Sabtu, 14 Juni 2025

Haruskah Aku

 


Dua pekan tidak bertemu dengan mereka membuatku rindu dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka.

Aku Indah Cahaya, Sudah tiba di sekolah setengah jam lalu, sudah terlihat mereka yang selalu datang lebih awal memenuhi halaman sekolah.

Beberapa dari mereka menyapaku dengan mengucapkan salam tidak lupa senyum yang luput selama dua pekan dari penglihatanku.

Tinggal sepuluh menit sebelum bel panjang berbunyi tanda hari pertama MPLS di mulai.

Guru – guru pembimbing MPLS sudah sibuk dengan agenda mereka, sedangkan kami yang tidak mendapatkan jatah menjadi pembimbing hanya akan mengikuti apel setelah itu menyesuaikan diri dengan jam dinas yang telah ditentukan.

Senjata perangku, sejam seperempat lalu aku buka dan file untuk perangkat sedang aku susun untuk memudahkan proses pembelajaran selanjutnya.

Nada sambung di HP-ku membuat aku terkejut, mengeluarkan HP yang aku simpan di laci mejaku.

Netra menangkap nama penelepon, ternyata sudah ada beberapa pesan darinya yang aku abaikan.

Menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan masuk tersebut.

“Assalamualaikum” Ucapku pembuka pembicaraan

“Walaikumsalam, maaf menganggu Ibu.” Sengaja hanya mendengarkan saja hanya suara dehemku yang terdengar keseberang sana.

“Mohon bantuan Ibu, Indra mengulang kembali dan kalau bisa saya tetap mau Ibu yang menjadi wali kelasnya. Indra masih saya sandra di rumah, tadi sudah dijemput temanya katanya mau mendaftar ulang tapi saya tidak mengizinkannya.

Jika Ibu berkenan Saya akan datang bersama Ibu untuk mendaftar ulangkan Indra. Saya sudah mengambil cuti selama 2 hari untuk mengurus Indra, mohon bantuanya.” Hening setelah kalimat terakhir terdengar dari seberang sana.

“Saya tunggu kedatangan Bapak.” Ucapku tegas.

Orang tua Indra sangat perhatian dengan perkembangan sekolah anaknya, tapi entalah Indra yang pada awal masuk sekolah terlihat antusias dan rajin sekolah, bahkan rapor semester ganjilnya mendapatkan nilai yang bagus.

Tapi sejak minggu ke dua di bulan januari semester genap kemaren terlihat perubahan yang amat dalam.

Kehadirian Indra bagaikan orang puasa senin kamis saja.

Dan lebih parahnya lagi tidak ada satupun tugas yang kumpulkan dengan guru mata pelajaran padahal Aku bersama dengan guru konseling sudah bolak – balik memberikan bimbingan dan konseling mempertanyaankan penyebab Indra tidak mengumpulkan tugas dan jarang masuk sekolah.

Ketidak hadiran Indra di Sekolah sempat mengemparkan orangtuanya apalagi Bapak Indra yang selalu mengantar Indra sampai ke sekolah.

Sewaktu aku mengunjungi dalam tugas home visit, Ibu Indra hanya menangis ketika aku menyampaikan sudah lebih dari dua pekan Indra tidak hadir di sekolah.

Waktu berjalan sampai dengan penghujung semester genap Indra masih kokoh dengan pendiriannya hanya datang sepekan tiga kali dan selebihnya tak ada berita jangan ditanya masalah tugas.

“Akan saya kerjakan dan kumpulkan.” Sampai jenuh aku bertanya tapi tetap aku tanyakan.

Dan pada waktu pemberian rapor aku dengan rasa sedih menyerahkan rapor Indra kepada Bapaknya.

Helaan napasku berat, Indra apakah akan berubah.

***

Pukul 10 pagi setelah satu setengah jam aku menunggu kedatangan Bapaknya Indra, aku mendengar salam di depan pintu majelis guru.

“Saya mencari Ibu Indah.” Pasti suara Bapaknya Indra.

Langkah berat menghampiri mejaku, tanpa wajah kesal yang mendalam.

“Sehat Pak.”ucapku sambil tersenyum

“Silakan duduk Pak, atau kita pindah ke rumah BP saja.” Tawarku kepada Bapak Indra.

“Cukup di sini saja Bu Indah.” Surat berat Bapak Indra.

“Sebelumnya saya mohon maaf untuk mendaftarkan ulang Indra bisa Saya bantu tapi untuk menjadi wali kelas Indra itu bukan wewenang Saya.” Ucapku membuka kalimat.

Wajah tegang terlihat jelas di wajah Bapak Indra mendengar kalimatku.

Helaan napas berat terdengar dari mulut Bapak Indra.

“Bisa Saya ketemu dengan Bapak Kepala Sekolah.” Kalimat yang membuatku shok mendengarnya.

Bapak Indra berdiri dari duduknya dan berjalan keluar majelis guru.

Mau tak mau aku mengikuti langkahnya yang berjalan menuju ruang Kepala Sekolah.

Belum sempat aku mengucapkan kata – kata, Bapaknya Indra sudah mengetuk pintu ruang kepala sekolah dan ada jawaban dipersilakan masuk.

Aku bagaikan anak ayam yang mengekor di belakang Bapak Indra.

Senyum kepala Sekolah menyambut kami dan mempersilakan Aku dan Bapak Indra untuk duduk di depan kursi yang berada diseberang meja Kepala Sekolah.

“Ada perlu apa Bu Indah, dan Bapak siapa?’ ucap kepala sekolah setelah kami duduk.

 

 

 

 

 

“Pak ini orang tua dari wali murid sewaktu saya menjadi wali kelas pada tahun pelajaran  kemarin.” Ucapku lancar.

“Perkenalkan Saya Suharyanto, orang tua dari Indra Saputra. Anak Saya tidak naik kelas, ingin mengulang kembali. Saya mohon Bu Indah masih tetap menjadi wali kelasnya.

Saya harap permintaan saya tidak berlebihan.

Indra sudah pernah melewati fase ini sewaktu di kelas 9 dulu. Baik pada semester ganjil tapi bermasalah sebelum kelulusan.

Indra pernah berjanji tidak akan mengulanginya.

Kemaren Indra berjanji lagi jika wali kelasnya Bu Indah, Indra akan belajar dengan sungguh – sungguh.” Aku dan Kepala Sekolah terkejut mendengar permintaan dari orang tua Indra.

“Bagaimana Bu Indah masih mau menjadi wali kelas Indra.” Ucap Kepsek.

Aku terkejut mendengar ucapan Kepsek, bukankah beberapa waktu lalu aku dipanggil untuk memilih menjadi wali kelas atau Pembina olimpiade dan aku memilih menjadi Pembina olimpiade.

Aku menatap jengah kepada Kepsek, tidak tahu ingin berucap apa.

Seperti makan siSalwakama saja rasanya.

“Saya akan menjalankan tugas jika diberikan tanggung jawab.” Ucapku berdiplomatis.

“Sebenarnya tahun ini Bu Indah tidak menjadi wali kelas, dirolling dengan guru yang lain, Pak Suharyanto.” Ucap kepsek.

“Saya rasa semua guru pasti akan bertanggung jawab jika diberikan tugas tambahan.” Lanjut Kepsek

Jadi Pak Suharyanto tidak perlu khawatir.” Ucap Kepsek.

“Pak saya lebih mengenal anak saya, sejak Saya memberikan Ibu Sambung kepadanya ada saja tingkahnya. Tapi dengan Bu Indah,  Indra sepertinya menurut.” Ucap Bapak Indra sambil mengeluarkan sebuah buku.

“Silakan Bapak baca ini.” Buku yang disodorkan Kepada Kepsek.

Aku melihat kening Kepsek berkerut ketika membaca buku yang diserahkan orang tua Indra.

Hening, bagaikan di pemakaman saja bahkan helaan napas seperti enggan terdengar.

Deheman Kepsek membuatku mengangkat kepala yang sejak terjadi keheningan aku tundukkan.

“Bacalah Bu.” Ucap Kepsek sambil menyodorkan buku Indra.

Aku mengambil buku yang disodorkan Kepsek dan mulai membaca setiap baris kata yang disusun menjadi kalimat.

Sebak memenuhi dadaku, ada rasa haru yang menggunung ketika membaca rintihan  hati Indra yang tertuang dalam buku ini.

“Saya serahkan semuanya kepada Bu Indah, Pak Suharyanto.” Ucap Kepsek.

Bergantian aku menatap Kepsek dan Pak Suharyanto.

Ada bimbang yang menyelimuti hati, 5 tahun menjadi wali kelas membuatku ingin mengambil angina segar dengan menjadi Pembina olimpiade.

Apakah dia – dia yang harus aku hadapi atau apa? Hatiku terus bimbang, akhirnya aku menganggukkan kepala untuk menjadi wali kelas.

Dia dengan wajah lama dan baru akan aku bimbing ditahun pelajaran ini.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Sampai Waktunya

Seperti biasa dini hari aku sudah terbangun, rasa lelah tidak membuatku bermalas – malasan. Sebelum aku beranjak meninggalkan ranjang meli...