Langkah kakiku surut ke belakang, sangat menyakitkan tak aku sangka kehadiranku membuat mereka merasa tidak nyaman.
Ada yang menyesakkan dada,
mengabdi lebih dari dua puluh tahun.
Tapi masih saja ada sesak
yang menerpa dada ketika aku mendengar ada yang menolak kehadiranku di dalam
kelas.
Sebenarnya hal biasa saja
jika mendengar mereka peserta didikku ada yang menolakku di dalam kelas.
Tapi langkahku tak pernah
surut, seberapa besar mereka membenciku tapi janjiku dalam hati tidak akan
menghalangi langkahku untuk tetap mengabdi untuk menciptakan generasi penerus
bangsa.
Juli tahun ini genap 22 tahun aku mengabdi, ada yang terjajah dari langkahku, mereka menolak kehadiranku dengan alasan tidak asik.
Aku menelisik ke belakang,
sebelum banyak aplikasi yang katanya membantu alias menjadi asisten guru untuk
lebih mudah mengajar.
Aku mengikuti arahan dan
terus belajar tapi tidak lupa dengan kodratku sebagai pendidik bukan hanya
memberikan penguatan materi tapi juga mengembangkan karakter yang berbudi luhur
dan cinta sesama dan bla – bla.
“Mudah – mudah Bu Intan
tidak masuk kelas, bosan selalu saja mendikte padahal sudah enak belajar tapi
ketika kita melenceng sedikit saja pasti seribu kalimat memekakkan teliga
terdengar.” Ucap salah satu peserta didikku yang menusuk teliga.
“Iya, naik kaki sedikit
saja sudah diomeli panjang lebar, padahal kalau lagi asyik mengotak atik Canva
enaknya sambil guling atau leyeh – leyeh.” Ucap peserta didikku yang lain.
Apakah aku salah menegur
mereka yang dengan santainya berposisi tidak pantas dalam kelas, jika mereka
bekerja nanti juga tidak bisa seenaknya sendiri.
Apa yang salah dengan
teguranku, batinku sedih.
Pekerjaan mereka peserta
didikku dengan menggunakan Canva sungguh luar biasa, aku akui.
Tapi mereka sebagaian kecil
ada yang merasa ketika mengerjakan apa yang diminta olehku sungguh luar biasa.
Tingkah yang layaknya
preman saja, ada kakinya diangkat kayak duduk di lantai.
Kemana perginya tata krama,
aku jadi ingat sewaktu duduk dibangku sekolah menengah ada yang namanya
pelajara Etika.
Dimana diajarkan bagaimana
sikap dalam keseharian.
Bersikap terhadap yang
muda, kepada yang sebaya dan menyikapi diri ketika berhadap dengan yang lebih
tua.
Zaman katanya berubah tapi
apakah etika juga berubah.
Rasanya tidak, etika
menunjukkan bagaima mereka bisa beradab tadi dengan keadaan.
Bagaimana ceritanya jika
masuk ke dalam masjid mereka Salwah bersikap seperti masuk ke dalam pasar, apa
jadinya.
Jadi teringat dengan materi
yang diperoleh ketika menambah ilmu, dikatakan ada 2 hal yang mempengaruhi
sikap seseorang.
Pertama didik orangtua,
kedua pengaruh lingkungan entah itu tempat tinggal ataupun tempat mencari ilmu.
Tempat mencari ilmu inilah
yang sangat mengkhawatirkan diriku, jangan sampai sekolah disalahkan karena
dianggap tidak sanggup membina karater baik untuk mereka peserta didikku.
Aku terus merenung dan
merenung, mungkin cara aku menegur yang salah, tapi sampai saat ini rasanya aku
sudah menegur dengan cara yang halus.
“Ananda semua, pernah lihat
dalam rapat atau keadaan formal orang duduk seperti sedang di kedai kopi
mengangkat kaki sebelah.” Hening sewaktu aku memberikan contoh itu.
Tapi rupanya dibelakangku
mereka membicarakan aku yang katanya menegur tidak pada tempatnya.
Helaan napas kuat keluar
dari mulutku bagaimana tidak sering kali aku melihat mereka peserta didikku
baring – baring di pojok kelas yang seharusnya tempat untuk membaca Salwah
dipakai untuk baring – baring dengan menaikkan kaki sambil bermain game.
Rasanya sesak, sudah
berates mungkin mencapai ribuan aku mengingatkan apa yang mereka lakukan akan
merusak mata tapi tetap saja mereka mengulang dan mengulang lagi.
Menguatkan hati, akhirnya
langkah yang sudah undur aku majukan.
Menguatkan hati, sambil
merapal doa untuk diberikan kekuatan menghadapi mereka.
“Asslamualaikum.” Suaraku
mengema keseluruh kelas.
“Ibu terlambat 5 menit.”
Teriak mereka bukan menjawab salamku.
“Tapi senangkan Ibu
terlambat.” Ucapku lagi menahan hati untuk tetap tenang.
“Harusnya terlambat 1 jam
Bu, baru enak.” Si biang kerok berucap.
“Baiklah Ibu akan keluar
lagi tapi ada kosenkuensinya, bagaimana?” Ucapku lantang sambil mataku
mengitari keliling kelas.
“Tidak Bu, kita belajar
saja.” Koor seretak dari kelas.
“Untuk pagi ini, siapa yang
namanya Ibu panggil menjawabnya bukan hadir tapi mengatakan apa yang tidak
disukai dari cara ibu mengajar cukup dengan 3 kata.” Ucapku memberi perintah
“Adinda Ahmad.” Absenku
“3 T Bu, Tidak ada, Tidak ada, Tidak ada.” Suara adinda terdengar.
Siswi yang selalu
menunjukkan antusias ketika aku mengajar.
Sampai dengan peserta didik
ke 15 jawaban mereka membuatku senang.
“Nathan Saputra.” Suaraku
terdengar
“Cerewet, menuntut, bosan.”
Aku terkejut mendengar perkataan Nathan.
Sabar, sabar ucapku
menenangkan diriku dan ternyata gengnya Nathan memberikan jawaban yang sama
dengan Nathan.
Jumlah mereka yang 6 orang
membuat aku berpikir apa yang mereka inginkan dariku.
“Ok, terima kasih atas
jawabanya.” Hari ini rasanya materi kita pending selama 25 menit untuk memcari
solusi atas permasalah yang Ibu rasa menganggu pembelajaran kita.
“Nathan, Ibu mau Nathan
mengusulkan metode belajar yang menurut versi Nathan akan membuat kita semua
menjadi senang, mudah dipahami dan tidak menuntut sehingga Ibu tidak perlu
mengeluarkan suara terlalu banyak.” Ucapku sambil menatap Nathan.
Nathan terlihat gelisah,
begitu juga dengan gengnya, waktu berlalu selama 5 menit tidak ada suara yang
keluar dari mulut Ali.
“Mungkin M. Arif bisa
membantu Nathan menjawab pertanyaan Ibu ini.” Tatapku sekarang beralih kepada
M. Arif.
Tidak ada jawab sampai
menit ke 10.
“Jika Nathan dan M. Arif
tidak bisa menjawab berarti apa Dinda.” Ucapku menatap Dinda.
“Nathan dan M. Arif hanya
tidak ingin belajar Bu, asal saja menjawab apa yang sudah Ibu lakukan
membosankan.” Seru seseorang dari pojok kelas.
Senyumku mengembang,
bagaimana tidak aku selalu mencari cara bagaimana mereka peserta didikku untuk
aktif belajar.
Sekali waktu aku meminta
mereka mendogeng materi, sekali waktu bermain peran semua aku sesuai dengan
materi yang diajarkan.
Jika saja semua mau belajar
mungkin aku tidak perlu belajar dan belajar guna meminilisasi jumlah yang tidak
mau belajar.
Bel tanda pelajaran sudah
usai, rasa lega akhirnya gengnya Nathan dan kawan – kawan belajar dengan
efektif.
Langkah ringanku terus
berjalan menuju majelis guru.
Baru satu kelas masih ada,
kelas – kelas lain dengan masalah yang lain pula.
Semoga aku diberikan
kekuatan san kesabaran dalam mendidik putra harapan bangaa.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar