Seperti biasa dini hari aku sudah terbangun, rasa lelah tidak membuatku bermalas – malasan. Sebelum aku beranjak meninggalkan ranjang melihat sekilas suamiku yang masih hanyut dalam mimpinya.
Menuju
dapur tempat untuk menyambut hari, dapur adalah tempat pertama untuk mengisi
hariku sebelum menuju tempatku mengabdikan diri yang membuat rumah tanggaku
akhir – akhir ini tidak nyaman.
Sebelum
menikah aku sudah mengabdikan diriku pada dunia Pendidikan yang merupakan cita
– citaku dari kecil. Izin calon suami juga sudah ku dapat, bahkan pernikahan
kami sudah berjalan 3 tahun, hanya akhir – akhir ini aku merasakan Bang Yusuf
keberatan dengan dunia yang aku geluti bahkan terlihat benci dan selalu meminta
aku untuk berhenti.
Selesai,
batinku melihat sarapan yang menjadi kesukaan Abang Yusuf dengan harapan tidak
ada lagi drama melarangku pergi mengajar.
Aku
Kembali ke kamar, azan subuh berkumandang bergegas aku mengambil handuk untuk
mandi sebelum menunaikan kewajiban sebagai umat beragama.
“Bang
bangun subuh sudah mau lewat.” Lembut ucapanku membangukan Bang Yussuf.
Aku menghela napas berat, bagaimana mungkin suamiku yang rajin sholat sekarang seperti lupa kewajibanya. Dulu sholat di awal waktu sekarang di akhir waktu itupun harus aku mengingatkannya.
Aku
meninggalkan rumah tanpa bisa membangunkan Bang Yusuf yang masih terlena di
alam mimpinya.
Rumah
tangga kami semakin dingin, hal – hal kecil membuat kami harus berdebat besar.
Pikiranku melayang membuang jauh – jauh pikiran buruk yang akhir – akhir ini
membuatku menjadi gundah.
Ingin
menafikannya tapi semua jelas tanda – tanda seorang pria memikili wanita
pilihan lain, ya Allah aku tidak mau menyebutnya karena takut menjadi doa jika
terkeluar dari mulutku.
Senyumku
merekah, gapura sekolahku sudah terlihat. Sapaan ceria dari suara – suara
mereka yang membuat hatiku dapat melupakan rasa gundah dari permasalahan rumah
tanggaku.
***
Waktu
berjalan cepat jika kita melalui dengan hati gembira, rasanya aku ingin waktu
berjalan lambat sehingga aku tidak harus sampai ke rumah yang tidak bisa
disebut rumah akhir – akhir ini.
Mataku
melihat pintu tamu yang terbuka lebar, belum waktunya Bang Yusuf pulang siapa
yang berada di rumah kami saat ini. Aku melajukan kendaraanku pikiran buruk
menghantuiku bagaimana ada pencuri. Tadi pagi sewaktu aku berangkat ke sekolah
Bang Yusuf masih di rumah aku tidak berharap dia ceroboh dengan pergi tergesa –
gesa sehingga lupa mengunci pintu rumah.
Suara
tawa menyambutku, ternyata Bang Yusuf berada di rumah dan yang membuat terkejut
ada Abah yang lagi berbual mesra dengan Abah.
Salamku
memecah ruang tamu, aku bergegas mendapatkan Abah untuk mencium takzim tangann
ya.
“Abah
datang sendiri?” tanyaku kepada Abahku.
“Emak lagi di dapur memasak untuk makan malam. Baru pulang untuk saja Abah bisa menghubungi Yusuf jika tidak Abah Emak kesusahan membawa hasil kebun kita.” Gerutu Abah.
Aku
bergegas menuju kamar untuk membersihkan badan dan bergegas membantu Mak di
dapur. Wajah tidak bersahabat menyambutku.
“jangan
sibuk dengan anak orang, urus suamimu Ka jangan sampai Yusuf mencari keluarga
baru untuk membuatnya Bahagia.” Sambutan yang menusuk hatiku yang aku terima
dari Mak.
Aku
meraih tangan yang sedari kecil mengasuhku, sejak mendapatkan menantu aku
merasa seperti orang luar, Abah Mak sangat menyayangi Bang Yusuf melebihi
diriku.
“Sudah
lebih setengah tahun sejak saat itu masih belum ada tanda – tanda lagi?”
Pertanyaan Mak menganggu ketenanganku.
Sejak aku
keguguran Mak enam bulan lalu hanya itu pertanyaan yang aku terima baik dari
Mak maupun Ibu mertuaku. Rasanya aku kenyang dengan pertanyaan yang membuat
tidurku tidak tenang.
Hal ini
juga yang membuat dua bulan terakhir menjadi objek pertengkaran kami, Bang
Yusuf menganggap aku terlalu berlebihan mengurus anak didikku sehingga
melupakan diriku yang seharus tidak lelah seperti pesan dari dokter kandungan
yang menjadi langgananku sejak aku keguguran. Bang Yusuf rutin mengantarku
untuk cek sekalian promil.
***
Saat ini
kami sedang menyantap makan malam dengan tenang, hanya tatapan tajam dari Mak
tidak lepas memandangku. Percakapan kami di dapur tidak selesai itu membuat Mak
masih marah padaku.
Dua nak didikku datang menyelamatkan aku dari cercaan Mak yang tidak tahu bagaimana Bang Yusuf memperlakukanku akhir – akhir ini. Sunguh ingin rasanya aku menceritakan kelakuan Bang Yusuf kepada Mak tapi lagi – lagi aku takut penyakit Mak kambuh kalau sampai membuka aib menantu kesayangannya.
“Kenapa
tidak membangunkan Abang tadi pagi sampai – sampai Abang terlambat bekerja.
Urus saja anak orang sampai Abah Mak teleponku tidak diangkat. Anak durhaka.”
Ucap Bang Yusuf sinis.
Cepat –
cepat meninggalkan rumah sampai aku terlupa membawa cas hp wal hasil aku tidak
bisa dihubungi oleh orangtuaku, malas untuk membela diri lebih baik aku diamkan
saja Bang Yusuf.
Banyak
yang diucapkan Bang Yusuf tapi makin lama suara Bang Yusuf makin pelan dan aku
tidak ingat apa yang terjadi.
***
Aroma
menusuk membuatkan terbangun, pandanganku perlahan mulai menangkap suasana
kamar, ini bukan kamarku.
Aku
melihat sekeliling, padanganku bertemu dengan wajah Bang Yusuf yang menatapku
lekat. Ada senyum tipis dan matanya berbinar menatapku.
“Hana
saki tapa?” tanyaku kepada Bang Yusuf
Sudah dua
pekan ini aku merasakan sakit kepala belum lagi perutku yang terasa
gembung belum lagi bawah perutku terasa
nyeri.
Pintu
kamar terbuka, suara heboh Mak bersama Mertuaku terdengar jelas. Hanya Abah dan
Ayah Mertuaku yang berjalan Santai dengan senyum yang menghiasi bibir tua
mereka.
“Alhamdulillah
sudah sadar, Sup mulai sekarang jaga Hana baik – baik yang sudah lama kalian
tunggu akhir datang juga. Ibu tahu bagaimana temperamennya Kamu Sup. Belajarlah
untuk lebih lembut dengan Hana, ingat jangan sampai kalian kehilangan seperti
dulu. Untung saja cepat ketahuan, Hana ini memang tidak pernah sadar jika
dirinya sudah berbadan dua.” Omel Ibu Mertuaku.
Dari
segitu banyaknya kata yang diucapkan Ibu Mertuaku hanya kata berbadan dua yang
nempel diingatanku. Secepat kilat aku meraba perutku.
Aku tersentak ketika tangan bang Yusuf juga menyentuh perutku yang tertutup selimut.
Aku
hamil, batinku.
Cairan
bening menetes dari sudut mataku, hatiku merapal doa kesyukuran tidak henti.
Gengaman hangat dari tangan Bang Yusuf menambah hangat tanganku.
Senyumku
pudar mengingat perkataan Bang Yusuf sebelum aku kesadaranku hilang, aku
menarik tanganku dari genggaman Bang Yusuf memalingkan pandangaku kearah
jendela.
“Hana
mengapa ada yang sakit, Kata dokter tadi hanya terlalu lelah. Kasih tahu Abang
jika ada yang sakit. Hana Hana Hana jangan diam saja.” Terdengar suara putus
asa dari mulut Bang Yusuf.
“Hana
kenapa, ada yang salah kasih tahu Mak. Hana harus lebih memperhatikan kehamilan
Hana, kasih tahu apa yang membuat Hana tidak nyaman.” Sekarang terdengar suara
Mak yang Khawatir.
“Hana
jangan disimpan sendiri kekesalah hati, Ibu tahu Yusuf kadang keterlaluan.
Luahkan saja perasaan tidak nyaman Hana daripada menganggu mental dan kehamilan
Hana.” Ibu Mertuaku tidak mau ketinggalan berucap.
Aku
mengalihkan pandanganku menatap mereka yanag berbicara.
“Hana
tahu semua hanya mengkhawatirkan kehamilan Hana tapi tidak dengan Hana sendiri.
Mak Ibu sudah lama menantikannya tapi Mak Ibu tahu ucapan Mak Ibu melukai
perasaan Hana selama ini. Belum lagi tingkah Bang Yusuf selama dua bulan ini
hanya menganggap Hana sampah bukan istri yang harus difahami dan disayangi,
Hana tidak menginginkan perhatian semua, biarkan Hana sendiri. Hana bisa
mengurus diri Hana dan bayi dalam kandungan Hana. Tinggalkan Hana sendiri Hana
butuh istirahat.” Ucapku lancar.
Rasa lega
sudah meluahkan apa yang mengendap di hatiku beberapa bulan ini, setelah
mengucapkan kalimat itu aku membaringkan badanku dan menarik selimut menutup
seluruh tubuhku.
“Maaf
Hana, tapi jangan menutupi wajah juga nanti Hana sesak napas. Baik Abang akan
keluar dari kamar.” Terdengar suara Bang Yusuf pasrah.
“Siapa
yang menyuruh Abang pulang, Abang menunggu di luar kamar saja.” Ucapku ketus
dari balik selimut.
Hening, tidak ada lagi suara ataupun bergerakan, akhirnya aku membuka selimut yang menutup wajahku, kesal tentu saja aku kesal bagaimana tidak kesal. Wajah Bang Yusuf masih memandangku lekat tapi tidak ada lagi penampakan kedua orangtuaku maupun mertuaku.
“Kenapa
masih di dalam kamar, sesak rasanya Abang di luar saja.” Ucapku ketus.
“Dosa
mengusir suami, Abang salah, maafkan abang, usaha kita lagi bermasalah, hal ini
mungkin yang menyebabkan Hana berfikir Abang mengabaikan Hana. Tapi sungguh
Abang tidak mau Hana tahu kondisi usaha Abang, belum lagi Abang harus
menghadapi guru Matematika di sekolah Hana yang menyebalkan setiap hari ada
saja postingan kebersamaan Hana dengannya, itu yang membuat Abang meminta Hana
untuk berhenti.’ Oceh Bang Yusuf panjang lebar.
Pak Andi,
apa betul Pak Andi berbuat seperti itu, batinku tidak percaya. Memang akhir –
akhir ini Pak Andi ingin jadi konten creator ada saja yang dipostingya tapi aku
tidak pernah melihat hasilnya, terlalu sibuk dengan memikirkan sikap Bang Yusuf
yang menurutku berubah dan ternyata sikap Bang Yusuf berubah ada penyebabnya.
Bang
Yusuf menyodorkan hp-nya kepadaku, aku mengambil hp Bang Yusuf mulutku terbuka
sedikit dengan mata yang melotot tidak percaya dengan apa yang aku lihat dan
baca.
“Guru
tercantik di sekolah kami lagi tidak masuk, terasa kosong sekolah dan hidupku.
Cepat sembuh ya Bu, besok kita buat sekolah menjadi ramai dengan kehadiran
kita.” Tulis Pak Andi.
Belum
lagi ada gambar Aku dan Pak Andi lagi menyaksikan mereka peserta didikku
sewaktu pertandingan walaupun duduk kami tidak bersebelahan tapi tetap saja
akan memancing animo yang melihatnya.
Kesal aku
dengan Pak Andi, karena dirinya aku sampai – sampai berpikiran yang tidak –
tidak terhadap Bang Yusuf.
“Maaf
Hana salah.” Ucapku malu setelah melihat postingan Pak Andi.
“Masih
mau mengusir Abang dari kamar ini, kalau Hana tidak mau kehadiran Abang, Abang
pastikan bayi kita ingai Ayahnya berada di dekatnya?” sindir Bang Yusuf.
“Abang
jangan marah, kalau Abang marah Hana stress bukanya tadi kata Abang, dokter
berpesan Hana tidak boleh stress.” Ucapku manja sambil tanganku bergerak
meminta Bang Yusuf mendekatiku.
Bang
Yusuf melangkah mendekatiku, aku meraih tangan Bang Yusuf setelah Bang Yusuf
mendekat.
“Maaf
hanya terlalu sensitive.” Ucapku dan mencium tangan Bang Yusuf.
Ah
rasanya dunia milikku ketika Bang Yusuf mencium keningku, rindu dengan
kebersamaan yang beberapa bulan ini sepertinya menjauh dariku dan Bang Yusuf.
“Maafkan
Abang juga membuat Hana berjuang sendiri untuk memberikan rumah kita Cahaya.”
Ucap Bang Yusuf sambil mengecup tanganku.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar