Terasa sapuan lembut kala bersamamu
Pelibur lara kala duka menyapa diri
menyejukkan hati dalam alunan dekapmu
Aku memandang luasnya pesonamu
Dalam suka cita kau ada kala semua duka
menyapa diriku
Terasa sapuan lembut kala bersamamu
Pelibur lara kala duka menyapa diri
menyejukkan hati dalam alunan dekapmu
Aku memandang luasnya pesonamu
Dalam suka cita kau ada kala semua duka
menyapa diriku
Netraku tak lepas dari mereka, bocah kecil yang berlari kian kemari tanpa ada rasa lelah. Sudah lebih dua jam aku memperhatikan mereka, netraku tiada lelah sampai akhirnya salah satu dari mereka entah karena apa terkulai lemah tak berdaya, kakiku tanp komando berlari mendapatkannya.
“Sayang, bangun nak.” Beberapa kali tanganku mengusap wajah kecil yang terkulai tanpa kesadaran
“Ada apa, apa yang terjadi? Elma, elma.” Entah darimana sosok perempuan sebaya denganku mengambil alih dia yang berada dalam pelukanku.
“Ada apa dengan anak Saya?” Ucapnya sedih sambil menatapku
“Saya tidak tahu, tiba – tiba saja dia jatuh ketika bermain bersama teman – temannya.” Ucapku memberi penjelasan.
Resolusi diri, mungkin ini istilah baru buat Nyakbaye tapi
tidak baru untuk sebagian orang. Biar terlambat daripada tidak sama sekali, itu
motto Nyakbaye. Istilah ini Nyakbaye dengar ketika mengikuti webinar yang
menjadi agenda dari YPTD salah satu dari yayasan yang berada di Jakarta yang
membantu para penulis untuk mencetak buku alias menerbitkan buku dengan biaya
sekilasnya.
Melihatnya tertawa lepas, itu sudah lama sekali. Diawal pernikahan kami sampai dengan tahun ke lima pernikahan aku masih bisa melihat tawa lepas dari bibirnya. Tapi setelah itu bagaikan tertelan bumi, semua tawa bahkan senyumpun tidak lagi terlihat di bibirnya, dan lihatlah setelah bersamanya yang aku tidak tahu siapa, tawa serta senyum yang sempat ditelan bumi naik kepermukaan.
Gerimis menembus jilbab instan warna maroon yang saat ini sedang aku kenakan, berlari mengikuti langkah kaki menuju sebuah ruko untuk berteduh.
Aku mengibas tetesan air yang menimpa jilbab dan bajuku, dingin terasa menusuk tulang tapi dingin yang mengapai hatiku lebih dalam lagi.
Aku mengingat pemandangan yang baru saja menyesakkan dada, aku tidak mungkin salah mengenali orang. Apalagi orang tersebut sudah lama mengisi relung hati dan menemapati jiwaku.
Menulis sejak kecil dipaksa untuk bisa menulis, dari merangkai kata sampai benar – benar menjadi kalimat yang bisa dibaca. Masih ingatkan bagaimana sewaktu diajarkan mengeja setiap alphabet dari hurup A sampai Z, terus diulang dan diulang sehingga dari mengenal hurup A sampai bisa mengabungkan setiap hurup sehingga menjadi bacaan yang enak dibaca.
Setiap hari kita membaca tanpa kita sadari sensor mata melihat semua di depan kita kita olah menjadi bacaan yang dibaca oleh otak kita, jadi jika dan yang mengatakan tidak membaca tentu salah besar.
Sabtu, 5 Februari 2022 merupakan MGMP ke dua untuk kelompok IPS B, tapi ini merupakan MGMP pertama buat penulis. Karena pada pertemuan pertama pada awal tahun 2022 dibulan Januari kemaren, kami dari SMA Negeri 2 Karimun tidak bisa mengikutinya karena bertepatan dengan acara sekolah yang tidak dapat kami tinggalkan.
Pertemuan kali ini menjadi perdana buat kami anggota MGMP dari SMA Negeri 2 Karimun, tidak perlu menaiki kapal untuk menghadirinya, kebetulan pertemuan MGMP IPS B yang terdiri dari mata pelajaran Ekonomi dan Geografi berada di kecamatan Tebing sehingga kami yang berasal dari kecamatan meral cukup menaiki motor atau mobil untuk menghadiri pertemuan MGMP yang berlokasi di SMA Negeri 1 Karimun.
Langkahku terhenti, bola kaki warna warni menghentikan langkahku. Aku mengangkat kepala mencari sosok pemilik bola berwarna – warna. S...