Dadaku
turun naik, pengalaman menjadi guru selama 25 tahun ternyata tidak membuatku
santai mengajar di kelas X.6.
Bagaimana
tidak sejak masuk sudah ada kendala yang membuat merasa tidak nyaman mengajar.
Ruang
kelas yang seyogyanya harus bersih, pagi ini bagaikan TPA saja penuh dengan
sampah yang kemarin lusa tidak dibersihkan.
Rasa
busuk yang menyengat membuatku beberapa kali bersin sehingga hidungku terasa
perih.
Setelah
upacara dipagi yang mataharinya menyengat membuatku ingin tenang mengajar di
jam pertama lenyap sudah.
Jengah
melihat ruang kelas yang berantakkan membuatku harus istifar dalam hati jangan
sampai terpancing emosi.
Jadwalnya untuk mengambil nilai harus aku undur dengan membiarkan mereka membersihkan kelas terlebih dahulu.
Trik jitu
yang sebenarnya sudah aku hafal betuk, tidak siap untuk tes mereka membuat
kelas kotor sehingga mengulur waktu.
“Sepuluh
menit, jika tidak siap semuanya masuk jurnal kelas karena tindakan negative
tidak memberishkan kelas.” Ucapku lantang.
Suara
lebah terdengar dari mulut – mulut mereka tidak terima dengan ucapanku yang
menjadi ketentuan.
Bau
Keringat bercampur dengan bau kaos kaki yang tidak dicuci membuat suasana kelas
menjadi tidak nyaman.
Aku
paling anti dengan bau koas kaki, mereka sepertinya sengaja melakukannya.
Aku
mengeluarkan botol freshcare dari dalam saku bajuku.
Bocah –
bocah nakal melihatku dengan tatapan tidak senang.
Hatiku
tersenyum, ini balasan dariku untuk mereka yang selalu usil.
“Waktu
kalian tinggal 45 menit, tadi sudah tersita dengan membersihkan kelas.” Ucapkun
tegas.
“Mana
cukup Bu waktu 45 menit.” Koor mereka yang terkenal usil di kelas.
“Bagi
yang serius belajar waktu 45 menit berlebih, kosentrasi membaca materi
insyallah pasti bisa menjawab.
Contek,
rasanya memakan waktu lama.” lanjutku sambil tatapanku mengitari seluruh kelas.
“Tidak
contek tidak seru Bu.” Ucap yang usil
“Zaman
udah move on, contek tetap bertahan. Kayaknya memalukan.” Aku menirukan gaya
mereka berbicara.
Suara tawa mengema mereka yang usil menundukkan kepala.
“Ok
sekarang waktunya menganalisis soal, tidak ada yang ribuT. Bekerja menggunakan
otak untuk berfikir dan tangan untuk menulis, jadi tidak ada yang menggunakan
mulut, jadi mulutnya ditutup alias diam.” Perintahku tegas.
Setengah
jam berlalu, tenang dan damai.
Gedebuk,
bunyi benda terjatuh, semua mata menatap ke arah sumber suara.
“Asu.”
Ucap Indra sambil menunjuk kearah David.
Suara
isak terdengar dari mulut sari, siswi yang terduduk lemas di lantai, karena
terjatuh dari kursi yang didudukinya.
Aku
melangkah kearah Sari, menatapnya Iba. David si biang kerok kelas terlihat
santai tak bersalah.
Si
pembuat ulah david merasa tak bersalah setelah menarik kursi Sari.
Aku yakin
sekali, David kesal tidak diberi contekkan oleh Sari si jenius di kelas X.6
Ulah ini
sering terjadi pada guru mata pelajara lain, dan kami para guru sering
membicarakannya.
Tapi hari
ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.
Aku
menatap David nyalang.
“Sari
duduk di meja Ibu saja.” Ucapku
Sari
menganggukkan kepalanya dan berlalu menuju kursiku.
Aku
mendirikan kursi Sari dan menghadapkannya kearah David.
Tanpa Aba
– Aba aku duduk dan menatap David lekat.
“Selesaikan
tugas yang Ibu berikan sekarang.” Tatapku ke arah wajah David.
Bukannya
takut, senyum usilnya terlihat jelas.
Aku
membesarkan mataku baru David menundukkan kepala menatap kertas yang berada di
depannya.
Ingin
rasanya aku meluahkan kesalku dengan mengeluarkan suara yang kencang untuk
melepas semua beban tapi aku tidak ingin terlihat lemah di mata mereka, anak
didikku yang tingkat usilnya di atas rata – rata.
Bunyi bel
tanda pelajaran berakhir, aku berdiri dari dudukku dan berjalan menuju meja
guru.
“Kumpulkan
kertasnya, semakin cepat dikumpulkan semakin cepat kalian semua pulang
kerumah.” Ucapku lantang.
Satu dua
tiga menit sampai jam menunjukkan perubahan waktu 15 menit belum juga ada yang
mengumpulkan kertas ujian.
“Kumpulkan
kertasnya.” Ucapku lantang
“Sebentar
lagi Bu.” Ucap mereka memelas.
Helaan
napas dalam terdengar dari mulutku, sepertinya mereka bersungguh – sungguh
mengerjakannya.
Sepuluh Sembilan delapan aku mulai menghitung, hal ini selalu aku lakukan jika memberikan tugas jika hitungan berada pada angka satu mereka tidak mengumpulkan maka aku akan meninggalkan kelas.
Aku
menatap satu persatu kertas uji kompetensi mereka, senyumku mengembang.
Apa yang
aku bayangkan tidak terjadi, melihat mereka mulai ada peningkatan dalam belajar
tentu hati ini gembira.
Peserta
didik yang selalu mendapatkan nilai di bawah standar untuk kali ini menampakkan
kemajuan.
Apalagi
David yang aku kawal dengan ketat sewaktu mengerjakannya.
Ah,
ternyata mereka hanya butuh perhatian lebih dari kami para pendidiknya.
Hilang
sudah prasangkaku kepada mereka yang ternyata dibalik bandelnya ada rasa
tanggung jawab yang besar tentunya.
Jelas
terrekam dalam mindaku ketika pertama kali mengajar mereka.
Berulang
kali aku mengurut dada karena aksi mereka yang rasanya tidak pantas untuk anak
SMA Melakukannya.
Biang
masalah kami selalu memberikan label untuk kelas terakhir ini.
Tapi
berjalannya waktu aku merasakan mereka hanya perlu diberikan perhatian lebih.
Aku
kadang bagaikan singa yang siap menerkam mereka jika mereka sudah datang
usilnya.
Kadang
aku harus seperti Ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk melayani
tingkah mereka ketika pembelajaran sedang berlangsung.
Kadang
aku juga perlu merajuk untuk mencari perhatian mereka.
Rasanya
nano – nano ketika mengajar di kelas X terakhir ini.
Ah
prasangka hanya tinggal prasangka saja, semoga mereka sukses nantinya.
Aku
menutup Salamku dengan mengkoreksi kertas terakhir dengan nilai fantasis
menurutku, 92 untuk kelas yang luar biasa bandelnya.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar