Langkahku gontai, lorong rumah sakit sepi, sesepi hatiku saat ini.
Airmata
yang menumpuk sedari ruangan periksa tidak bisa aku tahan.
Satu
persatu air itu turun bersama luruhnya badanku ke ubin rumah sakit.
Untung
saja lorong tempat aku bersimpuh sepi. entah ini janji sang pencipta untuk
menutup aibku karena aku menutup aib suamiku.
Apa
aibku, hanya karena aku terlalu sedih memikirkan nasibku yang sudah tidak
dianggap suamiku saat ini dan apa nasib janin yang sebetulnya lama aku tunggu
tapi datang tidak tepat waktu.
“Abang
akan menikah lagi, suka tidak suka terima.” Ucap suamiku tiga bulan lalu.
Seandainya
Bang Zikri meminta baik – baik aku pasti mengizinkan dirinya untuk menikah
lagi.
Menjelang
tujuh tahun pernikahan belum juga ada jerit tangis bayi di rumah kami.
Dan hari
ini, aku dikejutkan dengan berita yang sudah lama aku tidak aku harapkan lagi.
“Sudah 14
minggu ya Bu. Ibu beruntung tidak merasakan mual diawal kehamilan.” Kalimat
dokter kandungan membuat duniaku menjadi terang benderang tapi seketika
mengingat suamiku sudah menjatuhkan talak sebulan lalu walaupun kami belum
menjalani sidang perceraian.
Izin
sudah kuberikan, tapi entah apa yang menyebabkan suamiku menjatuhkan talak
kepadaku.
“Niah, ada apa?” terkejut jangan lagi ditanya.
