Sabtu, 14 Februari 2026

Pilihan


Langkahku gontai, lorong rumah sakit sepi, sesepi hatiku saat ini.

Airmata yang menumpuk sedari ruangan periksa tidak bisa aku tahan.

Satu persatu air itu turun bersama luruhnya badanku ke ubin rumah sakit.

Untung saja lorong tempat aku bersimpuh sepi. entah ini janji sang pencipta untuk menutup aibku karena aku menutup aib suamiku.

Apa aibku, hanya karena aku terlalu sedih memikirkan nasibku yang sudah tidak dianggap suamiku saat ini dan apa nasib janin yang sebetulnya lama aku tunggu tapi datang tidak tepat waktu.

“Abang akan menikah lagi, suka tidak suka terima.” Ucap suamiku tiga bulan lalu.

Seandainya Bang Zikri meminta baik – baik aku pasti mengizinkan dirinya untuk menikah lagi.

Menjelang tujuh tahun pernikahan belum juga ada jerit tangis bayi di rumah kami.

Dan hari ini, aku dikejutkan dengan berita yang sudah lama aku tidak aku harapkan lagi.

“Sudah 14 minggu ya Bu. Ibu beruntung tidak merasakan mual diawal kehamilan.” Kalimat dokter kandungan membuat duniaku menjadi terang benderang tapi seketika mengingat suamiku sudah menjatuhkan talak sebulan lalu walaupun kami belum menjalani sidang perceraian.

Izin sudah kuberikan, tapi entah apa yang menyebabkan suamiku menjatuhkan talak kepadaku.

“Niah, ada apa?” terkejut jangan lagi ditanya.

Suara Ibu mertuaku terdengar, bukan suara tapi sosok keibuanya sedang mensejajarkan posisi kami.

Tanganku di raihnya, mengajakku untuk berdiri.

“Kita duduk di situ.” Ucap Ibu mertuaku sambil membimbingku kearah kursi yang berjejer dilorong rumah sakit yang selalu digunakan oleh penjaga orang sakit jika jenuh berada di dalam kamar rawat inap.

“Mana Zikri?” tanya Ibu mertuaku.

Sangking gugup tanpa sengaja aku menjatuhkan foto USG-ku.

“Alhamdulillah.” Ucap Ibu mertuaku

Aku kalah cepat dengan Ibu mertuaku untuk memungut foto USG yang terjatuh.

Kecupan di pucuk kepala dan pipiku tanda terima kasih Ibu mertuaku aku terima dengan suka cita.

“Ibu berharap kehamilan ini akan mengugurkan niat Zikri untuk berpisah.” Harap Ibu mertuaku.

Sosok penganti Ibuku yang telah pergi pada tahun ke tiga pernikahanku.

Aku tidak pernah merasa kehilangan sosok Ibu dengan mempunyai mertua rasa Ibu.

Selalu memberikan semangat jika aku merasa jatuh kedasar jurang kelelahan dari ucapan – ucapan tak bertanggung jawab yang menafikan hak peto milik sang pencipta, dengan belum menitipkan keturunan pada pernikahan aku dan Bang Zikri.

Mertua yang selalu menjadi garda terdepan jika Bang Zikri mulai lelah dengan ucapan orang tentang keturunan yang belum juga kami peroleh.

“Zaniah lebih terluka Zik, jadi jangan jadi duri dalam daging dalam pernikahan kalian. Poligami bukan mudah, tidak ada keadilan dalam poligami sekarang. Zikri bukan Nabi ingat itu.” Ucap Mertuaku setahun setelah Ibuku meninggalkan.

Rumah tangga kami sempat tergucang karena ulah Bang Zikri yang termakan ucapan teman – temannya yang mengatakan mendingan menikah lagi daripada mengadopsi anak yang belum tentu keturunan siapa.

Anak sendiri saja sudah di atur, apalagi anak orang yang tidak tahu asal usulnya.

Jadi menyesal Aku kala itu mengusulkan untuk mengadopsi anak.

Akhirnya hampir setahun rumah tangga kami bagaikan neraka buatku, untung saja Ibu Mertuaku selalu menjadi pendamping setia dan akhirnya mereda niat Bang Zikri untuk poligami.

Mulutku terasa berat untuk mengatakan jika Bang Zikri sudah menalakku.

Aku yakin jika berita ini aku sampaikan Bang Zikri pasti kena amukan Ibu Mertuaku.

Bukan tanpa alasan aku mengatakan demikian.

Istri kedua suamiku adalah mantan terindahnya sewaktu kuliah yang sudah menjanda tanpa anak.

Kabarnya perceraian mereka karena KDRT yang menyebabkan keguguran sehingga memilih untuk bercerai.

Lamunanku terganggu ketika mendengar suara Ibu mertuaku yang sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon.

“Zikri ke rumah sakit sekarang.” Hanya kalimat itu yang aku dengar.

“Ibu menelepon Bang Zikri.” Ucapku setelah melihat Ibu mertuaku menurunkan teleponnya dari telinganya.

“Ibu hamil tidak baik banyak melamun, sudah setengah jam Ibu menelpon Zikr, Niah.” Ucap Ibu Mertuaku.

Kegalauan melandaku saat ini, bagaimana caranya aku memberi kabar kalau kami sudah pisah rumah.

“Assalamualaikum Mak.” Lagi – lagi jantungku dibuat berdetak lebih cepat.

Suara Bang Zikra memenuhi pendengaranku, spontan aku menoleh kearah datangya suara.

Senyum itu manis, semanis saat Bang Zikri melamarku untuk menjadi istrinya.

Rasa bahagia yang datang cepat secepat itu pergi, senyum itu bukan lagi milikku.

“Benar, Niah hamil.” Entah kapan tanganku sudah di raih Bang Zikri.

Dengan pelan aku melepaskan genggaman tangan Bang Zikri.

Netra Ibu Mertuaku memerah melihat aku melepas genggaman tangan putranya.

“Ada yang kalian sembunyikan dari Mak. Zikri, NIah.” Ucapan yang paling aku takutkan keluar dari mulut mertuaku.

Aku menundukkan kepala, biarlah Bang Zikri yang menjawab aku terlalu lelah menghadapi semua ini.

“Mak, izinkan Niah pulang. Niah butuh istirahat.” Ucapku setelah menguatkan hati.

Salwas untuk berlama – lama dengan Bang Zikri.

“Apa yang terjadi dengan kalian, Niah mau pulang kemana?” meninggu suara mertuaku.

Tanganku dicekal erat Ibu Mertuaku, tidak ada jalan untuk melangkah pergi.

“Kami sudah berpisah sebulan yang lalu, Mak.” Bergetar suara Bang terdengar ketika mengucapkan kalimatnya.

“Berpisah, hal sebesar ini tidak kau beritahu Mak, apa Mak sudah mati buat Kau Zikri.” Bergelegar suara Mak membuat bulu kudukku meremang.

Belum pernah aku melihat Ibu Mertuaku semarah Ini.

“Mari Niah, kita pulang. Tinggalkan budak tak berhati perut ini.” Ucap Mak marah sambil mengandeng tanganku meningggalkan Bang Zikri yang hanya mematung mendengar kemarahan Maknya.

***

Aku menatap langit kamar yang dulu menjadi tempat aku menginap jika datang ke rumah Ibu Mertuaku.

Ada rasa canggung ketika Mak tadi menyuruhku untuk langsung istirahat setibanya kami di rumah Ibu Mertuaku.

Bukanya aku mendapatkan pertanyaan bertubi – tubi dari Ibu mertuaku Salwah aku di suruh Istirahat dengan janji jika aku sudah tenang baru kami bicara.

Aroma kamar ini membuatku merindukan Bang Zikra.

Rinduku semakin mengunung dengan berada di kamar ini.

Gambar pernikahan kami tergantung manis di atas tempat tidur.

Senyum menghiasi bibir kami berdua, sungguh aku tidak berpikir akhirnya kata talak itu terucap dari bibir Bang Zikra yang katanya tidak akan pernah mengucapkan kata pisah sampai maut memisahkan kami.

Ada sesak yang tiba – tiba menyerang dadaku, aku bangun dari baringku melangkah pelan menuju pintu tidak sanggup untuk berlama di kamar ini.

Bukannya bisa istirahat aku Salwah semakin tersiksa karena rindu yang mengunung.

Perlahan aku menekan pintu kamar Bang Zikri berharap Ibu Mertuaku berada di kamarnya.

Dengan begitu aku bisa meninggalkan rumahnya dan kembali kerumah orangtuaku yang menjadi tempat tinggalku setelah kata talak terucap dari mulut Bang Zikri.

Harapanku punah, ketika melangkah ke ruang tamu, aku mendapati Bang Zikri sedang di sidang oleh kedua orang tuanya.

“Niah, kesini tidak jadi istirahat. Apa suara kami sampai ke kamar.” Ucap Ibu Mertuaku lembut.

Kepalaku penuh dengan masalah sehingga aku tidak mendengarkan apa yang terjadi luar kamar tadi.

Helaan napas berat seberat langkahku mendekati sofa yang ditunjuk oleh Ibu Mertuaku untuk aku duduki.

Hening sejenak, setelah aku duduk aku melihat sekilas kearah Bang Zikri yang menatapku lekat.

“Niah pasti sengaja menyembunyikan kehamilanya untuk membalas sakit hatinya Mak, pasti Niah sudah tahu jika Salbiah tidak bisa memberikan aku keturunan karena setelah kegugurannya dulu rahimnya diangkat.” Lantang suara bang Zikri.

Aku dan kedua orang tua Bang Zikri menatap tak percaya ke arah Bang Zikri.

Bukannya aku yang dibuang, masalah yang disebutkan Bang Zikri jika tidak terkeluar dari mulutnya Aku tidak akan tahu kalau istri kedua Bang Zikri tidak bisa memberikan dirinya keturunan.

“Sejak kapan, Niah pernah berbual dengan istri Abang sampai Niah tahu masalah yang begitu besar.” Ucapku lantang menahan emosiku karena tidak diterima dituduh Bang Zikri.

“Tujuh tahun kita menikah, apa pernah Niah membicarakan masalah rumah tangga kita kepada kedua orang tua kita? Abang jangan mencari kesalah Niah, berkacalah dengan keadaan selama ini. Siapa yang biasa mengumbar aib rumah tangga kita. Niah atau Abang.” Lanjutku.

Sesak rasanya dada ini, Ibu Mertuaku yang duduk disofa yang sama denganku meraih bahuku untuk memberikan pelukan yang aku butuhkan.

Dada bergetar hebat, tapi pantang bagiku menangis di depan Bang Zikri setelah dengan teganya menalakku tanpa mengatakan alasan yang jelas setelah aku memberikan izin untuk dirinya berpoligami.

Dua bulan aku dipoligami, hanya dua kali Bang Zikri pulang kerumah dan pulang waktu ketiga aku ditalaknya tanpa alasan jelas.

Memang Bang Zikri tidak memintaku untuk meninggalkan rumah kami.

Tapi chat dari istri kedua Bang Zikri membuatku berpikir ulang untuk tetap tinggal di rumah kami.

Dua bulan aku tinggal dirumah peninggalan orang tuaku, entah Bang Zikri tahu atau tidak.

Untung saja setiap ingin kerumah Ibu Mertuaku selalu memberi kabar sehingga aku selalu beralasan berada di luar rumah dan lebih memilih mengunjungi rumah Mertuaku untuk menutup Aib suamiku.

Tuduhan barusan sungguh membuat hatiku tambah luka, belum kering luka yang diberikan Bang Zikri kini luka itu ditambah lagi dengan tuduhan lain.

“Apa Abang tahu, selama 2 bulan ini Niah tidak tinggal diruman kita, tentu Abang tidak tahukan.” Ucapku ketus.

Aku mengeluarkan chat yang masih aku simpan dari maduku.

“Niah tahu diri untuk tinggal di rumah yang kata Abang milik kita. Abang bisa tanya tetangga kalau tidak percaya.” Ucapku lagi.

Kening Bang Zikri berkedut membaca Chat dari istri barunya.

“Setengah tahun Abang tidak memberi nafkah kepada Niah, apa Niah mengeluh.” Cecarku lagi.

“Kita belum resmi bercerai Bang, jika Niah jahat Niah bisa datang ke kantor Abang. Abang bisa dipecat karena menikah tanpa izin istri tua tapi Niah tidak mau berbuat itu. Cukup Abang yang zolim dengan Niah.” Sesak rasanya mengucapkan apa yang membatu dihatiku.

Lega rasanya setelah meluahkan semua rasa yang menghimpit diri.

“Mak rasanya Niah istirahat dirumah Niah sendiri saja, maaf sudah menyusahkan Abah Mak. Niah sudah memesan ojek. Niah izin balek.” Aku berdiri dari tempat dudukku melangkah menuju pintu rumah Mertuaku.

Tiga manusia yang selalu aku hormati setelah kedua orang tuaku harus melihat emosiku dan suaraku yang meninggi.

Rasa sesal sebenarnya meninggikan suara di depan Mertuaku.

***

Tak sampai lima belas menit aku sampai di rumah peninggalan orang tuaku.

Kami memang satu kampung, tapi kerana kesibukan hanya sekali waktu bisa datang berkunjung kerumah mertua.

Mertua yang sibuk dengan kegiatan sosial sejak pensiun membuatku kadang rasa bersalah karena belum memberikan mereka cucu yang diharapkan dari anak laki – laki mereka satu – satunya.

Setelah menyalakan lampu teras, aku melangkah menuju ruang tengah sengaja mematikan lampu ruang tamu. 

Menghemat listirk, melangkah menuju kamar masa gadisku untuk mengistirahatkan badan dan perasaanku yang lelah.

Tanpa sengaja tanganku meraba perutku yang masih rata.

“Kita akan bahagia tanpa Ayah Nak.” Lirihku sambil tersenyum untuk diriku dan janinku.

Belum juga aku sempat membuka pintu kamar, suara salam mengema dari ruang tamu.

Rasanya Salwas untuk melayan tamu, tapi untuk rasa sosial membuatku melangkahkan kami menuju ruang tamu.

Setelah menyalakan lampu ruang tamu, aku menuju pintu depan.

Menekan panel pintu, ada sosok Bang Zikri yang berdiri dengan tatapan yang membuatku merasa muak melihat wajahnya.

Aku menutup pintu kembali, Salwas untuk melayan Bang Zikri.

Suara meringis terdengar dipendengaranku, netraku menatap pintu yang tidak bisa aku tutup rapat.

Melihat ada tangan dan kaki yang menghalang aku menutup pintu.

“Izinkan Abang masuk.” Pinta Bang Zikri.

“Pulanglah Bang, tidak baik dilihat orang jika abang datang ke rumah mantan Abang.” Ucapku Salwas.

“Kita belum resmi bercerai Niah.”

“Abang sudah menalak Niah, ingat itu.” Ucapku ketus.

Kami masih saling bertahan dengan memegang pintu rumah dengan kekuatan masing – masing.

“Masalah agama Niah pasti paham, izinkan Abang masuk.” Memelas Bang Zikri mengucapkannya.

Akhirnya aku mengizinkan Bang Zikri masuk, Salwas juga rasanya menambah masalah, masalahku sudah banyak apalagi selam dua bulan di rumah orang tuaku mengundang gunjingan yang mempertanyakan stasusku.

Untung saja aku bekerja jika tidak pasti aku kenyang dengan makan hati karena gunjingan tetangga yang mempertanyakan masalah kenapa aku tinggal kembali di rumah orang tuaku.

“Maaf.” Kata terucap setelah kami duduk diruang tamu.

Aku mengangkat wajahku yang sengaja aku tundukkan Salwas untuk menatap wajah Bang Zikri.

“Maaf untuk apa, menalak Niah atau menuduh Niah menyembunyikan kehamilan Niah.

Yang perlu Abang tahu, baru Salwam ini Niah mengetahui Niah hamil.

Tak ada niat untuk menyembunyikan, Niah saja terkejut dengan kehamilan Niah, mungkin ini cara Sang Pencipta untuk mengantikan Abang sosok Abang dikehidupan Niah setelah menceraikan Niah dengan menitipkan Anak Abang di Rahim Niah.” Ucapku pilu.

Tentang masalah Abang dengan istri kedua Abang, 

Niah berani bersumpah demi anak dalam kandungan Niah, Niah tidak tahu kalau istri kedua Abang tidak bisa memberikan keturunan untuk Abang.” Lanjutku lagi, aku tidak mau Bang Zikri salah paham denganku.

Aku ingin semua terbuka, sehingga aku bisa menjalani kehamilan ini dengan tenang.

Lama kami terdiam dalam pikiran masing – masing.

“Maaf Niah, sebenarnya abang juga baru tahu kalau Salbiah tidak bisa memberikan keturunan, ketika orang tua Salbiah meminta kami untuk menjaga anak adiknya yang baru kehilangan istrinya.

Abang bersikukuh tidak mau, karena kami baru saja menikah kenapa harus mengadopsi anak yang nanti Salwah merepotkan Sal menjaga sehingga susah untuk hamil, itu pikiran Abang.

Tapi Salbiah dan orangtuanya terus mendesak, dan puncaknya dua hari yang lalu si kecil sakit dan menangis terus.

Kedua orang tua salbiah stress dan akhirnya terkeluarlah kalimant yang sungguh mengejutkan Abang.

Kenyataanya Salbiah tidak akan bisa memberikan Abang keturunan, sementara Abang menolak mengadopsi anak.

Sewaktu Mak menelepon Abang tadi, sungguh abang merasa seperti Allah menghukum Abang yang zolim kepada Niah.

Abang berucap tanpa berpikir, sungguh Abang menyesal. Maafkanlah Abang Saniah.” Lirih suara Bang Zikri berucap.

Bukanya bahagia mendengar ucapan bang Zikri aku Salwah kasihan dengan nasib Salbiah, jangan sampai Bang Zikri menalaknya seperti Bang Zikri menalakku.

Aku ada anakku, bagaimana dengan Salbiah jika sampai di tinggal Bang Zikri.

“Pulanglah Bang, biarkan semuanya berjalan seperit kemauan Abang. Niah cukup dengan anak kita saja, sementara jika Abang meninggal Salbiah, Salbiah akan  sendiri kasihan dengan Salbiah.” Ucapku mantanp.

Ada kilatan marah dan kecewa di netra Bang Zikri, aku tidak peduli, rasa sakit yang diberikan Bang Zikri ketika menalakku masih terasa parah, dan aku tidak ingin rasa sakit ini dirasakan oleh perempuan lain cukup aku saja.

“Saniah, Abang sudah ditipu ole Salbiah dengan memanfaatkan kekurangan rumah tangga kita.

Menjanjikan keturuan buat Abang, ternyata keturunan yang dijanjikan adalah anak adiknya Abang tidak bisa terima.” Teriak Bang Zikri marah.

Kasian, tentu tidak Bang Zikri sudah mengkhianatiku.

Izin menikah sudah aku berikan, berharap tidak ada talak untukku.

Aku menerim nasib jika nanti maduku yang bisa memberikan keturunan kepada Bang Zikri dan berharap dapat menumpang kasih dengan anak mereka kelak.

Harapan tinggal harapanku saja, setelah menikah Salwah aku di talak dengan alasan yang tak jelas.

“Pulanglah Bang, sudah Salwam rasanya cukup dua bulan ini Niah menahan rasa dikate orang sekampung kenapa Niah balik tinggal rumah orangtua Niah sendiri.

Ingin teriak mengatakan Niah janda, tapi pengadilan belum memutuskan kita bercerai, jadi tolong jangan buat Niah menderita lagi.(Bersambung)

#TantanganGurusiana

PILIHAN (8)

Tantangan hari ke 30.07.2024

 

Biarkan Niah tenang dengan calon anak kita Bang.” Ucapku menghiba.

Harap dengan menghiba Bang Zikri secepatnya meninggalkan rumahku tapi naas dalil tentang cerai terkeluar dari mulut Bang Zikri membuatku dengan kesal terpaksa mengizinkan Bang Zikri untuk menginap daripada Bang Zikri membuat masalah Salwam ini Salwah aku tidak bisa istirahat.

***

Azan subuh berkumandang, rasa kantukku menguap tapi bau yang membangkitkan selera makanku meningkat.

Bergegas aku menuju dapur bukannya mengambil wudhu untuk salam subuh Salwah aku membuka tudung saji.

Netraku membulat ada beberapa lauk yang menjadi favoritku terhidang dengan harum yang menyesak hidung.

“Kita sholat subuh dulu baru makan.” Suara Bang Zikri memecah rasa kagumku pada hidangan yang menguapkan asapnya karena baru siap dimasak.

Dengan Salwas aku mengambil wudhu dan melangkah menuju ruang sholat yang tersedia di rumah orangtuaku.

“Kenapa Bang Zikri tidak sholat di masjid,” batinku kesal.

Aku mendengarkan doa yang dipanjatkan Bang Zikri, ada rasa haru ketika Bang Zikri memohon ampun kepada Sang Pencipta karena zolim kepadaku.

Doa untuk kesehatan calon anak kami dan meminta perpanjangan jodoh kami sampai maut memisahkan.

Tanpa sadar aku mengaminkan doa Bang Zikri, ketika Bang Zikri membalikkan badan dan menyodorkan tangan kepadaku seperti kebiasan kami setelah sholat berjamah aku baru tersadar bahwa kami bukanlah muhrim.

Bergegas aku bangun dan meninggalkan Bang Zikri sendiri.

Ada rasa sesal dihati kenapa hari ini, hari ahad tidak ada alasan untukku mengusir Bang Zikri pulang untuk pergi kerja, begitu juga denganku tidak ada alasan untuk meninggalkan rumah karena aku tidak mengajar hari ini.

“Saniah, mari kita sarapan nanti sejuk masakan Abang tidak enak.” Panggil Bang Zikri di depan pintu kamarku.

Sejak habis solat subuh tadi aku mengurung diri di kamarku.

Pantas saja perukku sudah berdemo ria, melirik jam dinding ternyata sudah pukul 9 pagi.

Batas akhir untuk bersarapan, aku mengelus perutku yang masih datar.

“Maafkan Mak Nak.” Batinku.

Dengan berat hati aku menerima ajakan Bang Zikri untuk sarapan jangan sampai aku mensia – siakan anugrah yang sudah lama aku nanti dengan tidak memberikan makanan untuk tumbuh kembangnya.

***

Aku masih berkurung di dalam kamar setelah sarapan.

Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 siang, rasa bosan jangan dikatakan lagi tapi sungguh aku tidak ingin berinteraksi dengan Bang Zikri.

Bunyi dering HP ku yang melengking membuat aku mengalihkan perhatianku dari memandang buah pelam yang sedang berbuah lebat dari jendela kamarku.

“Salbiah.” Aku mengeja nama yang terpampang di layar HP–ku.

Angina apa yang membuatnya menghubungiku, rasanya sejak Salbiah memakiku dengan mengatakan aku tidak tahu diri karena Bang Zikri menginap dua Salwam karena aku demam dan sepekan kemudian talak atas diriku jatuh dari Bang Zikri.

Siapa yang tidak tahu diri, aku ataukah Salbiah, jika tidak karena izinku belum tentu dirinya dan Bang Zikri bisa menikah.

Ku biarkan HP – ku menjerit memekakkan teliga untuk mengangkatnya aku Salwas. Pasti kealpaan Bang Zikri tadi Salwam dirumahnya pasti aku yang akan disalahkan, lebih baik untuk mengabaikan panggilan dari Salbiah saja.

Notifkasi dari masuknya chat sekarang yang mengangguku, Salwas untuk melihat isi chatnya.

Sumpah serampah sudah pasti isinya, daripada merusak moodku dengan membaca isi chat Salbiah lebih baik aku menyuruh Bang Zikri saja yang pulang.

Dengan Salwas aku mencari keberadaan Bang Zikri.

Dari belakan sampai ke depan rumah aku tidak melihat keberadaan Bang Zikri.

Geduk, aku mendengar suara sesuatu yang jatuh dari samping rumah.

Berjalan cepat aku menuju samping rumah, netra hampir saja meloncat dari cangkang mataku ketika melihat Bang Zikri terongok di tanah dengan tangan mengosok bokongnya serta wajah yang meringis menahan sakit.

Pecah sudah tawaku, ide darimana Bang Zikri memanjat pohon pelam yang padat dengan kerengge tu.

Bergegas aku mendekat ke Bang Zikri membuang semut kerengge yang banyak dikepala dan badan Bang Zikri.

Setelah itu aku membantu Bang Zikri untuk bangun dari tanah.

Senyum manis yang dulu menjadi milikku tapi sekarang harus berbagi dengan yang lain membuatku terpesona.

“Niah pasti menginginkan buah pelam ni kan, Abangkan Ambil pelam yang masak sampai yang muda untuk niah.” Tangan Bang Zikri terhulur memberikan pelam yang dipetiknya.

 “Abang dah gila, pokok banyak semut Abang panjat. Beli saja di pasar banyak buah pelam ni, sekarang lagi musim tak perlu memanjat dan membuat Abang jatuh apakah berbaloi.” Teriakku marah.

Dengan wajah kesal aku mendekati Bang Zikri dan membantunya untuk bangun.

Semut kerengge yang menempel dikepala dan badan Bang Zikri aku kibas dengan tanganku.

“Aow.” aku menjerit ketika salah satu dari semut kerengge itu mengigitku.

“Mana yang digigit.” Dengan sigap Bang Zikri bertanya sementara matanya terus meneliti setiap inci badanku.

Gerah aku melihat tingkah Bang Zikri, dengan kesal aku melangkah lebar meninggalkan Bang Zikri yang masih meringgis karena ada semut yang tak terlihat oleh mataku sewaktu mengusirnya mengigit anggota tubuh Bang Zikri.

Bunyi Bum terdengar keras, sangking kesalnya aku dengan tingkah Bang Zikri yang tidak masuk akal.

***

Ketukkan di pintu kamar, tidak membuatku serta merta membukanya.

Paling Bang Zikri yang mengetuk pintu, sejak aku meninggalkan dirinya tadi pagi dan mendekam di kamar.

Untung ada persedian makanan yang aku bawa ke kamar sehingga sampaikan sore aku tidak perlu bertemu dengan Bang Zikri yang masih saja betah di rumah walaupun sudah beberapa kali aku memintanya untuk pulang ke rumah istri keduanya.

“Saniah buka pintunya, kasian dengan anak kita pasti kelaparan.” Kata rayuan yang sejak pagi aku dengar.

Rasanya ada yang mengiris hati, bukan gembira ketika Bang Zikri mengucapkan kata anak kami, lupakah Bang Zikri akan dirinya yang sempat tergoda menceraikanku.

Tanganku meraih headset dan meletakkannya diteliga menyetel sholawat untuk menenangkan hati, dan mulutku tidak berhenti mengunyah pelan yang sudah dikupas dan tinggalkan di depan kamarku oleh Bang Zikri yang kesal mengetuk pintu tidak juga aku buka.

“Niah, jangan makan pelam muda tu saja nanti sakit perut.” Masih juga terdengar rayuan Bang Zikri disela suara sholawat dari HP yang aku sambungkan ke headset.

Senyum tersunging dari bibirku, membayangkan rasa kesal Bang Zikri karena aku mengacuhkanya dari pagi tadi.

***

Akhirnya aku mendengar kendaraan yang selalu ditunggangi Bang Zikri meninggalkan rumah.

Lega rasanya, aku sudah mengurung diri lebih dari 8 jam, sesak tentu saja apalagi sejak hamil aku lebih suka duduk disamping rumah sambil memandangi pohon pelam yang lebat berbuah.

Aku menekan panel pintu kamarku, ringan melangkahkan kakiku menuju pintu samping terus menuju pondok yang berada di samping rumah tempat aku selalu melepas lelah dari aktifitas setiap hari.

Tanganku penuh dengan tentengan buah dan air putih untuk menemaniku santai di samping rumah.

“Ah leganya.” Gumamku sambil memandang pohon pelam yang berbuah lebat.

Kekehanku mengingat kejadian tadi pagi ketika dengan semangat baja Bang Zikri ingin mengambil hatiku dengan memanjat pohon yang banyak semutnya, tapi tidak ada lagi rasa kagum atas semua yang dilakukan Bang Zikri.

Rasanya Salwas untuk berurusan dengan Bang Zikri apalagi maduku yang tidak menginginkan menjadi madunya.

Aku hanya ingin memikirkan kesehatanku dan bayi yang aku kandung saja saat ini.

Senandung kecil terdengar sesekali dari bibirku, walaupun aku tahu makan sambil bersenandung tidak baik apalagi bisa membuat aku tersedak tapi entahlah saat ini aku hanya ingin bersenandung saja.

“Hm Hm.” Hampir saja aku tersedak camilanku

Suara deheman dari sosok yang enggan aku lihat saat ini.

Elusan lembut di pungungku membuat aku berdiri seketika.

Menepis tangan Bang Zikri spontan.

“Kenapa?” tanya Bang Zikri marah.

Melihat aku menepis tangannya yang mengelus punggunku.

“Niah baik – baik saja.” Ucapku datar.

“Abang masih muhrim Niah, apa tidak boleh Abang perhatian kepada Niah.” Tinggi intonasi Bang Zikri berucap.

Ekor mataku, menatap tidak suka kearah samping Bang Zikri.

Saat ini Salbiah maduku menatap tidak suka kepadaku.

Rasanya enggan untuk bertegang urat dengannya, andai saja aku bisa mencerita segala perbuatan Salbiah kepada Bang Zikri, betapa piciknya Salbiah selama kami bermadu.

Tapi apakah Bang Zikri akan percaya kepadaku?, rasanya hanya buang napas dan tenaga.

Melihat selama kami bermadu, aku selalu saja salah di mata Bang Zikri.

“Apakabar Kak.” Suara Salbiah terdengar

Geli aku mendengarnya, bagaimana tidak umurku lebih muda darinya yang notabene seumuran dengan Bang Zikri hanya karena aku kakak madunya dengan ringan Salbiah memanggilku Kakak.

“Aku baik – baik saja tadi, tapi sekarang rasanya kepalaku pusing dan harus istirahat di kamar.” Ucapku sambil berdiri dan siap melangkah ke kamarku kembali.

“Hanya pusing, bukanya lebih baik berada luar ruangan daripada terperap dikamar.” Sarkas Salbiah ketus.

“Sudah terlalu lama aku duduk di sini.” Ucapku acuh dan terus melangkah.

“Belum satu jam, Niah. Abang sengaja mengajak Sal kesini untuk memujuk Niah untuk keluar dari kamar.” Sela Bang Zikri membuatku muak.

“Niah lebih suka sendiri, lebih tenang. Niah membutuhkan ketenangan bukan hiruk pikuk yang menyebabkan sakit kepala.” Lanjutku berucap.

Bergegas aku mengayuh langkah lebar, semakin dilayan pasti banyak kalimat sarkas yang akan terucap dari mulutku.

Aku tidak mau aku berdosa karena berucap kasar, walaupun aku tahu bukan aku yang memulainya.

Langkah – langkah terdengar menyusulku yang terus berjalan menuju kamar.

“Niah, Sal izin menggunakan dapur. Kata Abang dari pagi Niah belum makan nasi.”Ucapan yang membuatku merasa muak.

“Tak payah, sewaktu Abang pulang tadi saya sudah makan empat sehat lima sempurna dengan susunya.” Ucapku.

“Alhamdulillah, Abang risau Niah tak mau makan sejak pagi karena itu Abang menjemput Sal, Sal masakannya enak.” Puji Bang Zikri.

“Terima kasih, Niah sudah terbiasa dengan masakan sendiri, dan rasanya tidak baik menyusahkan orang.” Ucapku tetap membantah.

“Abang, Sal lebih baik pulang. Sepertinya Niah tidak suka Sal berada di sini, padahal ini rumah Abangkan?” ucap kesal Salbiah.

“Maaf rumah ini, aku beli dengan uang hasil kerjaku.” Emosiku terpancing.

Rasanya ingin aku berteriak mengatakan selama menjadi istri Bang Zikri aku tidak pernah pasrah hidup dengan Bang Zikri.

Hanya mobil yang katanya hadiah untukku dari Bang Zikri tetapi akhirnya Bang Zikri juga yang menggunakannya karena aku lebih suka menaiki motor hasil titik peluhku saja.

Hanya jika berpergian dengan Bang Zikri aku menikmati hadiahku itu.

“Niah abang minta maaf jika abang salah lagi, Sal bersikukuh ikut kesini. Abang pikir akan membuat Niah gembira karena aka nada temannya.” Ucap Bang Zikri tak bersalah.

Sejak kapan api dan air akan bersatu itulah perumpanan aku dan maduku.

Aku mengetik papan sesuatu di gawaiku, Salwam untuk mengeluarkan suaraku yang berharga kepada pasangan yang selalu memancing emosiku.

“Cepat bawa Sal pergi, Niah lebih baik sendiri daripada ditemani Sal. Mengertilah dengan kondisi Niah saat ini. Niah sudah mengikuti kemauan Abang sekarang giliran Abang untuk sedikit pengertian dengan Niah.” Chatku kepada Bang Zikri.

“Alhamdulillah.” Desahku

Tenang, setelah kedua virus itu pergi dari rumahku.

Semoga Bang Zikri faham dengan kalimatku, aku ingin tenang dalam menjalani kehamilanku walaupun tidak seperti istri – istri lain yang ditemani oleh suaminya.

“Ah.”  Mengingat Bang Zikri lelah hatiku.

Saat semuanya sudah aku pasrahkan, Bang Zikri membuatnya menjadi benang kusut kembali.

***

Damai, dua hari ini aku rasakan.

Sendiri tidak membuatku merasa sendirian, aku lebih bahagia dengan leluasa mondar mandir mengililingi rumah.

Semoga kedamaian ini terus, aku tidak memperdulikan keberadaan Bang Zikri yang bisa dipastikan berada dirumah maduku.

Sedang asyik menikmati salad buah, suara notifikasi terdengar.

Aku melirik kelayar HP, nama Bang Zikri tertera.

“Foto.” Batinku

Rasa penasaran membuatku membukanya, mataku terbelalak melihat fota yang tersaji jelas di depan mata.

“Dirumah sakit mana Bang?” chatku

“RSUD, kamar 1B.” Balasan singkat kuterima.

Ragu, ingin tidak peduli tapi aku masih sah istri Bang Zikri tapi jika aku pergi takut ada drama yang membuat diriku tak tenang.

“Bismillah.” Ucapku setelah membulatkan hati menjalankan kendaraan yang akan mengantarku ke RSUD.

Butuh waktu setengah jam, sengaja berlama – lama di jalan dengan harapan tidak terlalu lama di RSUD.

Aku mengetuk pintu setelah sampai di kamar rawat inap Bang Zikri.

“Masuk” terdengar suara dari dalam kamar.

 “Macam orang lain saja Niah.” Suara Mertuaku terdengar.

Perempuan paruh baya yang menyanyangiku bagai anak sendiri.

Tapi sejak Bang Zikri menikah lagi hubungan kami menjadi renggang.

Ulah Bang Zikri membuat Ibu Mertuaku merasa malu.

Hanya chat darinya yang selalu menenamiku.

Melihat sekeliling berharap doaku terkabulkan tidak ada maduku ataupun keluarganya yang selalu merasa aku yang merampas kebahagian anak mereka.

Melihatku masih berdiri di depan pintu, mertuaku menyusul dan memelukku erat.

Buah yang sedang dikupasnya tergeletak manis diatas wadah diatas meja.

“Mereka tidak ada, dasar keluarga parasite. Meninggalkan Zikri seorang diri di RSUD.

Urat malu Zikri masih ada, kalau tidak rumah sakit yang menelepon Mak, tentu Mak tak tahu Zikri dirumah sakit.

Sampai saja di rumah sakit Mak langsung mengirim foto Zikri dengan telepon Zikri kepada Niah.

Mak yakin Zikri malu untuk berkabar kondisinya saat ini.” Ucap Mak panjang lebar.

Helaan napasku berat, mataku menatap buah yang belum terkupas sempurna oleh Ibu Mertuaku.

Bukan menuju kearah Bang Zikri yang dengan lemah menatapku sejak aku melangkah masuk.

“Mak Niah minta buah ni ye.” Ucapku penuh harap kepada Ibu Mertuaku.

“Makan, jangan sampai buat calon Cucu Mak ileran.” Ucapnyat sambil tersenyum lebar.

Seharian aku dan Ibu Mertuaku berbual mesra, Bang Zikri hanya menatap lemah kearah kami yang tidak menganggap dirinya kasat mata.

Menjelang sore aku pamit, punggungku terasa panas hanya duduk seharian.

“Hati – hati di jalan.” Pesan Ibu Mertua dan Bang Zikri.

“Allahuakbar.” Aku berucap

Membuka pintu melihat wajah masam Salbiah yang menatapku horor.

Aku menyampingkan diri memberi laluan kepada Salbiah.

“Pantas Abang tak berkabar, ternyata Abang sudah dijaga sama Niah.” Ketus ucapan Salbiah

Aku hanya menghela napas berat, ini drama yang ku maksud.

Masih segar dalam ingatanku, ketika Ibu Mertuaku memperlihatkan chat Bang Zikri dari HP Bang Zikri berkabar kalau dirinya dua hari lalu kena musibah di langgar orang ketika menyebarang jalan.

 Balasan Chat menyatakan Salbiah juga lagi sakit jadi tidak bisa menemani Bang Zikri di rumah sakit.

Salwas berlama – lama aku memilih melangkah lebar meninggalkan ruang rawat inap Bang Zikri.

***

“Abang keluar dari rumah sakit hari ini. Boleh Abang pulang ke rumah Niah.” Isi chat dari Bang Zikri.

Apakah aku berdosa sebagai istri hanya sekali aku melihat Bang Zikri di rumah sakit.

Sepertinya calon bayiku memberikan alasan untuk aku tidak menjengguknya.

Mual bagaikan minum obat saja, pagi, siang dan sore di jam besuk pasti aku muntah sehingga badanku terasa lemah.

Untung saja Ibu mertuaku selama tiga hari ini menjagaku setelah mengetahui keadaanku.

“Niah tunggu Abang di rumah, tapi Niah tidak mau ada drama dari Salbiah.” Tulisku membalas chat Bang Zikri.

Aku mengelap pinggir bibirku dari bekas muntahan yang tertinggal.

“Zikri mau pulang ke sini.” Ucap Ibu Mertuaku

Aku menoleh ke arah pintu kamar dimana Ibu Mertuaku berada saat ini.

Setiap mendengar aku muntah Ibu mertuaku yang 3 hari ini menginap disebelah kamar pasti akan menyusul ke kamarku.

Ternyata Bang Zikri sudah berkabar dengan Ibunya.

Suara kendaraan terdengar dari arah depan, Ibu mertuaku bergegas kedepan meninggalkanku yang masih terkulai lemah setelah muntah.

Langkah tergesa terdengar menuju kamarku, dengan kaki yang diseret aku melihat wajah Bang Zikri di pintu kamar.

“Maaf, Abang bukan suami yang siaga saat Niah hamil.” Ada gurat kecewa dari wajah Bang Zikri.

“Maaf, ternyata Abang salah pilih. Kaca yang terlihat seperti permata sehingga Abang meninggalkan berlian yang sudah digenggam. Abang harap berlian ini masih mau abang genggam erat kembali.” ucap Bang Zikri sepenuh hati.

Aku mengambil amplop yang disodorkan Bang Zikri setelah duduk sempurna di sampingku.

Logo pengadilan agama terlihat, keningku berkerut. Dadaku bertalu lebih cepat, dengan tangan gemetar dan ketakutan luar biasa aku membukanya.

Setetes air mata keluar di sudut mataku, helaan napas lega aku keluarkan.

Rasa yang berkecamuk galau ketika membukanya hilang sudah.

“Kami sudah bercerai, jangan rasa bersalah karena yang bersalah itu Abang.

Menurutkan nafsu dan obsesi masa muda membuat Abang lupa diri dan akhirnya diri Abang yang rugi karena pilihan yang tidak tepat.” Banyak lagi kalimat Bang Zikri yang tidak aku dengar.

Hanya rasa beban lepas dari pundakku, saat ini aku tidak ingin berbagi jika Bang Zikri memilih Salbiah aku sudah ikhlas.

Pilihan Ikhlasku ternyata berbuah manis, ikhlas dilepas ternyata aku yang dipilih Bang Zikri.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Pilihan

Langkahku gontai, lorong rumah sakit sepi, sesepi hatiku saat ini. Airmata yang menumpuk sedari ruangan periksa tidak bisa aku tahan. Sa...