Kamis, 05 Juni 2025

Apa Yang Harus Aku Lakukan

 

Langkah kakiku surut ke belakang, sangat menyakitkan tak aku sangka kehadiranku membuat mereka merasa tidak nyaman.

Ada yang menyesakkan dada, mengabdi lebih dari dua puluh tahun.

Tapi masih saja ada sesak yang menerpa dada ketika aku mendengar ada yang menolak kehadiranku di dalam kelas.

Sebenarnya hal biasa saja jika mendengar mereka peserta didikku ada yang menolakku di dalam kelas.

Tapi langkahku tak pernah surut, seberapa besar mereka membenciku tapi janjiku dalam hati tidak akan menghalangi langkahku untuk tetap mengabdi untuk menciptakan generasi penerus bangsa.

Juli tahun ini genap 22 tahun aku mengabdi, ada yang terjajah dari langkahku, mereka menolak kehadiranku dengan alasan tidak asik.

Aku menelisik ke belakang, sebelum banyak aplikasi yang katanya membantu alias menjadi asisten guru untuk lebih mudah mengajar.

Aku mengikuti arahan dan terus belajar tapi tidak lupa dengan kodratku sebagai pendidik bukan hanya memberikan penguatan materi tapi juga mengembangkan karakter yang berbudi luhur dan cinta sesama dan bla – bla.

“Mudah – mudah Bu Intan tidak masuk kelas, bosan selalu saja mendikte padahal sudah enak belajar tapi ketika kita melenceng sedikit saja pasti seribu kalimat memekakkan teliga terdengar.” Ucap salah satu peserta didikku yang menusuk teliga.

“Iya, naik kaki sedikit saja sudah diomeli panjang lebar, padahal kalau lagi asyik mengotak atik Canva enaknya sambil guling atau leyeh – leyeh.” Ucap peserta didikku yang lain.

Apakah aku salah menegur mereka yang dengan santainya berposisi tidak pantas dalam kelas, jika mereka bekerja nanti juga tidak bisa seenaknya sendiri.

Apa yang salah dengan teguranku, batinku sedih.

Pekerjaan mereka peserta didikku dengan menggunakan Canva sungguh luar biasa, aku akui.

Tapi mereka sebagaian kecil ada yang merasa ketika mengerjakan apa yang diminta olehku sungguh luar biasa.

Tingkah yang layaknya preman saja, ada kakinya diangkat kayak duduk di lantai.

Kemana perginya tata krama, aku jadi ingat sewaktu duduk dibangku sekolah menengah ada yang namanya pelajara Etika.

Dimana diajarkan bagaimana sikap dalam keseharian.

Bersikap terhadap yang muda, kepada yang sebaya dan menyikapi diri ketika berhadap dengan yang lebih tua.

Zaman katanya berubah tapi apakah etika juga berubah.

Rasanya tidak, etika menunjukkan bagaima mereka bisa beradab tadi dengan keadaan.

Bagaimana ceritanya jika masuk ke dalam masjid mereka Salwah bersikap seperti masuk ke dalam pasar, apa jadinya.

Jadi teringat dengan materi yang diperoleh ketika menambah ilmu, dikatakan ada 2 hal yang mempengaruhi sikap seseorang.

Pertama didik orangtua, kedua pengaruh lingkungan entah itu tempat tinggal ataupun tempat mencari ilmu.

Tempat mencari ilmu inilah yang sangat mengkhawatirkan diriku, jangan sampai sekolah disalahkan karena dianggap tidak sanggup membina karater baik untuk mereka peserta didikku.

Aku terus merenung dan merenung, mungkin cara aku menegur yang salah, tapi sampai saat ini rasanya aku sudah menegur dengan cara yang halus.

“Ananda semua, pernah lihat dalam rapat atau keadaan formal orang duduk seperti sedang di kedai kopi mengangkat kaki sebelah.” Hening sewaktu aku memberikan contoh itu.

Tapi rupanya dibelakangku mereka membicarakan aku yang katanya menegur tidak pada tempatnya.

Helaan napas kuat keluar dari mulutku bagaimana tidak sering kali aku melihat mereka peserta didikku baring – baring di pojok kelas yang seharusnya tempat untuk membaca Salwah dipakai untuk baring – baring dengan menaikkan kaki sambil bermain game.

Rasanya sesak, sudah berates mungkin mencapai ribuan aku mengingatkan apa yang mereka lakukan akan merusak mata tapi tetap saja mereka mengulang dan mengulang lagi.

Menguatkan hati, akhirnya langkah yang sudah undur aku majukan.

Menguatkan hati, sambil merapal doa untuk diberikan kekuatan menghadapi mereka.

“Asslamualaikum.” Suaraku mengema keseluruh kelas.

“Ibu terlambat 5 menit.” Teriak mereka bukan menjawab salamku.

“Tapi senangkan Ibu terlambat.” Ucapku lagi menahan hati untuk tetap tenang.

“Harusnya terlambat 1 jam Bu, baru enak.” Si biang kerok berucap.

“Baiklah Ibu akan keluar lagi tapi ada kosenkuensinya, bagaimana?” Ucapku lantang sambil mataku mengitari keliling kelas.

“Tidak Bu, kita belajar saja.” Koor seretak dari kelas.

“Untuk pagi ini, siapa yang namanya Ibu panggil menjawabnya bukan hadir tapi mengatakan apa yang tidak disukai dari cara ibu mengajar cukup dengan 3 kata.” Ucapku memberi perintah

“Adinda Ahmad.” Absenku

3 T Bu, Tidak ada, Tidak ada, Tidak ada.” Suara adinda terdengar.

Siswi yang selalu menunjukkan antusias ketika aku mengajar.

Sampai dengan peserta didik ke 15 jawaban mereka membuatku senang.

“Nathan Saputra.” Suaraku terdengar

“Cerewet, menuntut, bosan.” Aku terkejut mendengar perkataan Nathan.

Sabar, sabar ucapku menenangkan diriku dan ternyata gengnya Nathan memberikan jawaban yang sama dengan Nathan.

Jumlah mereka yang 6 orang membuat aku berpikir apa yang mereka inginkan dariku.

“Ok, terima kasih atas jawabanya.” Hari ini rasanya materi kita pending selama 25 menit untuk memcari solusi atas permasalah yang Ibu rasa menganggu pembelajaran kita.

“Nathan, Ibu mau Nathan mengusulkan metode belajar yang menurut versi Nathan akan membuat kita semua menjadi senang, mudah dipahami dan tidak menuntut sehingga Ibu tidak perlu mengeluarkan suara terlalu banyak.” Ucapku sambil menatap Nathan.

Nathan terlihat gelisah, begitu juga dengan gengnya, waktu berlalu selama 5 menit tidak ada suara yang keluar dari mulut Ali.

“Mungkin M. Arif bisa membantu Nathan menjawab pertanyaan Ibu ini.” Tatapku sekarang beralih kepada M. Arif.

Tidak ada jawab sampai menit ke 10.

“Jika Nathan dan M. Arif tidak bisa menjawab berarti apa Dinda.” Ucapku menatap Dinda.

“Nathan dan M. Arif hanya tidak ingin belajar Bu, asal saja menjawab apa yang sudah Ibu lakukan membosankan.” Seru seseorang dari pojok kelas.

Senyumku mengembang, bagaimana tidak aku selalu mencari cara bagaimana mereka peserta didikku untuk aktif belajar.

Sekali waktu aku meminta mereka mendogeng materi, sekali waktu bermain peran semua aku sesuai dengan materi yang diajarkan.

Jika saja semua mau belajar mungkin aku tidak perlu belajar dan belajar guna meminilisasi jumlah yang tidak mau belajar.

Bel tanda pelajaran sudah usai, rasa lega akhirnya gengnya Nathan dan kawan – kawan belajar dengan efektif.

Langkah ringanku terus berjalan menuju majelis guru.

Baru satu kelas masih ada, kelas – kelas lain dengan masalah yang lain pula.

Semoga aku diberikan kekuatan san kesabaran dalam mendidik putra harapan bangaa.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Sampai Waktunya

Seperti biasa dini hari aku sudah terbangun, rasa lelah tidak membuatku bermalas – malasan. Sebelum aku beranjak meninggalkan ranjang meli...