Menginjakkan kaki di SMA Negeri 2 Karimun tepatnya pada tanggal 18 Juli 2008, berdasarkan surat pengajuan diri untuk menjadi tenaga honorer sekolah.
Kala itu Bapak Drs. Rasdianto
Rauf yang menjadi Kepala Sekolahnya, sosok yang mungkin diingat adalah beliau
menerima saya dengan sifat kebapakannya.
Hanya beberapa bulan di bawah kepemimpinanya dan berlanjut dengan Bapak Drs. M. Yatim Mustapa.
Bukan tanpa sebab seorang anak
bangsa dengan gelar Sarjana Ekonomi (SE) yang disandang sampai terdampar di
dunia pendidikan.
Setelah melewati masa mahasiswa
dengan segala wejangannya bahawa mahasiswa jika sudah mendapatkan gelarnya
harus bisa menyediakan lapangan pekerjaan untuk dirinya sendiri itulah membuat
saya berani mengambil keputusan untuk merambah dunia pendidikan daripada
menjadi pengangguran tentunya.
Setelah pulang dari menuntut ilmu
di kota pelajar atawa Yogyakarta membuka mata bahwa seorang sarjana harus bisa
menyesuaikan diri dengan keadaan.
Jurusan yang diambil belum tentu
menyediakan lapangan pekerjaan yang diinginkan.
Pekerjaan adalah pilihan yang
harus kita ambil untuk menjalani keseharian sebagai tuntutan mahluk hidup.
Bukan berarti jeda waktu setelah
lulus kuliah menjadi pengangguran.
Sebelum melamar menjadi tenaga
honorer untuk mengabdi di SMA Negeri 2 Karimun, pernah bekerja pada beberapa
instansi swasta yang pendapatanya lebih besar dari menjadi tenaga pengajar
dengan gaji yang pada waktu itu hanya dibawah seratus ribu rupiah.
Bukan nominal pendapatan yang
menjadi patokan bahwa pekerjaan itu memberikan kenyaman dalam menjalaninya.
Dan hal yang paling penting,
dunia pendidikan sudah di garis kan menjadi ladang rezeki oleh Sang Pemberi
Rezeki tentunya.
Banyak hal yang membuat dunia
pendidikan menjadi prioritas mengali rezeki kala itu.
Salah satu alasan bekerja dengan
mahluk hidup lebih menyenangkan daripada benda mati seperti komputer beserta
kawananya.
Pengalaman yang tidak akan pernah
terlupakan bagaimana pertama kali menginjakkan kaki sebagai pendidik adalah hal
yang menerbitkan senyum ketika mengingatnya.
Bapak Drs. M. Tahar bagaikan
tentor pertama untuk menjadi seorang guru pada waktu itu.
Dengan serangan putih hitam
layaknya mahasiswa PKL di sekolah untuk menguji apakah siap menjadi seorang
pendidik saja.
Memperhatikan beliau Bapak Drs.
M. Tahar mengajar beberapa kali sebelum berdiri di depan kelas mengantikan jam
mengajar beliau yang padat.
Jam ekonomi yang banyak membuat
beliau mencari guru ekonomi yang bisa membantu beliau mengajar.
Informasi ini disampaikan kepada
seluruh siswa yang belajar dengannya, untuk mencari guru yang akan membantu
beliau.
Berdasarkan informasi tadi yang
disampaikan oleh adik saya yang bersekolah di SMA Negeri 2 itulah saya
melayangkan surat lamaran.
Tentu ada pertanyaan yang timbul,
kenapa lulusan Sarjana Ekonomi diterima di dunia pendidikan, yang bisa menjawab
tentu instansi yang bersangkutan.
Bagi seorang sarjana, membuka
lapangan pekerjaan untuk dirinya sendiri lebih penting walaupun banyak
pertanyaan yang menyayangkan dan ada yang mengatakan jauh – jauh sekolah di
Yogya pulang hanya jadi guru waktu itu, biarlah yang penting memanfaatkan
kesempatan saat itu dan benar sekarang terasa bahwa ada cerita yang menarik
dari keputusan menjadi pendidik. (Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar