Jumat, 01 Januari 2016

Uang Oh Uang

Uhhh, siapa yang tak kenal uang? Semua pasti kenal, kan? Ada uang, banyak yang sayang. Tak ada uang, siap-siap melayang, begitu sering orang katakan. Jika ada uang, semua bisa dilakukan. Cerita tentang uang, hmmm sangat mengiurkan.


Ya, uang memang menjadi incaran semua orang.  Dimana-mana pasti masalah uang selalu banyak dibicarakan. Tapi terkadang ada uang bermasalah, tidak ada uang lebih bermasalah. Bayangkan, sekarang karena uang banyak sekali masalah sosial yang timbul.

Karena uang orang bisa gelap mata, menjadi koruptor, menjadi dan menjalani sebagai prostitusi (maaf bukan bermaksud menghina). Banyak lagi masalah yang timbul karena uang. Lihat saja ada anak yang sanggup membunuh orang tua karena uang, saudara saling bertengkar, tetangga saling menuding dan banyak lagi, kalau bicara masalah uang.

Sebenarnya, tahukah kita apa itu uang? Mari bersama-sama kita cari jawabannya. Menurut para ahli sejarah, uang dimulai karena sulitnya menemukan alat tukar yang tepat untuk menukarkan barang. Coba bayangkan seorang memiliki satu ekor sapi yang menghasilkan susu sementara ia menginginkan sebutit telur. Di sisi lain, sementara orang yang memiliki telur tidak menginginkan susu sapi. Itu baru satu contoh. Banyak lagi contoh lainnya. Akhirnya manusia mencari alternatif lain, untuk dapat memiliki apa yang mereka inginkan dengan cara yang lebih mudah tanpa harus menukar barang-barang yang mereka miliki satu sama lain.

Nah, bagi siswa (SMA) pasti ingat bahwa dalam Mata Pelajaran Ekonomi ini dikenal dengan istilah barter. Ini awal sejarah uang yang kita kenal. Lalu ditemuakanlah alat tukar lain yang dikenal dengan istilah uang itu tadi, tanda dimana manusia mulai menentukan satu barang yang dijadikan alat pertukaran.  Dimulailah dengan memberikan nilai pada barang-barang yang dianggap memiliki daya tarik tersendiri. Sampai pula memulai ditemukannya barang yang dikenal dewasa ini dengan istilah uang tersebut. Semua itu tidak lepas dari fungsi uang, jenis dan motif seseorang dalam memiliki uang.

Apakan kita tahu suatu barang tidak akan dianggap uang jika ia tidak memiliki fungsi dan tidak bernilai? Uang akan diangggap bernilai jika  memiliki fungsi seperti,   a) sebagai alat tukar; Perhatikan uang Rp 1.000, jika tidak dapat membeli suatu barang maka ia tidak akan berfungsi. b) sebagai alat satuan hitung ; Dengan uang Rp 1.000 kita bisa memiliki 10 buah permen jika harga permen tersebut per buahnya Rp 100, misalnya. Nah fungsi di atas kita sebagai fungsi asli.

Lalu ada pula yang disebut dengan Fungsi Turunan, antara lain,  a) sebagai alat pembayaran ; Uang Rp 1.000 yang kita miliki pasti untuk membayar permen yang ingin kita miliki. b) sebagai penimbun kekayaan; Uang Rp 1.000 jika kita simpan maka akan bertambah nilainya sehingga pada nilai tertentu akan menjadi nilai yang tidak ternilai. Sederhana tapi apakah kita pernah berfikir uang berfungsi seperti yang terpapar di atas? Jika ya, maka kita tidak akan menyalahgunakan uang dengan salah.

Yang diuraikan di atas baru fungsi uang. Bagaimana dengan jenis uang? Ya, jenis uang selama ini kita hanya tahu bahwa uang hanya terdiri dari uang kertas dan uang logam. Apakah sesederhana itu? Tentu tidak karena dalam jumlah yang besar baik uang kertas maupun uang logam akan sangat menyusahkan. Coba bayangkan pecahan Rp 1.000 untuk nilai Rp 1 miliar berapa banyak jumlahnya? Bagaimana kita akan membawanya untuk membeli suatu barang, uh sangat menyulitkan, bukan?

Tapi ada solusinya, ingat ada kartu kredit dan cek. Tapi apakah kita tahu kedua itu tidak dapat digunakan pada tempat yang sama sehingga dalam ilmu ekonomi untuk kedua uang tersebut dibedakan menjadi jenis uang? Secara sederhana dikenal dengan jenis uang kartal yang terdiri dari uang kertas dan uang logam yang penggunaanya dilindungi oleh undang-undang. Sementara jenis kedua adalah uang giral; untuk sermua alat pembayaran yang digunakan untuk memudahkan transaksi dunia ekonomi sehingga contohnya akan bertambah sesuai dengan perkembangan ekonomi dunia.

Uang untuk keperluan sehari-hari atau untuk bertransaksi membeli barang maupun jasa atau lebih mudah lagi motif transaksi adalah bagaimana kita menghabiskan nilai uang yang kita miliki tapi hati-hati jangan sampai lebih besar pasak dari pada tiang ( ini istilah dalam bahasa indonesia yang mempunyai arti jika meliki uang seribu yang dibelanjakan yang delapan ratus rupiah saja jangan semuanya atau malah sampai berbelanja lebih dari jumlah uang yang kita miliki. Sementara jika kita menyimpan sebagian dari uang kita miliki berarti kita sudah mulai memikirkan bagaimana jika dalam keadaan sulit kita membutuhkan uang, kita tidak terlalu sulit untuk mencarinya cukup dengan menggunakan uang yang kita simpan selama ini. 

Jika uang yang kita miliki lebih dari cukup dan ingin menyimpannya da;am bentuk tanah atau rumah sehingga menjadi investasi berguna dimasa hadapan itu lebih baik. Ilustrasi diata merupakan penjelasan dari motif memegang uang, mudah-mudahan dengan penjelasan singkat ini, kita semua tidak akan menyia-nyiakan uang yang kita miliki dengan cara yang salah. selamat menbaca dan merenungkannya.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar