Dua pekan tidak bertemu dengan mereka membuatku rindu dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka.
Aku Indah Cahaya, Sudah tiba
di sekolah setengah jam lalu, sudah terlihat mereka yang selalu datang lebih
awal memenuhi halaman sekolah.
Beberapa dari mereka
menyapaku dengan mengucapkan salam tidak lupa senyum yang luput selama dua
pekan dari penglihatanku.
Tinggal sepuluh menit
sebelum bel panjang berbunyi tanda hari pertama MPLS di mulai.
Guru – guru pembimbing MPLS
sudah sibuk dengan agenda mereka, sedangkan kami yang tidak mendapatkan jatah
menjadi pembimbing hanya akan mengikuti apel setelah itu menyesuaikan diri
dengan jam dinas yang telah ditentukan.
Senjata perangku, sejam seperempat lalu aku buka dan file untuk perangkat sedang aku susun untuk memudahkan proses pembelajaran selanjutnya.
Nada sambung di HP-ku
membuat aku terkejut, mengeluarkan HP yang aku simpan di laci mejaku.
Netra menangkap nama
penelepon, ternyata sudah ada beberapa pesan darinya yang aku abaikan.
Menggeser tombol hijau
untuk menerima panggilan masuk tersebut.
“Assalamualaikum” Ucapku
pembuka pembicaraan
“Walaikumsalam, maaf
menganggu Ibu.” Sengaja hanya mendengarkan saja hanya suara dehemku yang
terdengar keseberang sana.
“Mohon bantuan Ibu, Indra
mengulang kembali dan kalau bisa saya tetap mau Ibu yang menjadi wali kelasnya.
Indra masih saya sandra di rumah, tadi sudah dijemput temanya katanya mau
mendaftar ulang tapi saya tidak mengizinkannya.
Jika Ibu berkenan Saya akan
datang bersama Ibu untuk mendaftar ulangkan Indra. Saya sudah mengambil cuti
selama 2 hari untuk mengurus Indra, mohon bantuanya.” Hening setelah kalimat
terakhir terdengar dari seberang sana.
“Saya tunggu kedatangan
Bapak.” Ucapku tegas.
Orang tua Indra sangat
perhatian dengan perkembangan sekolah anaknya, tapi entalah Indra yang pada
awal masuk sekolah terlihat antusias dan rajin sekolah, bahkan rapor semester
ganjilnya mendapatkan nilai yang bagus.
Tapi sejak minggu ke dua di
bulan januari semester genap kemaren terlihat perubahan yang amat dalam.
Kehadirian Indra bagaikan
orang puasa senin kamis saja.
Dan lebih parahnya lagi
tidak ada satupun tugas yang kumpulkan dengan guru mata pelajaran padahal Aku
bersama dengan guru konseling sudah bolak – balik memberikan bimbingan dan
konseling mempertanyaankan penyebab Indra tidak mengumpulkan tugas dan jarang
masuk sekolah.
Ketidak hadiran Indra di
Sekolah sempat mengemparkan orangtuanya apalagi Bapak Indra yang selalu
mengantar Indra sampai ke sekolah.
Sewaktu aku mengunjungi
dalam tugas home visit, Ibu Indra hanya menangis ketika aku menyampaikan sudah
lebih dari dua pekan Indra tidak hadir di sekolah.
Waktu berjalan sampai
dengan penghujung semester genap Indra masih kokoh dengan pendiriannya hanya
datang sepekan tiga kali dan selebihnya tak ada berita jangan ditanya masalah
tugas.
“Akan saya kerjakan dan
kumpulkan.” Sampai jenuh aku bertanya tapi tetap aku tanyakan.
Dan pada waktu pemberian
rapor aku dengan rasa sedih menyerahkan rapor Indra kepada Bapaknya.
Helaan napasku berat, Indra
apakah akan berubah.
***
Pukul 10 pagi setelah satu
setengah jam aku menunggu kedatangan Bapaknya Indra, aku mendengar salam di
depan pintu majelis guru.
“Saya mencari Ibu Indah.”
Pasti suara Bapaknya Indra.
Langkah berat menghampiri
mejaku, tanpa wajah kesal yang mendalam.
“Sehat Pak.”ucapku sambil
tersenyum
“Silakan duduk Pak, atau
kita pindah ke rumah BP saja.” Tawarku kepada Bapak Indra.
“Cukup di sini saja Bu
Indah.” Surat berat Bapak Indra.
“Sebelumnya saya mohon maaf
untuk mendaftarkan ulang Indra bisa Saya bantu tapi untuk menjadi wali kelas
Indra itu bukan wewenang Saya.” Ucapku membuka kalimat.
Wajah tegang terlihat jelas
di wajah Bapak Indra mendengar kalimatku.
Helaan napas berat
terdengar dari mulut Bapak Indra.
“Bisa Saya ketemu dengan
Bapak Kepala Sekolah.” Kalimat yang membuatku shok mendengarnya.
Bapak Indra berdiri dari
duduknya dan berjalan keluar majelis guru.
Mau tak mau aku mengikuti
langkahnya yang berjalan menuju ruang Kepala Sekolah.
Belum sempat aku
mengucapkan kata – kata, Bapaknya Indra sudah mengetuk pintu ruang kepala
sekolah dan ada jawaban dipersilakan masuk.
Aku bagaikan anak ayam yang
mengekor di belakang Bapak Indra.
Senyum kepala Sekolah
menyambut kami dan mempersilakan Aku dan Bapak Indra untuk duduk di depan kursi
yang berada diseberang meja Kepala Sekolah.
“Ada perlu apa Bu Indah,
dan Bapak siapa?’ ucap kepala sekolah setelah kami duduk.
“Pak ini orang tua dari
wali murid sewaktu saya menjadi wali kelas pada tahun pelajaran kemarin.” Ucapku lancar.
“Perkenalkan Saya
Suharyanto, orang tua dari Indra Saputra. Anak Saya tidak naik kelas, ingin
mengulang kembali. Saya mohon Bu Indah masih tetap menjadi wali kelasnya.
Saya harap permintaan saya
tidak berlebihan.
Indra sudah pernah melewati
fase ini sewaktu di kelas 9 dulu. Baik pada semester ganjil tapi bermasalah
sebelum kelulusan.
Indra pernah berjanji tidak
akan mengulanginya.
Kemaren Indra berjanji lagi
jika wali kelasnya Bu Indah, Indra akan belajar dengan sungguh – sungguh.” Aku
dan Kepala Sekolah terkejut mendengar permintaan dari orang tua Indra.
“Bagaimana Bu Indah masih
mau menjadi wali kelas Indra.” Ucap Kepsek.
Aku terkejut mendengar
ucapan Kepsek, bukankah beberapa waktu lalu aku dipanggil untuk memilih menjadi
wali kelas atau Pembina olimpiade dan aku memilih menjadi Pembina olimpiade.
Aku menatap jengah kepada
Kepsek, tidak tahu ingin berucap apa.
Seperti makan siSalwakama
saja rasanya.
“Saya akan menjalankan
tugas jika diberikan tanggung jawab.” Ucapku berdiplomatis.
“Sebenarnya tahun ini Bu
Indah tidak menjadi wali kelas, dirolling dengan guru yang lain, Pak
Suharyanto.” Ucap kepsek.
“Saya rasa semua guru pasti
akan bertanggung jawab jika diberikan tugas tambahan.” Lanjut Kepsek
Jadi Pak Suharyanto tidak
perlu khawatir.” Ucap Kepsek.
“Pak saya lebih mengenal
anak saya, sejak Saya memberikan Ibu Sambung kepadanya ada saja tingkahnya.
Tapi dengan Bu Indah, Indra sepertinya
menurut.” Ucap Bapak Indra sambil mengeluarkan sebuah buku.
“Silakan Bapak baca ini.”
Buku yang disodorkan Kepada Kepsek.
Aku melihat kening Kepsek
berkerut ketika membaca buku yang diserahkan orang tua Indra.
Hening, bagaikan di
pemakaman saja bahkan helaan napas seperti enggan terdengar.
Deheman Kepsek membuatku
mengangkat kepala yang sejak terjadi keheningan aku tundukkan.
“Bacalah Bu.” Ucap Kepsek
sambil menyodorkan buku Indra.
Aku mengambil buku yang
disodorkan Kepsek dan mulai membaca setiap baris kata yang disusun menjadi
kalimat.
Sebak memenuhi dadaku, ada
rasa haru yang menggunung ketika membaca rintihan hati Indra yang tertuang dalam buku ini.
“Saya serahkan semuanya
kepada Bu Indah, Pak Suharyanto.” Ucap Kepsek.
Bergantian aku menatap
Kepsek dan Pak Suharyanto.
Ada bimbang yang
menyelimuti hati, 5 tahun menjadi wali kelas membuatku ingin mengambil angina
segar dengan menjadi Pembina olimpiade.
Apakah dia – dia yang harus
aku hadapi atau apa? Hatiku terus bimbang, akhirnya aku menganggukkan kepala
untuk menjadi wali kelas.
Dia dengan wajah lama dan
baru akan aku bimbing ditahun pelajaran ini.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar