Minggu, 15 Juni 2025

Labirin Asa

 

Bunyi suara HP yang melengking memekakkan teliga, menghentikan tanganku yang menari lincah diatas tuts laptopku.

Sejak selesai melaksanakan tugas sebagai Ibu Negara aku mematut diri di depan laptop untuk membuat perangkat pembelajaran.

Sudah tiga hari liburan sekolah bermula, aku memilih untuk tidak pulang kampung.

Sementara untuk berjalan ke Negara tetangga terpaksa dipending karena pasporku sudah mendekati batas tidak bisa berkunjung karena tiga bulan lagi habis masa aktifnya.

“Assalammualaikum.” Suaraku menjawab telepon masuk.

Ah aku lupa melihat siapa yang menelepon, sedang asyik bekerja di telepon menganggu saja.

Terlanjut menekan tombol hijau terpaksa aku memberikan salam.

Hening tidak ada yang menyawab, jeda beberapa menit.

Keningku berkerut, punya niat tidak menelepon setelah diberi salam hanya diam saja.

Sabtu, 14 Juni 2025

Haruskah Aku

 


Dua pekan tidak bertemu dengan mereka membuatku rindu dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka.

Aku Indah Cahaya, Sudah tiba di sekolah setengah jam lalu, sudah terlihat mereka yang selalu datang lebih awal memenuhi halaman sekolah.

Beberapa dari mereka menyapaku dengan mengucapkan salam tidak lupa senyum yang luput selama dua pekan dari penglihatanku.

Tinggal sepuluh menit sebelum bel panjang berbunyi tanda hari pertama MPLS di mulai.

Guru – guru pembimbing MPLS sudah sibuk dengan agenda mereka, sedangkan kami yang tidak mendapatkan jatah menjadi pembimbing hanya akan mengikuti apel setelah itu menyesuaikan diri dengan jam dinas yang telah ditentukan.

Senjata perangku, sejam seperempat lalu aku buka dan file untuk perangkat sedang aku susun untuk memudahkan proses pembelajaran selanjutnya.

Sabtu, 07 Juni 2025

Rindu Itu

 

“Zahra binti Abdul Kadir.” Aku mulai mengabsen satu persatu murid dalam kelas yang aku ajar.

Tahun pelajaran baru dengan peserta didik baru.

Tahun baru dengan kelas, peserta didik baru lulus SMP.

Wajah – wajah imut seharusnya tapi netraku sedikit terganggu dengan beberapa dari mereka peserta didik perempuan yang melukis alisnya serta lipblam berwarna pink.

Selesai mengabsen, aku belum membuka mulut.

Masih memperhatikan mereka satu persatu, mencari cara bagaimana masalah yang selama tiga tahun belakangan ini sungguh menganggu kami para pendidik.

Kamis, 05 Juni 2025

Apa Yang Harus Aku Lakukan

 

Langkah kakiku surut ke belakang, sangat menyakitkan tak aku sangka kehadiranku membuat mereka merasa tidak nyaman.

Ada yang menyesakkan dada, mengabdi lebih dari dua puluh tahun.

Tapi masih saja ada sesak yang menerpa dada ketika aku mendengar ada yang menolak kehadiranku di dalam kelas.

Sebenarnya hal biasa saja jika mendengar mereka peserta didikku ada yang menolakku di dalam kelas.

Tapi langkahku tak pernah surut, seberapa besar mereka membenciku tapi janjiku dalam hati tidak akan menghalangi langkahku untuk tetap mengabdi untuk menciptakan generasi penerus bangsa.

Juli tahun ini genap 22 tahun aku mengabdi, ada yang terjajah dari langkahku, mereka menolak kehadiranku dengan alasan tidak asik.

Selasa, 03 Juni 2025

Menyelisik Hatimu

 


Cahaya Putri, namaku.

Usia 23 tahun bulan juli ini, terdampar pada sekolah negeri di Kabupaten yang baru mekar.

Seperti bunga saja mekar, itulah tempat lahirku dan diumurku sekarang ini aku mekar bagaikan kabupatenku.

Melepas toga tanda aku sudah lulus kuliah, jurusan ekonomi di jurusan pendidikan.

Belum genap satu tahun aku mengabdi di SMA ini, rasa juangku untuk menjadikan mereka, peserta didikku patner dalam pendidikan sangat tinggi.

Senyum terpaksa aku kembangkan ketika sudah lebih setengah jam muridku yang seharusnya duduk manis mendengarkan aku menjelaskan baru saja datang.

Minggu, 01 Juni 2025

Wali Kelas Ku

 

“Bu Siti menangis.” Ucap salah satu temanku.

Siti Zulaiha nama wali kelasku, sejak juli tahun lalu kami menjadi asuhan Bu Siti kami memanggilnya.

Umurnya sudah menginjak kaki lima dengan kerudung (kami orang melayu menyebut jilbab penutup kepala) jumbo yang selalu menghiasi kepalanya.

Senyum selalu tersunging di bibir tuanya, tidak lupa kacamata menambah cantik penampilannya.

Umur boleh tua, tapi kacanya selalu menarik perhatian kami selain cara mengajarnya yang juga menarik.

Kacanya lebih dari satu, ada yang berwarna maron, coklat dan unggu bingkainya.

Warna warni seperti cara mengajarnya saja.

Aku masih ingat ketika kami diajak berdiri melihat bangunan yang berseberangan dengan sekolah kami tapi tampak jelas di mata.

Postingan Terbaru

Sampai Waktunya

Seperti biasa dini hari aku sudah terbangun, rasa lelah tidak membuatku bermalas – malasan. Sebelum aku beranjak meninggalkan ranjang meli...