Minggu, 03 April 2016

Bobroknya Dunia Pendidikan Indonesia

Seperti biasa, pagi minggu merupakan pagi santai (tidak perlu buru-buru bekerja didapur karena harus siap-siap mengabdi kepada negara sebagai seorang guru). Sebelum memulai  aktifitas dipagi minggu  sebagai ibu rumah tangga yang harus kepasar, masak, nyuci serta bersih-bersih rumah. Nonton berita dulu, Metro TV merupakan pilihan mencari informasi, seperti biasa berita minggu pagi ini tanggal 3 Aprl 2016 sehari sebelum Ujian Nasional (UN) pasti berita yang muncul tentang carut marut dunia pendidik.

Andri Rizki, mungki  nama yang biasa saja bagi yang mendengarkannya.Tapi ceritanya yang menarik, ya menarik bagaimana anak bangsa sebagai generasi penerus bangsa yang berani menentang dunia pendidikan yang katanya tidak jujur dalam menciptakan generasi muda sebagai penerus bangsa.

Rizki panggilannya, cerita anak banga ini mungkin membuat kita yang bergelar pendidik merasa malu dengan profesi sebagai guru jika kita sebagai pencetus dalam kecurangan itu. Betapa anak bangsa ini kecewa dengan sistem pendidikan yang katanya melegalkan aksi contek mencotek untuk mendongkrak nilai siswa-siswi yang akan menghasilkan tingkat kelulusan tinggi yang membuat bangga sekolah.

Dengan berani Rizki mengambil keputusan berhenti sekolah daripada memberikan contekan kepada kawan-kawanya demi prestasi sekolah mendapatkan kelulusan 100% . Ananda pemberani ini sekarang bergelar dosen sekarang pada Universitas ternama di Jakarta.

Cuplikan berita ini benar-benar membuat malu dunia pendidikan Indonesia, apakah hal seperti itu masih berlaku sekarang. Mungkin ini juga yang membuat generasi sekarang merasa bahawa pendidikan hanya sebuah melodrama yang harus dijalaninya tanpa menikmatinya. Ya seperti kita menonton drama sampai pada klimak cerita hanya tinggal cerita saja tidak ada manfaat bagi kehidupan nyata.

Betapa menyedihkan dunia pendidikan kita, jika kita yang bergelar guru tidak dapat menjadi penginspirasi generasi muda untuk belajar, malah kita demi reputasi mengalakkan contek mencontek untuk mendapatkan kelulusan 100%.

Seakan terbangun dari mimpi buruk, bertia pagi ini membuat saya sadar bahwa sebagai guru masih banyak kekurangan yang mungkin menyebabkan sebagian besar siswa masih mengangap bahwa belajar bukanlah hal yang penting. Sehingga untuk mendapatkan nilai 100 dalam tugas, latihan, pekerjaan rumah (PR), ulangah harian (UH) sampai dengan ujian semester serta ujian kenaikan kelas mereka lebih mengharapkan teman-temannya daripada mereka belajar sendiri walau apapun alasannya.

Ternyata tugas sebagai guru bukan hanya mengajar tapi juga sebagai penginspirasi bahawa dengan belajargenerasi muda mendapatkan ilmu yang akhirnya dapat mereka gunakan sebagai generasi pembangun bangsa  yang menjadikan Indonesia negara yang maju.

Besok, tepatnya tanggal 4 April 2016 masih adalah kecurangan dalam UN sehingga ada ketidak puasan dari Rizki-Rizki  yang lain sehingga menambah sejarah kelam dalam dunia pendidikan Indonesia. Pertanyaan yang seharusnya dijawab oleh kita yang bergelar guru atau pendidik. Salam dalam keterpurukan dunia pendidikan untuk kita semua seandainya kita masih menjadi guru yang hanya bisa mengajar tapi tidak bisa menjadi penginspirasi untuk anak didik kita bahwa pendidikan itu penting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar