“Zahra binti Abdul Kadir.”
Aku mulai mengabsen satu persatu murid dalam kelas yang aku ajar.
Tahun pelajaran baru dengan
peserta didik baru.
Tahun baru dengan kelas,
peserta didik baru lulus SMP.
Wajah – wajah imut
seharusnya tapi netraku sedikit terganggu dengan beberapa dari mereka peserta
didik perempuan yang melukis alisnya serta lipblam berwarna pink.
Selesai mengabsen, aku
belum membuka mulut.
Masih memperhatikan mereka satu persatu, mencari cara bagaimana masalah yang selama tiga tahun belakangan ini sungguh menganggu kami para pendidik.
Mereka terlihat cantik,
tapi bukan untuk kesekolah mereka melukis alis dan minyak di bibir bagaikan
habis memakan gorengan saja.
Belum lagi warna yang bisa
jelas terlihat bukan warna bibir mereka.
“Siapa yang berumur 17
tahun.” Akhirnya suaraku terdengar.
Kasak – kusuk terdengar
jelas, tidak ada yang mengangkat tangan.
“Yang berumur 15 ada.”
ucapku lagi.
Hampir semua mengangkat
tangan hanya 5 orang yang tidak mengangkat tangan.
“Wah sisanya pasti sudah
berumur 20 tahun. Ucapku lagi.
Sengaja aku berkata
demikian karena, 5 diantara mereka adalah peserta didik perempuan dengan alis
dan bibir yang tidak wajar menurutku.
“16 tahun bu.” Serempak
mereka berlima menjawab
“Baru 16 tahun, tapi kenapa
wajahnya boros ya.” Sengaja aku menggunakan bahasa yang biasa mereka gunakan
jika ingin mengatakan kawannya terlihat lebih tua.
“Ina terlihat cantik Bu,
hanya saja alisnya dilukis biar tambah cantik.” Jawab Indra salah satu siswa.
Aku tersenyum, ah ternyata
Indra sudah tahu lawan jenis cantik, batinku.
“Indra lebih suka yang
alami atau dilukis.” Ucapku lagi.
“Dilukis seperti emak –
emak yang mau pergi arisan Bu.” Tanpa bersalah Indra berkata.
“Enak saja mengatakan emak
– emak, ini lagi model tahu.” Ucap Ina protes.
“Kalau Intan bagaimana
Indra?” Tanyaku lagi
“Intan canti alami Bu.”
Serempak pelajar laki – laki menjawab.
Senyumku terkembang,
ternyata tanpa bersusah payah aku menegur Ina.
“Umur kalian masih terlalu
muda untuk berdandan, kasian wajahnya terkena zat kimia. Bagi yang berjerawat
itu wajar, pakai saja yang alami.
Bisa menggunakan lidah
buaya, sirih cina untuk menghilangkannya.
Jangan takut dibilang tidak
cantik karena jerawat atau kulitnya hitam.
Tak terbayangkan jika semua
perempuan berwajah putih pasti bosan melihatnya.
Ciptaan Allah pasti ada
kelebihan dan kekurangan bentuknya.
Tapi kecantikan hati itu
paling penting.” Ucapku sambil memandang keseluruh kelas.
“Siap untuk belajar.” Ucap
mereka semangat.
“Alhamdulillah, siapa yang
tahu pengertian manusia sebagai makhluk sosial.” Ucapku
Hening seketika, sengaja
mengali informasi dari materi mereka di SMP.
Ini termasuk bagian
apresiasi dalam proses pembelajaran, pertanyaan terbuka namanya.
Menunggu cukup 2 menit
saja, karena tidak ada yang menjawab aku menunjuk salah satu siswa yang aku
lihat sibuk mengingat – ingat materi di SMP.
“Indah pasti bisa
mengingatnya.” Aku berusaha mengingat 1, 2 nama untuk pertemuan pertama ini.
Nama yang ku sebut
gelagapan, ah pasti dirinya tidak ingat, batinku.
Tidak mau kelas kosong, aku
mengalihkan pertanyaan lagi.
“Ok, siapa yang bisa
menceritakan materi IPS di SMP.” Ucapku sambil tersenyum.
“Kira – kira materi apa
yang di SMP tentang ekonomi yang sudah ananda terapkan dalam kehidupan sehari –
hari.” lanjutku berucap.
Hampir sepuluh orang yang
menunjuk tangan, Alhamdulillah ada respon batinku.
***
Helaan napas keras
terdengar oleh teligaku sendiri, bagaimana tidak.
Baru minggu ketiga mereka
berada di sekolah, materi MPLS sepertinya belum meninggalkan minda mereka.
Lihatlah, mereka dengan
sengaja melanggar peraturan.
Mungkin masalah seragam
karena belum siap masih bisa dimaafkan.
Aku melihat beberapa
pelajar putri dengan bangga menggunakan alis palsu cetar memahana, cantik tapi
seperti mau keundangan saja.
Belum lagi bibir seperti
habis makan gorengan yang belum sempat di saring untuk mengeringkan minyaknya
dari gorengan yang diangkat dari pengorengan saja.
Ah, kemana ciput mereka.
Rambut – rambut nakal
mencari celah untuk menampakkan diri, mataku risih melihatnya.
Kemana sosok imut yang
waktu pendaftaran sampai dengan minggu kemaren masih lugu.
Mata tua ini rindu dengan
masa putih abuku dulu.
Tidak menggenal alis cetar
membahana, tidak ada yang namanya lipglos tidak ada bedak yang menutup pori –
pori.
Tertawa dengan lepas tanpa
dosa, tidak ada pikiran yang tercemar dengan tontonan belum pantas menjadi
acuan untuk kehidupan sehari – harinya.
Helaan napas keras ini
bukan berarti aku mengaku kalah hanya saja lagi mencari cara menegur mereka
tanpa mereka rasa terimiditasi oleh perkataanku.
Senyumku palsu tapi niatku
tidak, senyum hanya untuk memastikan mereka tidak takut dengan diriku yang saat
ini memendam amarah karena mereka dengan cepat melupakan materi MPLS mereka,
semoga aku bisa mengubah mereka.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar