Minggu, 01 Maret 2026

Persimpangan Jalan

 

“Percuma Bu Laras, tetap saja salah.” Tergiang suara Bu Intan sepekan lalu ketika kami berbincang masalah pekerjaan.

“Saya lelah selalu disalahkan, padahal banyak yang salah tapi kesalahan saya sepertinya tidak termaafkan.” Masih bermain ucapan Bu Intan dibenakku.

Pagi ini aku tidak mau lagi mendengar keluh kesah Bu Intan yang sepertinya sudah kecewa dengan sikon yang tidak nyaman di kantorku.

Sebenarnya aku sudah merasakan hal ini dua tahun lebih tapi aku mentulikan teliga membutakan mata selagi kinerjaku tidak dipermasalahkan rasanya aku masih bisa mentolirirnya.

Tapi sekarang keadaan seperti tidak bersahabat denganku, ada saja yang tidak kena aku yang datang pagi dipermasalahn oleh teman sekantor katanya mencari muka.

Mencari muka dimana, sejak awal bekerja aku selau datang lebih awal karena tidak ingin terjebak macet yang memusingkan kepala.

Belum lagi polisi yang diakibatkan oleh berebutnya kendaraan bermotor jika sudah jam padat dengan karyawan yang berlomba ke kantornya masing – masing.

Demi menjadi kesehatanku aku memilih datang lebih awal untuk mengelak semua hiruk pikuk serta membatasi diri dari polusi yang semakin menjadi dewasa ini.

Aku tinggal satu – satunya karyawan yang datang pagi dan menjadi penghuni tetap kantor.

Sementara mereka dengan alasan yang sebenarnya tidak masuk akal dibuat menjadi masuk akal karena ada kebutuhan yang membenarkan apa yang salah menjadi benar.

Inpeksi mendadak dari kantor pusat, membuat mereka menyalahkan diriku karena tidak bisa mencover perbuatan mereka yang alpa pada jam pagi keberadaan di kantor.

Mengapa aku tidak mencari alasan ketidak  hadirian mereka sewaktu ada pemeriksaan.

Jumlah mereka yang tidak hadir banyak bagaimana aku mencari alasan untuk satu persatu mereka.

Hatiku menjadi sakit, ketika mengingat perkataan Bu Intan sepekan sebelum diberhentikan dari kantor karena absen yang banyak.

Padahal aku tahu pasti ketidak beradanya Bu Intan karena anaknya yang harus berulang alik masuk rumah sakit.

Sementara Bu Intan single parent, ditinggal suaminya yang lebih memilih istri muda.

Sementara Bu Intan pendatang di kota tempat kami mengkais rezeki.

Seandainya mencari pekerjaan mudah mungkin aku sudah memilih untuk berhenti.

Tatapan laser dari mata mereka yang merasa terzolimi padahal mereka yang salah membuatku tidak betah.

Seharian ini rasa gerah menghingapi diriku, suhu AC yang sudah rendah tidak membuat diriku merasa nyaman.

Aku bagaikan ayam berak kapur tidak bisa mengangkat kepala.

Salwas melihat tatapan mereka yang katanya terluka padahal mereka tahu pasti kesalahan ada pada mereka.

Aku melangkah menuju pantry untuk menyeduh pop mie, walaupun aku tahu memakan mie tidak sehat tapi dengan terpaksa aku memakannya daripada tidak bisa menelan nasi yang tersaji hangat di kantin kantor dengan tatapan menyalahkan dari kawan yang tidak merasa salah.

Semakin dikuliti, setelah makan siang aku mendengar kata sindiran yang menyakitkan ketika kepala cabang baru memanggilku untuk masuk ke ruangannya.

Helaan napas panjang aku lepas yang menyesakkan dada setelah melihat jam yang dengan angkuhnya menunjukkan angka 4.30 waktunya semua pulan dan menganti siang hari dengan senja yang akan menyosong Salwam dimana semua yang bekerja mendapatkan jatah untuk mengistirahatkan lelah setelah seharian bekerja.

Langkahku tertatih melepas lelah yang menghimpit dada sejak pagi, tidak ada menyahut kata ketika aku berpamitan pada mereka.

Aku bagaikan kasat mata, tidak suara bahkan wujudku seakan tidak ada.

“Pulang Bu Laras.” Sapa dari Satpam yang menyapaku ramah.

Senyum terbit setelah seharian ini tidak ada yang menyapaku.

“Iya Pak sudah waktunya pulang.” Ucapku ramah.

“Hati – hati dijalan Bu, mendung sudah mengelayut di langit semoga Ibu tidak berkena hujan.”Ucap Satpam kantor

Ya Allah setelah seharian mendapatkan celaan dari teman kantor, akhirnya dipenghujung siang ada yang memberikan doa, hatiku seketika menjadi sejuk dan dengan ringan aku menjalankan kendaraaan yang menjadi teman pergi dan pulang dari mencari rezeki untuk kehidupanku sekeluargan.

“Assalmualaikum.’ Ucapku memberi salam ketika membuka pintu rumah yang tak terkunci.

Helaan napas berat untuk menghilangkan resah yang tiba – tiba menyerang.

“Jika Abang termasuk dengan karyawan di PHK bagaimana.” Ucap suamiku sepekan lalu.

Berat rasanya kakiku melangkah masuk, seharusnya aku yang tiba di rumah, melihat rumah tidak terkunci berarti suamiku pulang dulu dan itu tidak biasa.

Merapal doa semoga ketakutan kami sepekan lalu tidak menjadi kenyataan, suamiku di PHK.

“Walaikumsalam.” Suara berat menyambut salamku.

“Abang sudah pulang.” Senyum termanisku harus aku tampilkan walaupun berat.

“Baru nyampai rumah juga.” Netra kami saling bertautan.

Aku tidak melihat kegelisahan di netra suami, senyum yang jarang terukir di bibirnya juga manis terlihat oleh netraku.

Melangkah mendekat, meraih tangannya untuk aku cium tanda takzim seorang istri.

“Abang mau minum, Ara buatkan.” Ucapku

“Kopi manis semanis istri Abang, buat dua ya. Abang ingin duduk santai berdua.” Ucapnya membuatku kekeh mendengarnya.

Bang Ikran bukan tipe yang romantis, selalu kaku tapi beliau sangat mencintaiku.

Bergegas menuju kamar meletakkan tas dan menganti baju dengan daster bunga – bunga.

Melajukan langkah menuju dapur untuk membuat minuman buat kami berdua.

Melihat sekeliling teras tidak melihat keberadaan Bang Ikram.

“Abang di pandopo samping rumah. “ Teriak Bang ikram memberitahuku 

Ku susul keberadaan Bang Ikram, Bang Ikram menyambutku dengan menepuk tangan meminta aku duduk disampingnya.

“Ara tidak memakai jilbab Bang.” Rutukku kepada Bang Ikran.

“Kita duduk dipondopo samping rumah tidak akan ada yang melihatnya.” Dengan muka selambe Bang Ikram berkata.

“Duduklah santai sejenak, anak – anak lagi di rumah neneknya.” Baru ingin bertanya kemana anak – anak karena rumah sepi tanpa perdebatan yang terjadi diantara mereka.

Indra dan Intan buah hati kami yang terpaut 3 tahun selalu menjadi peramai rumah.

Netraku membulat ketika Bang Ikram menarikku dalam peluknya dan mendaratkan kecupan kecil dikeningku dua kali.

“Abang kenapa?” ucapku terkejut.

“Kenapa apa?” bukan menjawab pertanyaanku Salwah Bang Ikram balik bertanya.

 Jantung semakin berpacu, ada apa dengan Bang Ikram.

“Abang baik – baik saja, ada yang ingin Abang bicarakan dengan Ara?” ucapku mengatur kalimat jangan sampai Bang Ikram tertekan.

Sepekan ini Bang Ikram selalu termenung setelah mengatakan akan ada PHK di kantornya.

“Terima kasih sudah menjadi istri  yang baik dan Ibu yang hebat untuk anak – anak kita. Doa Istri menjadi penguat suami dalam bekerja.” Bang Ikram menjeda kalimatnya.

Hati ini bertambah degupanya menanti sambungan kalimat dari Bang Ikram.

“Abang naik jabatan, terima kasih ini berkat doa Zahara dan anak – anak.” Sudut netraku menghangat cairan bening menetes mendengar ucapan Bang Ikram yang membuat hati lega setelah tadi sempat merasa tidak nyaman menunggu kalimat dari Bang Ikram.

“Alhamdulillah.” Bergetar suaraku mengucapkan hamdallah.

Spontan aku memeluk tubuh Bang Ikram dan meletakkan kepalaku di dadanya yang bidang.

Sekali aku mendapatkan kecupan hangat dipucuk kepalaku dan kening.

Netra kami beradu dan senyumpun mengembang.

“Ayah, Ibu kami pulang.” Teriak jagoanku sementara si bungsu hanya tubuh mungilnya terlihat oleh netraku.

Mereka berlomba mendekati kami, dengan sigap Bang Ikram bangun dari duduknya dengan melepas lembut pelukanku dan meraih tubuh mungil si bungsu dan mengendongnya serta kembali duduk di sebelahku.

“Adek manja, sudah besar juga minta gendong dengan Ayah.” Rutuk kesal anak tuaku.

Padahal dirinya dengan manja melabuhkan dirinya dalam pelukkanku.

“Nenek mana? Tanya suamiku kepada kedua anakku.

“Nenek sama Atok mengantar sampai depan saja, kata Atok ingin melihat temannya yang sakit. Atok sudah menelepon Ayah tapi tidak diangkat.” Celoteh Indra anakku.

“HP Ayah tertinggal di kamar, pasti HP Ibu juga tertinggal di kamar.” Ucap suamiku sambil memukul dahinya yang tidak bersalah.

Kami serempak ketawa melihat tingkah suamiku.

 Suara tawa kami mengema, seindah warna hatiku saat ini.

Menjelang magrib  baru kami masuk rumah untuk sholat berjamah.

***

“Anak – anak sudah tidur.” Ucap Bang Ikram

Aku tersenyum dan menganggukkan kepala, seraya berjalan kearah Bang Ikram yang sedang duduk diranjang kami sambil menonton TV, acara sport kegemarannya.

“Bang, Laras mengundurkan diri dari kantor bagaimana pendapat Abang.” ucapku setelah duduk disebelah Bang Ikram.

Netra kami saling bertemu senyum pelit ciri Bang Ikram terlihat jelas di wajahnya saat ini.

“Yakin ingin berhenti kerja, jangan karena masalah kecil Laras memutuskan untuk berhenti kerja. Dunia pekerjaan pasti ada masalahnya, sayang sudah tahun ke dua puluh bekerja mau berhenti.

Berdoa saja semoga ada perubahan dalam suasan kerja, tetap bertahan dengan prinsip kerja Laras. Suntikkan pelan – pelan kepada teman sekerja Laras bahwa rezeki itu ada pertanggung jawabanya bekerja dengan mengharap ridho Sang Pencipta ada nisabnya kelak.”Panjang kali lebar suamiku memberi petuah.

Helaan napas berat mengikis beban beratku, setelah dipikir apa yang dikatakan suamiku adalah benar.

Aku tidak bisa mengubah air laut menjadi tawar secara instan tapi perlu proses yang tidak mudah.

Lega rasanya setelah berbicara dengan suamiku.

Persimpangan jalan pikiranku sudah menemukan jalan lurusnya, semoga.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Persimpangan Jalan

  “Percuma Bu Laras, tetap saja salah.” Tergiang suara Bu Intan sepekan lalu ketika kami berbincang masalah pekerjaan. “Saya lelah selalu ...