Sabtu, 07 Juni 2025

Rindu Itu

 

“Zahra binti Abdul Kadir.” Aku mulai mengabsen satu persatu murid dalam kelas yang aku ajar.

Tahun pelajaran baru dengan peserta didik baru.

Tahun baru dengan kelas, peserta didik baru lulus SMP.

Wajah – wajah imut seharusnya tapi netraku sedikit terganggu dengan beberapa dari mereka peserta didik perempuan yang melukis alisnya serta lipblam berwarna pink.

Selesai mengabsen, aku belum membuka mulut.

Masih memperhatikan mereka satu persatu, mencari cara bagaimana masalah yang selama tiga tahun belakangan ini sungguh menganggu kami para pendidik.

Mereka terlihat cantik, tapi bukan untuk kesekolah mereka melukis alis dan minyak di bibir bagaikan habis memakan gorengan saja.

Belum lagi warna yang bisa jelas terlihat bukan warna bibir mereka.

“Siapa yang berumur 17 tahun.” Akhirnya suaraku terdengar.

Kasak – kusuk terdengar jelas, tidak ada yang mengangkat tangan.

“Yang berumur 15 ada.” ucapku lagi.

Hampir semua mengangkat tangan hanya 5 orang yang tidak mengangkat tangan.

“Wah sisanya pasti sudah berumur 20 tahun. Ucapku lagi.

Sengaja aku berkata demikian karena, 5 diantara mereka adalah peserta didik perempuan dengan alis dan bibir yang tidak wajar menurutku.

“16 tahun bu.” Serempak mereka berlima menjawab

“Baru 16 tahun, tapi kenapa wajahnya boros ya.” Sengaja aku menggunakan bahasa yang biasa mereka gunakan jika ingin mengatakan kawannya terlihat lebih tua.

“Ina terlihat cantik Bu, hanya saja alisnya dilukis biar tambah cantik.” Jawab Indra salah satu siswa.

Aku tersenyum, ah ternyata Indra sudah tahu lawan jenis cantik, batinku.

“Indra lebih suka yang alami atau dilukis.” Ucapku lagi.

“Dilukis seperti emak – emak yang mau pergi arisan Bu.” Tanpa bersalah Indra berkata.

“Enak saja mengatakan emak – emak, ini lagi model tahu.” Ucap Ina protes.

“Kalau Intan bagaimana Indra?” Tanyaku lagi

“Intan canti alami Bu.” Serempak pelajar laki – laki menjawab.

Senyumku terkembang, ternyata tanpa bersusah payah aku menegur Ina.

“Umur kalian masih terlalu muda untuk berdandan, kasian wajahnya terkena zat kimia. Bagi yang berjerawat itu wajar, pakai saja yang alami.

Bisa menggunakan lidah buaya, sirih cina untuk menghilangkannya.

Jangan takut dibilang tidak cantik karena jerawat atau kulitnya hitam.

Tak terbayangkan jika semua perempuan berwajah putih pasti bosan melihatnya.

Ciptaan Allah pasti ada kelebihan dan kekurangan bentuknya.

Tapi kecantikan hati itu paling penting.” Ucapku sambil memandang keseluruh kelas.

“Siap untuk belajar.” Ucap mereka semangat.

“Alhamdulillah, siapa yang tahu pengertian manusia sebagai makhluk sosial.” Ucapku

Hening seketika, sengaja mengali informasi dari materi mereka di SMP.

Ini termasuk bagian apresiasi dalam proses pembelajaran, pertanyaan terbuka namanya.

Menunggu cukup 2 menit saja, karena tidak ada yang menjawab aku menunjuk salah satu siswa yang aku lihat sibuk mengingat – ingat materi di SMP.

“Indah pasti bisa mengingatnya.” Aku berusaha mengingat 1, 2 nama untuk pertemuan pertama ini.

Nama yang ku sebut gelagapan, ah pasti dirinya tidak ingat, batinku.

Tidak mau kelas kosong, aku mengalihkan pertanyaan lagi.

“Ok, siapa yang bisa menceritakan materi IPS di SMP.” Ucapku sambil tersenyum.

“Kira – kira materi apa yang di SMP tentang ekonomi yang sudah ananda terapkan dalam kehidupan sehari – hari.” lanjutku berucap.

Hampir sepuluh orang yang menunjuk tangan, Alhamdulillah ada respon batinku.

***

Helaan napas keras terdengar oleh teligaku sendiri, bagaimana tidak.

Baru minggu ketiga mereka berada di sekolah, materi MPLS sepertinya belum meninggalkan minda mereka.

Lihatlah, mereka dengan sengaja melanggar peraturan.

Mungkin masalah seragam karena belum siap masih bisa dimaafkan.

Aku melihat beberapa pelajar putri dengan bangga menggunakan alis palsu cetar memahana, cantik tapi seperti mau keundangan saja.

Belum lagi bibir seperti habis makan gorengan yang belum sempat di saring untuk mengeringkan minyaknya dari gorengan yang diangkat dari pengorengan saja.

Ah, kemana ciput mereka.

Rambut – rambut nakal mencari celah untuk menampakkan diri, mataku risih melihatnya.

Kemana sosok imut yang waktu pendaftaran sampai dengan minggu kemaren masih lugu.

Mata tua ini rindu dengan masa putih abuku dulu.

Tidak menggenal alis cetar membahana, tidak ada yang namanya lipglos tidak ada bedak yang menutup pori – pori.

Tertawa dengan lepas tanpa dosa, tidak ada pikiran yang tercemar dengan tontonan belum pantas menjadi acuan untuk kehidupan sehari – harinya.

Helaan napas keras ini bukan berarti aku mengaku kalah hanya saja lagi mencari cara menegur mereka tanpa mereka rasa terimiditasi oleh perkataanku.

Senyumku palsu tapi niatku tidak, senyum hanya untuk memastikan mereka tidak takut dengan diriku yang saat ini memendam amarah karena mereka dengan cepat melupakan materi MPLS mereka, semoga aku bisa mengubah mereka.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Sampai Waktunya

Seperti biasa dini hari aku sudah terbangun, rasa lelah tidak membuatku bermalas – malasan. Sebelum aku beranjak meninggalkan ranjang meli...