“Percuma Bu Laras, tetap saja salah.” Tergiang suara Bu Intan sepekan lalu ketika kami berbincang masalah pekerjaan.
“Saya
lelah selalu disalahkan, padahal banyak yang salah tapi kesalahan saya
sepertinya tidak termaafkan.” Masih bermain ucapan Bu Intan dibenakku.
Pagi ini
aku tidak mau lagi mendengar keluh kesah Bu Intan yang sepertinya sudah kecewa
dengan sikon yang tidak nyaman di kantorku.
Sebenarnya
aku sudah merasakan hal ini dua tahun lebih tapi aku mentulikan teliga
membutakan mata selagi kinerjaku tidak dipermasalahkan rasanya aku masih bisa
mentolirirnya.
Tapi
sekarang keadaan seperti tidak bersahabat denganku, ada saja yang tidak kena
aku yang datang pagi dipermasalahn oleh teman sekantor katanya mencari muka.
Mencari
muka dimana, sejak awal bekerja aku selau datang lebih awal karena tidak ingin
terjebak macet yang memusingkan kepala.
Belum lagi polisi yang diakibatkan oleh berebutnya kendaraan bermotor jika sudah jam padat dengan karyawan yang berlomba ke kantornya masing – masing.
Demi
menjadi kesehatanku aku memilih datang lebih awal untuk mengelak semua hiruk
pikuk serta membatasi diri dari polusi yang semakin menjadi dewasa ini.
Aku
tinggal satu – satunya karyawan yang datang pagi dan menjadi penghuni tetap
kantor.
Sementara
mereka dengan alasan yang sebenarnya tidak masuk akal dibuat menjadi masuk akal
karena ada kebutuhan yang membenarkan apa yang salah menjadi benar.
Inpeksi
mendadak dari kantor pusat, membuat mereka menyalahkan diriku karena tidak bisa
mencover perbuatan mereka yang alpa pada jam pagi keberadaan di kantor.
Mengapa
aku tidak mencari alasan ketidak
hadirian mereka sewaktu ada pemeriksaan.
Jumlah
mereka yang tidak hadir banyak bagaimana aku mencari alasan untuk satu persatu
mereka.
Hatiku
menjadi sakit, ketika mengingat perkataan Bu Intan sepekan sebelum
diberhentikan dari kantor karena absen yang banyak.
Padahal
aku tahu pasti ketidak beradanya Bu Intan karena anaknya yang harus berulang
alik masuk rumah sakit.
Sementara
Bu Intan single parent, ditinggal suaminya yang lebih memilih istri muda.
Sementara Bu Intan pendatang di kota tempat kami mengkais rezeki.
Seandainya
mencari pekerjaan mudah mungkin aku sudah memilih untuk berhenti.
Tatapan
laser dari mata mereka yang merasa terzolimi padahal mereka yang salah
membuatku tidak betah.
Seharian
ini rasa gerah menghingapi diriku, suhu AC yang sudah rendah tidak membuat
diriku merasa nyaman.
Aku
bagaikan ayam berak kapur tidak bisa mengangkat kepala.
Salwas
melihat tatapan mereka yang katanya terluka padahal mereka tahu pasti kesalahan
ada pada mereka.
Aku melangkah
menuju pantry untuk menyeduh pop mie, walaupun aku tahu memakan mie tidak sehat
tapi dengan terpaksa aku memakannya daripada tidak bisa menelan nasi yang
tersaji hangat di kantin kantor dengan tatapan menyalahkan dari kawan yang
tidak merasa salah.
Semakin
dikuliti, setelah makan siang aku mendengar kata sindiran yang menyakitkan
ketika kepala cabang baru memanggilku untuk masuk ke ruangannya.
Helaan
napas panjang aku lepas yang menyesakkan dada setelah melihat jam yang dengan
angkuhnya menunjukkan angka 4.30 waktunya semua pulan dan menganti siang hari
dengan senja yang akan menyosong Salwam dimana semua yang bekerja mendapatkan
jatah untuk mengistirahatkan lelah setelah seharian bekerja.
Langkahku
tertatih melepas lelah yang menghimpit dada sejak pagi, tidak ada menyahut kata
ketika aku berpamitan pada mereka.
Aku
bagaikan kasat mata, tidak suara bahkan wujudku seakan tidak ada.
“Pulang
Bu Laras.” Sapa dari Satpam yang menyapaku ramah.
Senyum
terbit setelah seharian ini tidak ada yang menyapaku.
“Iya Pak
sudah waktunya pulang.” Ucapku ramah.
“Hati –
hati dijalan Bu, mendung sudah mengelayut di langit semoga Ibu tidak berkena
hujan.”Ucap Satpam kantor
Ya Allah setelah seharian mendapatkan celaan dari teman kantor, akhirnya dipenghujung siang ada yang memberikan doa, hatiku seketika menjadi sejuk dan dengan ringan aku menjalankan kendaraaan yang menjadi teman pergi dan pulang dari mencari rezeki untuk kehidupanku sekeluargan.
“Assalmualaikum.’
Ucapku memberi salam ketika membuka pintu rumah yang tak terkunci.
Helaan
napas berat untuk menghilangkan resah yang tiba – tiba menyerang.
“Jika
Abang termasuk dengan karyawan di PHK bagaimana.” Ucap suamiku sepekan lalu.
Berat
rasanya kakiku melangkah masuk, seharusnya aku yang tiba di rumah, melihat
rumah tidak terkunci berarti suamiku pulang dulu dan itu tidak biasa.
Merapal
doa semoga ketakutan kami sepekan lalu tidak menjadi kenyataan, suamiku di PHK.
“Walaikumsalam.”
Suara berat menyambut salamku.
“Abang
sudah pulang.” Senyum termanisku harus aku tampilkan walaupun berat.
“Baru
nyampai rumah juga.” Netra kami saling bertautan.
Aku tidak
melihat kegelisahan di netra suami, senyum yang jarang terukir di bibirnya juga
manis terlihat oleh netraku.
Melangkah
mendekat, meraih tangannya untuk aku cium tanda takzim seorang istri.
“Abang
mau minum, Ara buatkan.” Ucapku
“Kopi
manis semanis istri Abang, buat dua ya. Abang ingin duduk santai berdua.”
Ucapnya membuatku kekeh mendengarnya.
Bang
Ikran bukan tipe yang romantis, selalu kaku tapi beliau sangat mencintaiku.
Bergegas
menuju kamar meletakkan tas dan menganti baju dengan daster bunga – bunga.
Melajukan
langkah menuju dapur untuk membuat minuman buat kami berdua.
Melihat
sekeliling teras tidak melihat keberadaan Bang Ikram.
“Abang di
pandopo samping rumah. “ Teriak Bang ikram memberitahuku
Ku susul
keberadaan Bang Ikram, Bang Ikram menyambutku dengan menepuk tangan meminta aku
duduk disampingnya.
“Ara
tidak memakai jilbab Bang.” Rutukku kepada Bang Ikran.
“Kita
duduk dipondopo samping rumah tidak akan ada yang melihatnya.” Dengan muka
selambe Bang Ikram berkata.
“Duduklah
santai sejenak, anak – anak lagi di rumah neneknya.” Baru ingin bertanya kemana
anak – anak karena rumah sepi tanpa perdebatan yang terjadi diantara mereka.
Indra dan
Intan buah hati kami yang terpaut 3 tahun selalu menjadi peramai rumah.
Netraku
membulat ketika Bang Ikram menarikku dalam peluknya dan mendaratkan kecupan
kecil dikeningku dua kali.
“Abang
kenapa?” ucapku terkejut.
“Kenapa apa?” bukan menjawab pertanyaanku Salwah Bang Ikram balik bertanya.
“Abang
baik – baik saja, ada yang ingin Abang bicarakan dengan Ara?” ucapku mengatur
kalimat jangan sampai Bang Ikram tertekan.
Sepekan
ini Bang Ikram selalu termenung setelah mengatakan akan ada PHK di kantornya.
“Terima
kasih sudah menjadi istri yang baik dan
Ibu yang hebat untuk anak – anak kita. Doa Istri menjadi penguat suami dalam
bekerja.” Bang Ikram menjeda kalimatnya.
Hati ini
bertambah degupanya menanti sambungan kalimat dari Bang Ikram.
“Abang
naik jabatan, terima kasih ini berkat doa Zahara dan anak – anak.” Sudut
netraku menghangat cairan bening menetes mendengar ucapan Bang Ikram yang
membuat hati lega setelah tadi sempat merasa tidak nyaman menunggu kalimat dari
Bang Ikram.
“Alhamdulillah.”
Bergetar suaraku mengucapkan hamdallah.
Spontan
aku memeluk tubuh Bang Ikram dan meletakkan kepalaku di dadanya yang bidang.
Sekali
aku mendapatkan kecupan hangat dipucuk kepalaku dan kening.
Netra
kami beradu dan senyumpun mengembang.
“Ayah,
Ibu kami pulang.” Teriak jagoanku sementara si bungsu hanya tubuh mungilnya
terlihat oleh netraku.
Mereka
berlomba mendekati kami, dengan sigap Bang Ikram bangun dari duduknya dengan
melepas lembut pelukanku dan meraih tubuh mungil si bungsu dan mengendongnya
serta kembali duduk di sebelahku.
“Adek
manja, sudah besar juga minta gendong dengan Ayah.” Rutuk kesal anak tuaku.
Padahal
dirinya dengan manja melabuhkan dirinya dalam pelukkanku.
“Nenek
mana? Tanya suamiku kepada kedua anakku.
“Nenek
sama Atok mengantar sampai depan saja, kata Atok ingin melihat temannya yang
sakit. Atok sudah menelepon Ayah tapi tidak diangkat.” Celoteh Indra anakku.
“HP Ayah
tertinggal di kamar, pasti HP Ibu juga tertinggal di kamar.” Ucap suamiku
sambil memukul dahinya yang tidak bersalah.
Kami
serempak ketawa melihat tingkah suamiku.
Menjelang
magrib baru kami masuk rumah untuk
sholat berjamah.
***
“Anak –
anak sudah tidur.” Ucap Bang Ikram
Aku
tersenyum dan menganggukkan kepala, seraya berjalan kearah Bang Ikram yang
sedang duduk diranjang kami sambil menonton TV, acara sport kegemarannya.
“Bang,
Laras mengundurkan diri dari kantor bagaimana pendapat Abang.” ucapku setelah
duduk disebelah Bang Ikram.
Netra
kami saling bertemu senyum pelit ciri Bang Ikram terlihat jelas di wajahnya
saat ini.
“Yakin
ingin berhenti kerja, jangan karena masalah kecil Laras memutuskan untuk
berhenti kerja. Dunia pekerjaan pasti ada masalahnya, sayang sudah tahun ke dua
puluh bekerja mau berhenti.
Berdoa
saja semoga ada perubahan dalam suasan kerja, tetap bertahan dengan prinsip
kerja Laras. Suntikkan pelan – pelan kepada teman sekerja Laras bahwa rezeki
itu ada pertanggung jawabanya bekerja dengan mengharap ridho Sang Pencipta ada
nisabnya kelak.”Panjang kali lebar suamiku memberi petuah.
Helaan
napas berat mengikis beban beratku, setelah dipikir apa yang dikatakan suamiku
adalah benar.
Aku tidak
bisa mengubah air laut menjadi tawar secara instan tapi perlu proses yang tidak
mudah.
Lega
rasanya setelah berbicara dengan suamiku.
Persimpangan jalan pikiranku sudah menemukan jalan lurusnya, semoga.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar