Ketika jemari tak lagi dapat merasakan dirimu
Aku kaku dalam rindu yang mencekam dalam tak terbatas
Aku melemah dalam sendu yang mencekam dan meremukkan jiwa
Ada gejolak rasa yang menghempas rasa membinasakan raga
Aku kaku dalam rindu yang mencekam dalam tak terbatas
Aku melemah dalam sendu yang mencekam dan meremukkan jiwa
Ada gejolak rasa yang menghempas rasa membinasakan raga
Hujan turun dengan deras, seingatku sudah dua tahun ini setiap menjelang penaikan bendara hujun turun membasahi dunia pertiwiku. Seperti ada ribuan airmata yang mengalir menangis bahagia melihat indonesiaku masih berdiri tegap dengan berbagai rintangan yang menghadangnya.
Belum waktunya, masih terlalu kecil seharusnya itu yang dikatakan kedua orangtuaku 5 tahun yang lalu, tapi sekarang masih saja aku di larang untuk menyukainya, terlalu. Kepalaku sudah panas otaku mendidih, jika bisa meledak pasti dari satu jam lalu otakku bertaburan di lantai, pasti menjadi santap enak buat si mody kucing kesayanganku.
Ku julang harapan setinggi gunung
Ku lelah berada di lembah hitam angan
Merajut asa yang tak kesampaian
Kata hanya symbol tak bermakna
Ketika perbuatan menista kata
Semua hanya hampa tak tersisa dalam dusta
Berdoa menghitung sisa hari yang ada
Bertambah usia menjelang titik tiba
Terasa ada yang mencekam
Dalam
Langkahku terhenti, bola kaki warna warni menghentikan langkahku. Aku mengangkat kepala mencari sosok pemilik bola berwarna – warna. S...