Kamis, 27 Juni 2024 mengisi ke kosongan mengajar tapi tetap belajar.
Mendapatkan undangan mengikuti pembinaan kegiatan ekonomi umat oleh MUI Provinsi Kepri di Aula Kantor Kemenag Kabupaten Karimun.
Kamis, 27 Juni 2024 mengisi ke kosongan mengajar tapi tetap belajar.
Mendapatkan undangan mengikuti pembinaan kegiatan ekonomi umat oleh MUI Provinsi Kepri di Aula Kantor Kemenag Kabupaten Karimun.
Terima kasih pada Ananda Reffi atas rezeki rambutannya.
Jadi
teringat sewaktu kecil dulu, tinggal di rumah yang di kelilingan pohon yang
menghasilkan buah yang dapat dibuat makan dan dijual.
Ada pohon rambutan, nangka, jambu bol, jambu gelas, jambu air yang berwarna merah dan putih serta kuini dan mangga kampung.
Bel tanda waktu istirahat
berbunyi, tapi kesepakatan bersama kami melewati waktu istirahat karena jam
pelajaran ekonomi terpotong waktu istirahat.
Walaupun perut sudah
menjerit minta diisi tapi kami merasa untuk uji kompetensi jika terjeda waktu
istirahat pasti ada yang curang.
Keningku berkerut, soal
nomor lima belum juga aku terpikirkan jawabanya.
Dudukku makin gelisah ketika
melihat jam dinding terus berjalan, belum lagi teman di belakangku sedari tadi
menganggu kosentrasikan untuk menjawab soal.
Sejak ulangan dimulai, teman belakagnya sudah meminta jawaban.
“Intan pasti mendapatkan
nilai tertinggi.” Ucap salah satu temanku kala itu.
“Ah, bukan pasti Pras yang
unggul.” Ucapku malu sambil memandang teman kelasku yang bermana Pras.
Prastio Pamungkas, pindahan
dari Yogya awal tahun pelajaran dengan segudang prestasi.
Sejak kami satu kelas aku,
Bulan Intan Nuraini selalu menjadi nomor dua.
Perasaanku nano – nano terhadap Pras, ada rasa tersaingi, ada raga kagum.
Pikiranku
bercabang, siapa yang akan Mak minta tolong jika sakit menyerangya.
Abah
sudah sepekan berangkat ke Negara jiran untuk mengkais rezeki.
Negera
sendiri seperti tidak memberikan celah untuk Abah meminta sedikit uang untuk
sekadar mengisi tabung tengah keluarga kami.
“Bunga, apa ada yang aneh dengan pertanyaan saya.” Deg jantungku seakan berhenti mendengar suara Bu Cahaya yang mengelegar memenuhi ruang kelas.
I.
Dilarang keluar
waktu magrib
Saat magrib
tidak boleh berdendang
Duduk termenung meratap nasib
Sampai ke tua tak ada yang sayang
Adik Abah yang dulu tinggal bersama kami sudah lebih sepuluh tahun merantau sejak menamatkan sekolah menegah atas hari ini duduk di ruang tamu kami.
“Pak
Ucu ingin menengok Mak Intan.” Ucap Pak Ucu berdiri dan melangkah menuju kamar
Abah Mak.
Aku
mengekori Pak Ucu macam anak ayam dan berhenti disamping Pak Ucu yang sudah
berselimpuh di kasur kamar Mak.
Rumah kami tidak mempunyai dipan, hanya kasur yang digelar dilantai beralaskan tikar nipah.
Langkahku terhenti, bola kaki warna warni menghentikan langkahku. Aku mengangkat kepala mencari sosok pemilik bola berwarna – warna. S...