Sabtu, 27 Desember 2025

Sampai Waktunya



Seperti biasa dini hari aku sudah terbangun, rasa lelah tidak membuatku bermalas – malasan. Sebelum aku beranjak meninggalkan ranjang melihat sekilas suamiku yang masih hanyut dalam mimpinya.

Menuju dapur tempat untuk menyambut hari, dapur adalah tempat pertama untuk mengisi hariku sebelum menuju tempatku mengabdikan diri yang membuat rumah tanggaku akhir – akhir ini tidak nyaman.


Sebelum menikah aku sudah mengabdikan diriku pada dunia Pendidikan yang merupakan cita – citaku dari kecil. Izin calon suami juga sudah ku dapat, bahkan pernikahan kami sudah berjalan 3 tahun, hanya akhir – akhir ini aku merasakan Bang Yusuf keberatan dengan dunia yang aku geluti bahkan terlihat benci dan selalu meminta aku untuk berhenti.

Selesai, batinku melihat sarapan yang menjadi kesukaan Abang Yusuf dengan harapan tidak ada lagi drama melarangku pergi mengajar.

Aku Kembali ke kamar, azan subuh berkumandang bergegas aku mengambil handuk untuk mandi sebelum menunaikan kewajiban sebagai umat beragama.

“Bang bangun subuh sudah mau lewat.” Lembut ucapanku membangukan Bang Yussuf.

Aku menghela napas berat, bagaimana mungkin suamiku yang rajin sholat sekarang seperti lupa kewajibanya. Dulu sholat di awal waktu sekarang di akhir waktu itupun harus aku mengingatkannya.

Aku meninggalkan rumah tanpa bisa membangunkan Bang Yusuf yang masih terlena di alam mimpinya.

Rumah tangga kami semakin dingin, hal – hal kecil membuat kami harus berdebat besar. Pikiranku melayang membuang jauh – jauh pikiran buruk yang akhir – akhir ini membuatku menjadi gundah.

Ingin menafikannya tapi semua jelas tanda – tanda seorang pria memikili wanita pilihan lain, ya Allah aku tidak mau menyebutnya karena takut menjadi doa jika terkeluar dari mulutku.

Senyumku merekah, gapura sekolahku sudah terlihat. Sapaan ceria dari suara – suara mereka yang membuat hatiku dapat melupakan rasa gundah dari permasalahan rumah tanggaku.

***

Waktu berjalan cepat jika kita melalui dengan hati gembira, rasanya aku ingin waktu berjalan lambat sehingga aku tidak harus sampai ke rumah yang tidak bisa disebut rumah akhir – akhir ini.

Mataku melihat pintu tamu yang terbuka lebar, belum waktunya Bang Yusuf pulang siapa yang berada di rumah kami saat ini. Aku melajukan kendaraanku pikiran buruk menghantuiku bagaimana ada pencuri. Tadi pagi sewaktu aku berangkat ke sekolah Bang Yusuf masih di rumah aku tidak berharap dia ceroboh dengan pergi tergesa – gesa sehingga lupa mengunci pintu rumah.

Suara tawa menyambutku, ternyata Bang Yusuf berada di rumah dan yang membuat terkejut ada Abah yang lagi berbual mesra dengan Abah.

Salamku memecah ruang tamu, aku bergegas mendapatkan Abah untuk mencium takzim tangann ya.

“Abah datang sendiri?” tanyaku kepada Abahku.

“Emak lagi di dapur memasak untuk makan malam. Baru pulang untuk saja Abah bisa menghubungi Yusuf jika tidak Abah Emak kesusahan membawa hasil kebun kita.” Gerutu Abah. 

Aku bergegas menuju kamar untuk membersihkan badan dan bergegas membantu Mak di dapur. Wajah tidak bersahabat menyambutku.

“jangan sibuk dengan anak orang, urus suamimu Ka jangan sampai Yusuf mencari keluarga baru untuk membuatnya Bahagia.” Sambutan yang menusuk hatiku yang aku terima dari Mak.

Aku meraih tangan yang sedari kecil mengasuhku, sejak mendapatkan menantu aku merasa seperti orang luar, Abah Mak sangat menyayangi Bang Yusuf melebihi diriku.

“Sudah lebih setengah tahun sejak saat itu masih belum ada tanda – tanda lagi?” Pertanyaan Mak menganggu ketenanganku.

Sejak aku keguguran Mak enam bulan lalu hanya itu pertanyaan yang aku terima baik dari Mak maupun Ibu mertuaku. Rasanya aku kenyang dengan pertanyaan yang membuat tidurku tidak tenang.

Hal ini juga yang membuat dua bulan terakhir menjadi objek pertengkaran kami, Bang Yusuf menganggap aku terlalu berlebihan mengurus anak didikku sehingga melupakan diriku yang seharus tidak lelah seperti pesan dari dokter kandungan yang menjadi langgananku sejak aku keguguran. Bang Yusuf rutin mengantarku untuk cek sekalian promil.

***

Saat ini kami sedang menyantap makan malam dengan tenang, hanya tatapan tajam dari Mak tidak lepas memandangku. Percakapan kami di dapur tidak selesai itu membuat Mak masih marah padaku.

Dua nak didikku datang menyelamatkan aku dari cercaan Mak yang tidak tahu bagaimana Bang Yusuf memperlakukanku akhir – akhir ini. Sunguh ingin rasanya aku menceritakan kelakuan Bang Yusuf kepada Mak tapi lagi – lagi aku takut penyakit Mak kambuh kalau sampai membuka aib menantu kesayangannya.

“Kenapa tidak membangunkan Abang tadi pagi sampai – sampai Abang terlambat bekerja. Urus saja anak orang sampai Abah Mak teleponku tidak diangkat. Anak durhaka.” Ucap Bang Yusuf sinis.

Cepat – cepat meninggalkan rumah sampai aku terlupa membawa cas hp wal hasil aku tidak bisa dihubungi oleh orangtuaku, malas untuk membela diri lebih baik aku diamkan saja Bang Yusuf.

Banyak yang diucapkan Bang Yusuf tapi makin lama suara Bang Yusuf makin pelan dan aku tidak ingat apa yang terjadi.

***

Aroma menusuk membuatkan terbangun, pandanganku perlahan mulai menangkap suasana kamar, ini bukan kamarku.

Aku melihat sekeliling, padanganku bertemu dengan wajah Bang Yusuf yang menatapku lekat. Ada senyum tipis dan matanya berbinar menatapku.

“Hana saki tapa?” tanyaku kepada Bang Yusuf

Sudah dua pekan ini aku merasakan sakit kepala belum lagi perutku yang terasa gembung  belum lagi bawah perutku terasa nyeri.

Pintu kamar terbuka, suara heboh Mak bersama Mertuaku terdengar jelas. Hanya Abah dan Ayah Mertuaku yang berjalan Santai dengan senyum yang menghiasi bibir tua mereka.

“Alhamdulillah sudah sadar, Sup mulai sekarang jaga Hana baik – baik yang sudah lama kalian tunggu akhir datang juga. Ibu tahu bagaimana temperamennya Kamu Sup. Belajarlah untuk lebih lembut dengan Hana, ingat jangan sampai kalian kehilangan seperti dulu. Untung saja cepat ketahuan, Hana ini memang tidak pernah sadar jika dirinya sudah berbadan dua.” Omel Ibu Mertuaku.

Dari segitu banyaknya kata yang diucapkan Ibu Mertuaku hanya kata berbadan dua yang nempel diingatanku. Secepat kilat aku meraba perutku.

Aku tersentak ketika tangan bang Yusuf juga menyentuh perutku yang tertutup selimut. 

Aku hamil, batinku.

Cairan bening menetes dari sudut mataku, hatiku merapal doa kesyukuran tidak henti. Gengaman hangat dari tangan Bang Yusuf menambah hangat tanganku.

Senyumku pudar mengingat perkataan Bang Yusuf sebelum aku kesadaranku hilang, aku menarik tanganku dari genggaman Bang Yusuf memalingkan pandangaku kearah jendela.

“Hana mengapa ada yang sakit, Kata dokter tadi hanya terlalu lelah. Kasih tahu Abang jika ada yang sakit. Hana Hana Hana jangan diam saja.” Terdengar suara putus asa dari mulut Bang Yusuf.

“Hana kenapa, ada yang salah kasih tahu Mak. Hana harus lebih memperhatikan kehamilan Hana, kasih tahu apa yang membuat Hana tidak nyaman.” Sekarang terdengar suara Mak yang Khawatir.

“Hana jangan disimpan sendiri kekesalah hati, Ibu tahu Yusuf kadang keterlaluan. Luahkan saja perasaan tidak nyaman Hana daripada menganggu mental dan kehamilan Hana.” Ibu Mertuaku tidak mau ketinggalan berucap.

Aku mengalihkan pandanganku menatap mereka yanag berbicara.

“Hana tahu semua hanya mengkhawatirkan kehamilan Hana tapi tidak dengan Hana sendiri. Mak Ibu sudah lama menantikannya tapi Mak Ibu tahu ucapan Mak Ibu melukai perasaan Hana selama ini. Belum lagi tingkah Bang Yusuf selama dua bulan ini hanya menganggap Hana sampah bukan istri yang harus difahami dan disayangi, Hana tidak menginginkan perhatian semua, biarkan Hana sendiri. Hana bisa mengurus diri Hana dan bayi dalam kandungan Hana. Tinggalkan Hana sendiri Hana butuh istirahat.” Ucapku lancar.

Rasa lega sudah meluahkan apa yang mengendap di hatiku beberapa bulan ini, setelah mengucapkan kalimat itu aku membaringkan badanku dan menarik selimut menutup seluruh tubuhku.

“Maaf Hana, tapi jangan menutupi wajah juga nanti Hana sesak napas. Baik Abang akan keluar dari kamar.” Terdengar suara Bang Yusuf pasrah.

“Siapa yang menyuruh Abang pulang, Abang menunggu di luar kamar saja.” Ucapku ketus dari balik selimut. 

Hening, tidak ada lagi suara ataupun bergerakan, akhirnya aku membuka selimut yang menutup wajahku, kesal tentu saja aku kesal bagaimana tidak kesal. Wajah Bang Yusuf masih memandangku lekat tapi tidak ada lagi penampakan kedua orangtuaku maupun mertuaku.

“Kenapa masih di dalam kamar, sesak rasanya Abang di luar saja.” Ucapku ketus.

“Dosa mengusir suami, Abang salah, maafkan abang, usaha kita lagi bermasalah, hal ini mungkin yang menyebabkan Hana berfikir Abang mengabaikan Hana. Tapi sungguh Abang tidak mau Hana tahu kondisi usaha Abang, belum lagi Abang harus menghadapi guru Matematika di sekolah Hana yang menyebalkan setiap hari ada saja postingan kebersamaan Hana dengannya, itu yang membuat Abang meminta Hana untuk berhenti.’ Oceh Bang Yusuf panjang lebar.

Pak Andi, apa betul Pak Andi berbuat seperti itu, batinku tidak percaya. Memang akhir – akhir ini Pak Andi ingin jadi konten creator ada saja yang dipostingya tapi aku tidak pernah melihat hasilnya, terlalu sibuk dengan memikirkan sikap Bang Yusuf yang menurutku berubah dan ternyata sikap Bang Yusuf berubah ada penyebabnya.

Bang Yusuf menyodorkan hp-nya kepadaku, aku mengambil hp Bang Yusuf mulutku terbuka sedikit dengan mata yang melotot tidak percaya dengan apa yang aku lihat dan baca.

“Guru tercantik di sekolah kami lagi tidak masuk, terasa kosong sekolah dan hidupku. Cepat sembuh ya Bu, besok kita buat sekolah menjadi ramai dengan kehadiran kita.” Tulis Pak Andi.

Belum lagi ada gambar Aku dan Pak Andi lagi menyaksikan mereka peserta didikku sewaktu pertandingan walaupun duduk kami tidak bersebelahan tapi tetap saja akan memancing animo yang melihatnya.

Kesal aku dengan Pak Andi, karena dirinya aku sampai – sampai berpikiran yang tidak – tidak terhadap Bang Yusuf.

“Maaf Hana salah.” Ucapku malu setelah melihat postingan Pak Andi.

“Masih mau mengusir Abang dari kamar ini, kalau Hana tidak mau kehadiran Abang, Abang pastikan bayi kita ingai Ayahnya berada di dekatnya?” sindir Bang Yusuf.

“Abang jangan marah, kalau Abang marah Hana stress bukanya tadi kata Abang, dokter berpesan Hana tidak boleh stress.” Ucapku manja sambil tanganku bergerak meminta Bang Yusuf mendekatiku.

Bang Yusuf melangkah mendekatiku, aku meraih tangan Bang Yusuf setelah Bang Yusuf mendekat.

“Maaf hanya terlalu sensitive.” Ucapku dan mencium tangan Bang Yusuf.

Ah rasanya dunia milikku ketika Bang Yusuf mencium keningku, rindu dengan kebersamaan yang beberapa bulan ini sepertinya menjauh dariku dan Bang Yusuf.

“Maafkan Abang juga membuat Hana berjuang sendiri untuk memberikan rumah kita Cahaya.” Ucap Bang Yusuf sambil mengecup tanganku.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Lentera Hati

  Helaan napas berat membuatku merasa lega, mengusir sebak yang menyesakkan dada. Badanku yang lelah bertambah lelah, dan akhirnya hari in...