“Bu Siti menangis.” Ucap salah satu temanku.
Siti Zulaiha nama wali
kelasku, sejak juli tahun lalu kami menjadi asuhan Bu Siti kami memanggilnya.
Umurnya sudah menginjak
kaki lima dengan kerudung (kami orang melayu menyebut jilbab penutup kepala)
jumbo yang selalu menghiasi kepalanya.
Senyum selalu tersunging di
bibir tuanya, tidak lupa kacamata menambah cantik penampilannya.
Umur boleh tua, tapi
kacanya selalu menarik perhatian kami selain cara mengajarnya yang juga
menarik.
Kacanya lebih dari satu,
ada yang berwarna maron, coklat dan unggu bingkainya.
Warna warni seperti cara
mengajarnya saja.
Aku masih ingat ketika kami diajak berdiri melihat bangunan yang berseberangan dengan sekolah kami tapi tampak jelas di mata.


.jpg)



