Rabu, 22 April 2026

Berprasangka

 


Dadaku turun naik, pengalaman menjadi guru selama 25 tahun ternyata tidak membuatku santai mengajar di kelas X.6.

Bagaimana tidak sejak masuk sudah ada kendala yang membuat merasa tidak nyaman mengajar.

Ruang kelas yang seyogyanya harus bersih, pagi ini bagaikan TPA saja penuh dengan sampah yang kemarin lusa tidak dibersihkan.

Rasa busuk yang menyengat membuatku beberapa kali bersin sehingga hidungku terasa perih.

Setelah upacara dipagi yang mataharinya menyengat membuatku ingin tenang mengajar di jam pertama lenyap sudah.

Jengah melihat ruang kelas yang berantakkan membuatku harus istifar dalam hati jangan sampai terpancing emosi.

Jadwalnya untuk mengambil nilai harus aku undur dengan membiarkan mereka membersihkan kelas terlebih dahulu.

Trik jitu yang sebenarnya sudah aku hafal betuk, tidak siap untuk tes mereka membuat kelas kotor sehingga mengulur waktu.

“Sepuluh menit, jika tidak siap semuanya masuk jurnal kelas karena tindakan negative tidak memberishkan kelas.” Ucapku lantang.

Suara lebah terdengar dari mulut – mulut mereka tidak terima dengan ucapanku yang menjadi ketentuan.

Bau Keringat bercampur dengan bau kaos kaki yang tidak dicuci membuat suasana kelas menjadi tidak nyaman.

Aku paling anti dengan bau koas kaki, mereka sepertinya sengaja melakukannya.

Aku mengeluarkan botol freshcare dari dalam saku bajuku.

Bocah – bocah nakal melihatku dengan tatapan tidak senang.

Hatiku tersenyum, ini balasan dariku untuk mereka yang selalu usil.

“Waktu kalian tinggal 45 menit, tadi sudah tersita dengan membersihkan kelas.” Ucapkun tegas.

“Mana cukup Bu waktu 45 menit.” Koor mereka yang terkenal usil di kelas.

“Bagi yang serius belajar waktu 45 menit berlebih, kosentrasi membaca materi insyallah pasti bisa menjawab.

Contek, rasanya memakan waktu lama.” lanjutku sambil tatapanku mengitari seluruh kelas.

“Tidak contek tidak seru Bu.” Ucap yang usil

“Zaman udah move on, contek tetap bertahan. Kayaknya memalukan.” Aku menirukan gaya mereka berbicara.

Suara tawa mengema mereka yang usil menundukkan kepala.

“Ok sekarang waktunya menganalisis soal, tidak ada yang ribuT. Bekerja menggunakan otak untuk berfikir dan tangan untuk menulis, jadi tidak ada yang menggunakan mulut, jadi mulutnya ditutup alias diam.” Perintahku tegas.

Setengah jam berlalu, tenang dan damai.

Gedebuk, bunyi benda terjatuh, semua mata menatap ke arah sumber suara.

“Asu.” Ucap Indra sambil menunjuk kearah David.

Suara isak terdengar dari mulut sari, siswi yang terduduk lemas di lantai, karena terjatuh dari kursi yang didudukinya.

Aku melangkah kearah Sari, menatapnya Iba. David si biang kerok kelas terlihat santai tak bersalah.

Si pembuat ulah david merasa tak bersalah setelah menarik kursi Sari.

Aku yakin sekali, David kesal tidak diberi contekkan oleh Sari si jenius di kelas X.6

Ulah ini sering terjadi pada guru mata pelajara lain, dan kami para guru sering membicarakannya.

Tapi hari ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.

Aku menatap David nyalang.

“Sari duduk di meja Ibu saja.” Ucapku

Sari menganggukkan kepalanya dan berlalu menuju kursiku.

Aku mendirikan kursi Sari dan menghadapkannya kearah David.

Tanpa Aba – Aba aku duduk dan menatap David lekat.

“Selesaikan tugas yang Ibu berikan sekarang.” Tatapku ke arah wajah David.

Bukannya takut, senyum usilnya terlihat jelas.

Aku membesarkan mataku baru David menundukkan kepala menatap kertas yang berada di depannya.

Ingin rasanya aku meluahkan kesalku dengan mengeluarkan suara yang kencang untuk melepas semua beban tapi aku tidak ingin terlihat lemah di mata mereka, anak didikku yang tingkat usilnya di atas rata – rata.

Bunyi bel tanda pelajaran berakhir, aku berdiri dari dudukku dan berjalan menuju meja guru.

“Kumpulkan kertasnya, semakin cepat dikumpulkan semakin cepat kalian semua pulang kerumah.” Ucapku lantang.

Satu dua tiga menit sampai jam menunjukkan perubahan waktu 15 menit belum juga ada yang mengumpulkan kertas ujian.

“Kumpulkan kertasnya.” Ucapku lantang

“Sebentar lagi Bu.” Ucap mereka memelas.

Helaan napas dalam terdengar dari mulutku, sepertinya mereka bersungguh – sungguh mengerjakannya.

Sepuluh Sembilan delapan aku mulai menghitung, hal ini selalu aku lakukan jika memberikan tugas jika hitungan berada pada angka satu mereka tidak mengumpulkan maka aku akan meninggalkan kelas.

Aku menatap satu persatu kertas uji kompetensi mereka, senyumku mengembang.

Apa yang aku bayangkan tidak terjadi, melihat mereka mulai ada peningkatan dalam belajar tentu hati ini gembira.

Peserta didik yang selalu mendapatkan nilai di bawah standar untuk kali ini menampakkan kemajuan.

Apalagi David yang aku kawal dengan ketat sewaktu mengerjakannya.

Ah, ternyata mereka hanya butuh perhatian lebih dari kami para pendidiknya.

Hilang sudah prasangkaku kepada mereka yang ternyata dibalik bandelnya ada rasa tanggung jawab yang besar tentunya.

Jelas terrekam dalam mindaku ketika pertama kali mengajar mereka.

Berulang kali aku mengurut dada karena aksi mereka yang rasanya tidak pantas untuk anak SMA Melakukannya.

Biang masalah kami selalu memberikan label untuk kelas terakhir ini.

Tapi berjalannya waktu aku merasakan mereka hanya perlu diberikan perhatian lebih.

Aku kadang bagaikan singa yang siap menerkam mereka jika mereka sudah datang usilnya.

Kadang aku harus seperti Ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk melayani tingkah mereka ketika pembelajaran sedang berlangsung.

Kadang aku juga perlu merajuk untuk mencari perhatian mereka.

Rasanya nano – nano ketika mengajar di kelas X terakhir ini.

Ah prasangka hanya tinggal prasangka saja, semoga mereka sukses nantinya.

Aku menutup Salamku dengan mengkoreksi kertas terakhir dengan nilai fantasis menurutku, 92 untuk kelas yang luar biasa bandelnya.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Berprasangka

  Dadaku turun naik, pengalaman menjadi guru selama 25 tahun ternyata tidak membuatku santai mengajar di kelas X.6. Bagaimana tidak sejak ...