TV menatapku tentunya.

Goncangan dibadanku, membuat perlahan membuka mata yang sedang lagi enak tidur.

“Kenapa tidur disini, bukannya masuk ke kamar.” Tegur Bang Imran.

Salwas untuk menjawab Bang Imran, aku membangunkan badan dan menuju kamar tamu.

Setelah masuk kamar tamu aku menguncinya dan melangkah menuju tempat tidur.

“Hayati buka pintunya.” Suara ketukan keras serta suara Bang Imran terdengar keras.

Seolah tidak mendengar suara Bang Imran aku meletakkan kepala di bantal dan menjemput mimpiku yang tadi terganggu oleh Bang Imran.

Untung aku sempat meraih earphone yang di meja sudut ruangan sebelum masuk kamar tamu.

Suara Bang Imran tertutup oleh suara sholawat yang aku putar untuk mengantar tidurku.

Aku merasa guncangan pada tempat tidur yang aku tempati.

Rasanya belum lama aku tertidur, apakah terjadi gempa sehingga tempat tidurku terguncang.

Cepat aku membuka mata, netraku membulat sempurna aku melihat Bang Imran naik ke atas tempat tidur dan menempatakan dirinya pada sebelahku.

Belum hilang rasa terkejutku, tangan kekar Bang Imran memelukku erat.

Ingin rasanya aku memaki, tapi melihat wajah lelah Bang Imran yang sudah menutup matanya membuatku tidak tega untuk marah.

Aku memilih untuk menutup mata, biarlah semuanya terselesaikan besok pagi saja, batinku. 

Lelah hatiku terlewatkan azan subuh, hal yang jarang aku lakukan.

Dan pagi ini aku mencium aroma masakan yang mengelitik hidungku membuat mataku terpaksa terbuka.

Dengan Salwas aku melihat kesamping, ternyata kosong.

Jangan katakana aroma yang mengelitik hidungku dari masakan yang di masak Bang Imran.

Suamiku bisa dikatakan suami yang siaga walaupun dalam pernikahan kami yang sudah mencecah angka 5 tahun kami masih berdua saja.

Tapi aku selalu dibantu dalam hal rumah tangga.

Bang Imran tidak segan untuk memasak dan mencuci baju jika melihat aku kelelahan.

Kondisi rahimku yang tidak baik – baik saja kadang membuatku sering merasa lelah.

Ah jika mengingat ini semua rasanya aku tidak berhak untuk cemburu kepada Bang Imran.

Dalam kesempurnaan diri Bang Imran sebagai lelaki tentu banyak perempuan di luar sana yang mengincarnya.

Bukan tidak pernah aku mendapatkan sindirian pedas mengenai kondisiku yang belum juga memberikan keturunan.

Hal ini juga sudah kami bahas, dengan ikhlas aku mengizinkan Bang Imran untuk menikah lagi tapi penolakan berat aku terima.

Masih ada waktu, kenapa tidak menunggu kala itu Bang Imran berkata.

Baru 3 tahun kita tunggu sampai 5 tahun baru bicarakan tentang anak, pembahasan kami sudah sampai disitu.

Kepalaku pusing mendadak setelah mengingat pembicaraan kami dulu.

Angka 5 membuatku takut, jangan – jangan Bang Imran sudah mulai mencari perempuan yang bisa membuatnya menjadi seorang Ayah.

rasa yang mendorong dari tenggorokan membuatku berlari ke kamar mandi.

Hal ini terus saja melandaku akhir – akhir ini, rasa mual dan sakit kepala.

Apakah sakit maagku kembali lagi, setelah sekian tahun tidak menyerang.

Rasa nyaman masuk ke dalam hatiku, ketika dengan lembut tangan Bang Imran memijat leherku.

“Masuk angin, Abang buatkan the jahe ya.” Ucap Bang Imran.

Setelah menolongku berbaring kembali di ranjang, Bang Imran berlalu menuju dapur.

Untung saja hari ahad sehingga aku dan Imran tidak perlu bergegas meninggal rumah untuk pergi bekerja.

Pintu kamar berderit, sosok Bang Imran masuk.

Ditangan Bang Imran ana nampan berisi teh jahe seperti janjinya tadi.

Tidak hanya teh jahe, ada semangguk mie yang selalu membuatku rindu dengan masakan Bang Imran.

Bang Imran jago membuat mie jawa, kata Bang Imran belajar memasaknya sewaktu menuntut ilmi di tanah jawa.

Senyumku miris, sanggupkah aku berbagi hati Bang Imran dengan perempuan lain.

Semakin Bang Imran mendekat semakin hatiku menanggis tapi senyumku harus tetap manis jangan sampai aku mengecewakan lelaki yang sudah menghalalkanku 5a tahun lalu dengan segala kekuranganku menerimanya dengan tulus hati.

Salahkan takdirku yang belum sempurna menjadi istir, sampai detik ini aku belum bisa menjadikannya seorang ayah.

“Abang mak mie jawa, yati rindu dengan masakan Abang.” Ucapku semanis mungkin.

Senyumku palsu untuk menyenangkan Bang Imran.

“Jangan berpura – pura, kita sudah 5 tahun bersama. Katakana apa yang membuat sayangnya Abang menempuh hujan sehingga jatuh sakit.” Ucap Bang Imran datar.

Suara Bang Imran datar, ini yang aku takutkan.

Bang Imran tidak pernah meledak – ledak marah, tapi jika suaranya sudah datar berarti Bang Imran marah besar.

“Maaf, yati cemburu dengan status seseorang yang mengatakan bahagia bertemu Abang.” Akhirnya aku berterus terang yang membuatku galau,

“Ha ha ha .” tawa pecah Bang Imran terdengar

“Ternyata istirinya Abang lagi cemburu. Iya Abang bertemu dengan Zana secara tidak sengaja ketika Abang melaporkan kehilangan HP di kantor Telkom untuk memblokir nomor Abang.

Ternyata Zana juga sedang melaporkan masalah nomornya.

Apakah di foto itu Abang terlihat memperhatikan Zana atau bagaimana? Tanya Bang Imran.

Pikiranku melayang mengingat foto yang di status wa Zana.

Foto yang diambil zana terlihat dari samping dimana Bang Imran tidak memandang sedikitpun ke arah zana.

Aku tersenyum malu, malu dengan tingkahku yang sepertinya bucin sekali kepada Bang Imran.

Belum lagi rindu yang entah mengapa akhir – akhir ini selalu mendera padahal kami baru perpisah beberapa jam.

Baru masuk beberapa suap aku kembali merasa mual, tanpa sengaja memuntahkan apapun yang masuk ke mulutku.

Habis baju Bang Imran terkena muntahanku, nanar mataku menatap bersalah kepada Bang Imran.

“Sebaiknya kita kerumah sakit.” Ucap Bang Imran serius.

 “Abang ganti baju, habis itu Abang akan membantu yati berganti baju.” Lanjut Bang Imran.

Aku tidak membantah, lebih baik memeriksakan diri daripada aku berlanjut sakit dan menyusahkan Bang Imran.

***

“Sebaiknya istri bapak bawa kebagian dokter kandungan Saja.” Ucap dokter UGD setelah memeriksaku.

Aku dan Bang Imran saling tatap, ada doa yang panjang di dalam hati semoga apa yang menjadi praduga dokter yang memeriksaku menjadi kenyataan, bahawa aku hamil.

Bergegas kami berjalan menuju tempat pendaftaran dokter kandungan.

Karena masih pagi, kami mendapatkan nomor urut satu dan tidak mengantri karena langsung dipersilakan masuk oleh suster jaga.

Sungguh hatiku berdebar tak karuan, berharap lebih tapi juga ada rasa khawatir yang besar jika ini hanya harapan kosong.

Berbaring diatas brankas pemeriksaan menuruti perintah suster.

Bajuku disingkap sedikit untuk menyapukan gel diatas perutku sebelum alat untuk mendekteksi kehamilan ditempelkan oleh dokter.

“Selamat Ibu hamil menurut perkiraan sudah masuk bulan 3, itu sudah terlihat walaupun masih kecil sekali.” Ucap dokter yang memeriksaku.

Sudut mataku berair, begitu juga dengan mata Bang Imran yang sudah terlihat menahan jangan sampai menangis di depan dokter.

“Terima kasih.” Tanganku diraih Bang Imran dan menciumnya.

Tumpah sudah tangis yang sekuat tenaga aku tahan, isak kecilku terdengar.

“Bapak Ibu sudah berapa lama menunggu, sekali lagi selamat saya ucapkan semoga selamat sampai lahiran.” Ucap dokter lagi.

Aku dibantu bangun oleh Bang Imran, setelah merapikan penampilanku.

Kami pamit untuk pulang, sepanjang jalan Bang Imran tidak melepas genggaman tangannya.

Teryata rinduku akan kehadiran si buah hati diijabah Allah.

Penantian serta doa yang tak lelah aku panjatkan kehadapannya setiap sholat wajib dan sunah.

Sambil meraba perutku sedikit membuncit, senyumku terbit.

Bagaimana bisa aku tidak menyadari aku hamil, selama ini aku berusaha menampik rinduku akan anak karena tidak mau kecewa seperti yang sudah – sudah.

Terima kasih Ya Allah atas rinduku yang terbalaskan, sejak tadi aku melihat senyum tak lepas dari bibir Bang Imran.

Senyum yang selalu aku rindu.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Rinduku

  “Aow”. Pekikku Minyak dari pengorengan muncrat dengan pantas ke tanganku. Menghela napas berat, pikiran yang tidak focus membuatku c...